Cahaya keemasan itu menghiasi langit, memperlihatkan lukisan alam yang begitu menarik. Menakjubkan, tapi juga menyakitkan untuk seorang pemuda yang kini duduk sendirian di pinggir danau.
Masih dengan menatap senja di depannya, pemuda itu meremas secarik kertas dalam genggamannya.
Sakit. Dulu mereka berjanji akan menikmati senja bersama, tapi nyatanya hanya satu dari mereka yang berhasil kembali, sendirian.
Terjebak, dan ingin pulang. Namun , Sang biru yang selalu mempunyai banyak luka terdalam, Sang biru yang merenggut duniaku dengan darah, dan juga Sang Jingga yang merekam dengan jelas tragedi saat itu, meninggalkan luka, rasa bersalah bagi kehidupanku. Satu persatu semestaku ia renggut. Luka terbesarku, Luka terdalamku, begitu sakit saat ku ingat mereka menyatu dengan dinginnya lautan. Dan Pada akhirnya, kembali hanya aku yang tersisa sendiri disini.
2 tahun setelah kehilangan rumahku, semestaku, aku memulai kehidupan baru. Namun, sedikit sulit bagi ku, apalagi saat melihat senja sore itu. Selalu, terbayang betapa sakitnya aku kehilangan mereka. Aku dan mereka hanya ingin pergi berlibur, melepaskan berbagai macam beban yang kami tanggung. Lalu bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku kehilangan mereka.
Malam itu kami sedang membahas tentang salah satu tugas sejarah kami, berisi tentang satu pesawat yang hilang secara tiba tiba, tidak ada kabar, dan benar benar hilang, tidak ada bekas, mau pun jejak sedikit pun.
"Serem juga" Candra merespon paling awal.
"Masa bisa hilang tiba tiba? mana hilangnya yang langsung hilang, terus ini kasusnya juga langsung ditutup" Jaeval berkomentar.
"Dan hilangnya pun, saat dia melintas di atas laut. Ini nggak ada tau ya kejadiannya di laut mana?" Hekal bertanya, sambil memandang gadget yang menampilkan materi sejarah mereka.
"Abis gue searching di google, kalau katanya kasus ini udh lama banget, 3 Mei 1979, " Jaeval yang menjawab.
"Elah busett, kayanya buat keamanan deh itu, nggak mungkin bisa di rahasia in secara tiba tiba, jadi kepoo" Hekal pun bermonolog.
"Hilang secara misteriusss, terus tiba tiba, nggak ada jejak, kabar, mau pun bekas. Kemungkinan di tarik ke Alam lain kali" Ravindra itu yang berkata.
"Udah hushhhh, Jangan di bahass, mendingan kita bahas mau hiling kemnaa ini, butuh hilinggg" Maheru mencoba mencairkan suasana.
"Gue udh lama nggak ke pantai si" Julian, si bungsu yang akhirnya bersuara.
"Isss gue jugaa, AYOOO" Candra pun ikut setuju atas saran tersebut.
"Ini pantai terdekat sma kita, 10KM" Jaeval berpendapat.
"Ayo, gue juga abis beres servis mobil, gede juga, muat kita bertujuh " Joel menawarkan diri.
"Di gueee, ngga ke buka inii, loading luamaa bangettt" Hekal mengeluh.
"Gue aja yang nyetir, khatam bener gue sma pantainya"
Maheru ikut menawarkan diri.
"Nanti kumpul rumah gue aja yaa" Joel memantapkan pilihan.
"Okieeeee, Komandan" Mereka semua berseru, dan kembali tertawa bersama.
Hari Tamasya pun telah tiba, Mereka terlihat sibuk mengecek barang-barang mereka. Rencana nya, mereka akan liburan selama 1 Minggu. Dari hari Jumat terus ketemu hari Jumat lagi.
“Mobil aman?” Maheru bertanya.
"Aman" Joel menjawab seadanya.
“Barang juga dah aman. Gas gas gas!” dengan suara Hekal, mereka bertujuh segera masuk ke mobil. Maheru duduk di kursi kemudi, Joel tentu saja duduk di sebelah nya. Kursi tengah untuk Ravindra, Candra dan Hekal. Dan kursi belakang untuk Jaeval serta Julian.
13.47
Mereka masih dalam perjalanan. Mobil Putih besar milik Joel itu menjelajah tiap inci jalanan di tengah hutan. Kanan-kiri nya benar-benar hutan, jalanan juga sangat sepi, hanya ada beberapa kendaraan. Tapi sejauh yang Maheru lihat, hanya ada mobil mereka dan mobil Hitam di depan mereka. 2 mobil itu sedari tadi saling ‘menemani’.
“Jalan nya emang lewat sini, Her?” Joel bersuara. Ia menemani Maheru mengemudi, lalu sekali-kali tidur beberapa menit. Cowok di samping nya mengangguk mantap.
“Gue udah beberapa kali lewat sini kalo mau ke pantai itu, El.” imbuh nya. Lawan bicara nya pun hanya mengangguk samar.
“Kita udah di dalem hutan banget, kah?” Semua orang yang ada di mobil itu ter-jumpscare dengan suara Hekal yang tiba-tiba menyeletuk. Terlebih Julian yang sedang melamun sambil membayangkan ada hal horror terjadi. “Kayak nya udah di tengah, sih.” sahut Ravindra dari tengah. “Serem banget ya hutan nya.” ucap Hekal spontan—tidak ada yang menyahut ucapan nya. Lalu ia melanjutkan, “bayangin deh di tengah hutan kayak gini ada yang lempar batu ke kaca. Pa—”
TUK TUK!
Semua langsung menoleh ke jendela belakang, Maheru tetap fokus menyetir. “Itu ap—”
TUK!!
Suara ketiga, sedikit lebih keras dari yang pertama dan ke dua. Julian dan Jaeval yang duduk di belakang bisa melihat jelas bahwa yang di lempar itu adalah batu yang sedikit besar. 2 orang di tengah juga melihat.
“Apa, tuh? Kok kayak batu?” Joel berucap.
“Emang batu, El.” Maheru menjawab.
“Mulut lo jelek banget asli.” Jaeval berucap tajam, jelas kalimat tersebut di tujukan untuk Hekal yang mulut nya memang sompral. Ia tidak berkutik, sedikit shock dengan apa yang barusan terjadi. Ia kembali melihat ke arah depan. Overthinking sembari bersandar ke bahu Candra yang sedang tidur.
Mereka, sudah sampai di penginapan, di pulau itu, mencoba melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Ayoo kita ke pantaii" Candra yang paling awal berseru.
"GAS GAS GAS" Julian pun ikut berseru.
"Aseli ya inii pundakk gueee pegell bangett, berasa abis dii senderin orang ber jam-jam." Candra mengeluh.
"YA, kan gue yang nyandar ke lo tadi" Hekal mengaku.
" LO MAKANN APAA KALLL?BERAT BANGETT! sakit semua ini badan gue" Candra kembali mengeluh.
"OMONGAN LOO" Hekal berteriak.
" Ck, nanti kalau ada apa apa, kabarin gue aja. Gue mau tidur dulu" Maheru berseru.
" Lo tidur aja udah, kalau ada yang bikin masalah, gue cemplungin satu satu ke laut." Joel yang bertanggung jawab.
"Woii fotoin gue dongg" Hekal paling awal yang bersuara.
Mereka semua sangat senang sampai di sana tentunya, Namun, sepertinya kesenangan itu hanya sebentar. Mereka kaget, mereka ter heran heran, mengapa ada sebuah pulau di tengah pantai ini? Dan kenapa? Kenapa Ravindra bersikeras ingin datang ke pulau itu, padahal cuaca sedang mendung, hanya cocok untuk bersantai di pinggir pantai.
"Ayok, gue kepo banget ini" Itu Ravindra yang bersuara.
"Bahaya ndra, ngga usah kenapa sii?" Itu Jaeval, ia yang menahan.
"Masalahnya itu pulau ngga ada di maps, gue pengen liat ada apa disana" Ravindra berusaha menjelaskan.
"Lo pergi, tapi sama gue" Joel yang berucap.
"Ga mungkin lo cuman pergi berdua, Gue ikut" Itu Candra yang bersuara.
"Huaaa padahal gue mauuuu liat sunsettt," Hekal berseru.
"Lo pada balik aja ke penginapan gue bareng mereka ke tengah pantai" Joel memantapkan pilihan.
" Udah? Kita naik perahu ini aja ya, ke tengah sana" Joel berucap kembali.
" Ayoooo " Ravindra yang berseru.
Tapi, siapa sangka? saat mereka sudah di tengah laut, dan sampai di pulau itu, tidak ada apa apa, hanya pemandangan matahari yang mulai malu malu memperlihatkan dirinya, juga langit jingga yang terlihat begitu menawan.
" Ndra, ini aja yang kita lihat, kalau gitu gue ajak Hekal tadi" Itu candra yang bermonolog.
"Huaa, tapi ini cantik banget kann?" Ravindra menjawab.
"Iyaa, ya udah ayo balik mumpung masih terang," Joel berkata.
"Ayooo" Ravindra hanya menurut, dan kembali ikut naik ke perahu.
Hal lain terjadi. Disini, di tengah pantai ini, disaksikan langit jingga ini, ada Nyawa melayang begitu saja.
"El, ini perahunya kayanya mau oleng,ombaknya juga kenapa tiba tiba gede banget ini," Candra yang berucap.
"Tetep pegangan ya," Hanya kata itu yang mampu joel ucapkan.
"Kalau gue mati sekarang? Gpp ya.. jagain temen temen gue el, ya can?" Itu.. Ravindra yang berucap, dengan mata yang di penuhi dengan tangisan air mata.
"Lo ngomong apa? kl lo pergi, gue ikut ndra," Tak lama setelah candra berucap seperti itu, ombak datang dan membalikkan perahu mereka.
Joel mencoba untuk menyelamatkan teman temannya, Namun apa yang bisa ia lakukan? Ravindra dan Candra, tak terlihat kembali. Mereka seharusnya bisa naik kan? Tapi kenapa mereka tidak naik?
Joel mencoba untuk menyelam dan mencari mereka. Bukannya malah menemukan mereka, ia malah melihat bangkai pesawat yang terlihat masih baru, benar benar baru terjadi. Serta di ikuti suara tangisan, dan jeritan minta tolong, dari segala arah.
DEGGG!
Joel mencoba tidak panik, ia mengambil kesadarannnya perlahan, untuk tetap fokus dan tidak terpengaruh gangguan itu. Siapa juga yang akan menduga, kalau setelah ia fokus, ia malah makin mendengar jelas suara tersebut. Ia mencoba untuk tetap sadarrr, karena serius demi Neptunus, Jantungnya rasanya seperti di tekann, dia benar benar tidak kuat, terlebih setelah ia mecoba membuka mata, ia melihat banyak orang, yang badannya hancur, terbelah, dan terbagi bagi, menyebar di dinginnya lautan ini, betapa kagetnya saat ia menyadari bahwa, lautan ini sekarang berwarna merah, bercampur dengan darah,
Mungkinkah itu darah para penumpang pesawat itu? Joel mencoba berpositif thingking, Menutup matanya kembali, Namunnn, Sepertinya salah satu dari mereka itu jail, jadi ia menarik kakii joel untuk tenggelam lebih dalam lagi.
Joel hanyaa mencoba mencari kesadarannya, dan membuka matanya sekali lagi. Dan PUJI TUHAN sekali, ia bisa kembali ke pinggir pantai. Namun kenapa bisa?
"Ini beneran gue pulang sendiri?, mereka dimana? .. Kalau pun gue tau bakal kaya gini, gue ngga bakal ngeiyain kata vindra.. sakit dra, gue liat lo nangis, sebelum lo pergi? dan sekarang candra ikut lo pergi? CANDRAA! INDRA! AYO BALIKKKKKKK"
Anak anak yang berada di penginapan pun, otomatis langsung mendengar suara joel, dan langsung berlari menghampiri Joel, cepat sampai, karena penginapan mereka dekat dengan pantai itu.
"Lo kenapa?, yang lain mana?" Itu jaeval yang bertanya.
"Eval, Hiks, Candra,Indra, Huaa, Mereka, Mereka pergi, gara gara gue val, Kalau gue tadi ngelarang Ravindra buat ngga pergi, pasti, pasti mereka masih bareng kita." Ia menangis, Terbata bata, sambil memeluk Jaeval.
Jaeval yang mendengar itu tentu saja langsung menenangkan Joel, Ia berfikir bagaimana cara agar, Joel tidak menyalahkan dirinya.
"Ngga usah nyalahin diri lo sendiri el, Masih seneng gue lo bisa selamat sampai sekarang," Maheru yang bersuara.
"Tapi, tapi kalau gue nggak langsung ngeiyain Ravindra mungkin mereka masih bareng sama kita, harusnya GU----,"
"Hus, udh, sekarang kita naik, lo tenangin diri lo dulu, dan kita minta penjelasannya" Jaeval yang mengatakannya.
Joel menceritakan semua kejadian tadi, se detail mungkinn..Mereka tentu kaget, cukup kaget, bingung, sedih, dan marah. Kenapa bisa teman teman mereka tidak naik, dan tenggelam secepat itu? Mereka memikirkan, apa yang terjadi dengan keadaan mereka?
"Ndra, Lo masih bisa liat gue kan?" Itu Candra.. Ya teman mereka yang tenggelam beberapa saat lalu.
"Can, ini kita kenapa bisa disini?.. Serem nggak sih can.." Itu ravindra..
"Sksk, Ndra, Lo sadar ngga? Lo ini beneran mati sekarang, Liat, Itu badan lo, nah sekarang kita nggak napak, Artinya kita udah mati." Candra, Candra bagaimana bisa kamu berkata sesantai itu? Padahal kamu sudah tidak lagi di dunia ini.
"Tapi kenapa?" Ravindra bertanya dengan banyak pertanyaan di batinnya, tentang mengapa dia bisa disini? bagaimana bisa dia sudah tidak ada di dunia? Masih banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan.
"Ndra.. Pulau yang lo liat tadi, bukan semata pulau gitu aja.. kemaren sebelum kita pergi kesini kita ada bahas soal pesawat hilang, nah.. kebetulan sekali, laut ini, dan langit jingga tadi, adalah saksi bisu hilang nya pesawat itu. Mereka nggak terima ndra, kita bisa bebas disini, sedangkan mereka, cuman bisa disini selamanya, makanya mereka ngajak kita.. Gue sedih, Sakit juga ninggalin yang lain.. Cuman seengganya gue ada lo di samping gue."
"Candra, Maafin .. kalau tadi gue ngg--" Ravindra ingin mengucapkan permintaan maaf,
"Gpp ndra, Emang udah jalannya aja.. Ya mau gimana lagi? .. Sekarang kita bantu dan jagain yang lain aja, karena makhluk itu ngincer mereka sekarang" Candra Menjelaskan Sesingkat yang ia bisa.
" Hekal, ayo temeninn akuu tidurrr, nggak berani sendiri inii " Itu joel yang meminta, entah kenapa, tiba tiba ia meminta untuk di temani dalam tidurnya.
"Hayu hayu hayu" Hekal pun menemani Joel tidur malem itu,
Tidak lama setelah itu, Tanpa ada angin, atau pun hujan, Di malam yang sunyi itu, Pintu Kamar mereka di ketok.
"VAS PECAH EL!" itu suara Hekal, yang terbangung karena vas itu tiba tiba pecah,
"El.. yang ngetok siapa.. kok bisa, yang lain kan tidur.. itu juga vasnya kenapa bisa pecah..." Ucap Hekal dari dalam selimut yang sama dengan Joel.
"Ga tau kal, Ngga mungkin anak anak ngetok pintu tengah malem gini, kenapa juga vasnya bisa pecah" Itu Joel, Ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tergantung di pulau kapuk.
"El.. Jadi gelap gini.." Hekal berkata, karenya seingatnya tadi lampu masih menyala terang benderang. " El gue mau jujur deh.. tadi gue liat ada bayangan item di kamar mandi.." Hekal berkata jujur.
"Ngga tau deh kal.. ini bener bener ketutup sma apa sihhh?? Gue takut.. Kayanya gue dluan ini ma" Itu Joel, mungkin dia sudah pasrah dengan hal ini.
Benar kata Joel, cahaya lampu sudah redup—tertutup—entah oleh apa, yang pasti itu tinggi sekali. Hekal dan Joel sama-sama ketakutan, menangis, menahan panas juga. Sama-sama merapalkan doa meski nyawa sudah di ujung tanduk. Berdoa agar Tuhan mengizinkan mereka selamat dari ini.
BRAK!
“Hekal! Joel!”
BRAK!!
“Kalian denger gue?!”
“Joel! Hekal!”
Joel benar-benar merasa bahwa dia yang pertama. Dia akan pergi lebih dulu di banding Hekal. Bagaimana tidak? Joel merasakan bahwa ‘hitam tinggi’ ini mendekat ke arah ranjang nya. Aura dingin terasa, di banding Hekal, Joel merasakan yang lebih dingin dari nya.
Angin yang entah datang dari mana itu berhembus. Memaksa selimut-selimut putih ini terbang dan memperlihatkan apa yang tersembunyi di balik nya.
“JOEL! HEKAL!”
BRAK!!
Joel memejamkan mata nya kuat-kuat. Ia sudah membulatkan niat tak akan membuka mata nya sekali pun ‘hitam tinggi’ berada di hadapan nya, ia sudah mulai mencengkram selimut se kuat mungkin meski pun sudah lemas. Tetap berusaha agar selimut itu tetap menghalangi nya.
BRAK!!
Di sisi lain teman-teman nya juga berusaha membuka pintu kamar mereka—yang terkunci sendiri. Geraman terdengar di telinga Joel. Perlahan mendekat, mendekat, mendekat..
BRAK!!
Geraman itu sudah sangat sangat dekat, benar-benar dekat. Joel mencengkram kuat-kuat selimut nya saat di rasa ada ‘tangan’ lain yang ingin menyibak nya.
BRAK!!!
Selimut nya terhempas. Joel Bagaskara benar-benar pasrah sekarang.
BRAK!!!
“JOELLLLL, HEKALL!!!”
Terlambat 1 detik saja, Joel tak akan pernah kembali. Hekal tak berani membuka selimut nya. Alhasil selimut itu di sibak oleh Maheru. Saat Hekal membuka mata nya, mata Joel terlihat menutup. “Nafas nya masih ada.” ujar Jaeval saat menyentuh nadi Joel. “Dia pingsan?” “Kenapa lo kunci pintu nya?!” sembur Julian marah, di tujukan untuk Hekal. “Lo nge prank kita, hah!?”
“Lo gak usah nuduh gitu, dong! Lo gak tau apa yang terjadi di sini! Gak usah sok tau!” Hekal yang sedari tadi ketakutan langsung emosi. Tak terima omongan Julian. “Lo pikir Joel gak akan pingsan kalo ini cuma prank? Lo gak liat gue sama dia? Air mata sama keringet kita masih ada, An!” Ketiga cowok yang baru datang itu memperhatikan keadaan kedua teman nya. “Dan lo pikir aja sendiri, dari kejadian kemaren, lo kira gue bisa, bercanda yang jelek kaya gini ?,"
" Kalian udah pada mikir belum si? kalau tempat ini tu bener bener berbahaya, Ayo kita pulang" Itu maheru yang menyatakan pendapat.
" Dengan ninggalin temen temen kita disini? " Itu Hekal yang bersuara, Ia juga menatap ujung tembok, Lalu ia melihat ada secarik kertas disana, padahal ia rasa belum lama tadi ia sudah menyapunya.
" Yan coba, itu ada kertas deket lo, mau liat gue" Kata Hekal yang di tujukan untuk Julian. Julian lun dengan sigap mengambilnya, dan menyerahkan pada hekal.
Hekal terkejut, Kertas itu.. Ternyata kertas yang berisi tulisan dari Candra dan Ravindra. Yang Tertulis ...
Untuk Temanku
Gue sama Ravindra udah aman disini, kalian harus cepet pulang ya.. Makhluk disini udah pada ngincar kalian.. Gue sama ravindra, bakal tetep jagain kalian.. kalian tetep rumah kita ya?
C,R
Mereka menangis.. Sedih tentunya... teman mereka masih berada di samping mereka..
2.19 AM
Jaeval pergi ke kamar mandi sendirian..
Air di ember habis, beralih lah tangan nya memutar keran. Eval mendengus, air tak kunjung mengalir dari keran. Sial menimpa nya.
Ada perasaan yang aneh, mengapa ada bayangan ‘lain’ yang muncul dari balik bayangannya? bersamaan dengan geraman rendah bayangan itu kian membesar. Eval menyingkir, menendang pintu kamar mandi keras-keras. Untung saja arah pintu ini keluar. Tanpa berdiam lagi, Eval buru-buru kembali ke kasur. Tidak berminat keluar ke kamar mandi umum penginapan.
Ia benar benar tak berani membuka matanya, sesaat setelah ia terpejam, Bayangan hitam itu muncul lagi.
Mata bayangan itu menatap nyala Jaeval. Tanpa pikir panjang diri nya segera melarikan diri. Entah sejak kapan pintu kamar ini tidak di kunci—padahal ia ingat jelas bahwa diri nya lah yang mengunci pintu semalam. Namun sekarang yang penting bukan itu, nyawa nya sedang terancam.
BRUK!!
JAMETTTTTT! Pake kesandung segala!
Jaeval buru-buru bangun, tumit kaki kiri nya terasa panas. Jaeval berlari sekencang yang dia bisa, melompati potongan demi potongan mobil putih Joel. Tetap berlari meski pun diri nya sudah di luar gedung penginapan.
Pantai.
Tujuan nya hanya pantai yangg luas sekarang. Tak mau menyerah, diri nya tertatih-tatih berdiri. Tetap berlari meski kaki nya sudah sakit setengah mati. Berhenti sebentar di tengah jalan, 3 detik, lalu kembali berlari. Mengejar sedikit harapan yang ia punya.
Sakit.
Jaeval jatuh, kaki nya keseleo. Sakit nya bertambah 2 kali lipat karena itu. Bagaimana ini? Geraman itu kembali datang. Ia memejamkan mata nya, bersiap untuk kemungkinan terakhir.
BRUSHHHHH!
Ia terlempar masuk kedalam laut, ia tidak tau, tapi tenaga itu benar benar sangat kuat hingga bisa menerbangkan ia ke dalam laut. Ia tidak tau sejak kapan, Maheru, maheru mengikutinya.. Dan sejak kapan? Sejak kapan langit ini berubah berwarna jingga? Tampak sore.. Matahari benar benar malu untuk menampilkan wujudnya, hanya setengah dan akan segera menghilang.
Bayangan hitam mata menyala itu kembali, merebut Maheru. Membawa tubuh nya menjauh setengah meter dari posisi pertama nya.
‘Tangan’ makhluk itu mencekik Maheru. Maheru menggapai-gapai air, meminta pertolongan. Jaeval tak menyerah, ia berenang mendekat lagi tanpa menggerakan kaki nya. Mengulurkan tangan, berusaha menggapai tangan Maheru yang makin lama semakin kencang di cekik. Jaeval menarik Maheru. Namun secepat kilat makhluk itu menarik nya lagi. Maka tidak sampai di situ, Jaeval menarik tangan teman nya sekuat mungkin.
Makhluk itu melepas Maheru keras, Lebih keras, Maheru terlempar jauhhh, Sangat jauh.
Makhluk itu berganti mecekik Jaeval,
“EVALLLLLLL!” tatapan Maheru seakan menyebut nama nya.
Cukup jauh ia terhempas, dia berenang mendekat ke teman nya.
Cekikan makhluk ini kuat, memancing panic attack nya untuk muncul. Makin kuat cekikan nya. Tangan Javeal memberi kode, melarang Maheru untuk mendekat.
Makin kuat.
Panic attack nya keluar.
Maheru menggeleng, tetap berusaha berenang kepadanya. Tapi makhluk tadi tidak memberi jalan, dia menghempaskan Maheru lagi. JAUHHHH Lebih keras dari sebelumnya, dan benarr benarr Lebih jauh.
Semakin kuat.
Tenggorokan nya memanas, kehabisan napas, namun tak bisa berbuat apa-apa. Tenaga makhluk ini lebih kuat, sedangkan diri nya sudah kehabisan tenaga. Berlari dengan kaki sakit sebelum nya. Maheru hampir menangis ketika Jaeval terbatuk.
Aku kehabisan nafas...
Darah keluar dari telinga serta hidung Jaeval.
Tubuh nya melemas.
Jantung nya berhenti.
Maheru berteriak.
Maaf...
Di sisi lain, Makhluk ini kelihatannya tidak puas hanya bermain main dengan Eval, Ia juga ingin memainkannya. Langit tampak masih berwarna jingga, Sudah 3 nyawa yang melayang, di saksikan oleh langit yang berwarna jingga. Maheru? Ia berharap, ia tidak mengikuti teman temannya.
Tapi apa yang di harapkan, Makhluk itu benar benar dengan jelas menampakkan dirinya, Muka rata, Daging yang berbau busuk, Darah yang masih tersisa, Ia benar benar muak dengan ini semua.
Makhluk itu kembali lagi menjadi bayangan hitam, secepat kilat, ia cepat pergi ke sana dan kemari, tertawa tercikikan, dengan mata yang kembali memerah.Tanpa babibu babibu, Makhluk itu langsung membunuh Maheru.
"Jamet, Gue mati juga ternyata." Perkataan terakhir seorang Maheru Adhinata.
Maheru sudah yakin kalau ia akan menjadi bahan selanjutnya, dan pada akhirnya hanya dinginnya lautan, dan langit yang berwarna jingga itu, menjadi saksi kematian 2 pemuda lagi.
4 Pemuda ini kini bersatu, Untuk mengantarkan teman teman mereka yang masih selamat, untuk sampai di rumah.. Meskipun rumah mereka adalah, mereka sendiri, namun? mereka sudah tidak satu alam. Rumah tidak selalu berbentuk seperti bangunan, kadang orang itu bisa jadi rumah buat kita. Dan rumah kita, tetep kalian, meskipun di dalemnya udah nggak utuh lagi.
Keesokannya, dengan bekal pemberitahuan dari 4 teman mereka yang sudah tak satu alam lagi, Mereka segera memutuskan untuk pulang, Tidak, mereka hanya ingin keluar dari hutan ini, Tanpa memikirkan nanti akan naik apa saat pulang ke rumah nanti. Tapi sepertinya tidak semudah itu untuk mereka bertiga pulang.
BUGHHHH!
Tubuh Joel tersentak ke belakang, terbanting menabrak batang pohon kelapa dengan keras. Mau Joel atau pun 2 orang lainnya tak menyangka akan di serang seperti itu.
Geraman itu datang lagi, "Dan kamu!"
"Agh-!"
Julian merasa pusing;
Suara tangisan, suara teriakan dan suara tanpa wujud terdengar campur aduk di telinga nya. Beratus-ratus suara itu terus bertambah, kian bertambah sehingga Julian tak dapat mendengar teriakan Candra. Kaki nya sempat cidera, dan sekarang belum sepenuh nya sembuh kini terasa sangat sakit seperti di lempar besi panas.
PRANG!
"Dih apaan JAMETTTT ?!" umpat Hekal, sebuah panci menghantam belakang kepala nya. Bagian leher Hekal, merah basah dengan darah.
Panci itu berubah haluan, memburu wajah Joel yang panik serta bingung. Buru-buru Joel menghindar agar panci darah tersebut tidak mengenai nya. Sekarang panci itu berpindah haluan menuju ke Julian, terus terusan seperti itu. Hingga akhirnya joel,
"KAU SELALU SELAMAT SAAT AKU INGIN MENGAMBIL MU" Makhluk itu berseru sambil menyekek leher Joel.
Kepalanya pusing, Telinganya Pengang, Dadanya mulai sesak, Dan penglihatannya mulai buram, kakinya dan tangannya tidak bisa ia kendalikan. Ia sudah lemah, benar benar lemas, ia menangis, dan berkata kepada temannya yang tersisa,
" Kal, Gue dluan, sakit banget ini, gue ngga kuat beneran, Jagain Lian, semoga bisa sampai dengan selamat ya!! Gue duluannnn,"
Detik itu juga, Langit berubah kembali menjadi warna jingga, beda, namun di tempat yang sama. Ia tidak tenggelam di dalam lautan, Namun? Mengapa dadanya terasa sesak, dan penuh dengan air. Entah, Joel tidak memikirkan nya, Kata terakhir yang joel dengar hanya,
"JOELLLLL, HEKALL MAU NYUSUL LO" Itu suara Ravindra, Mereka ingin membantu..
Tapi, Kekuatan mereka tidak cukup besar, Mereka tidak bisa bergerak, tidak bisa melakukan apa apa.. Yang di katakan Ravindra memang benar, Karena sekarang Hekal mengalihkan perhatian makhluk itu untuk membiarkan Julian lari dan menyelamatkan diri.
Dan SERIUSS demi Neptunus, Mereka berempat bisa bebass, Mereka membantu Julian untuk segera pergi dari hutan ini. Sedangkan Hekal?..
" Temanmuu meninggalkanmu, dan menyelamatkan temanmu yang lain, Bagiamana? Apa kamu tidak sakit hati?"
Makhluk itu nampak jauh, tapi mengapa? mengapa, suara itu terasa begitu dekat. Sangat terasa, Benar benar sangat sakit di dadaku, Bukan, Bukan kuku, atau pun benda tajam,
Tapi ini,
Sesak saat aku tenggelam, Aku mengingat, Aku pernah berenang bersama mereka, bahagia bersama, bermain bersama, namun aku tenggelam. Rasanya benar benar sama, Tapi bedanya, sepertinya kali ini aku tidak akan selamat, aku benar benar merasa seperti tenggelam, benar benar sesak, tapi nyatanya aku berada di daratan. "Julian nggak papa, kamu harus selamat, Setidaknya perjuangan kami tidak akan sia sia." Hekal Prawiro Dwi Harjo Berpulang ke Pangkuan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Lagi, dan lagi, langit berwarna jingga itu, menyaksikan satu nyawa hilang begitu saja.
Pemuda itu tersadar dalam lamunannya, Ia tersadar saat, Satu tepukan berhasil mengenai bahunya, seorang anak kecil yang ingin memberikannya permen, anak kecil itu berkata
" Omm, om harus kuat yaa, teman teman om selalu ada di sekeliling om kokk, Mereka selalu ada di belakang om, Jagain om. Jangan sedih terus yaa, Ini aku ada permen.. Semoga omnya suka yaaa.. Sehat sehat terus ya om" Anak kecil itu berlari kembali, ia menaiki sepeda nya dan ber dadah dadah ria untuk Julian.
Ia tersenyum, merasa kan adanya suatu pelukan, pelukan yang ia rindukan.. ia memutuskan untuk kembali ke rumah nya..
19 Juli 2020, Julian Biantara, Berpulang juga ke sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Selesai...
Novelina A Runa S ( XI IPA 3 )