"Menikahlah denganku, aku akan membayarmu 100 juta."
deg!
Tangis Utami terhenti seketika mendengar bisikan seorang pria begitu jelas terdengar di indra pendengarannya. wajah pria tersebut hampir saja bersentuhan dengan wajah Utami. sedikit saja Utami menoleh, sudah pasti wajah keduanya akan bersentuhan. Segera Utami mengusap air matanya.
Sebelumnya, Utami menangis mengingat ibunya yang terbaring di rumah sakit dan tidak menemukan cara mendapatkan biaya untuk pengobatan sang Ibu. Sementara Raiden yang diminta oleh sang nenek untuk menikah agar segera membawa calon mantunya dalam jangka 3 hari. Tentu membuat kepala Raiden pusing.
Dalam 3 hari tidak membawa calon mantu untuk sang Nenek, maka Raiden akan menikah dengan perempuan pilihan sang nenek. jelas, Raiden tidak menginginkan hal itu terjadi. Raiden sangat tahu siapa wanita yang ingin di jodohkan olehnya. siapa lagi kalau bukan nenek sihir, Adela yang cerewetnya minta ampun, dan banyak aturan. Raiden tidak suka.
"Bagaimana, Nona?" tanya Raiden yang kemudian berdiri dengan wajah datarnya sambil kedua tangannya di masukkan dalam saku celananya.
"Aku ... menikah ... dengan anda?" Utami jelas kaget. Tiba-tiba saja seorang pria tanpa di kenal olehnya mengajaknya menikah. Sangat tidak masuk logika bukan?
"Ya, itu pun, jika Nona setuju. Aku tahu, kamu butuh uang, kan? dan Aku butuh istri. Impas, bukan?" jawab Raiden entengnya.
Utami menatap pria di depannya. cukup membingungkan. Siapa sebenarnya pria itu?
"Ibumu masuk rumah sakit, kamu butuh banyak biaya." lanjut Raiden lagi.
"Bagaimana... ka... kamu tahu hal—" ucapan Utami terhenti. Jari telunjuk Raiden sudah menutup bibirnya.
"Bukannya sedari tadi, Kamu berteriak di sini?"
"Kamu mendengar semuanya?"
Raiden mengangguk dan kembali berujar, "Bagaimana, Nona?"
"Tapi, aku tidak mengenalmu, dan kamu juga tidak mengenalku. Bagaimana bisa kita menikah?"
"Aku tidak perlu mengenalmu. Aku hanya ingin mengajakmu menikah denganku. Dalam satu bulan, kamu boleh meminta cerai dariku. kapan pun kamu mau."
Satu bulan?" anda pikir pernikahan itu main-main?"
"Aku hanya menawarkan. Semua keputusan ada di tanganmu."
Raiden membelakangi Utami. pandangannya lurus ke depan. Sebenarnya, Raiden pemilik rumah sakit tempat Ibu Utami di rawat. lewat CCTV Raiden tidak sengaja melihat Utami menangis sepanjang koridor rumah sakit. Tidak paham dan tidak mengerti kenapa hatinya ikut nyeri ketika mata indah itu menjatuhkan Lara. Saat luka yang datang mendera, namun yang merasakan sesat ada di dalam dada.
"Baiklah, aku menerima tawaran anda. Tapi, bagaimana dengan Ibu saya."
"Tenang saja, aku akan menemui orang tuamu."
Raiden menelpon seseorang entah siapa Raiden telpon, Utami tidak mau ambil pusing. yang jelas sekarang, ibunya harus mendapat perawatan terbaik. Utami saat ini tidak peduli seperti apa pernikahannya nanti dengan pria yang belum dia tahu namanya. Cukup heran bukan, sudah mau menikah keduanya belum saling tahu nama.
"Mulai hari ini, detik ini, kau adalah milikku. Jadi, ikuti semua aturanku. Bukankah seorang istri harus menurut pada suami?"
"Tapi, kita belum menikah."
"Tapi aku sudah membayarmu," Raiden berbicara masih sama dengan mode datarnya.
"Membayarku?" Jelas Utami bingung melihat pria itu. Perasaan dia belum memberikan nomor rekeningnya. Bagaimana bisa pria tersebut mengatakan sudah membayarnya?
Seorang pria berjas rapi datang menghampiri mereka dan memberikan sebuah Kartu ATM berwarna hitam. Yang sering disebut blac card
"Ini untukmu. Dan ibumu sudah mendapat perawatan terbaik. Ingat, kau adalah milikku. Jangan coba-coba bermain dengan pria lain di belakangku. Kau mengerti. jika kamu punya kekasih, detik ini juga, putuskan. Aku harus pergi. Teo akan mengantarmu ke apartemen. Aku akan menemuimu di sana besok lusa.
"Hei, siapa namamu?! Aku belum megenalmu?! teriak Utami melihat pria itu sudah berlalu.
Apakah dia sedang bermimpi bertemu dengan pria yang memberinya uang 100 juta ditambah Kartu ATM tanpa limit?
Utami mencubit wajahnya. Sakit. Itu yang dirasakan Utami. Berarti bukan mimpi. itu nyata. Selain itu, Utami juga mendapat tempat tinggal gratis. Utami sebenarnya wanita dari desa yang datang ke kota bersama ibunya untuk berobat atas penyakit yang sudah lama di derita oleh ibunya. Tak terduga olehnya semua yang terjadi.
***
Utami tercengang melihat apartemen milik Raiden. Foto Raiden ada di sana. Teo sebagai sekretaris pribadi Raiden membukakan pintu kamar untuk calon istri tuannya.
"Ini kamar Nona."
"Kenapa aku di kamar ini?"
"Tuan meminta Nona agar membiasakan diri tidur di kamar tuan. Karena biar bagaimana pun, tuan dan Nona akan segera menikah." jawab Teo tanpa ekspresi.
"Apakah orang kota memang tidak memiliki senyum?" gumam Utami.
"Maksud, nona?" tanya Teo tidak mengerti.
"Tidak. Aku hanya berbicara dengan foto itu." tunjuk Utami pada Foto Raiden yang tergantung rapi di kamar tersebut.
"Pesan tuan, Nona boleh merubah dekor kamar ini, jika nona tidak suka. Sebentar akan datang asisten rumah tangga yang akan membantu nona," ujar Teo lagi.
"Lalu, kapan aku bisa menemui Ibu saya. Aku harus membawakannya makan siang."
"Nona tidak perlu khawatir. Ibu Nona sudah terurus dengan baik. Nona istirahat saja. Itu pesan Tuan."
"Hei, tapi aku ..., akh, tuan atau anak buahnya sama saja," rutuk Utami melihat kepergian Teo.
Utami kembali melihat kartu ATM yang diberikan Raiden sebelumnya. Utami membuka di google. Utami mengetik di pencarian ATM warna hitam
"Black card adalah kartu kredit eksklusif yang hanya ditawarkan bank kepada nasabah berpenghasilan tinggi?" Sepontan saja, mata Utami berotasi membaca informasi yang dia temukan di google.
Utami semakin penasaran. Siapa sebenarnya calon suaminya? Seperti kejatuhan durian runtuh. Utami cukup tidak percaya. Lelah memikirkan itu, Utami merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Nyaman. Jelas saja. Itu yang dirasakan Utami. Selama ini dirinya tidur di atas kasur berisikan kapuk. Sangat berbeda.
Cukup lama Utami tertidur, begitu mata terbuka, Utami kaget melihat ada dua orang wanita paruh baya yang masuk di kamarnya mengantarkan makanan untuknya.
"Maaf, kalian siapa?" tanya Utami bingung.
"Kami yang akan mengurus semua kebutuhan nona. Jadi, izinkan kami bekerja dengan baik untuk Nona." jawab keduanya bersamaan.
"Tapi, aku tidak biasa seperti ini. Dan ini makanan apa? Aku tidak biasa makan makanan seperti ini."
"Kalau begitu, biar kami ganti."
"Ganti? Lalu makanan ini siapa yang akan memakannya?"
"Kami akan membuangnya, Nona."
"Di buang? Kenapa bukan kalian yang makan saja?"
"Maaf, Nona. Kami tidak bisa memakannya, kami di larang keras memakan makanan untuk majikan kami," jawab asisten rumah tangga yang bernama Atung, dan yang satunya bernama Darmi.
Utami tampak berfikir. Di rumahnya, Utami tidak pernah membuang-buang makanan. Tentu hal itu mubadzir.
"Baiklah. Aku akan memakannya."
Jelas Atung dan Darmi tersenyum. Ternyata tidak sulit tugas yang diberikan untuknya. Melihat cara makan calon istri Tuannya, bagi mereka Nona Utami bukanlah wanita dari desa yang kurang pergaulan.
***
Sesuai janji Raiden, dia datang menemui Utami di apartemen miliknya. Utami begitu kaget melihat Raiden duduk di atas kasurnya. Untungnya Utami sudah berganti.
"Kok kamu di sini?"
"Apa kamu lupa? Aku calon suamimu."
Raiden berdiri dan Utami mundur beberapa langka. Utami bingung harus apa.
"Biasakan diri aku ada di sini. Besok kau sudah menjadi istriku. Hari ini, setelah menemui kedua orang tuamu. Kita akan akan menemui nenek. Jadi, persiapkan dirimu. Dan jangan pernah menolak, saat aku memintamu melakukan segala hal. Termasuk ...."
Utami menelan salivanya. Wajah Raiden semakin dekat. Utami mendorong tubuh Raiden.
"Termasuk, saat suami minta haknya, kamu harus siap."
"Apa?" Tapi—"
Lagi-lagi Raiden menutup bibir utami dengan jari telunjuknya.
"Tidak ada perjanjian sebelumnya, kan?"
Utami hanya diam. Mengapa dia lupa. Bagaimana jika dia hamil? Utami kembali teringat dengan ibunya. Utami diam dan menundukkan pandangannya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Raiden mengangkat dagu wanita cantik itu. Sejujurnya, Raiden bukan tanpa alasan mengajak utami menikah. Pandangan pertama saat Utami masuk rumah sakit membuat Raiden sudah jatuh cinta. Kesederhanaan yang di miliki Utami membuatnya menemukan wanita yang cocok untuknya. Selama ini, Raiden mencari wanita yang pas. Raiden semakin yakin, setelah mencari tahu siapa Utami.
Ternyata Utami adalah anak satu-satunya Ibu Fatima yang tinggal di desa terpencil sebagai tukang jahit, dan Utami adalah sebagai guru honorer di desanya. Sekolah tempat Utami mengabdi merupakan sekolah yang sangat membutuhkan tangan-tangan dermawan.
"Aku merindukan ibuku."
"Kita akan menemuinya sekarang. Bergantilah! Aku menunggumu di luar." Raiden memanggil Atung dan Darmi untuk membantu Utami berhias. Awalnya Utami menolak.
Satu menit, hingga lima menit kemudian, Utami keluar. Raiden terperangah melihat kecantikan Utami jauh lebih cantik sebelumnya.
"Teo, turunkan pandanganmu. Ganti bajunya. Itu terlalu terbuka bagian dada. Aku tidak suka. Jika perlu, Pakaikan hijab.
"Apa? Aku belum terbiasa," protes Utami.
"Biasakan mulai dari sekarang. Cukup suamimu yang melihat kecantikan istrinya."
Utami hanya diam dan menurut. Setelah berganti, kembali Utami keluar dengan penampilan yang sangat berbeda.
"Tuan, bagaimana?" tanyanya Atung.
Siapkan mobil, Teo. Kita segera berangkat.
***
Utami langsung menekuk ibunya. Awalnya Ibu Fatima tidak mengenal putrinya. Ibu Fatima sangat terharu melihat penampilan Utami. Selama ini Ibu Fatima berdoa, agar Utami mau memakai penutup aurat itu dan akhirnya tercapai.
"Utami, siapa dia?" Utami terlihat bingung. Dia lupa menanyakan nama calon suaminya.
Ibu Fatima menoleh melihat Raiden
"Maaf, ini siapa? Kata Utami, kamu calon suaminya? Sejak kapan kalian saling kenal dan Ibu tidak tahu, nak?" tanya Ibu Fatima yang terlihat sudah membaik.
"Saya Raiden Dirgantara, Bu. Panggil saja saya Raiden."
Ibu Fatima terlihat diam mendengar nama itu.
'Jadi, namanya Raiden?' Batin Utami yang baru tahu calon suaminya.
"Ibu, saya kemari ijin pamit mengajak Dian Utami irwantoro berkunjung menemui nenek." pamit Raiden menyebutkan nama lengkap Utami.
Tentu Utami kembali bingung. Bagaimana bisa pria misterius itu seakan tahu seluk beluknya? Siap sebenarnya Raiden?
"Maksudnya, Nak Raiden?" tanya Ibu Fatima.
"Saya ingin melamar Utami, Bu."
Ibu Fatima tidak percaya dengan barusan kabar didengar olehnya. Selama ini, Utami tidak pernah dekat dengan pria mana pun. Tentu hal itu membuat Ibu Utami bertanya dalam hati. Sejak kapan Putrinya mengenal pria tersebut?
"Ibu, jangan khawatir. Aku dan Utami memang baru saling mengenal. Tapi aku jamin, aku tulus ingin menikahi putri Ibu." Tidak ada kebohongan di mata Raiden.
Utami mengangkat kepalanya mendengar kejujuran Raiden. Dia tidak tahu itu benar atau hanya Akting.
Ibu Fatima pun merestui niat baik Raiden. Hingga pada akhirnya Raiden dan Utami pun menemui nenek Kumala.
"Jangan gugup. Nenek tidak makan orang. Aku anak yatim piatu, dan nenek lah yang merawatku sejak kecil. Kedua orangtuaku meninggal sejak umurku berusia 6 bulan. Mereka meninggal akibat kecelakaan pesawat.
Utami menatap Raiden. " Bolehkah aku bertanya?"
"Tanyakanlah?"
"Kau mengenalku?"
"Aku tidak mengenalmu. Tapi aku berusaha mencari identitas calon istriku sejak hari itu. Saat kau bersedia mejadi istriku. Jadi, jangan pernah pergi dariku.
'Apa maksud pria ini?' batin Utami.
Tampaklah sebuah rumah megah. Utami semakin yakin, Raiden bukanlah pria sembarangan. Sampai tujuh turunan pun, hartanya tidak akan habis.
"Sesuai janjiku, Nek. Aku membawakan calon mantu untukmu." Raiden tersenyum.
Senyum pertama, utami melihat dari raut wajah Raiden.
"Apakah benar, kamu calon istri Raiden, nak? Nenek seakan tidak percaya, jika calon nenek secantik ini. Siapa namamu?
"Nama saya, Dian Utami Irwantoro dan Ibu saya bernama Fatima. Tinggal di sebuah Desa ***.
Nenek langsung diam mendengar nama itu. Seluruh tubuhnya melemah. Ia tidak percaya.
Raiden jelas panik. Semua orang panik melihat nenek tidak berdaya setelah mendengar nama yang di sebutkan oleh Utami.
"Segera siapkan pernikahan hari ini, Abdillah, ambilkan sertifikat rumah dan surat wasiatku."
"Nek, apa maksudnya? Bukankah pernikahannya besok?"
Nenek bukannya menjawab. Ia meminta Abdillah lagi untuk menjemput Ibu Utami.
"Jangan protes. Hari ini pernikahan kalian harus di laksanakan."
Utami dan Raiden hanya saling menatap. Hingga beberapa jam kemudian Ibu Fatimah datang. Nenek Kumala langsung memeluk Fatima.
"Maafkan kami, Bu. Kami pergi saat itu, karena tidak ingin dipisahkan."
Ternyata Ayah Utami dan ayah Raiden adalah sahabat saat itu. Ayah Utami merupakan anak angkat dari nenek Kumala. Nenek Kumala saat itu tidak merestui hubungan mereka.
Pernikahan Raiden dan Utami pun berlangsung sangat meriah. Usai pernikahan keduanya, Raiden membawa Utami ke sebuah tempat dan di sanalah Raiden mengungkapkan perasaannya.
"Utami, Aku mencintaimu, bersediakah kamu menjadi Ibu dari anak-anakku?"
Utami tidak percaya jika suaminya mencitai dirinya. Utami tidak percaya, jika seorang pria yang diam-diam mengidolakan dirinya
Awalnya sebagai istri seratus juta berubah menjadi seorang ratu. Mimpikah?"
"Utami, jangan menggantung pertanyaanku. Siap tidak siap kamu harus siap."
Jika aku tidak siap?" ujar Utami tersenyum.
"Maka aku akan memaksamu. Bukankah istri harus tunduk pada suami?"
Utami yang sejatinya juga memiliki perasaan yang sama pun terdiam. Cukup malu untuk mengakui perasaannya.
"Kamu diam, berati aku anggap iya."
"Terimakasih istriku 1oo juta. Telah bersedia menjadi bagian dalam hidupku."
Keduanya saling menatap cukup lama. Dengan kedua tangan Raiden memegang kedua pinggang Utami dan menuntun kedua tangan Utami berpegangan di kedua pundak Raiden sendiri.