"Tatap matamu bagai busur panah,, yang kau lepaskan ke jantung hatiku. Meski kau simpan cintamu masih, tetap nafasmu wangi hiasi suasana. Saat kau kecup manis keningku"
Apa yang kamu dengar tentang suara hati sang perindu, meraung-raung tidak tahu malu. Menyimpan sejuta impian yang tak ada ujungnya, merasa sesak jika tidak bertemu muka. Hai kamu, sang perindu. Tak bisakah kamu hidup damai seperti orang lain. Terbebas dengan segala emosi penuh tekanan, yang tak ada obat selain bertemu dengan sang tuan.
Ada kalanya jiwa merasa lelah, namun raga berontak tak mau kalah. Aku hari bagaimana? Aku harus apa? Jika hati tak seimbang dengan logika.
"Tuan.. Berhenti lah menyiksaku dengan pintamu, sesungguhnya jiwa ku tak mampu menahan rindu. Entah apa yang tuan pintakan? Hingga wajah Tuan yang selalu dalam ingatan"
Aku menatap beningnya bulan, indah kiasan yang Tuan ku berikan. Mengapa rindu ini sangat berat terangkat untuk ku, namun sangat malu untuk melepaskan pada Tuan ku. Dingin malam tiada mampu menundukkan panasnya rindu dalam jiwaku. Kata azimat apa yang Tuan ku pinta? Apa kau tau Tuan? Sebenarnya ketika sang puan mu sulit untuk terlelap padahal malam sudah sangat larut, bukan karena dia tidak bisa memejamkan matanya, tapi dia sedang berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Tuan, rokok mu yang kau bakar, namun hatiku yang menjadi abu"
"Tuan, hukum lah aku dengan kerinduan, tanpa pertemuan. Tapi bebaskan aku dari rasa khawatir, terhadap takdir." Ucapku di kesunyian ku merindukan Tuan ku.
Tuanku, menghilang entah ke mana. Tapi, aku masih selalu melihatnya. Aku melepasnya bebas ke mana-mana, tapi aku mengurungnya di suatu tempat paling dalam.
Mataku membangkitkan kenangan yang terbakar, kebahagiaan yang murah, dan keluh kesah yang riang. Aku dihalangi dinding yang tebal, membuatku tak dapat leluasa melihatmu. Hatiku di huni kerinduan, tapi tidak dapat melakukan pertemuan.
Sehingga tawaku bukan bahagia sungguhan, dan tangisanku bukan dari luka yang kuciptakan.
Jika tuan adalah semesta, maka akulah yang ada di dalamnya. Pengisi dari jiwaku yang hampa. Dan jika saja Tuan itu malam, aku akan tidur di siang hari. Agar aku selalu terjaga saat bersamamu.
Sayangnya Tuan adalah Tuan..
Dan aku adalah aku...
(Tuan dan aku)
Dalam tulisan, sudah terpisahkan oleh kata "dan". Lalu intinya Tuan adalah ilusi yang aku anggap nyata.
Tuanku, kita dipertemukan untuk saling memberi pelajaran, bukan untuk saling membahagiakan. Ibarat aku sebuah pena, "Aku takkan bisa menulis kata tanpa tinta." Begitu pula dengan kita, tak mungkin bersama jika hanya aku yang mencinta.
Tuan menjanjikan nirwana akan aku dapatkan, tuan menjanjikan bualana untuk aku terbang, Tuan menjanjikan untaian cinta untuk aku genggam. Namun Tuhan menjanjikan Tuan hanya sebagai doa di "sepertiga malam".
END