"Cinta akan kembali pada tempat di mana ia seharusnya berada. Rumah."
Valedivo Reyes, Mei 2022.
Kamu pernah mengusir seekor anjing yang sudah lama kamu pelihara? Apakah ia akan kembali padamu, atau malah pergi meninggalkanmu? Aku percaya, walau kamu menendangnya sampai berteriak hingga gaduh, ia akan tetap kembali padamu. Begitulah cinta, akan kembali ke tempat dia seharusnya berada, tempat itu bernama rumah.
Aku pernah kenal dengan seorang cewek di sekolah. Kisah cinta kami tak begitu bagus, hanya bertahan dua bulan.
Aku Revan, siswa pindahan dari SMU Tarsius ke SMUN Utama, tempatku berada sekarang. Aku kelas sebelas, saat kelas agama, aku bertemu dengan Elsa. Ia ternyata kelas sepuluh dan dia duduk di sebelahku. Anaknya gemuk, cerewet, menyebalkan, sudah jelas tidak ada yang mau bergaul dengannya. Aku pun tak mau, hanya saja, karena siswa pindahan, aku harus duduk di situ karena tak ada yang mau duduk dengannya. Pelajaran agama Katolik di sekolahku digabung dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas karena jumlah kami hanya 44 siswa totalnya.
Pelajaran agama yang seharusnya menyejukkan hati, berubah menjadi neraka karena setiap hari Jumat, aku harus berurusan dengan Elsa. Ada banyak cewek lain, dan … normal, tapi kenapa aku yang harus menjadi korban? Huhu, mengsad.
Setelah sebulan bersekolah di situ, aku baru menyadari kehadiran Silvia, siswi kelas dua belas yang berparas manis dan berkulit hitam manis. Dia anggun, tak banyak bicara namun lebih banyak tersenyum ketimbang berbicara. Sifatnya berbeda sekali dengan Elsa, si soang gembrot berambut panjang. Pakai behel pula.
Silvia duduk di ujung sebelah kiri kelas, sedangkan aku di sebelah kanan. Ia sering berganti tempat duduk, bersama dengan mayoritas cowok yang menyukainya. Wajarlah, aku pun juga mau, mau kenal lebih jauh dengannya.
Aku melamun di saat pelajaran agama, karena gurunya sudah tua dan tak memperdulikan aku yang selalu melamun ke arah Silvia.
"Woi!" Elsa mengagetkan dengan menonjok lenganku. Aku kagetlah, kayak disamber geledek.
"Pelajaran agama malah ngelamun, nggak dapet berkah loh."
"Bodo," jelasku malas pada Elsa.
"Liatin apa sih? Kak Silvia?"
"Nggak," aku menyangkal.
"Ngaku lo … entar gue bilangin."
"Setan alas lo, El," ucapku kesal.
"Naksir yaa?"
"Emang napa kalo naksir? Apa urusan lo? Nggak mungkin juga dia bakal naksir sama gue. Dia udah kayak artis Korea yang susah digapai. Puas lo?"
Elsa sepertinya girang dan setelah itu suka sumringah sendiri. Mungkin sekrup otaknya sudah geser.
Aku tipikal cowok yang jarang bersosialisasi, tidak mau beli barang bermerek kecuali diberikan sebagai hadiah. Aku jarang sekali merawat diriku dengan skincare atau memotong rambut di salon. Mungkin itulah yang membuatku tidak glowing seperti Julivan, yang kerap duduk sama Silvia.
Lama kelamaan aku akrab dengan Elsa, yang seharusnya aku mendekati Silvia. Senyum Silvia manis sekali, ia murah senyum, termasuk padaku. Padahal aku ini siapanya? Aku cuma adik kelas yang sama sekali tidak populer. Belakangan ini, ia beberapa kali menoleh padaku. Apa ini maksudnya? Apakah mulut Elsa yang berbuat ulah? Kuhajar dia kalau Silvia sampai tahu kalau aku naksir dia.
Hampir setiap jam istirahat Elsa menghampiri kelasku. Ia mengajakku ke kantin karena tahu, aku tak punya banyak teman yang biasa kuajak ke kantin.
Masa kelulusan Silvia tinggal tiga bulan lagi, maka dari itu, aku mau menyisakan hari-hariku menatap Silvia.
"Van, yakin lo nggak mau nembak Kak Silvia, bentar lagi dia lulus loh," ucap Elsa sambil makan nasi uduk di jam istirahat.
"Biarin deh, mana mungkin juga dia naksir sama gue." Aku malas meladeni Elsa. Mulutnya belepotan, seperti tidak pernah diajari tata krama di meja makan.
"Kalo dia naksir lo beneran gimana? Oh ya, kita belom pernah gereja bareng. Minggu besok kita ke gereja yook."
"Sama eloo? Ogah sih. Titik. Males gue gereja sama lo."
"Ayoolah, Van. Gue comblangin sama kakak gue. Dia cantik."
Aku melongo, melihat Elsa dari ujung kepala hingga ujung kaki. Omongan Elsa mana mungkin bisa dipercaya. Dia sendiri kayak babi hutan brutal, kenapa bisa punya kakak yang cantik?
Aku meninggalkan Elsa tanpa pamit, ia masih mengunyah dan kurasa, pembicaraan yang nggak jelas juntrungannya ini harus dihentikan.
*****
Aku masuk ke kelas agama Katolik, ada pemandangan yang tak biasa kulihat. Silvia duduk manis di bangkuku. Kenapa dia duduk di bangkuku? Bukankah ia bisa duduk di bangku lain yang ada cowok gantengnya? Semua cowok di kelas ini naksir sama dia.
"Oh, maaf aku mengambil bangkumu." ucap Silvia sebagai sapaan pertamanya padaku.
"Nggak apa-apa Kak Silvia. Aku bisa duduk di tempat lain."
Elsa datang, mengapa di saat seperti ini ada obat nyamuk yang mengganggu?
"Hai, Kak."
"Hai," jawab Silvia.
"Van, lo duduk sama Julivan sana. Gue mau duduk di bangku gue," ucap Elsa.
"Nggak mauu, gue mau duduk sama Silvia," batinku berteriak. Aku bergetar, sepertinya badanku menolak untuk beranjak.
"Hai Sil, tumben lo duduk di sini," sapa Julivan. Ia ingin duduk, tapi di halangi oleh Silvia. "Lo sama Elsa dulu sana. Gue ada urusan sama Revan." Julivan yang juga kelas dua belas pun kaget, begitu juga denganku. Kenapa tiba-tiba Silvia berkata seperti itu?
"Oke, Sil, Jumat depan yah." Silvia tersenyum manis pada Julivan. Mengapa malaikat seperti dia bisa ada di sini?
Silvia duduk dengan anggun, walau masih mengenakan seragam putih abu-abu. Auranya terlihat dewasa dengan kecantikan paras wajahnya. Ia agak kurus, berbeda sekali dengan Elsa yang biasa kulihat. Mereka seperti beauty and the beast bagiku.
Julivan pergi dengan kecewa, ia merasa kalau akulah biang keroknya. Ia duduk dengan Elsa.
"Kamu cuma berdiri sampe melongo gituu, ada yang salah yaa?" tanya Silvia sopan yang makin membuatku malu. Wajahku memerah seperti kepiting rebus. "Duduklah, sini, sama aku," ucap Silvia sambil menepuk bangku di sebelahnya. Masih banyak bangku kosong, tapi kenapa dia malah menyuruh aku duduk di sebelahnya?
Aku duduk, lalu menatap Elsa yang sedang cengengesan. Aku melotot, menarik jari telunjukku di leher seolah berkata, "mati kau, habis bilang apa sama Silvia?"
"Elsa lucu, dia baik," ucap Silvia.
Aku menyeringai keki, "Elsa itu lucu dan baik dari sisi mananya, ya?" batinku. Jelas-jelas cuma aku temannya.
"Kalian cukup dekat," ucap Silvia.
Aku bergumam, apakah Silvia bermaksud untuk bertanya kalau kami berkencan?
"Ohh, nggaak Kak, kami cuma teman doang kok. Nggak pacaran," jawabku sekenanya. Silvia tersenyum dengan manisnya, dari mana ia punya senyum seindah itu?
Hari ini aku benar-benar bahagia, pulang ke rumah dengan senyum yang tak ada remnya. Siapa yang akan menyangka sih, akan terjadi hal seperti ini?
Di tengah perjalananku pulang, ponselku berdering dan aku langsung menjawab panggilan itu, "Apa?"
"Cie-cie yang lagi berbunga-bunga." jawab Elsa di telepon.
"Ngomong apa lo sama Kak Silvia?"
Elsa bergumam dan ia langsung membelokkan pembicaraan. "Hari Minggu jadi ya? Gue udah ngomong sama kakak gue."
"Ogah, adeknya aja kayak adukan semen, gimana kakaknya? Sama aja, 'kan?"
"Kalo lo nggak dateng, gue aduin semua yang lo omong ke—"
"E—e—e berani lo ngomong—"
"Hari Minggu jam setengah sembilan lo udah mesti nyampe di sana. Depan Gua Maria. Gue marah besaar kalo lo nggak dateng. Titik!"
Tuuut.
"Buseet nih anak!" Aku sampai berteriak di dalam angkutan umum.
*****
"Sialan, berani banget dia bikin gue bangun subuh dan mandi, naik angkot dari jam enam pagi. Dasar nyusahin banget," batinku menggerutu di depan Patung Bunda Maria. "Cih, sampe gue harus ngomel di sini." Aku sampai di Gereja St. Anna Duren Sawit sejak jam delapan pagi. Bagiku, Elsa sangat menyebalkan, kenapa dia harus mempertemukan aku dengan cewek lain, sedangkan dia tahu kalau aku naksir—
"Hai, Revan." Silvia duduk di sebelahku. Aku mendadak merinding dihampiri Silvia. Kenapa ada dia di sini? "Nggak kusangka kamu dateng tepat waktu." Ia berdeham lalu melanjutkan kalimatnya, "Adikku, Elsa, terkadang memang menyebalkan, sih, kadang-kadang. Waktu dia nelpon kamu, aku ada di sebelahnya. Perkenalkan, aku Silvia, kakaknya Elsa."
Aku melongo, terlebih saat ia mengajukan tangannya untuk menyalamiku. Aku masih tak percaya kalau Elsa adalah adik Silvia.
Pletaak!
Elsa menjitak kepalaku dengan keras.
"Haaaa, dasar tolol lo, Revan. Dia kakak gue tau! Kakak kandung. Nyahoo lo sekarang. Puas lo ngejek gue jelek?"
"Aduhh, sakit, monyong!" teriakku.
"Udah-udah, Elsa, kamu temenin papa mama sana di dalem gereja," perintah Silvia dengan kalem dan anggun.
Elsa berdiri, dia pergi dengan damai. Akhirnya.
"So, Revan. Aku mau kenal lebih jauh sama kamu. Elsa bilang kalo dia mau comblangin kamu ke aku, 'kan?" ucapnya tanpa berbasa basi.
"Ya—yang bener nih, Kak? Ini nggak semacam prank, 'kan? Atau kakak lagi nggak taruhan sama temen-temen Kakak?"
"Apa aku terlihat sedang main-main di depan Patung Bunda Maria?" Senyum Silvia manis sekali, lama kelamaan aku bisa meleleh.
Mulai hari ini aku menyatakan rasa sukaku pada Silvia, benar saja, ia langsung menerima perasaanku dan kami jadian. Tersurat banyak sekali pertanyaan di benakku. Kenapa harus aku? Silvia bisa saja menerima cowok lain yang lebih ganteng, baik dan populer seperti Julivan. Entah apa maksud dari semua ini.
Selesai misa yang tidak aku ikuti bersama dengan Silvia, aku ikut keluarga Silvia dan Elsa ke rumah mereka. Aku diperkenalkan oleh keluarganya. Mereka berbicara banyak tentang Silvia. Di ruang tengah, kami bersenda gurau hingga akhirnya, sang ayah mempersilahkan Elsa untuk masuk ke kamarnya, sepertinya akan ada pembicaraan serius denganku dengan orang tua Silvia.
"Revan, kamu orang yang baik," ucap papanya Silvia.
"Revan, kami tentu tidak melarang kamu berpacaran dengan Silvia. Seperti dibilang papa, kamu baik. Sayangnya—"
"Iya, Tante," jawabku.
"Kalau mau lebih serius, kalian harus selesaikan pendidikan kalian dahulu ya."
"Revan, aku harus jujur sama kamu." Silvia angkat bicara. Aku mulai mendengarkan Silvia.
"Elsa sangat menyukai kamu, dia selalu cerita tentang kamu. Makanya, aku mulai memperhatikan kamu sejak itu. Tapi—
"Perkataan adikku membuat aku terlena, dan aku ikut menyukai kamu. Kamu bagai racun, Van. Racun yang harus kulumat karena aku tahu kalau adikku sendiri menyukai kamu," aku Silvia
Aku jelas heran, seperti ada sesuatu yang tidak beres di sini. Aku baru saja jadian dengan Silvia, tapi kenapa rasanya seperti tidak benar.
"Revan, alasan Elsa merelakan kamu untuk kakaknya, karena ..."
Mamanya menghentikan kalimatnya. Mereka meneteskan air matanya, aku pun jadi tambah heran. Ada apakah ini?
"Udah, Pa, Ma, nggak usah dibahas di sini. Aku cuma mau bahagia. Titik."
"Iya, Ma. Kita berdoa yang terbaik untuk Silvia, Elsa, dan Revan," ucap papanya Silvia.
"Silvia, kamu yakin dengan pilihanmu?" Papanya bertanya serius sekali. Aku heran, aku masih sekolah, mengapa pertanyaan itu seperti mengarah pada pernikahan? Aku belum mau menikah muda. Heyy..
"Setelah kalian selesai kuliah, papa mau kalian langsung menikah."
"Whatt!" Bukankan ini terlalu cepat untuk membicarakan pernikahan? Kenapa buru-buru sekali?
"Kamu akan mengerti nanti, tapi restu kami sudah ada untukmu, Revan."
Aku melamun, seperti habis tertimpa meteor. Menjadi pacar Silvia yang sudah kuidam-idamkan dari sejak aku masuk sekolah baru ini, tentu saja berita membahagiakan bagiku. Namun, kenapa auranya menyedihkan sekali? Kenapa semua orang di sini nampak sedih?
Elsa keluar kamar, ia duduk di sebelahku. "Heh, gue bilang apa, 'kan? Kakak gue suka sama lo."
"Makasih El, buat semua pengorbanan kamu. Aku nggak akan mengecewakan kamu." Mereka berpelukan, aku jadi tambah bingung. Ini keluarga kok drama banget ya? Kayak Drakor, iya nggak sih?
Aku pulang ke rumah. Setelah hari ini, aku memulai hidup baru sebagai kekasih hati Silvia. Elsa tetap saja cerewet dan menyebalkan seperti biasanya. Berita jadian kami pun membuat gempar satu sekolah. Terima kasih pada Elsa.
Julivan jelas syok. Mampus kau.
Sayangnya, kisah cinta kami harus berakhir pada bulan kedua. Aku pun mengerti, mengapa Elsa merelakan orang yang dikasihinya hanya untuk sang kakak. Silvia meninggal karena asma akut yang sudah dideritanya sejak kecil.
Kematiannya tak ada yang menduga dan cepat sekali. Sepulang sekolah, Silvia mengangkat pakaian kotor untuk dimasukkan ke mesin cuci. Menurut Elsa, Silvia sesak napas lalu menjatuhkan pakaian kotor itu dan tak sadarkan diri. Jarak rumah sakit cukup dekat dengan rumah mereka, Nahas, Silvia meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Semua pembicaraan yang di rumah mereka pun menjadi jelas. Silvia hanya mau menghabiskan sisa waktunya hanya untuk membahagiakan dirinya. Pantas saja Elsa melakukan hal itu.
Kenaikan kelas ke kelas dua belas pun menjadi momen yang paling memilukan dalam hidupku, begitu pula dengan Elsa yang tak menyangka Silvia akan dipanggil secepat ini oleh Yang Maha Kuasa.
Tuhan memang memegang kartu umur semua umatnya. Aku berdoa pada Tuhan agar ia diterima di sisinya. Ia disemayamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur. Hingga saat ini, aku masih mengunjungi kuburannya setiap minggu. Tak sekalipun aku absen, sesibuk apapun aku.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan bulan berganti bulan. Kesehatanku menurun drastis, badanku makin kurus dan aku makin susah tidur. Aku berkonsultasi pada banyak dokter, hingga akhirnya aku berobat ke seorang pintar di daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur. Orang tuaku jelas khawatir dengan keadaanku sekarang.
Tak ada diagnosa dari dokter yang membuat senang hatiku karena menurut mereka aku tidaklah sakit. Di Pondok Bambu, aku diberi sebuah cairan beserta garam. Aku diminta untuk pergi ke kamar lalu menyipratkan cairan itu bersama dengan garamnya.
Aku kaget, ternyata pertanyaanku selama ini terjawab sudah. Mengapa punggungku selalu terasa berat, seperti mengangkat beban, bahkan seperti mengangkat orang di badanku.
Di cermin itu, aku melihat seseorang yang melingkar di badanku. Nemplok seperti benalu di sebuah pohon. Aku sama sekali tak merasa takut karena yang kulihat di sebuah cermin adalah sesosok hantu wanita.
Ia menunduk, wajahnya pucat, rambutnya panjang dan memakai gaun putih panjang. Aku menghela napas, ternyata dia yang selama ini berada di punggungku, duduk manis seenaknya sambil terdiam.
Aku tak mau lari, karena sekuat apapun aku berusaha pergi darinya, ia akan tetap di situ. Aku mengangkat tangan kananku dan berusaha untuk membelai rambutnya, walau aku tahu itu takkan berhasil.
"Sayang, aku tau kamu akan selalu menjagaku, karena cinta ... akan kembali pada tempat seharusnya ia berada. Aku mencintai kamu."
Hantu Silvia menatapku di cermin, ia memang seram dengan wajah yang sebagian sudah mengelupas dagingnya. Aku membelai pipinya, sepertinya ia dapat merasakan sentuhan tanganku. Rasanya seperti nyaman sekali baginya.
"Kamu milikku, selamanya, Revan. Cintamu akan kembali ke tempat seharusnya. Ke rumah," bisik hantu Silvia dengan lirih dan mendesah, telingaku terasa dingin.
Aku mendadak lemas dan terjatuh di lantai. Benturan di kepala yang harusnya sakit, sama sekali tak dapat kurasakan. Aku tak dapat merasakan apa-apa selain ... kebahagiaan.
"Mari pulang."
Revan disemayamkan di sebelah Silvia.
Selesai.