Babak Kedua
Aku terbangun, saat terdengar pintu kamar diketuk-ketuk
"Ada apa, Bu ?" tanyaku.
"Ada seorang laki-laki setengah tua ingin bertemu dengan mu, nak,"
"Laki-laki? Siapa dia ?"
"Entahlah, ibu pikir dia adalah salah satu teman misterius mu,"
"Siapa namanya, Bu ?"
"Dia tak ingin menyebutkan namanya, dia hanya bilang ingin bertemu denganmu karena ada hal yang ingin disampaikan. Tapi, karena kau tak mengenalnya, ibu akan menyuruh nya pergi,"
"Jangan, Bu... Baiklah, akan kutemui dia,"
"Berhati-hatilah, nak... Ibu khawatir dia akan berbuat buruk padamu,"
"Bu, saya sudah berumur 28 tahun, nyaris 30 jadi saya bisa menjaga diri. Tapi, baiklah saya akan berhati-hati," tawaku.
***
Seorang pria paruh baya, berdiri di ruang depan, seandainya tanpa tongkat besi berwarna hitam setinggi pinggang, laki-laki itu tak mungkin bisa berdiri dengan tegak, karena pada tulang lutut kanannya seakan tak mampu menjadi penyangga tubuhnya yang agak gemuk itu. Melihat kedatanganku, laki-laki itu tersenyum ramah.
"Aku rasanya pernah bertemu dengan laki-laki itu, tapi, dimana, ya ?" tanyaku seorang diri, "Maaf, pak... Kalau boleh tahu siapa bapak, seingat saya kita tidak pernah bertemu," kataku sambil mempersilahkan orang itu duduk.
Laki-laki paruh baya itu tersenyum ramah, "Iya, nak tidak apa-apa... Kita memang tidak pernah bertemu satu sama lain, tapi, Fera anak angkatku mengenalmu sebelum kau mengenalnya,"
"Maaf, pak... Saya tidak mengerti dengan perkataan Anda,"
"Baiklah... Bisakah kau ikut aku keluar barang sebentar saja ? Ada yang ingin kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan paket-paket misterius yang kau terima tapi, paket itu kosong,"
***
Gazebo berukuran 3x5 M² itu berdiri di bawah sebuah pohon yang rindang, letaknya tak jauh dari rumah utama. Disitulah laki-laki paruh baya itu duduk sambil meluruskan kaki kanannya pada dipan, melihat kedatanganku, ia tersenyum dan menurunkan kakinya. Raisa membalas senyumannya dengan ramah untuk kemudian duduk di hadapan pria yang ternyata bernama Soepomo itu.
"Terima kasih atas kesediaan Mbak Raisa menemui saya," kata Soepomo.
"Bapak berkata, bahwa kurir wanita itu mengenal saya, padahal saya tidak mengenalnya. Bagaimana hal itu bisa terjadi ?" tanyaku.
"Iya, memang tidak masuk akal, tidak bisa diterima dengan nalar. Ketahuilah, setiap orang yang meninggal tidak wajar, dia hanya bisa mengingat hal terakhir kali sebelum ia meninggal," jelas Pak Pomo.
"Saya tidak mengerti, pak..."
"Logikanya seperti ini... Otak manusia menggerakkan semua yang ada di dalam raga, jika kau ingin minum, maka, kau pasti mencari air untuk menghilangkan dahaga. Jika kita lapar, maka, kita mencari sesuatu untuk kita makan demi menghilangkan lapar di perut. Nah, seorang kurir memiliki tanggung jawab untuk mengirim barang milik orang yang bersangkutan, jika tugasnya belum selesai, maka, ia takkan berhenti bekerja; apapun yang terjadi, paket itu harus sampai ke tempat tujuan," jelas Soepomo.
Setelah berkata demikian, laki-laki itu menatap lurus ke depan. Tatapannya tampak sayu, jelas ada perasaan duka yang mendalam berkecamuk di dalam dirinya.
Soepomo mulai bercerita tentang asal-usul kurir wanita yang bernama Fera itu.
***
Semenjak covid 19 merebak di berbagai negara, dunia serasa lumpuh. Sosial, politik, ekonomi dan budaya pun terkena imbasnya. Semuanya seakan mati. Indonesia pun tak luput dari bencana yang mematikan itu.
Orang yang biasanya kerja, harus berdiam di rumah selama berhari-hari, sementara kebutuhan perut hampir tidak pernah bisa berhenti. Maka mau tidak mau mereka harus dituntut untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup.
Pada masa-masa sulit itu, bisnis online mulai naik daun hingga sekarang. Semua serba instan, salah satunya adalah perusahaan jasa ekspedisi. Tanpa kurir, perusahaan tersebut tidak akan berjalan, demikian pula sebaliknya, tanpa adanya perusahaan ekspedisi, seorang kurir bagaikan bunga di tepi jalan yang sewaktu - waktu bisa berubah menjadi sampah, sementara, kebutuhan hidup makin meningkat.
Pernyataan di atas adalah realita kehidupan yang hampir terjadi setiap detik. Mungkin bagi orang-orang tertentu, menganggap bekerja sebagai kurir, adalah hal yang membosankan, ada pula yang berpendapat kurir adalah pekerjaan yang hina atau memalukan, tapi tidak bagi yang menjalankannya. Kurir adalah salah satu pekerjaan paling mulia, memperlakukan paket barang orang lain bak berlian.
Diantara sekian banyak kantor ekspedisi Ok Go adalah sebuah perusahaan yang benar-benar memperlakukan barang orang lain bagai berlian demikian pula para kurirnya. Itulah sebabnya, banyak orang mempercayakan barang untuk dititipkan dan dikelola dengan baik pada kantor ini.
Namun dibalik nama besar dan harum kantor ini, tersembunyi beberapa kisah kelam yang orang jarang tahu. Tersembunyi diantara sekian banyak berkas atau dokumen perusahaan yang tersimpan dalam lemari besi dan dikunci dengan kode rahasia, tidak sembarang orang mengetahuinya.
***
Siang itu, panas begitu menyengat, jalanan begitu lengang dan sepi. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah jalanan beraspal yang seakan terbakar oleh terik matahari. Angin berhembus perlahan, menerbangkan butiran-butiran debu ke berbagai penjuru mata angin.
Sebuah sepeda motor melesat kencang membelah butiran-butiran debu tersebut. Sosok bertubuh ramping, tertutup oleh jaket parasit berwarna oranye dengan emblem Ok Go pada bagian dada kanan dan label nama bertuliskan "FERA UTAMI" pada dada kiri. Helm teropong menutup seluruh kepalanya. Diantara helm dan masker tampak sepasang mata bulat, menatap lurus ke depan. Box delivery yang tergantung pada bahu kiri dan kanan seakan menahan punggungnya agar tetap duduk dengan tegak.
Kurir wanita itu bernama Fera Utami, ia bergabung dengan kantor Ok Go sebagai kurir baru 5 bulan. Semula ia bekerja sebagai agen pemasaran di sebuah dealer sepeda motor, karena merebaknya virus covid 19, ia adalah salah satu pegawai korban PHK, sementara ia harus menanggung beban hidup 5 orang anggota keluarga : ayah - ibu yang sudah lanjut usia, seorang suami pengangguran dan 2 orang anak yang baru berusia 7 dan 9 tahun, putus sekolah.
Panas yang menyengat, tak mematahkan semangatnya untuk mengantar barang sampai tujuan dengan selamat. Ia terus memacu sepeda motornya sambil menoleh kesana kemari mencari-cari rumah di kawasan perumahan elite di kota Pasuruan yang biasanya ramai oleh kendaraan bermotor berlalu lalang. Ia berhenti sejenak sambil membuka berkas2 pengiriman, rumah berlantai dua di hadapannya itu tujuannya.
Setelah diperiksa dengan teliti, barulah ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari delivery boxnya.
"Mas, ada paket... tolong diterima," katanya sambil mengetuk pintu gerbang besi berwarna kuning.
Dari dalam rumah muncul seorang wanita berumur sekitar 50 tahunan.
"Permisi, bu... apa benar ini rumah Mas Toni ?" tanya Fera.
"Benar, mbak... ini rumahnya tapi beliau sedang keluar," jawab wanita itu.
"Oh, begitu... kebetulan ini ada paket buat beliau," kata Fera sambil menyodorkan bungkusan di tangan kanannya.
"Terima kasih, mbak... mari masuk dulu untuk sekedar minum," ujar wanita itu sambil menanda tangani berkas yang juga disodorkan Fera.
"Terima kasih, bu. Tapi, masih banyak paket yang harus saya antar... terima kasih pula atas kesediaannya menyisihkan waktu untuk bekerja sama dengan Ok Go. Saya mohon diri dulu," kata Fera ramah untuk kemudian kembali melangkah ke sepeda motornya dan melanjutkan perjalanan.
Itu adalah sebagian dari pelayanan yang diberikan oleh Fera sebagai kurir Ok Go. Semua orang suka dengan pelayanan yang diberikan olehnya. Akan tetapi, tidak semua orang memperlakukannya secara manusiawi.
***
Kemelut terjadi saat perusahaan yang dipimpin oleh Eric Yeung itu menempatkan Zainal Al Kathiri sebagai manajer. Tanpa sepengetahuan Pemilik utama perusahaan, Zainal atau yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Muda Zain, menyelipkan paket berbungkus plastik coklat kehitaman dengan kode-kode rahasia, diantara paket-paket lain yang berwarna agak terang. Plastik coklat kehitaman berisikan narkoba, ekstasi dan obat-obat terlarang lainnya; sementara paket yang berwarna lebih cerah berisikan barang-barang legal.
Fera mengetahui hal itu secara tidak sengaja dan berniat hendak melaporkannya pada pihak berwajib. Sayangnya, tidak sedikit dari mereka yang menanggapinya karena memang berlaku sebagai benteng atau bahkan sebagai pemakai. Tidak jarang Fera mendapat peringatan agar tidak terlalu ikut campur urusan perusahaan, intimidasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Tuan muda Zain, berniat untuk menyingkirkan Fera dengan berbagai cara.
Hampir semua orang di kantor Ok Go berada dalam kekuasaan bandar narkoba itu, oleh sebab itu tak seorangpun berpihak pada Fera.
"Jika kau dan keluargamu selamat, lebih baik jangan berbuat macam-macam. Aku mengatakan ini demi kebaikanmu,"
Perkataan itu hampir setiap hari didengar olehnya.
Fera adalah seorang wanita yang tangguh, nyalinya tidak menciut meski diintimidasi dan akhirnya bertemu dengan Soepomo, tangan kanan Eric Yeung. Saat hendak melaporkan kejadian itu pada Eric Yeung, malah tertimpa sial, Zain membunuh keluarganya, ia sendiri dibuat sekarat dan untungnya ia masih bisa bertahan hidup meski menderita lumpuh pada bagian kaki kirinya.
Setelah sembuh, Soepomo kembali ke kantor Ok Go tapi sudah mengganti namanya menjadi Zulkan.
Tujuannya adalah menggulingkan kekuasaan Zain. Nasib mempertemukannya dengan Fera, wanita itu mengingatkan pada anaknya dan tanpa ragu ia mengangkat Fera sebagai anaknya. Mereka bekerja bahu membahu untuk membongkar kedok kantor Ok Go dan menyeret Zain ke meja hijau.
Tapi, rencana tidak selalu berjalan dengan mulus. Tanpa sengaja, Soepomo mendengar dan mengorek pembicaraan salah satu anak buah Zain bahwa Manajer muda itu berniat untuk menyingkirkan Fera secara licik seperti yang telah dilakukannya kepada Keluarga Soepomo.
Beberapa anak buah Zain menyamar sebagai kostumer. Rumah berlantai dua jalan x no x itu adalah saksi bisu dimana Fera harus menerima nasib naas, dicekoki obat bius dan diperkosa bergantian oleh mereka. Dua diantaranya adalah Gunawan dan Irul.
Sementara, Soepomo tidak bisa bertindak apa-apa manakala Fera diperlakukan tidak manusiawi. Saat hendak menghembuskan nafas terakhirnya, Fera menggenggam paket yang hendak dikirimkan ke Raisanudin dengan Alamat.... jalan X no X. Fera berniat melaksanakan tugasnya dengan baik namun justru menerima celaka dan perusahaan tidak mau mengakuinya.
Itulah sebabnya Arwah Seorang Kurir Wanita bernama Fera bergentayangan dan kemunculannya disertai dengan kata-kata hampa, datar dan dingin :
"Mas...
ada paket....
tolong diterima...."
Ia akan terus bergentayangan meminta keadilan pada siapa saja yang membunuhnya. Sementara, cincin emas bermata merah delima adalah barang pribadinya sebagai pesan Kematian darinya.
***
Soepomo mengakhiri ceritanya sementara aku menghela nafas panjang, "Jadi, begitu. Lalu, bagaimana cara bapak mengumpulkan bukti-bukti bahwa Ok Go telah melakukan bisnis ilegal ?"
"Nak Raisa, Tuan Muda Zain itu mengumpulkan berkas-berkas pengiriman di sebuah locker. Mungkin semuanya sudah dimusnahkan olehnya.
Tapi, bapak memiliki salinan lengkap. Perlu nak Raisa ketahui, tidak semua pegawai Ok Go setuju dengan perbuatan Zain, beberapa diantaranya adalah orang-orang pilihan dari Saudara Eric Yeung yang menyamar. Jadi, sekalipun berkas-berkas itu dimusnahkan, takkan hilang begitu saja. Neng Yessy, adik Fera rela menjadi gundiknya demi ingin membalas dendam kematian kakaknya. Dialah yang meminjamkan berkas-berkas tersebut kepada bapak. Bapak yakin tak lama lagi, Zain akan kehilangan kekuasaannya dan bisnisnya pun akan bangkrut. Yah, tak lama lagi," jelas Pak Soepomo.
"Benar-benar tindakan yang nekat, pak," ujarku, "Lalu, bagaimana dengan jasad Fera ?"
“Jasad Fera.... sampai saat ini belum ditemukan, nak... Neng Yessy juga mencarinya,” ujar Soepomo.
"Apakah bapak sering bertemu dengan Yessy itu ?"
"Bapak bertemu dengan neng Yessy, 1 Minggu yang lalu, dia memberikan berkas pengiriman barang setahun yang lalu, setelah itu Bapak tidak pernah bertemu dengannya lagi, khawatir terjadi sesuatu padanya,"
***
Pria bertubuh tegap, tinggi, gempal berambut gondrong itu tampak sibuk mengawasi 2 orang yang sedang menata bungkusan berwarna coklat kehitaman di sebuah bagasi. Barang tersebut esok harus segera dibawa ke 5 kota besar di sekitar Jawa Barat dan sekitarnya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Begitu semua barang selesai ditata, bagasi mobil ditutup dan dikunci. Setelah memberikan 2 lembar uang kertas senilai 100.000 pada masing-masing orang, ia ditinggal sendiri. Sebatang rokok disulut, ia bersandar pada badan mobil sementara sepasang matanya menerawang jauh ke langit yang diterangi bulan purnama plus pernak-pernik nya.
"Mas....
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu menggema, mengambang, datar dan dingin. Pria gondrong itu menoleh kesana-kemari, tidak ada siapapun di sekitar tempat itu. Angin dingin berhembus perlahan menerpa tengkuknya. Menusuk ke setiap nadi dan pembuluh darahnya. Pada saat itulah tercium aroma harum bunga melati, namun aroma itu makin menyengat sekalipun harum tapi bercampur dengan bau aneh yang tak tahu darimana asalnya.
Perlahan-lahan aroma wangi digantikan dengan bau aneh. Pria itu mengusap-usap hidungnya... sekian lama ia bergerak di bidang penjualan obat-obat terlarang, ia paham betul bahwa aroma yang diciumnya saat ini bukanlah aroma obat-obatan tapi, aroma mayat busuk.
"Mas....
ada paket....
tolong diterima..."
Suara itu terdengar dua kali, kali ini terdengar dekat sekali, tapi si pemilik suara tidak nampak. Jantungnya berdegup dengan kencang, nafasnya memburu dan hawa dingin merayapi sekujur tubuhnya.
"Siapa itu ?" tanyanya dengan suara bergetar. Tak ada jawaban mendadak sepasang matanya tertuju pada sebuah bayangan sekitar 5 meter dari tempat ia berdiri. Bayangan wanita berpakaian coklat bercampur merah kehitaman khas pakaian kurir Ok Go namun compang-camping, topi Eiger dikepala, menutupi wajahnya yang setengah tertunduk.
Cahaya lampu yang remang-remang, membuat ia harus memfokuskan pandangannya lurus ke arah depan tempat wanita itu berdiri. Tidak ada siapa-siapa disana, mungkin ia sedang berhalusinasi. Ia tersenyum-senyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepala melangkah memasuki mobil. Akan tetapi, baru saja melangkah beberapa tindak, tepat di dekat hidung muncullah wajah lain.
Laki-laki itu menjerit kaget terlebih setelah melihat salah satu mata di wajah itu berlobang, sementara yang satunya lagi tampak dikerumuni belatung, cacing, kelabang dan hewan-hewan melata lain bergerak-gerak merayapi bagian dalam kulit pipi dan keluar melalui bola matanya yang putih.
Belum habis rasa kagetnya, mulutnya telah dijejali serbuk-serbuk putih mengkilap bak kristal. Ia berontak tapi, sekujur tubuhnya serasa tak bertenaga. Serbuk-serbuk putih itu seakan tidak ada habisnya, masuk dan memenuhi kerongkongannya.
***
Pemuda itu menggerakkan jari-jemarinya pada keypad, keringat dingin bercucuran, mulutnya gemetaran saat ia mengucapkan kata, “Hallo, Tuan Muda Zein. Si Naga meninggal,”
"Apa ? Si naga mati ? Siapa yang membunuhnya ?" teriak Tuan Muda Zain di seberang sana.
"Over dosis, tuan,"
"Bagus sekali... itu adalah kesalahannya, biarkan saja ia terbakar di neraka. Lalu bagaimana rencana pengiriman hari ini ?"
"Bagian pengiriman juga meninggal, tuan tadi menjelang subuh,"
"Apakah kematian sekarang sudah jadi tradisi. Semua orang pada mati, artinya, aku lebih bisa berhemat. Namamu, Deviant, kan? Sekarang aku akan menaikkan gajimu jika kau bisa mengatasi pengiriman barang-barang kita ke tempat tujuan tepat waktu.... bagaimana?"
"Siap... saya akan berusaha,"
"Bagus... kutunggu kabar baik darimu... jika masih ada barang yang pengirimannya tersendat-sendat, maka, aku akan memecatmu,"
Telepon ditutup orang yang bernama Deviant itu termenung beberapa saat, "Sial, malah aku yang kena getahnya," gumamnya seorang diri.
Baru saja ia menutup mulutnya, sebuah cincin emas bermata merah delima menggelinding ke arahnya dan berhenti tepat diantara kedua telapak kakinya. Ia terkejut lalu memungutnya, “Cincin emas bermata merah delima, milik siapa ini,”
Deviant membelalakkan mata, seorang wanita berpakaian kurir Ok Go compang-camping kurus dan kulitnya pucat sudah berdiri di hadapannya. Jantung pria berusia 39 tahun itu seakan berhenti berdetak. Aroma busuk menguar menusuk-nusuk lubang hidung, perutnya seakan diaduk-aduk. Ia hendak membuka mulut seakan hendak bertanya siapa wanita itu namun suara seperti terhenti di kerongkongan.
Pada mulut yang terbuka, Kurir Wanita itu menjejalkan sebuah bungkusan kecil berisi serbuk-serbuk putih. Satu, dua, tiga hingga lima sampai akhirnya, wajah Deviant membiru dan tubuhnya tak bergerak-gerak lagi.
***
__________ Bersambung ke Jilid 3 __________