Seorang guru terduduk sendu di sudut ruangan. Kedua mata terpejam, namun tangannya sibuk memijat dahi menggunakan minyak beraroma khas.
Namanya Ibu Nadine.
Ia tidak sendiri, ada seorang anak laki-laki dihadapannya. Anak dengan tampilan yang begitu memperihatinkan, pakaian lusuh dengan aroma tubuh yang membuat hidung tak nyaman. Mungkin saja aroma itu dihasilkan dari percampuran antara wangi parfum dan juga cairan kulitnya.
Tatapan Ibu Nadine mengarah ke anak laki-laki yang duduk diam di depannya, mengamati setiap inci wajahnya sungguh sebuah raut yang begitu mengesalkan. Sejujurnya ia sangat muak dengan pemilik wajah itu. Wajah yang berlabel anak nakal.
Anak laki-laki itu merupakan anak perwaliannya di salah satu kelas di tingkat IX. Sekolah memutuskan akan mengembalikannya kepada orang tua mengingat perilaku yang telah melampaui batas toleransi. Sering berulah, sering melanggar, bahkan menyakiti temannyapun tak luput ia lakukan. Sudah sering dibina dan dibimbing, pemanggilan orang tua juga telah berkali-kali dilakukan, bahkan segala hukuman sudah pernah ia rasakan. semua seakan tak bermakna, anak laki-laki itu tetap pada dunianya. Seolah-olah apa yang dilakukannya adalah suatu kebenaran.
Ia sebenarnya merasa dilema, tidak ingin anak didiknya sampai kehilangan pendidikannya namun disisi lain ia juga tak bisa membenarkan perilaku yang sudah dilakukan. Bagaimanapun sekolah mempunyai aturan, apapun keputusan yang diambil tentu sudah mengacu pada ketentuan.
Bu Nadine kembali mengalihkan pandangannya ke wajah anak laki-laki itu. ‘Masih sama ‘tak terlihat adanya perubahan, hanya diam, datar dan tanpa ekpresi.
Ia menarik nafasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya dengan kasar. Ia mencoba untuk menetralkan emosinya, meskipun ia sadar itu bukanlah hal yang mudah dilakukan.
“apa yang akan kamu lakukan seandainya benar dikeluarkan dari sekolah ini?” tanya Bu Nadine dengan mulut sedikit bergetar. Sebenarnya ia belum benar-benar mampu menetralkan emosianya.
Diam masih menjadi jawaban. Ekpresinya semakin sulit diartikan.
Bu Nadine bangkit kemudian beralih mendudukkan bokongnya di samping anak laki-laki itu. Pikirannya kacau, inilah masa-masa sulit dalam karirnya.
“kapan kamu akan berubah?” tanyanya kembali.
Masih diam.
Antara sedih dan emosi bercampur menjadi satu, akhirnya menangis menjadi sebuah pilihan.
Ia ‘tak perduli dengan penilaian orang, baginya menangis adalah satu satunya yang bisa dilakukan. Ia merasa gagal menjadi seorang guru. Kendatipun demikian ia ‘tak akan pernah merasa menyerah.
“kalaupun saya berubah mereka akan tetap menganggapku orang jahat”
Sebuah jawaban akhirnya keluar dari mulut anak laki-laki itu.
Entahlah apa yang menjadi alasan, mungkin karena merasakan tak ada lagi pilihan sebagai penyelamat atau bisa saja karena rasa iba akan tangisan tulus dari gurunya.
Bu Nadine tercengang. Ia mulai menelan tangisnya, menghapus cairan bening yang sempat melintas di pipinya.
Ia kembali berupaya menetralisisir emosinya, mulai mencerna apa maksud yang tersemat pada kalimat yang baru saja didengarnya.
Ia memilih untuk diam dan tak bertanya lagi, pertanyaan hanya akan membuatnya harus menghela nafas berkali-kali setelah mendengar jawaban anak laki-laki itu, seperti yang biasanya terjadi.
Diam-diam Ia melirik mata anak laki-laki itu, ia menyaksikan sesuatu yang tak biasa disana. Cairan bening terlihat menggenangi kedua bola mata anak laki-laki itu.
Ini kali pertamanya ia menunjukkan kelemahan. Jika biasanya ia hanya akan bungkam dan lebih memilih menerima omelan dan berbagai hukuman.
Bu Nadine mengusap keningnya dengan keduanya jemarinya, seketika itu juga ia merasa jika sepertinya ada semacam beban yang dirasakan oleh anak laki-laki itu dan sengaja ia tutupi dengan begitu rapat.
“bagilah sedikit bebanmu! Anggaplah aku ibumu!” ucap nu Nadine dengan penuh kelembutan.
“broken home”
Itulah paling tepatnya untuk menggambarkan hidup anak laki-laki itu.
fungsi keluarga yang seharusnya bisa menjadi tempat untuk berbagi kasih sayang, saling melindungi tetapi itu sudah tidak lagi berfungsi dalam keluarga anak laki-laki itu.
Yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin diperhatikan. Disaat ia tak mendapatkan yang diinginkan, perilaku negatif akhirnya meliputi hidupnya. Label anak nakal dari orang di sekitarnyapun ia dapatkan.
Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan limpahan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Tapi mengapa anak laki-laki itu tidak?
Keberuntungan sepertinya tidak sedang memihak kepadanya.
Bu Nadine merasa jika anak laki-laki itu pantas diperjuangkan.
Diperjuangkan demi masa depan
Meskipun nantinya akan banyak pertentangan
tapi ia akan berusaha mempertahankan,
karena inilah ujian seorang guru dalam pembelajaran.
Hari terus berlalu
Berkat kesabaran bu Nadine dalam menuntun dan membimbing, akhirnya anak laki-laki itu perlahan mengalami perubahan. Perubahan ke arah yang diinginkan.
Ini membuktikan jika mendidik itu harusnya memang menuntun bukan menghukum. Hukuman hanya akan memberi ketakutan tanpa berniat melakukan.
Meskipun perubahan yang ditunjukkan anak laki-laki terbilang kecil dan masih jauh dari harapan, tapi hal ini patut disyukuri. Bukankah hal kecil itu penting, karena dari hal kecil hal-hal besar terjadi. Seperti pepatah mengatakan jika ingin memindahkan gunung mulailah dengan membawa batu-batu kecil.
………Selesai………..