Petang terasa sepi, namun kala itu ramai berkecamuk di dadaku. Sebuah peta yang aku temukan di atas loteng rumah mengarahkanku pada semak rumput setinggi dua meter, sebuah labirin berukuran besar yang sebelumnya tak pernah kutemui. Seakan labirin muncul ketika peta ini kutemui untuk pertama kalinya. Pelataran labirin ini dipenuhi oleh dedaunan kering, menutupi seluruh tanah yang kupijak, tingginya hampir sebatas mata kaki.
Hampir tidak ada angin yang berembus di sini, terlampau sunyi sampai takut untuk berpijak dan menimbulkan suara berisik dari daun kering. Tempat ini pun bisa dibilang cukup sempit, sampai bahuku bersentuhan dengan dua sisi tembok labirin.
Kampung itu seakan tak ada penghuninya walau jam dinding Rumahnya Bujang lapuk baru menunjukan pukul 19;30 Wib .
Suara riuh-rendah di surau tempat para penduduk suka mengadakan perkumpulan pengajian telah tidak terdengar , warga yang biasa mengisi Malam Jum,at dengan tadarusan Al-Qur,an yasinan telah pada pulang kerumahnya masing-masing dan para penduduk tak ada yang Nampak nongol ke luar pintunya masing-masing.
Bujang Lapuk seumuran 35 tahun yang belum kawin sampai saat ini heran bercampur bimbang , orang Rumah semuanya pergi melayat saudaranya yang meninggal di kampung tetangga sebelahan kampungnya.
Yang menemani Bujang Lapuk hanyalah sebuah Radio Kuno di balik kamar biliknya kali ini , sarung yang menggantung di paku tiang kayu kamarnya secepatnya di pakai dengan cara di taruh di antara lehernya yang panjang karena berperawakan begeng dan tak berdaging , memang nasib Bujang lapuk itu belum berdaging .
Bujang lapuk batuk-batuk kecil di rumahnya sendirian ,ada maksud dia akan keluar menghampiri temannya di seberang jalan perkampungan yang harus melalui sebuah pemakaman besar asset warga kampungnya .
Namun perlu diketahui ketika warga kampung tersebut meninggal maka di makamkan di tempat pekuburan massal tersebut.
Sarung kotak-kotak hitam itu mencoba jadi temannya bujang lapuk , ketika angin semilir menusuk tulang menyapu dadanya ketika daun pintu itu di bukanya
Pandangannya menerawang keluar pagar bambu rumahnya , Nampak tetangga terdekatnya telah pada menutup semua pintu dan gardeng rumahnya , mereka telah pada tidur barangkali,,,! Gumam si Pemuda Lapuk.
Kursi bambu di teras rumahnya yang berukuran sedang , dengan design tembok sepotong dan ke atasnya hanya pakai anyaman bilik bambu itu Nampak kusam bila terlihat dari luar , karena penerangan lampu depannya hanya di terangi bola lampu listrik 5 Watt yang hanya satu gantungan lampu listrik .
Temaram di dalam rumahnya malam itu semakin menambah keseraman yang ada di rumahnya ketika Hujan malam Jum,at itu yang mengguyur kampung itu dari mulai petang menjelang sore tadi.
Bangku bambu itu bersuara “berisik” merekot kala Pemuda Lapuk mendudukinya , sarung yang di kurungkannya ke kepala Nampak jadi teman penghangat tubuhnya dia, rencana untuk kunjungi temannya yang kini telah menikah mungkin perlu di planning dulu , karena berbagai pertimbangan , pertimbangan yang pertama ;
-Ini waktu telah mulai beranjak malam , dia mungkin udah pada tidur bersama Istrinya yang baru dia kawini ,,!” Timbangnya dalam fikiran.
-Bila aku lewati pemakaman besar itu mungkin malam Jum,at ini gelap karena sama sekali di jalan depan pemakaman itu tidak ada lampu PJU ( Penerangan Jalan Umum),,!” pikiran lanjut Pemuda Lapuk.
-Tapi bila hanya diam di rumah , sekarang hanya sendirian di malam Jum,at yang sepi ini , alangkah menyiksanya bagiku,,?” Fikirannya galau merancu bayangan pahit melewati Malam Jum,at Kliwon ini
Lalu Pemuda lapuk berfikir untuk membeli Rokok ke warung di tengah perkampungan , jarak warung itu dengan Rumahnya sekitar 1 Km dan harus melalui jalan terobosan ke pinggiran gang tetangganya yang baru menikah , ketika 5 bulan yang lalu istrinya meninggal dunia.
Tak begitu banyak berfikir panjang hal itulah yang akan di lakukan untuk rencana melewati malam Jum,at Kliwon yang menurutnya sangat menyeramkan tersebut , belum dikata seram bila para pembaca belum merasakan bagaimana Bujang Lapuk melewati hari-hari dan malam-malamnya dengan hanya sendirian.
Dia kedalam rumah dulu mengambil sesuatu , Dia mengambil senter untuk membantu penerangan dan mengambil uang di dompetnya yang telah hampir membusuk .
Di Ambilnya uang Recehan Rp.5000,-an dari dompetnya dan menyisakan duit recehan yang lainnya hasil dari upaya menjual Butiran Kelapa yang Dia panen dari Kebun keluarganya tadi siang.
Dengan mengendap-endap berjalan ke belakang rumah tetangganya yang kelihatan telah pada tutup pintu dan gardeng kaca depannya .
Bujang Lapuk kini masuk kejalan gang di tengah kebun singkong yang gelap , namun sejenak dadanya berdegup kencang di tengah kelamnya malam itu terdengar sayup-sayup suara misterius suara Tawa cekikikan , ketawa dan mendesah .
Bruyyy,,,bulu kuduknya Bujang Lapuk berdiri tegang , dia ingat bahwa di depannya ada seonggokan tanah yang baru di gali yang dia ketahui bahwa Anak Bayi yang baru lahir tetangga yang baru menempati rumah di tengah-tengah kampung itu dua hari yang lalu meninggal dunia dan di kuburkan tidak jauh dari jalan yang akan di laluinya.
Namun desakan keinginan “Merokok” bagi pecandu rokok kretek itu tetap mendesak untuk melupakan pendengarannya yang baru di alaminya barusan.
Dengan sedikit memacu langkahnya , Bujang Lapuk tergesa melangkah kedepan , tapi suara sayup-sayup ketawa cekikikan itu semakin kuat mendenging di telinganya , dan suara desahan itu sebetulnya yang membuat bulu kuduknya tegak berdiri , dimalam gelap dan malam Jum,at pula Pemuda Lapuk itu telah mendekat ke Asal suara cekikikan dan mendesah itu .
Asal muasal suara itu ternyata dari dekat makamnya bayi yang baru meninggal dua hari yang lalu ternyata , bujang lapuk tegar melangkah namun getar hatinya tak bisa di pungkiri dia “rada” ketakutan juga , karena di gelapnya malam Jum,at kliwon itu ada suara “Misterius” terdengar oleh telinganya yang belum budek-budek amat itu.
Dia mengendap dengan sedikit dadanya berdegup rada kencang , ternyata suara itu berasal dari belakang rumah tetangga barunya , keberadaan warga perkampungannya memang sangatlah unik , karena jarak rumah-rumah di kampung itu berjauhan satu sama lainnya .
Jadi sebetulnya perkenalan dan sosiasialasi bagi warga baru di kampung itu akan sangat telat “Kenal” dengan tetanga-tetangga yang lainnya apa bila warga baru tersebut masih membatasi pergaulan dengan lingkungan di sekitarnya, jadi sampai saat ini tetangga baru sang bujang lapuk itu belum begitu di kenalnya.
Kembali kepada Bujang lapuk yang tengah mengendap-endap jalan ke asal suara misterius itu , dengan gaya Inteligent kepala Bujang lapuk berhasil mendekat ke asal muasal suara tawa cekikikan yang menyeramkan itu .
“ Suara itu tadi di belakang , dan suara acrgh ,,,aaah,,itu kenapa di tengah rumah , dan lampu rumah itu kenapa meredup jadi tak aku lihat , apa itu suara manusia atau apa neh,,!” gumam hati pemuda lapuk di hati yang paling dalamnya.
“Tapi koq , suara itu berhenti juga tuh,,ah aku penasaran juga nih ,,!” hatinya berkecamuk .
“Ough,,itu tuh mataku melihat pergerakan , ada dua orang di dalam rumah itu , dan yang satu mendongak yang satu lagi posisi nyungsep , ahg ,,,kenapa aku jadi begini?” Bujang lapuk Nampak bergetar , lututnya semakin lemas , karena suara desahan dan cekikikan itu kini dinikmatinya dengan pandangan live seperti siaran Live SHownya televisi swasta itu.
Keinginan untuk membeli Rokok ke Warung tengah kampung itu di urungkannya , karena malam Seram itu telah berubah warnya , hampir satu jam pemuda lapuk mengintipkan kepala “Lapuknya” itu di lubang bilik rumah tetangga barunya yang dua hari yang lalu mengalami musibah kehilangan anak bayinya tersebut.
Pemuda lapuk semakin bergetar dengan kegiatannya tersebut , karena dalam rumah itu adalah asal suara misterius ketawa cekikikan dan suara mendesahnya dua mahluq yang kini (Mungkin) tengah membuat sebuah proses bikin anak baru lagi , dan semakin sial bagi si Pemuda lapuk , karena telah menikmati hal tersebut sebagai proses hidupnya .
Dengan mengendap-endap pemuda lapuk kini berhasil menjauh dari rumah itu , dan dia mencoba kembali kerumahnya yang rada jauh dari Rumah Tetangga barunya tersebut.
Keseraman Malam Jum,at Kliwon kali ini , telah di tambah dengan penderitaan “Kebutuhan Manusiawi” bagi semua manusia di dunia , dan pemuda lapuk telah menaggung konsekwensinya , “duch,,alangkah indahnya bila aku telah kawin,,mungkin aku tidak akan jadi tukang ngintipin orang yang begituan ,,,!” hati si pemuda lapuk menerawang ke balik awan nan biru di langit sana .
Dan jam dinding di kamarnya telah beranjak ke pukul 23;00 Wib lalu pemuda lapuk yang bergetar semakin bingung dengan suara cekikikan dan suara desahan yang tadi di lihatnya secara Live itu,,,,
Dan sebetulnya Bujang Lapuk itu tidak menyadari dan mungkin belum mengetahui.
-“Berkah dari Malam Jum,at bagi yang Perang keringat di Malam Jum,at bagi yang telah melakukan Perkawinan secara sah ,,,! “ Bukan Seram tapi Malam Jum,at itu “ueeeennnnak tahuuuuu,,,!”.