Di umurku yang memasuki 17 tahun ini, rasanya tak ada yang lebih membahagiakan dari sekarang.
2 tahun lebih kami tidak bertemu langsung karena adanya pandemi. 2 tahun lebih yang terlewati begitu saja.
Tak ada perpisahan sekolah, tak ada masa pengenalan, tak ada pertemuan secara langsung. Awalnya, kupikir masa SMA ku tak akan bisa semenyenangkan orang lain. Katanya, masa putih abu-abu yang penuh dengan memori. Entah itu tentang cinta, persahabatan, persaingan, atau perasaan lain yang begitu menggebu-gebu.
Tapi ternyata aku salah.
Aku yang memasuki kelas 3 SMA ini akhirnya merasakan perasaan 'hidup' yang tak pernah kurasakan di kelasku sebelumnya. Seperti hilang lalu bertemu kembali. Perasaan akrab yang menyelimuti hati. Rasanya seperti ini bukan pertama kali kami bertemu.
Tapi jelas, meskipun beberapa di antara kami saling mengenal sebelum masuk SMA ini, tapi tak seluruhnya dari kami yang memang sudah kenal satu sama lain.
Atau... itu hanya perkiraanku saja?
Entahlah. Tidak ada yang pasti tentang hal itu.
Cerita-cerita lucu, lelucon, bahkan kata-kata yang sebenarnya tak dapat mengundang tawa tapi di sini rasanya penuh dengan euphoria. Penuh dengan kebahagiaan. Gelak tawa sebagai musik indah yang mengalun di ruang kelas.
Canda tawa, suka duka, dan persahabatan di kelas ini membuatku merasa... diliputi perasaan bahagia yang bahkan tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata.
Perasaan hangat yang membuatku berpikir. Apa nantinya aku dapat bertemu suasana seperti ini lagi? Apa nanti setelah kami berpisah, fokus pada tujuan hidup masing-masing... kami dapat bertemu kembali?
Dengan suasana, canda dan gelak tawa yang selalu terngiang dan menjadi kebahagiaan masa mudaku ini?
Aku takut. Orang bilang, dewasa itu menyakitkan. Apa benar?
Jika memang benar, biarkanlah aku menikmati masa mudaku ini dengan tenang. Hingga nanti saatnya kami berpisah, aku dapat mengenang kalian, teman-temanku, sahabatku sebagai memori terindah.
Merasakan kembali perasaan ini sembari berpikir. Ah. Ternyata dulu aku pernah punya kenangan yang begitu indah bersama temanku. Dan dapat bertahan hingga akhirnya kita semua dapat bertemu kembali.
Berkumpul bersama entah sekedar untuk berbagi canda, berbagi cerita, atau berkeluh kesah tentang apa yang telah kita alami setelah perpisahan. Mengeluh tentang beratnya menjadi dewasa.
"Wah! Profesor kita mau pacaran nih!"
"Uhuk uhuk! Sama adik kelas yang itu tuh!"
"Jangan diapa-apain anak orang woi!"
"Wes! Mau diajak ke mana nih?"
"Hahahahahaha. Nge-date lah."
"WOOO!!!"
"Ish. Semua pacaran. Yang itu pacaran, yang ini pacaran, di sekeliling gua orang pacaran semua!"
"Sabar, ada waktunya nanti buat lo pacaran."
"Ya tapi mereka ngertiin yang jomblo juga dong. Gua contohnya."
"Menurut gua ya, mereka tuh pacarannya sejak kelas dua deh. Soalnya, mama gua pernah lihat dia bareng cewek, ya gak tahu sih cewek yang kayak gimana, tapi kata mama gua itu adik kelas."
"Oh iya! Gua pernah lihat sih, waktu kelas dua tuh, gua lagi nunggu dijemput kan, nah lewat nih mereka berdua, lewat doang sih, dia gak nyapa, gua juga gak nyapa."
"Pedekate gak sih waktu kelas dua itu? Kan kelas satu itu kita gak ke sekolah."
"Atau kenalnya dari SMP?"
"Bisa jadi sih."
"Ra! Basket kuy! Malas gua ngelihat orang pacaran."
"Ayo, lah. One by one?"
"Yo'i kayak biasa. Atau mau ikut gak, Shel?"
"Gak deh, kalian aja, gua lagi mager."
"Oke lah. Yok, Ra!"
"Ayo!"
"Menurut gua, pake rumus yang ini sih."
"Bisa jadi... Tapi pakai rumus yang ini bisa gak sih?"
"Entah lah. Kepala gua pusing..."
"Lah? Kok bisa?"
"Sakit lo?"
"Mabok angka..."
"Yee!!! Gua kira beneran."
"Tau nih!"
Ternyata benar. Masa putih abu-abu adalah masa yang paling indah. Menjadi salah satu kenangan terindah yang aku miliki. Masa putih abu-abu bersama dengan teman sekelasku. Yang mungkin saja tak bisa kuulangi lagi, namun memorinya akan kuabadikan di benakku sampai akhir nanti.
Jangan berubah, ya?
Biarkan tetap seperti ini. Setidaknya hingga kita memilih jalan masing-masing.