Kania menatap dirinya di pantulan cermin sambil mengelus perutnya yang masih rata. Apa aku bahagia sekarang? Tanyanya pada diri sendiri. Kania sebenarnya tidak berniat untuk membeli testpack namun bulanannya yang tak kunjung datang, mual dan pusing yang dirasakannya tiap pagi membuatnya penasaran. Dan jawabannya yang tidak di inginkannya pun terjadi. Dia hamil.
Semua perempuan pasti bahagia bukan jika mendapat anugrah dari yang Maha Pencipta. Ada janin yang tumbuh dalam rahimnya. Tidak semua wanita bisa mengalaminya. Ada yang menunggu bertahun-tahun, ada yang mencoba bayi tabung dengan biaya yang mahal, mengadopsi anak sebagai pancingan, pengobatan herbal dan masih banyak lagi. Tapi berbeda dengan keadaan Kania sekarang. Sebentar lagi dia akan menikah dengan kekasihnya tapi sekarang dia tengah hamil. Anak yang dkandungnya bukanlah anak dari kekasihnya. Calon suaminya.
Kania merebahkan tubuhnya di ranjangnya, pikirannya berkelana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Kania tidak mungkin menggugurkan bayi yang tengah di kandungnya. Dia tidak mau menjadi pembunuh. Haruskah dia jujur pada Zidan kekasihnya?
Perjuangan cintanya bersama Zidan tidaklah mudah. Banyak sekali cobaan yang datang menghampiri hubungan keduanya. Namun karena keyakinan dan kekuatan cinta mereka. Mereka mampu sampai di titik ini.
Kania yang seorang anak adopsi harus hidup sendiri, membiayai kehidupannya sendiri setelah kedua orang tua asuhnya meninggal karena kecelakaan 3 tahun lalu. Pada saat itu Kania tidak sengaja bertemu dengan Zidan. Seorang dokter spesialis jantung yang membantu kedua orangtuanya, meski nyawa keduanya tidak dapat di selamatkan. Setelah saat itu keduanya menjadi dekat dan memiliki hubungan serius yang akan dibawa ke jenjang pernikahan.
Drrrt Drrrrrt Drrrrt
Ponsel Kania berdering. Zidan menelpon.
“Iya Zi. Ada apa?”
“Aku cuma mau mengingatkan makan siang nanti sekalian kita ambil undangannya. Aku dikabari kalau undangan kita sudah jadi.” ucap Zidan di seberang sana.
Kania melirik jam dindingnya. Waktu menunjukkan pukul 10.30. “Oke aku akan segera bersiap.”
“Aku akan segera menjemputmu di apartemen.”
“Tidak usah. Kita ketemu disana saja. Nanti kamu harus bolak-balik.”
“Oke lah kalau begitu. Sampai berjumpa disana honey.”
Panggilan telepon itu di tutup. Hati Kania semakin gamang. Dia tidak mungkin menipu Zidan dan menutupi keadaannya. Pernikahan mereka bukanlah sebuah permainan yang bisa di ulang kembali jika gagal.
***
Kania baru saja sampai di cafe yang dijanjikan Zidan. Belum ada tanda-tanda kehadiran Zidan disana. Kania duduk menunggu dimeja yang sudah di pesan Zidan sebelum datang kesini sembari mengecek ponselnya.
Sebuah WA dari Zidan. Dia mengatakan bahwa akan terlambat datang karena ada pasien gawat darurat yang terkena serangan jantung.
Ada WA satu lagi dari nomor yang tidak dikenalnya.
Sayang bagaimana kabarmu hari ini? Bagaimana kalau kita bertemu lagi? Aku sangat merindukanmu.
Kania mengernyitkan dahinya. Pesan dari siapa ini? Apa ini pesan salah kirim? Kania mengabaikan pesan itu ketika Monica adik Zidan datang membawa undangan pernikahan mereka.
“Maaf ya kak, aku terlambat.” ujarnya meminta maaf.
“Tidak ada apa-apa. Aku juga baru saja sampai. Di jam makan siang seperti ini jalanan jadi macet bukan?” Kania memaklumi. Di paksakan senyumnya pada Monica. Hubungannya dengan Monica tidak terlalu dekat, tapi sebisa mungkin Kania merangkul adik calon suaminya itu.
“Ini kak undangannya sudah jadi.” Ucapnya seraya menyodorkan setumpuk undangan di hadapanku. “Ngomong-ngomong dimana kak Zidan?” tanyanya sadar kakaknya tidak berada disana.
“Dia terlambat. Ada pasien gawat darurat yang harus ditangani. Oh ya maaf ya kami jadi merepotkanmu untuk persiapan pernikahan kami.” ucapku jujur.
“Tidak masalah. Aku senang bisa membantu.” Monica mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Kak sudah pesan makanan belum?"
“Belum. Maaf aku bermaksud menunggu Zidan tadi.” ucapku tersadar. “Ayo kita pesan dulu!”
Zidan baru saja mengiriminya pesan bahwa sebentar lagi dia kan segera sampai. Tak berapa lama makanan Kania dan Monica datang. Kania sudah memesankan makanan sekalian untuk Zidan agar nantinya tidak perlu menunggu lagi. Melihat makanan yang ada dihadapannya membuat Kania merasa agak mual.
“Kak kenapa?” tanya Monica yang melihat Kania seperti menahan sesuatu.
“Tidak. Kakak tidak apa-apa.” Kania harus bisa menyembunyikan keadaannya sekarang.
Zidan datang. “Hai! Maaf ya terlambat!” ucap Zidan seraya mengecup kening Kania.
“Tidak apa-apa.” Kania membalas Zidan dengan senyumannya.
“Inikah undangan kita? Kamu sudah mengeceknya honey?” tunjuknya pada setumpuk undangan yang berada di sudut meja mereka.
“Belum aku menunggumu.”
“Ayo kita lihat seberapa hebatnya Monica dalam mendesainnya!”
Zidan tampak antusias mengecek undangannya. Dengan teliti ia memeriksa dari atas sampai bawah tulisan yang tercetak di undangan itu. Kania pun ikut mengamati undangannya yang berwarna biru itu, pandangannya terkunci pada dua nama disana.
dr. Zidan Ananta Sp. JP
&
Kania Amandira, S.E.
Entah mengapa ada keraguan yang muncul dalam hatinya. Dia takut kehilangan Zidan tapi disisi lain dia juga tak ingin membohongi Zidan. Bagi Kania mendapatkan cinta Zidan seperti membelah lautan. Begitu sulit dan penuh perjuangan apalagi untuk mendapatkan restu dari Mamanya Zidan.
Masih teringat dengan jelas penolakan dari keluarga Zidan. Tentang masa lalunya yang katanya tidak jelas. Tidak ada satu pun orang yang mau hidup tanpa status yang jelas. Tapi Kania juga tidak bisa memilih takdir hidupnya. Dia tidak memiliki keluarga dan harus tinggal di panti asuhan semenjak bayi hingga diadopsi.
“Honey kita makan dulu yuk!” Zidan menatapku yang hanya diam menatap undangan di tanganku. Pandangannya kemudian teralihkan pada adiknya. “Undangan sangat bagus terimakasih Mon.”
“Sama-sama Kak.”
Zidan dan Monica mulai memakan makanannya. Sedangkan Kania hanya menatap makanannya tidak berselera.
“Kenapa honey? Kenapa tidak dimakan makanmu?” Zidan bertanya.
“A..ku tidak apa-apa.” ucap Kania gugup.
“Ayo makanlah! Jangan biarkan perutmu kosong kamu bisa sakit!” kata Zidan penuh perhatian.
Mau tak mau Kania menjadi luluh dengan perhatian Zidan. Sedikit saja. Batinnya. Kania menyendokkan satu suap makanannya ke dalam mulut, dengan susah payah Kania berusaha menelan makanan itu tapi sekuat itu juga gejolak perutnya yang menolak. Kania sampai di ambang batasnya. Tanpa aba-aba dia langsung berlari menuju kamar mandi. Memuntahkan isi perutnya.
Kania kembali ke meja makan setelah menguras isi perutnya. Tatapan cemas Zidan membuat hati Kania makin sakit.
“Honey kamu kenapa?”
“Aku sepertinya tidak enak badan.”
“Jangan terlalu memikirkan pernikahan kita! Semua sudah beres honey. Jaga kesehatanmu! Aku tidak ingin melihatmu sakit di acara spesial kita.”
“Iya aku mengerti.”
“Apa perlu kita ke rumah sakit dulu? Biar Erika memeriksa keadaanmu.”
Kania takut akan ketahuan jika diperiksa dokter. Apalagi dokter itu adalah temannya Zidan. “Tidak usah. Aku baik-baik saja. Dengan istirahat aku pasti segera membaik.”
Monica yang sedari tadi memperhatikan keduanya ikut berkomentar. “Kakak sedang tidak hamil bukan?”
Pertanyaan itu membuat Kania membeku. Wajahnya pucat pasi. Apakah terlihat sejelas itu?
Zidan menatap Monica dengan kesal. “Heii!! Jaga bicaramu! Kamu pikir kakak ini pria seperti apa? Kakakmu ini menjaga kak Kania dengan baik. Bagaimana bisa kamu berpikir serendah itu?”
“Aku hanya bertanya. Tidak usah marah-marah.” ucap Monica sewot.
Bagi Zidan dan Monica mungkin itu hanya ungkapan lalu, tapi bagi Kania rasanya dunianya seperti sudah di runtuhkan dan hancur begitu saja.
***
Kania mencoba fokus pada pekerjaannya siang ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus segera dia selesaikan sebelum mengambil cuti. Kania menghela napas berat, dilihatnya setumpuk file yang masih berada di mejanya belum tersentuh. Bekerja sebagai Finance Accounting Staff memang membutuhkan ketelitian dan kejelian dalam bekerja. Salah sedikit saja perusahaan bisa langsung memecatnya. Kania sadar betul tanggung jawabnya, berada di posisinya sekarang pun bukan hal yang mudah untuk dicapainya. Bahkan Kania juga harus mengejar pendidikan S2 nya.
“Kan? Kamu nggak makan siang dulu?” Tanya Andity mendekati meja Kania.
Kania menjawab tanpa menoleh. “Sebentar lagi tanggung.”
“Jangan terlalu keras Kan. Ingat jaga kesehatanmu!”
“Ya bu. Siap!”
Kania hampir saja kehabisan waktu untuk makan siang. Karena terlalu fokus pada pekerjaannya. Kalau bukan karena perutnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi mungkin saja saat ini Kania masih memeluk komputernya.
“Ya ampun Kan! Udah jam berapa sekarang?” Andity mengomel pada Kania saat Kania datang membawa makanannya.
“Iya aku keblabasan.”
Andity hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Kania yang makan dengan kecepatan super. Tidak ada yang menyadari saat seseorang tengah memperhatikan Kania tanpa kata.
***
Kania meregangkan otot-ototnya setelah seharian bekerja. Rasanya tubuhnya seperti remuk redam. Hari ini Zidan mengajaknya makan malam tapi dengan terpaksa Kania harus menolaknya pekerjaannya menumpuk dan dia tidak mungkin membiarkannya terbengkalai saat dirinya cuti nanti. Kania sudah makan malam ala kadarnya dengan memesan via online tadi. Tak apalah daripada perutnya kelaparan.
Meskipun Zidan pernah memintanya berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah menikah nanti, Kania merasa belum rela jika harus meninggalkan pekerjaannya yang di capainya dengan jatuh bangun.
Kania membereskan mejanya dan mengecek komputernya sebelum dia pergi. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Kantornya sudah sepi. Mungkin hanya ada satu dua orang yang masih bertahan untuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang.
Rasa-rasanya malam ini berbeda sekali. Entah mengapa suasana kantor menjadi begitu mencekam dan Kania merasa diperhatikan. Di tengok kanan-kirinya tidak ada siapa-siapa. Dengan langkah pasti Kania langsung menuju lift dan menuju lantai satu. Kania heran bahkan di reseptionist depan sudah kosong, satpam pun tak terlihat batang hidungnya. Kania mencoba mengeyahkan pikiran yang tidak-tidak dan segera mencari taksi untuk pulang ke apartemennya.
Baru mendapat dua langkah keluar kantornya, sebuah mobil hitam berhenti di sebelahnya. Seorang pria bertopeng keluar dan langsung membekap mulutnya membuat Kania sesak dan tak sadarkan diri.
***
Kania merasa pusing sekali pagi ini. Dirinya mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Ingatannya terhenti pada sebuah mobil dan pria bertopeng yang membekap mulutnya. ASTAGA!
Di pandang sekelilingnya. Ini di kamar hotel. Kamar yang sama. Kania mencoba duduk, tapi usahanya gagal, Tubuhnya merasakan sakit hampir di sekujur tubuhnya. Kania pun tersadar jika dia kini tengah telanjang, hanya sebuah selimut yang menutupi tubuh polosnya. Ingin rasanya Kania menjerit. Kenapa ini terjadi lagi?
Ingatan Kania kembali pada dua bulan lalu. Di kamar yang sama.
FLASHBACK ON
Kania dan teman-teman kantornya mengikuti sebuah pesta yang diadakan oleh rekan kantor dari perusahaan lain di sebuah ballroom hotel. Bagi Kania ikut sesekali tidak apa kan? Dia pun sudah mendapat izin dari Zidan. Toh perginya juga bersama teman perempuan. Bukan di Bar atau Club.
Kania sebenarnya tidak nyaman berada disini. Tapi ajakan temannya yang terus memaksa membuatnya menyerah. Dengan gaun hitam yang melekat di tubuh rampingnya, membuat penampilan Kania tampak berbeda, riasan tipis yang memoles pipinya membuatnya tampak sempurna.
“Kan kamu cantik banget malam ini.” Puji Andity menyambut kedatangan Kania.
“Iya terima kasih. Tapi aku merasa tidak nyaman berpenampilan begini.” akunya jujur.
“Sekali-kali boleh lah Kan. Tampil berbeda dan keluar zona nyaman.”
Kania, Andity dan teman-temannya yang lain baru saja memasuki ballroom, sudah nampak orang berlalu lalang asyik menikmati pertunjukan musik DJ. Suara hingar bingar musik terdengar memekakkan telinga. Baru sebentar saja teman-temannya sudah asyik sendiri, meninggalkan Kania sendiri. Kania yang tidak terbiasa datang ke acara seperti ini pun merasa salah sudah datang.
Entah nasib sial apa yang mengikutinya. Seorang pelayan memberikan minuman yang salah padanya atau sengaja memberikan minuman beralkohol. Kania tidak tahu. Awalnya Kania hanya mencoba sedikit tapi sensasi yang diberikan membuatnya ketagihan dan mencoba lagi. Hingga Kania merasa pusing dan tak sanggup menyangga tubuhnya sendiri.
Kania mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, mencoba mencari keberadaan temannya. Pandangan matanya sudah kabur, semua tampak samar dimatanya. Dia akan pergi dari sini sendiri. Putusnya. Seorang pria mendekat ke arahnya. Dari indera penciumannya, Kania bisa menghirup aroma parfum yang sangat memabukkan, sangat pekat.
Pria itu menuntun Kania keluar dari ballroom, menopang tubuh Kania dengan tangannya agar tidak terjatuh. Tak sepatah kata pun di ucap pria itu pada Kania. Kania berusaha menggerakkan tubuhnya menjauhi pria yang bahkan tidak dikenalnya, tapi usahanya sia-sia. Tubuhnya tak merespon keinginan pikirannya.
Pria itu menggiring Kania ke sebuah kamar hotel. Kania semakin takut akan apa yang terjadi dengan dirinya nanti. Kania tak sanggup berjalan lagi, dengan sigap pria itu menggendong Kania masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Kamar mewah president suite room nampak memberikan suasana yang berbeda. Keduanya saling menatap dalam diam. Meski Kania dalam keadaan setengah sadar, Kania bisa dengan jelas melihat wajah pria yang ada di atas tubuhnya. Tampan. Satu kata yang bisa diucapkan oleh Kania untuk menilai pria itu.
Apa yang terjadi berikutnya tidak terduga. Keduanya larut dalam gelora yang datang tiba-tiba. Sang pria yang bergairah dan sang wanita yang tampak pasrah dibawah pengaruh alkohol. Malam itu menjadi malam yang panjang bagi keduanya.
“Kan aku memenuhi janjiku!” Bisik pria itu lembut ditelinga Kania.
Paginya Kania bangun dalam keadaan yang tidak diinginkannya. Tubuhnya merasa remuk redam, tubuh polosnya hanya tertutup selimut. Bahkan noda bercak darah di seprei seperti menertawakan kebodohannya. Bagaimana bisa dia seceroboh itu? Tak ada siapa-siapa ketika dirinya bangun. Kania hanya bisa menangisi keadaannya. Bahkan untuk mencari tahu pria itu pun tak mungkin dilakukannya.
FLASHBACK OFF
***
Kania langsung ke kantor pagi itu. Dia tak sempat pulang ke apatemennya hanya untuk mandi atau berganti baju. Terserahlah orang mau bilang apa. Dia tidak ingin terlambat dan menunda pekerjaannya.
“Kan? Kamu nggak ganti baju? Itu kan pakaianmu yang kemarin.” Andity menatap Kania heran.
Kania tidak menjawab dan langsung duduk di kursinya.
“Ada apa denganmu Kan? Apa yang terjadi? Kenapa dengan wajahmu? Kamu tampak pucat sekali. Kamu sakit?” Rentetan pertanyaan Andity membuat Kania semakin pusing.
“Aku tidak apa-apa. Sudahlah kembalilah ke mejamu! Ayo kita bekerja!” ucap Kania menghentikan Andity.
Andity hanya mengendikkan bahunya dan kembali ke mejanya. Dia tahu Kania butuh waktu untuk sendiri. Dia akan cerita sendiri kalau sudah waktunya.
Kania menyibukkan dirinya pada pekerjaannya, melupakan sejenak masalah hidup yang dialaminya. Dirinya harus fokus menyelesaikannya satu persatu. Hari sudah semakin siang, jam makan siang sebentar lagi. Tampak Andity mulai membereskan berkasnya di meja sambil melirik Kania yang masih fokus pada pekerjaannya.
Selama bekerja bersama di perusahaan ini, keduanya memang sangat dekat. Banyak hal yang mereka bagi berdua. Andity juga tahu tentang sifat dan kebiasaan temannya itu. Dihampiri meja Kania lagi. Andity tidak ingin jika Kania sakit. Entah masalah apa yang sedang dihadapinya. Banyak yang mengatakan persiapan pernikahan memang menguras tenaga dan pikiran walau begitu hatinya akan tetap bahagia, tapi berbeda dengan Kania yang tampak sedih.
“Kan makan siang dulu yuk!” ajak Andity.
Kania mendongakkan kepalanya menatap jam dinding di ruangannya.” Ternyata sudah jam makan siang ya.” ucapnya tersadar.
“Iya ayo makan siang dulu!”
Kania bergerak dari tempat duduknya, merapikan berkasnya dan menyambar tasnya. Andity menggandeng lengan Kania seperti biasa dan bercerita ini itu padanya sambil tertawa. Kania sudah terbiasa dengan itu. Seperti hiburan sesaat untuknya.
Sampai di kantin kantornya ternyata sudah ramai sekali, tidak biasa sebenarnya seramai ini. Ada apa? Kerumunan menjadi semakin ramai dengan bisik-bisik disana sini. Seorang pria muda yang jadi pusat perhatian tiba-tiba berjalan ke arahnya. Kania membeku di tempat. Pandangan mereka bertemu. Bukankah itu?
Kania tidak bergerak di tempat bahkan saat pria itu sudah berlalu pergi. Andity menyadari sikap Kania yang jadi aneh.
“Kan ada apa?” tanyanya khawatir.
Kania menjawab pertanyaan Andity dengan pertanyaan. “Itu tadi siapa An?”
Kania mengangkat alisnya heran. “Kamu sudah berapa lama bekerja disini? Masak kamu tidak tahu...”
“Siapa?” tanyanya tak sabar.
“Dia CEO kita. Daniel Egha Prayoga.”
Bagai di gulung ombak, hati Kania di ombang-ambingkan pada kenyataan. Hidup memang tidak pernah bisa ditebak. Tak seperti air mengalir, angin akan membawamu terbang kemana pun dia mau.
“Tidak mungkin.” Kania semakin bingung setelah mengetahui kenyataannya, tanpa perlu dicari jawaban itu datang sendiri padanya. Bagaimana dia akan lari sekarang?
***
Sebuah pesan masuk ke ponsel Kania dari Zidan.
Honey aku merindukanmu. Rasanya tidak sabar menunggu besok pagi. Kamu akan jadi istriku. Kita akan bersama selamanya. Semoga pernikahan kita selalu bahagia.
Kania menangis membaca pesan dari Zidan, rasanya begitu sakit. Tidak bisa dibayangkan rasa kecewanya Zidan pada dirinya. Kania bahkan belum mengatakan kenyataan sebenarnya pada calon suaminya itu. Haruskah dia membatalkan pernikahannya? Dia tidak mungkin melangkah di serpihan kaca yang sudah berserakan.
Kania tidak tahu harus cerita kepada siapa tentang masalahnya. Di hari penantiannya ini pun dia hanya duduk sendiri di apartemennya.
Sebuah pesan masuk lagi di ponselnya.
Sayang apa kamu benar akan menikah dengan pria lain?
Membaca pesan itu membuat hati Kania bergetar hebat. Nomor yang sama. Dan dia tahu siapa pemiliknya. Pria itu masih online. Menunggu jawaban Kania.
Pesan itu masuk lagi.
Ayo kita bicara!
Pria itu mengajaknya bertemu. Apa yang harus dilakukan Kania? Belum sempat berpikir untuk memberikan jawaban. Bel apartemennya berbunyi. Siapa yang datang? Kania membuka pintu tanpa curiga. Pria itu berdiri di depan matanya. Matanya membulat sempurna bahkan mulutnya menganga tak dapat menutupi keterkejutannya.
“Boleh aku masuk?” tanyanya dingin menahan emosi sepertinya.
Siapa yang salah dan berhak marah disini? Batinnya.
Pria itu masuk tanpa perlu persetujuannya. Kania buru-buru mengejar pria itu dan menutup pintunya. Tidak sopan.
“Apa kamu sudah gila? Kamu mau menikah dengan siapa?” Pria itu menatap Kania dengan marah.
Kania hendak menjawab. Tapi pria itu sudah melanjutkan lagi. “Aku baru pulang dari luar negeri dan membaca undanganmu pagi tadi. Kamu tahu aku marah sekali? Bagaimana bisa kamu melakukan itu? Apa dia tahu kamu tidur denganku?”
Kania bergetar hebat. Bagaimana bisa pria itu mengeluarkan amarah padanya? Kania tidak sanggup mengatakan apapun lagi. Rasanya sudah lelah tubuh dan pikirannya. Kini di tambah dengan pria yang marah-marah tidak jelas padanya. Kania memilih duduk di sofa dan meminum air putih di mejanya.
Kania menghembuskan napasnya kasar. “Kamu sudah marah-marahnya?” tanya Kania berusaha menenangkan dirinya.
“Kamu belum jawab pertanyaanku?” Pria itu memincingkan matanya menatap Kania.
“Sebenarnya apa yang terjadi diantara kita? Aku masih belum mengerti dengan keadaan kita ini. Aku sudah merencanakan pernikahanku dengan Zidan selama setahun terakhir ini, kami sudah bersama selama tiga tahun. Lalu tiba-tiba kamu datang dan mengacaukan semuanya. Aku bisa apa? Bahkan kamu datang dan marah-marah kepadaku. Katakan dimana letak kesalahanku? Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa jujur dengan calon suamiku tentang keadaanku yang sebenarnya padahal pernikahan kami sudah di depan mata.” Kata Kania menggebu, meluapkan rasa yang dipendamnya selama ini.
Pria itu melunak, menatap Kania.
“Katakan apa yang kamu inginkan sekarang!” Tantangnya.
“Aku datang memenuhi janjiku padamu.”
Terngiang ucapan pria itu di malam mereka sebelumnya. Kan aku memenuhi janjiku.
Janji?
“Janji apa yang kamu maksud?”
“Apa kamu lupa Kan?”
Kania mengeleng pelan. Dia tidak ingat pernah berjanji pada pria dihadapannya ini. Ditatapnya pria itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tetap saja Kania belum mendapatkan jawabannya.
“Aku Yoga. Teman masa kecilmu.”
Mata Kania membulat sempurna. Tidak mungkin.
****
Flashback ON
Kania tinggal di sebuah panti asuhan di kota Malang. Di sanalah Kania tumbuh dan dibesarkan. Di tempat itu Kania sangat dekat dengan seorang anak laki-laki yang usianya 3 tahun lebih tua darinya. Namanya Yoga. Keduanya seperti sepasang anak kembar yang tak terpisahkan. Dimana ada Yoga disitu juga ada Kania.
Kania yang sangat pendiam menikmati setiap perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh Yoga. Keduanya pun berjanji akan selalu bersama. Meski saat itu keduanya belum tahu apa-apa tentang sebuah hubungan.
Suatu hari ada pasangan suami-istri yang ingin mengadopsi Kania, Kania senang sekali mendapat kabar itu. Tapi tidak bagi Yoga, membiarkannya Kania pergi adalah hal tersulit yang harus di terimanya.
“Kamu senang mau di adopsi oleh mereka?” Tanya Yoga sembari menatap manik mata Kania yang begitu polos.
“Iya. Siapa yang tidak senang punya orang tua?”
“Apa kamu akan bahagia hidup dengan mereka?”
“Iya. Aku pasti bahagia.” ucap Kania kegirangan.
“Baiklah aku mengizinkanmu pergi. Tapi kamu harus ingat padaku ya!”
“Iya aku akan selalu mengingatmu.”
“Berjanjilah Kan, kita akan saling menemukan suatu hari nanti. Kamu milikku dan aku milikmu.” ucap Yoga bersungguh-sungguh.
Kania menatap Yoga dengan heran. Dia tidak mengerti maksud kalimat yang Yoga ucapkan. Tapi dia mengiyakan. “Baiklah. Aku janji.”
Semenjak saat itu keduanya terpisah. Kania ikut keluaraga barunya di Surabaya dan Yoga tetap berada di panti sampai remaja. Janjinya pada Kania membuat Yoga begitu semangat belajar. Janjinya waktu itu pada Kania dia jadikan semangat untuk memiliki kehidupan yang lebih baik agar bisa memiliki Kania dan membahagiakannya.
Flashback OFF
****
Kania tidak bisa mempercayai apa yang di dengarnya. Jadi selama ini? Yoga benar-benar menepati janjinya. Kania tertunduk malu. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan pria itu?
“Selama ini kamu sudah tahu tentang diriku? Kenapa tidak mengatakannya dari awal?”
Yoga duduk di sebelah Kania. Tatapannya sendu. “Aku mencarimu selama bertahun-tahun Kan di Surabaya tempat tinggalmu dulu. Ternyata kamu sudah pindah dan tak ada yang tahu keberadaanmu. Saat aku mendapat informasi, ternyata kedua orang tua asuhmu meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hatiku hancur. Memikirkan kamu juga sudah tiada. Tapi Tuhan punya rencana untukku. Kita bertemu tak sengaja di hotel dua bulan yang lalu. Rasa rindu dan bahagiaku tak terbendung hingga semuanya ku luapkan padamu malam itu. Maaf Kan, aku tidak berniat merusakmu hanya saja aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Dan aku sangat bahagia kamu masih menjaga dirimu untukku.” jelasnya panjang lebar.
“Lalu mengapa kamu meninggalkan aku di hotel begitu saja pagi itu? Tanpa mengatakan apa-apa.”
Perasaan bersalah menghantui Yoga. “Ada pekerjaan mendadak yang memaksaku pergi. Maaf tak sempat berpamitan padamu. Setelah hari itu aku mencari tahu tentangmu dan aku merasa begitu lega. Kamu bekerja di perusahaanku. Sampai pagi ini aku tahu tentang rencana pernikahanmu.”
Kania bingung harus bersikap seperti apa. Keadaan semakin membuatnya sulit. Yoga tidak akan mungkin melepaskannya jika dia tahu Kania sedang mengandung anaknya. Tapi Zidan juga tidak akan pernah memaafkannya jika membatalkan rencana pernikahan mereka di detik terakhir.
“Kan?”
Kania tersadar dari pikirannya sendiri, menoleh menatap Yoga di sebelahnya. “Batalkan pernikahanmu atau aku yang akan membatalkannya!” ucapnya tegas penuh penekanan.
****
Pagi hari di hari pernikahan Kania dan Zidan.
Zidan mondar-mandir sembari mencoba menghubungi Kania. Sejak semalam ponsel Kania susah sekali dihubungi. Sampai pagi ini menjelang acara pernikahan mereka Kania malah hilang tanpa kabar. Sopir yang menjemput Kania di apartemennya pun tak mendapatkan jawaban apapun dari dalam. Sepertinya aparteman Kania kosong. Lalu dimana keberadaannnya.
Seluruh keluarga Zidan, terutama Mamanya sudah sangat emosi mengetahui kabar tentang Kania. Bagaimana tidak? Gadis itu akan membuat keluarganya malu jika sampai tidak hadir ke pernikahannya. Dengan susah payah Mama Zidan berusaha menerima gadis yang tidak jelas asal-usulnya itu. Dan sekarang apa yang dia lakukan?
“Bagaimana Zi? Sudah ada kabar dari calon istrimu itu.” Tanya Mama penuh sindiran.
“Belum Ma. Sopir mengatakan bahwa apartemen Kania kosong.” Zidan tampak panik engan situasinya sekarang. Semua tamu undangan sudah datang. Bahkan mereka berbisik-bisik di belakang mereka. “Kan ayolah! Jangan membuatku malu.” ujarnya dalam hati.
Di apartemen Kania.
Kania sebenarnya mendengar bel apatemennya berbunyi. Tapi dia berusaha menulikan telinganya. Kania bangun dari ranjangnya, diraihnya ponselnya. Ada begitu banyak pesan, telepon dari Zidan, Monica, Andity dan masih banyak lagi. Mereka pasti bertanya-tanya kemana dirinya di saat seperti ini.
Kania mengenakan pakaiannya yang tergeletak di sudut ranjang. Dia harus memutuskan sekarang. Meskipun cukup terlambat baginya untuk melakukan itu. Semalaman bahkan Kania tidak tidur memikirkan keputusan terbaik yang bisa dia ambil. Kania memencet kontak Zidan.
“Astaga Kania dimana kamu? Kenapa tidak bisa dihubungi.” Suara Zidan di seberang sana terdengar panik.
“Maaf Zi.”
“Maaf untuk apa? Segeralah kemari! Penghulu dan tamu undangan kita sudah hadir disini.” ucap Zidan tergesa. Kania tahu betapa banyak masalah yang harus dihadapi Zidan karenanya.
Kania memejamkan matanya. “Aku tidak bisa datang Zi.”
“Apa? Apa maksudmu Kan? Jangan bercanda di saat seperti ini!” ucap Zidan frustasi.
Kania menahan tangisnya yang siap meledak. Pandangannya di alihkan pada seorang pria yang tengah tertidur di ranjangnya. “Maafkan aku Zi. Aku benar-benar tidak bisa datang. Maafkan aku. Aku....” Kania tak sanggup melanjutkan kalimatnya lagi. Ditutupnya telepon itu dan dia berlari ke kamar mandi. Menumpahkan air matanya yang sudah tak bisa ditahannya lagi. Kania sudah melepaskan Zidan. Melepaskan impian yang mereka rajut bersama selama 3 tahun terakhir ini.
Kamu pria baik Zi. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Aku hanya akan membuatmu kecewa dan malu. Ujar Kania di sela tangisnya.
***
Malam itu Kania dan Yoga melakukannya lagi. Keduanya melakukan secara sadar untuk pertama kalinya. Tidak ada paksaan. Keduanya larut dalam cerita masa lalu dan masa depan. Kania semalaman menelaah perasaannya. Dia tidak mungkin menjadikan Zidan ayah dari anaknya Yoga. Itu akan membuat masalah besar diantara ketiganya. Lebih baik Zidan terluka di awal dari pada harus menelan pil pahit di kemudian hari. Kania tidak ingin membuat Zidan menyesal karena telah memilihnya,
Kania kembali bekerja setelah mas cuti singkatnya berakhir. Kania harus menghadapi orang-orang sekantor yang akan membicarakan kegagalan pernikahannya. Kania harus bisa. Tatapan semua orang tertuju padanya ketika meginjakkan kakinya di kantor. Kania berusaha mengabaikan mereka.
Sambutan itu juga dia dapatkan dari Andity. “Astaga Kania!” Ucapnya saat meilhat Kania duduk di kursinya. Kania hanya membalasnya dengan senyum singkat.
“Aku tidak percaya dengan apa yang terjadi kemarin? Apa kamu tidak apa-apa?” tanyanya lagi.
“Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja.” jawabnya menahan diri untuk tidak menangis lagi. Setelah membuat kekacauan dengan meninggalkan acara pernikahannya sendiri. Tentu saja tidak baik-baik saja. Kania sudah lelah bahkan air matanya pun seakan sudah habis.
“Iya kamu memang harus kuat Kan. Aku tidak sanggup membayangkan jika kamu jadi menikah dengan Zidan.” ucap Andity menggebu.
Kania tidak mengerti dengan maksud perkataan Andity. “Apa maksudmu An?”
“Kamu tidak tahu?” Andity menyipitkan matanya. Menatap Kania dengan heran. Sepertinya ada sesuatu yang terlewatkan.
Kania terdiam.
“Mereka mengganti mempelai perempuan. Menggantikan posisimu.”
Zidan jadi menikah hari itu. “Dengan siapa?”
“Seorang wanita bernama Erika.” Sebuah bom besar seakan jatuh begitu saja. Zidan menikah dengan Erika. Entah reaksi apa yang bisa diberikan Kania. Erika menyelamatkan keluarga Zidan dari rasa malunya jika pernikahan itu gagal. Atau mungkin? Apa mungkin selama ini?
“Kalau kamu tidak tahu. Kemana saja kamu selama ini? Kupikir mereka menekanmu atau menculikmu agar kamu kamu tidak datang.”
Kania tidak mengerti pemikiran Andity bisa sejauh itu. Dirinyalah yang membatalkan pernikahan mereka secara sepihak tapi mengapa seolah Andity berpikir dirinyalah yang menjadi korban. “Kenapa begitu?”
“Wanita itu sedang hamil Kan. Perutnya yang membuncit bahkan terlihat sangat jelas.” Andity berbicara tanpa melihat ekspresi Kania yang terkejut setengah mati. Tidak mungkin!!
Kania masih mencerna setiap informasi yang didapatkannya dari Andity. Jika itu benar mungkinkah selama ini Zidan berselingkuh dibelakangnya? Tapi Kania masih tidak habis pikir mengapa semuanya jadi begini. Sejak hari itu Kania sudah tidak pernah menghubungi Zidan lagi. Tak ada hal yang bisa mereka bicarakan lagi. Untuk menghadapi Zidan pun Kania tidak berani. Sedangkan untuk Yoga. Pria itu tudak bisa sedetik pun tidak menghubunginya. Senyumnya merekah ssat melihat Kania memasak di dapur saat dirinya bangun siang itu. Yoga bisa menyimpulkan kalau Kania sudah membatalkan pernikahannya.
Siang itu di kantor ketika jam makan siang.
Terdengar bisik-bisik tentang CEO mereka. Mau tak mau Kania jadi ikut penasaran.
“Ada apa An?” tanyanya pada Andity yang baru saja kembali dari kantin.
“Pak Daniel, CEO kita kecelakaan...”
Kania setengah berteriak kepadanya.“Apa??”
Andity terkejut dengan reaksi Kania yang berlebihan. Tak biasanya dia bersikap seperti itu. “Kamu kenapa Kan?”
“An kamu tahu dimana dia dirawat?” Andity mencengkram lengan Andity, memaksa temannya itu berbicara.
***
Andity`terpaksa meminta izin untuk mengantar Kania ke rumah sakit tempat CEO mereka dirawat. Andity tidak tega membiarkan Kania pergi sendiri dengan wajahnya yang pucat dan hampir pingsan itu. Sebenarnya dalam hati Andity bertanya-tanya tentang sikap Kania yang terasa janggal saat mendengar kabar tentang Pak Daniel. Bahkan beberapa waktu yang lalu Kania bahkan tidak mengenalinya sebagai atasan di perusahaan tenpatnya bekerja. Tapi Andity menahan diri untuk bertanya. Apalagi setelah kegagalan pernikahannya. Diliriknya Kania yang tampak khawatir. Mungkinkah Kania memiliki hubungan dengan Pak Daniel?
Kania setengah berlari menuju kamar Yoga setelah bertanya pada bagian informasi rumah sakit. Sebenarnya Kania agak takut jika nanti bertemu dengan Zidan atau Erika disini. Ini adalah rumah sakit dimana keduanya bekerja. Tapi dia tidak peduli saat ini.
Kania menemukan kamar perawatan milik Yoga. Tanpa mengetuk pintu Kania masuk. Pandangan mereka bertemu. Agaknya Yoga juga terkejut dengan kedatangan Kania. Disana terlihat Yoga yang tengah duduk bersandar di ranjang dengan perban di kepala dan lengannya. Serta selang infus yang menancap disana. Selebihnya pria itu baik-baik saja.
Hati Kania dipenuhi kelegaan. Dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
Kania perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Dia coba mengingat kejadian terakhir yang menimpanya. Dia berlari di rumah sakit karena khawatir dengan keadaan Yoga. Syukurlah Yoga tidak-apa-apa.
Kania merasa lengannya seperti disengat lebah sebuah selang infus menancap di lengan kanannya. Pakaiannya pun sudah berganti dengan gaun rumah sakit. Dia juga ingat kalau tadi dia pingsan. Kania mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Dia sendirian.
Tak berapa lama kemudian Yoga masuk masih dengan pakaian rumah sakit dan selang infus berjalannya. Yoga tersenyum mendekati Kania dan duduk di tepi ranjangnya.
“Bagaiman keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanyanya lembut penuh perhatian.
Kania mengangguk.
“Kenapa kamu harus berlarian kesini untuk menemuiku?” tanyanya tampak penasaran.
“Aku masih ingat dulu ketika masih berada di panti. Aku merengek ingin dibelikan balon berwarna-warni. Saat itu kamu langsung memecahkan celenganmu dan berlari untuk membelikanku walau saat itu tengah hujan. Lama kamu tak kunjung kembali dan aku mendapatkan kabar kalau kamu mengalami kecelakaan. Bahkan balon yang kamu belikan untukku masih erat berada dalam genggamanmu. Aku ketakutan sekali akan kehilanganmu. Aku bahkan harus menunggumu selama dua hari sampai kamu tersadar. Aku tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi. Aku takut.”
“Shhh...aku tidak apa-apa. Maafkan aku.” Yoga mengusap lengan Kania penuh sayang seraya menghapus air mata yang mulai membasahi pipinya.
Yoga tampak ragu untuk bertanya. “Apa kamu sudah tahu kalau kamu...”
“Hamil?”
“Kamu sudah tahu? Sejak kapan? Kenapa tidak segera memberitahuku?” Rentetan pertanyaan kembali diajukan Yoga.
“Bisakah kamu tanya satu-satu? Aku bingung menjawabnya.”
Yoga tertawa pelan. “Maaf.”
Kania menahan napasnya. “Aku sudah tahu sejak sebulan yang lalu. Dan aku bingung mengatakannya padamu.” Saat itu situasinya sulit, Kania tidak tahu harus mengatakan bagaimana.
“Kan terima kasih. Aku bahagia sekali.” ujar Yoga sembari mengenggam tangannya. Kania bisa melihat ketulusan pria itu di matanya. “Kan maukah kamu menikah denganku? Menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku?”
Yoga melamarnya.
Kania menutup matanya, Dia sudah memikirkan hal ini terjadi cepat atau lambat. Yoga tahu tentang kehamilannya dan akan mengikatnya dalam sebuah pernikahan. Lalu bagaimana dengan hati Kania sekarang?
“Aku bersedia Ga. Aku sudah menelaah perasaanku dan menemukan tempatku.” Kania tidak ingin menggantung perasaan Yoga lagi. Pria itu sudah berjuang dan menunggunya selama ini.
“Memang dimana tempatmu?”
“Disisimu Ga. Seperti janji kita dulu.”
Yoga tersenyum lebar. “Kita harus segera menikah! Sekarang!”
Mata Kania membulat. Apa maksudnya sekarang?
Yoga tidak main-main dengan ucapannya. Sore itu mereka menikah di rumah sakit. Kania sudah berganti dengan kebaya putih dan dirias ala kadarnya. Yoga menghadirkan penghulu dan beberapa saksi untuk pernikahan mereka. Secepat kilat Yoga mengurus surat-surat kelengkapan pernikahan mereka. Kania dan Yoga hanya menikah secara sederhana tapi itu sudah membuat keduanya bahagia. Mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang.
Andity yang sedari tadi membantu Kania dibuat pusing bagai naik roller coaster. Baru kemarin Kania gagal menikah dengan pacarnya yang sudah bersama selama tiga tahun dan sekarang tiba-tiba menikah dengan CEO mereka dalam keadaan hamil pula. Tapi Andity ikut bahagia melihat Kania tampak berseri-seri hari ini. Semoga Kania selalu bahagia.
***
Berita pernikahan mereka pun langsung tersebar di seluruh penjuru kantor. Hampir semua orang tidak percaya dengan berita itu. Meskipun begitu Kania tetap kekeh ingin bekerja seperti biasanya. Mengabaikan omongan orang lain. Toh dia kan yang menjalani hidupnya sendiri.
Yoga terus membujuknya untuk berhenti dan dirumah saja. Tapi keputusan Kania tidak dapat di ganggu gugat. Kania tahu kalau Yoga khawatir dengan kehamilannya tapi dirumah dan tak mengerjakan apa-apa akan membuat Kania merasa bosan. Dia masih ingin bekerja dan menikmati waktunya sebelum mengurus anak mereka nantinya.
Perhatian yang diberikan Yoga padanya dirasa terlalu banyak dan berlebihan. Yoga bahkan sering mengomel panjang pendek padanya tentang ini itu. Mereka harus pulang pergi ke kantor bersama, semua makanan yang dimakan Kania harus melewati proses seleksi panjang, Yoga bahkan selalu menemaninya periksa ke dokter kandungan belum lagi puluhan buku parenting dan video kehamilan yang dibelinya. Dan masih banyak lagi. Tapi Kania berusaha memaklumi tingkah Yoga itu.
Malam itu Yoga mengajak Kania makan makan bersama diluar. Di usia kandungan Kania yang memasuki 4 bulan disyukurinya dengan penuh kebahagiaan. Kehamilannya baik-baik saja, anaknya sehat dan memiliki suami penuh pehatian seperti Yoga membuat hidup Kania terasa lengkap.
Kania baru saja kembali dari toilet, tapi langkahnya terhenti ada seseorang yang menarik perhatiannya. Zidan dan keluarganya juga berada disini. Tentu saja Kania juga bisa melihat Erika disana. Mereka tampak bahagia bercengkrama bersama. Mungkinkah jika dirinya yang di posisi itu mereka juga akan bahagia?
Entah keberanian dari mana yang membuat Kania mendekati meja mereka. Semua perhatian langsung tertuju pada Kania saat mereka melihat kedatangannya.
“Halo Zi apa kabar?” Kania berusaha menyapa sebaik mungkin.
“Tidak usah berlagak disini. Apa kamu tidak malu pada kelakuanmu? Meninggalkan Zidan di hari pernikahannya.” Hardik Mama Zidan. Pandangannya kemudian tertuju pada perut Kania yang membuncit. “Dan apa itu? Kamu bahkan hamil dengan laki-laki lain. Benar-benar murahan!”
Kania mencoba bersabar dan tidak terpancing emosi. Dia tidak ingin membuat keributan disini. “Saya hanya ingin meminta maaf atas apa yang pernah saya lakukan. Saya tahu saya salah. Dan sepertinya Zidan sudah bahagia menemukan pengganti saya.” Tatapan Kania berhenti pada sosok Erika yang perutnya membuncit lebih besar darinya. Benar kata Andity. Erika memang hamil.
Tatapan Kania berhenti pada sosok Zidan yang tampak bersalah. Kania tahu memang benar ayah dari anak yang dikandung Erika memang milik Zidan. “Aku juga minta maaf Kan..” ucapnya.
“Aku harap masalah kita sudah selesai dan kita bisa menjalani kehidupan masing-masing.” Ucap Kania tulus.
“Sudahlah wanita murahan pergi saja dari sini!” Mama Zidan berteriak kepada Kania, membuat beberapa tamu menoleh ke arah mereka.
“Anda benar-benar tidak sopan menghina orang lain seperi itu. Apa anda tidak punya sopan santun juga?” Tiba-tiba saja Yoga sudah berdiri di belakang Kania. Tampak marah melihat Kania dihina seperti itu.
“Anda tidak usah sok ikut campur! Saya tidak berurusan dengan anda!” Suara Mama makin meninggi.
“Kenapa anda harus menghina Kania seperti itu? Apa Kania punya salah yang begitu besar hingga tidak bisa dimaafkan?” Kania memegang lengan Yoga meminta suaminya itu berhenti.
“Untuk apa membela wanita murahan yang tidak jelas asal usulnya?”
“Anda benar-benar.....”
Ucapan Yoga terpotong saat Papa Zidan menyadari siapa yang tengah beradu mulut dengan istrinya.
“Pak Daniel?”
Papa Zidan buru-buru bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Yoga. “Maafkan istri saya pak. Istri saya tidak bermaksud menghina Kania.” ucapnya takut-takut. Mama yang menyadari suaminya bersikap begitu pada Yoga tampak nyalinya menciut.
“Jaga mulut istri bapak itu. Jangan sampai saya mendengarkan menghina istri saya lagi!” ucapnya dingin.
“Iya pak. Tolong maafkan istri saya. Saya harap masalah ini tidak menganggu proyek kerjasama kita.”
“Kita lihat saja nanti!” Yoga mengamit lengan Kania meninggalkan mereka. Langkah Yoga terhenti, dan menolehkan tubuhnya pada mereka lagi. “Saya juga berasal dari panti asuhan yang sama dengan Kania. Apa saya juga termasuk orang yang tidak jelas asal-usulnya?” Kania terdiam. Tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulut suaminya.
“Pelayan!” teriaknya.
“Saya bayarkan makan malam mereka!” Tunjuknya pada meja Zidan dan keluarganya. Kemudian Yoga menarik Kania pergi meninggalkan tempat itu. Kania sekilas bisa melihat muka Mama yanag tampak malu dihina seperti itu.
***
“Sayang maafkan aku.” ucap Kania ketika mereka sudah berada di kamar. Sedari tadi Kania menahan diri untuk tidak berbicara karena takut jika membuat suaminya itu marah-marah lagi.
“Untuk apa minta maaf?”
“Aku tidak bermaksud membuat keributan tadi. Aku hanya ingin meminta maaf kepada mereka. Itu saja.”
“Aku tahu. Itu bukan salahmu.” Yoga menghampiri Kania dan memeluknya penuh sayang. “Aku tidak membayangkan bagaimana mereka memperlakukanmu dulu.”
“Sudahlah jangan mengingat masa lalu. Biarlah semuanya berlalu.” Kania melongarkan pelukannya dan mendongak menatap suaminya. “Jangan ikut campurkan urusan pekerjaan dengan urusan pribadi ya.” Pintanya.
“Aku sudah tahu.” Yoga mengerti arah pembicaraan istrinya itu. “Sayang apa kamu bahagia sekarang? Bersamaku?”
“Ya tentu saja. Aku sudah menemukan rumahku lagi.” ucapnya sembari mengecup bibir suaminya sekilas lalu memeluknya lagi.
“Aku sudah tahu dari awal....” kata Yoga menggantung kalimatnya.
“Tentang apa?”
“Kamu miliku dan aku milikmu.”
[SELESAI]
Jangan lupa tinggalkan jejak ya...🙏🏼🙏🏼
salam sayang dari author😘😘👍