Tumbal Kesayangan
Bagaimana pendapatmu tentang mendidik anak dengan baik, menyekolahkan, mengajarkan ilmu agama agar kelak bisa mendoakan orang tuanya ketika sudah tidak ada lagi di dunia.
Tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan hampir sebagian banyak orang berpendapat sama.
Tapi bagaimana perasaanmu jika anak yang kau gadang-gadang bisa mendoakanmu nanti malah pergi lebih dulu darimu, dan kaulah yang harus mendoakannya karena kau yang masih hidup.
Seorang pemuda dengan pandangan kosong menatap iba pada seorang lelaki tua yang sedang menangis meratap di depan sebuah makam. Makam yang masih baru, tanahnya masih basah, bunga-bunga yang bertaburan di atasnya masih segar dan harum mewangi.
Pemuda itu seakan linglung, ia menengok ke kanan ke kiri. Benar, diapun sedang terduduk diatas sebuah pusara. Bagaimana bisa dia berada disana? ia pun tak ingat. Tapi ia merasa heran, kenapa hatinya ikut pilu melihat lelaki tua itu menangis? Siapa dia?
Ditengah kebingungannya, ia mendengar suara sang lelaki tua berkata dengan isak tangis yang masih tersisa, yang lebih membuatnya heran ia mendengar orang itu memanggil sebuah nama yang tak asing baginya.
"Arshaka, hanya kamulah anakku satu-satunya pengganti kakakmu yang sudah tidak ada, hanya kamu yang Bapak punya, tapi kenapa kamu malah pergi lebih dulu dari Bapak?"
"Kenapa kamu juga meninggalkan Bapak seperti saudaramu? ibumu juga. Dan sekarang Bapak nggak punya siapa-siapa lagi, Bapak harus bagaimana, Ar?"
"Hiks..hiks.." tangan kiri lelaki tua itu memeluk batu nisan, sedangkan tangan kanannya meremat-remat bunga yang bertaburan di hadapannya.
"Apa Bapak masih akan sanggup menjalani kehidupan Bapak setelah kepergian kamu? Selama ini cuma kamu penguat Bapak, yang membuat Bapak mampu bertahan menghadapi segala rintangan,"
"Karena kamu yang selalu membimbing Bapak, saat Bapak mulai goyah dan ingin ikut berhijrah, malah kamu yang harus menjadi korbannya," seakan tak mampu lagi menopang tubuhnya, lelaki tua tersebut terduduk bersimpuh dan mulai memeluk gumdukan tanah merah itu. Tak peduli pada pakaiannya yang akan kotor.
"Ini semua salah Bapak, Ar. Kenapa juga Bapak masih harus mengabdi pada keluarga sesat itu, harusnya Bapak pergi dari dulu," tuturnya penuh sesal.
"Sekarang semuanya sudah terlambat, Bapak sudah kehilangan semua orang yang Bapak sayangi,"
Namun setelah menangis meratap selama beberapa waktu, lelaki tua itu terduduk kembali. Diusapnya kasar air mata yang sejak tadi membanjiri wajahnya dan membuat pandangannya memburam.
Lalu dengan suara yang dibuat setegar mungkin, ia mulai berkata, "tenang saja Ar, Bapak akan balaskan rasa sakitmu. Rasa sakit yang diterima oleh ibu juga kakakmu dulu. Bapak akan pastikan manusia-manusia sesat itu mendapatkan balasan yang setimpal," pandangan matanya menajam, menyiratkan sakit yang menimbulkan dendam yang mendalam.
"Bapak pulang dulu, ya. Bapak akan datang lagi, dan akan selalu menyempatkan waktu mengunjingimu," lelaki tua itu mulai berdiri perlahan dan berbalik.
Sebelum kakinya melangkah, ia teringat sesuatu, "assalamu'alakum," ucapnya yang telah kembali berbalik dan membungkuk mengusap batu nisan bertuliskan nama Arshaka Abimana.
Usai mengucapkan salam, lelaki tua yang merupakan ayah dari seorang anak yang telah meninggal itu benar-benar pergi dari sana dengan langkah gontai.
Tak ada lagi pancaran kebahagiaan yang tersirat di wajah tuanya, tak ada lagi semangat untuk melanjutkan hidup kecualu hanya untuk satu hal. Yaitu membalas kematian keluarganya.
Selepas kepergian lelaki itu, pemuda yang sedari tadi terdiam membisu ditempatnya duduk. Kini mulai beranjak dan mendekat pada gundukan tanah yang baru saja di tinggalkan oleh sang lelaki tua.
"Arshaka Abimana?" Gumamnya kemudian pada dirinya sendiri.
"Kau tak mengenal nama itu?" Sahut suara seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di sampingnya, membuatnya sedikit terkejut.
Seorang gadis cantik jelita mengenakan gaun yang menjuntai hingga ke tanah berwarna merah.
Tatapan terkagum tertuju pada sang gadis, "siapa kau?"
" Siapa aku? Apa kau juga tak mengenalku?" Tanya wanita itu.
Pemuda itu menggeleng.
"Aku kekasihmu,"
"Tidak mungkin!" Sergah si pemuda.
"Apanya yang tidak mungkin?"
"Tidak mungkin aku memiliki kekasih, apalagi seorang gadis yang sangat cantik sepertimu,"
Gadis yang dipuji cantik itu tertawa senang, "apa aku secantik itu?"
"Ya, kau sangat cantik. Tapi kenapa memakai pakaian seperti itu ditengah kuburan seperti ini?" Herannya.
"Itu karena hari ini adalah hari pernikahan kita, apa kau lupa? Ayolah cepat!"
"Tidak, tidak! Kau pasti salah! Tidak mungkin kita akan menikah, bahkan aku saja tidak ingat ingat siapa aku, apalagi kau, jadi tidak akan mungkin kita menikah dengan keadaanku yang seperti ini," elak sang pemuda.
"Seperti apa? Kau sangat tampan, bahkan kau juga sudah siap dengan pakaian pengantinmu," ujar si gadis.
"Apa?"
"Lihatlah dirimu!"
Mata sang pemuda membelalak mendapati dirinya sudah berpakaian layaknya pengantin pria, warnanya senada dengan apa yang dipakai oleh si gadis.
"Tidak mungkin! Bahkan semenit yang lalu aku masih mengenakan pakaianku yang lain," gumamnya semakin heran dan merasa aneh.
"Katakan sebenarnya, siapa kau?"
"Sudah aku bilang, aku ini kekasihmu!" Ujar si gadis meyakinkan.
"Siapa namamu?"
"Namaku Kirania Arkadewi, orang-orang memanggilku Putri Kirana,"
"Putri?" Gadis itu mengangguk.
"Bagaimana kau bisa mengganti pakaianku hanya dalam waktu satu kedipan mata?"
Kirani tertawa, "itu hal yang sepele bagiku,"
"Apa kau bukan manusia? Kau sebangsa jin? Setan? Atau siluman?"
"Heh, pertanyaanmu itu seakan kau ini manusia saja,"
"Aku memang manusia,"
Kirana memicing, "oh ya? Lihatlah kakimu, apa kau menginjak tanah yang ada di bawahmu?"
Dilihatnya kaki lelaki di depannya, pemuda itupun ikut melihat ke bawah, benar adanya. Sepatu yang ia kenakan sama sekali tak menyentuh tanah, itu artinya kakinya juga mengambang.
"Tidak mungkin! Apa aku sudah mati? Apa aku sekarang ini hantu?"
Kiran mengendikkan bahu, "entahlah, mungkin arwah,"
"Bagaimana bisa, apa kau yang membunuhku agar aku bisa menikah denganmu?"
"Enak saja, kau sendiri yang bunuh diri!"
"Itu tidak akan terjadi, aku bukan manusia sehina itu,"
"Memang tidak,"
"Lalu bagaimana ceritanya aku bisa menjadi seperti ini?"
"Ceritanya panjang, ayo kita akan telat menghadiri upacara pernikahan kita," Kirana sudah meraih tangan pemuda itu.
"Tunggu! Setidaknya beritahu dulu namaku,"
Kirana terpaksa berbalik lagi.
"Ck, lihatlah nisan di depanmu, itu adalah namamu."
"Arshaka Abimana," usai gumaman itu ia diajak menghilang oleh Kirana yang entah kemana.
Sebuah istana yang sangat megah nan indah, berhiaskan bunga-bunga segar yang harumnya semerbak. Di seluruh penjuru ruangan yang sangat luas itu tak sedikitpun ruang yang luput dari hiasan-hiasan.
Begitu pintu berwarna emas yang menjulang tinggi terbuka, keduanya disambut oleh orang-orang yang menunduk hormat. Pakaian ala pengawal kerajaan berwarna emas melekat di tubuh semua orang itu.
"Selamat datang Putri Kirana dan calon pangeran," ucap salah satu pemimpin mereka.
Kirana mengangguk sekilas, lalu menarik tangan Arshaka agar berjalan cepat menuju tempat dimana upacara pernikahan mereka akan berlangsung.
Suara riuh yang semula terdengar kini mulai sunyi dengan kedatangan sang putri, disusul oleh datangnya seorang wanita yang nampak cantik jelita di usia yang tak lagi muda. Yakni Ratu Anindyaswari yang merupakan ibunda dari Putri Kirana.
Sebelum upacara itu benar-benar dimulai, sang ratu bertanya pada Kirana putrinya.
"Apa kau benar-benar sudah yakin dengan keputusanmu ini, putriku?"
Kirana mengangguk mantab, "yakin, Ibunda,"
"Sebab pernikahan adalah sesuatu yang sakral bagi makhluk apapun itu, jika sekali sudah terikat. Tidak akan mudah untuk terlepas dari ikatan itu,"
"Hamba sangat mencintainya, Ibunda. Maka Izinkan hamba untuk menikahinya," Putri Kirana kini berlutut dengan kepala tertunduk.
Arsha yang tak tau apa-apa hanya diam membisu, ingin berbicara pun seakan mulutnya terkunci rapat.
"Baiklah, Bunda percaya denganmu. Lalu bagaimana dengannya," Ratu Anindya melirik Arsya dengan ekor matanya.
"Dia akan senantiasa menurut dengan hamba, Ibunda." Jawab Kirana dengan sangat yakinnya.
"Berdirilah, kita mulai upacaranya. Tapi Bunda ingatkan untuk terakhir kalinya, jika ada apa-apa dengan pernikahan kalian, kau sendiri yang akan menanggung akibatnya,"
Kirana tersenyum bahagia mendengar persetujuan dari ibunya. Tentang resiko, ia akan pikirkan nanti.
"Baik, Ibunda Ratu.. "
Pesta pernikahan mewah selayaknya seorang putri kerajaan digelar di istana Ratu Anindyaswari. Pesta itu dilangsungkan selama 7 hari 7 malam, seluruh pengawal, prajurit bahkan rakyak ikut memeriahkan dan merasakan bagaimana lezatnya masakan istana.
Namun ada 1 makhluk yang tak ikut berbahagia, yang ia rasakan hanyalah keanehan pada dirinya. Ia tak merasakan apapun, lapar, dahaga bahkan rasa ingin buang hajat pun juga tak ada. Bagaimana tidak aneh jika ia sudah berada disana selama 7 hari.
"Kakanda Arsha, apa yang tengah Kanda fikirkan sehingga Kanda terlihat gusar? Apakah memikirkam malam pertama kita nanti?" Tanya Kirana sekaligus menggoda Arsha dengan kedipan matanya.
Arsha melengos, boro-boro memikirkan tentang malam pertama. Hawa nafsu saja tidak ada, nafsu untuk hal apapun itu. Tidak ada rasa ingin makan, minum, apalagi bercinta. Tapi ia hanya merasa resah dan gundah gulana yang tak terkira.
Ia terus teringat pada tangis kesedihan dari seorang lelaki tua di depan tanah kuburan yang Kirana bilang itu adalah kuburan tempat jasadnya di kubur. Jadi benar dirinya telah mati? Bagaimana ceritanya? Ia harus bisa mendapatkan jawabannya dari Kirana malam ini juga.
Ia sudah menahan diri selama 7 hari, karena tak mungkin ia mendebat Kirana dihadapan sang bunda yang nampak menyeramkan auranya baginya.
Meskipun semua orang yang disana tertawa bahagia dengan meriahnya pesta pernikahan Putri Kirana dengan Arsha, namun Arsha merasa ada yang janggal saat sesekali ada saja yang meliriknya dengan rasa kasihan, ada juga yang merasa takjub. Entah apa itu Arsha pun tak paham.
Setelah pesta usai di hari ke tujuh menjelang tengah malam purnama, Kirana dan Arsha sudah berada di kamar pengantin mereka yang sudah dihias sedemikian rupa. Aroma bunga melati yang semerbak menyengat hidung, namun membuat suasana semakin romantis nan mistis.
"Kanda, ini adalah malam pertama kita, meskipun kita sudah menikah tujuh hari yang lalu. Lebarkan senyummu dan lekas cumbulah aku,"
Arsha tak mengerti akan apa yang dikatakan oleh Kirana yang katanya sudah menjadi istrinya, ia tak tau ritual pernikahan semacam apa yang telah ia jalankan, yang jelas ia tak merasa jika itu adalah sebuah pernikahan.
"Tolong jelaskan semua ini padaku," Arsha menggenggam pergelangan tangan Kirana yang sedang bergerak menyentuh tusuk pentul di kepalanya.
"Apa yang ingin aku jelaskan? Semuanya sudah jelas bukan? Kita sudah menikah, dan sekarang adalah sepasang suami istri," ucap Kirana dengan santai.
"Bagaimana bisa kita menikah sedangkan aku tak tau apa-apa? Waktu itu aku sangat ingin menolak tapi entah kenapa tenggorokanku terasa terkunci hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun,"
Kirana tersenyum menyeringai, "walau bagaimanapun keadaanya, kau tetap tidak akan pernah bisa lepas dariku, Arsha."
Kirana menatap tajam kedua mata Arsha, kini tatapan mata itu kembali kosong.
"Puaskan aku malam ini sayang, nanti akan aku ceritakan semuanya padamu. Tapi kau harus berjanji tidak akan pernah meninggalkan aku walau apapun yang terjadi," Kirana melingkarkan tangannya pada leher Arshaka.
Lelaki itu tersenyum manis dan mengangguk. Disambutnya pelukan sang istri yang membimbingnya berjalan pada sebuah bak seperti kolam kecil yang dipenuhi dengan kelopak mawar merah.
Satu persatu hiasan di kepala Kirana ia lepaskan berbarengan dengan bibir yang saling memagut, seakan pemain profesional. Pakaian mereka basah dengan mulai masuknya kedua tubuh itu kedalam kolam air hangat. Pakaian mulai ditanggalkan hingga menampakkan kemolekan tubuh Kirana dan kegagahan Arshaka.
"Aku sangat senang Arsha, karena kau lelaki baik dan masih perjaka. Itu akan baik untuk keturunanku nantinya, entah ia akan menjadi sepertiku atau sepertimu, tak apa. Kita jalani saja,"
Sinar bulan purnama menjadi saksi atas pergumulan dua makhluk yang berbeda jenis itu. Bukan hanya jenis kelamin mereka yang berbeda, namun jenis mereka pun berbeda.
Hari berganti, lelaki tua yang berbulan lalu meratapi kepergian putranya. Kini tampak lebih tegar, ia segera melancarkan aksinya setelah membuat rencana dan persiapan yang matang.
Memang ia merasa agak aneh, karena majikan yang ia ikuti tak lagi melakukan ritual beberapa bulan belakangan ini, tepatnya setelah kematian sang putra.
Apa putranya merupakan yang terakhir? Pikirnya.
Tunggu kelanjutannya. . .