Awan hitam menghiasi langit pagi ini pertanda akan turun hujan, aku bergegas mengambil tas dan kunci motorku berharap hujan tidak turun saat ini juga namun hanya dalam hitungan menit langit pun menangis dengan derasnya tanpa menghiraukanku yang sedang terburu-buru, dan akhirnya aku hanya bisa menunggu hingga hujan berhenti membasahi bumi.
I need you, I need you, I need you right now
Yeah, I need you right now so don’t let me, don’t let me down. I Think I’m losing my mind now It’s in my head, darling I hope that you’ll be here, when I need you the most so don’t let me, don’t let me, don’t let me down. Don’t let me down
Lantunan lagu dari The Chainsmoker mengejutkanku dan itu adalah nada dering handphoneku dengan segera kubuka tas dan mengeluarkan handphoneku, di layar tertera nama intan lalu aku mengangkatnya
“Hallo! Ra, kamu masih di rumah?” memulai percakapan
“Iya ni Tan, kayaknya aku bakalan terlambat masuk kerja”.
“Iya udah, ntar aku bilangin sama bos ya”.
“Oke Tan”.
Tut tut tut… Bunyi sambungan terputus mengakhiri percakapan antara kami.
menatap langit yang masih setia dengan tangisannya, tiba-tiba mataku terfokus pada satu objek, sesosok bayangan hitam sepertinya sedang memperhatikanku lalu dengan secepat kilat dia pun menghilang di dalam derasnya hujan. Aku terkejut dengan apa yang kulihat “Ah, mungkin itu bukan apa-apa, bisa saja itu hanya halusinasiku” aku membatin.
Sudah seminggu semenjak kejadian itu dan semenjak itu juga aku selalu merasa ada yang mengawasi, tak itu di tempat kerja maupun di rumah. Hari ini aku akan pergi ke tempat sepupuku tinggal hanya untuk beberapa waktu, setidaknya aku akan menikmati liburan tanpa merasa diawasi. Saat aku tiba hari sudah mulai gelap, aku disambut dengan baik oleh bibi dan pamanku.
Keesokan harinya Aisyah mengajakku berkeliling kotanya. Rumah sepupuku terletak tak jauh dari lembah anai, Sumatera barat, udara yang sejuk dan pemandangan alam yang indah sangat memanjakan mataku, perasaan bahagia itu hanya sesaat kunikmati, tiba-tiba hawa dingin yang begitu menusuk tulang berhembus membuat bulu kudukku berdiri, bayangan itu mengikutiku, menatapku dari kejauhan, bayangan yang jika diperhatikan seperti seorang perempuan. Rasa penasaranku memuncak ingin rasanya aku menantangnya muncul di hadapanku dan bertanya apa maunya, hanya saja itu sia-sia dalam hitungan detik dia menghilang lagi.
Aku mengingat kembali mungkin saja saat traveling kemarin aku melakukan kesalahan di tempat yang baru sehingga bayangan itu mengikutiku tapi itu tidak mungkin, aku mematuhi setiap peraturan yang ada di desa itu.
Tanpa kuketahui ada sebuah misteri yang menghantuiku, misteri yang tetap membuatku hidup sampai saat sekarang ini, kejadian-kejadian aneh, mimpi yang sama setiap malamnya selalu aku alami akhir-akhir ini lalu aku memutuskan untuk pulang dan bertanya kepada ibuku apa yang sebenarnya terjadi.
Di tengah perjalanan mobil yang aku tumpangi mogok dan terpaksa aku harus menunggu beberapa jam lagi agar sampai ke kotaku, tiba-tiba saja ada seorang nenek menghampiriku lalu berkata “Kau melepaskannya dan dia tidak akan mengampunimu atas kehidupan yang kau renggut darinya, berhati-hatilah! cepatlah kau pulang dan pakai kembali cincin itu”.
“cincin? apa mungkin cincin yang nenek maksud…”, tak sempat aku melanjutkan kata-kataku nenek itu sudah tidak ada “Ke mana perginya nenek tadi, tidak mungkin ia pergi secepat itu?” Apa hubungan bayangan itu dengan cincin yang aku pakai?
Sepanjang perjalanan aku memikirkan apa yang disampaikan nenek tadi, “Kehidupan yang aku renggut? kehidupan siapa, aku tidak tahu itu semua, hanya satu orang yang bisa menjawab pertanyaan tersebut”.
Akhirnya aku sampai juga di rumah, tak ingin membuang waktu, aku langsung mencari ibuku dan menanyakan semua pertanyaan yang mengganggu pikiranku sejak tadi pagi.
“Zahra! panggilan mama menggema di telingaku, sayang bukannya kamu pulangnya seminggu lagi ya?” penuh tanya
“Ma, ada sesuatu yang pengen Zahra tanyain sama mama” aku memulai percakapan tanpa menghiraukan pertanyaan mamaku tadi
“Tanyain apa sih sayang, kelihatannya serius amat” dengan nada sedikit bercanda. “Ma, apa benar ada kehidupan yang Zahra renggut beberapa tahun silam?” Mama terkejut dengan pernyataan yang aku lontarkan padanya.
“I-tuuu…, se-benarnya itu sebuah kesalahan tapi juga sebuah solusi sayang tapi…”, tak sempat mama menjelaskan secara detail raut wajahku sudah berubah, seluruh tubuhku sedingin es, wajahku pucat pasi, tatapan mataku kosong seperti tak bernyawa, dengan khawatir mama memeriksa tangan kiriku dan benar saja apa yang mama takutkan terjadi, ada bekas sayatan di tanganku, cincin yang aku pakai selama 18 tahun itu sudah tidak melilit di jariku lagi, gelang yang mengikat nyawaku dengan tubuh ini.tempat lain
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tak seorang pun terlihat hanya dinding berwarna putih mengelilingiku sejak tadi lalu tiba-tiba ada seseorang yang mirip denganku perlahan-lahan mendekat, “Siapa kau, kenapa wajahmu sangat mirip denganku?” aku menatapnya heran
“Kau tidak mengenaliku, Zahra? aku Zahwa saudara kembarmu, kau tidak mengingatku? waktumu di dunia sudah cukup sekarang giliranku”. ia menyeringai dengan mata yang penuh dendam, ia mencekik leherku. Aku menatap matanya, dari matanya aku bisa melihat kejadian beberapa tahun silam, ritual itu, ritual yang dilakukan kedua orangtuaku, memindahkan nyawaku ke tubuh kembaranku dengan paksa dan mengikatnya dengan cincin tanpa berpikir mereka mengorbankan Zahwa yang saat itu tidak tahu apa-apa, dan ritual itu juga yang merenggut papaku. Sungguh kejam, tiba-tiba nafasku terhenti, yang kulihat sekarang hanyalah ruang gelap tanpa cahaya. Di sini lah aku berakhir, di sinilah seharusnya aku berada.