Senang, sedih, tangis dan tawa, banyak hal terus berputar di poros hidup manusia. Silih berganti, hilir mudik menempati giliran masa mereka. Ada yang seperti itu, ada pula yang terus berada di titik yang sama. Di mana hati manusia selalu dilambungkan di atas kebahagiaan, atau malah sebaliknya, dihancurkan dengan ragam proses yang kerap disebut sebagai fase pendewasaan. Seperti kisah wanita yang satu ini. Cahaya hidupnya lambat laun direnggut dengan paksa oleh orang-orang terdekatnya, hanya disisakan satu buah lentera kecil itupun kalang kabut terhempas angin.
_______________
4 Januari 20XX. Tahun ini merupakan ulang tahun pernikahan yang kedelapan bagi seorang wanita bernama Ayesha. Tahun yang diharapkan dapat membawa sedikit perubahan dalam alur kehidupannya, serta membawa kesan dan juga kisah yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan sebuah keharmonisan, keromantisan atau apalah itu seperti pengharapan kebanyakan orang. Jangan harapkan ada hal semacam itu tersirat dalam bait-bait doa yang kerap dipanjatkan Ayesha dalam diam. Ayesha tak mengharapkan sesuatu yang mustahil seperti itu. Lebih tepatnya, ia sudah muak dengan pengharapan yang sia-sia. Sebuah rumah tangga yang bahagia, itu hanyalah sebuah kemustahilan nyata yang mungkin selamanya tak akan pernah bisa ia rengkuh meski harus mempertaruhkan seluruh nyawa yang ia punya. Hanya harapan kecil dan sederhana. Sebuah lembaran baru yang sekiranya dapat mengakhiri segala duka dan membebaskannya dari penjara berkedok rumah tangga yang terus mengikatnya. Ia jengah, lelah, dan mungkin sekarang, ia juga sudah sampai di ambang batas penerimaan.
Musim hujan kembali tiba. Suara gemuruh petir menggema, dan juga kecipak tanah basah yang terinjak oleh langkah kaki tergesa itu memercikkan beberapa noda tak berarti di atas rerumputan hijau. Seseorang yang baru saja turun dari kendaraan itu merangsek ke dalam rumah, mendorong badan pintu dengan sedikit kuat sampai menimbulkan bunyi berderak yang berisik, lalu membantingnya tanpa pikir panjang.
"Yesha! Di mana kau?" Suara penuh kemarahan itu menggema sampai ke langit-langit. Membuat seorang wanita yang sedari tadi menekur diam di depan perapian berjingkat kaget. Angan-angannya yang sempat melalang buana itu terseok-seok kembali ke dunia nyata. Dunia yang hanya membubuhkan luka dalam kehidupannya. Sontak jemarinya yang semula rapat dalam genggaman itu refleks terbuka, menyalurkan usapan lembut pada punggung sang putra yang sedang terbaring di pangkuan itu agar tak kembali terjaga. Perlahan ia bergeser ke sisi samping, masih dengan menopang kepala sang putra dan kemudian kembali meletakkannya dengan lirih di atas bantal sofa. Mengapitnya dengan guling lalu menyelimutinya sebelum ia beranjak pergi.
"Pelankan suaramu. Gala baru saja tidur," jawab seorang wanita pemilik nama Ayesha. Seseorang bertubuh ramping dengan rambut panjang yang terjuntai bebas itu menghampiri seorang pria yang sedari tadi memanggil namanya dengan suara keras. Langkahnya sedikit tergopoh saat kaki mungilnya saling memburu menuju sumber suara. Senyumnya yang beberapa waktu lalu sempat tersungging pun kini seketika sirna. Tubuh kecilnya menegang, jemarinya mengepal erat lalu kemudian ia rapatkan ke masing-masing sisi. Pandangannya terangkat sekilas lalu lekas tertunduk saat netra bulatnya itu bersitatap dengan sorot mata tajam nan sadis milik suaminya.
Bryan Aditama. Pria itu menautkan kedua alisnya sesaat tatkala mendapati eskpresi Ayesha mengeras. Wanita itu selalu tertunduk, mengetatkan rahang dan jarang mengulas senyum.
"Ada apa dengan raut wajahmu ini, Yesha? Apa kau tidak bisa sedikit saja mengulas senyum dan membuat suamimu ini merasa senang, ha?!" Ocehan amarah itu terus berlanjut, jemari besar itu dengan kasar mencengkeram erat lengan Ayesha sebelum kemudian berayun dua kali dan mendaratkan tamparan keras di pipi wanita mungil itu. Kedua pipi wanita itu memerah, rasa panas dan kebas lekas merayau hingga membuat netra bulat yang semula putih bersih itu menggenang air mata.
"Hentikan, Bryan! Kau menyakitiku." Ayesha mengetatkan rahangnya kuat-kuat, sedang jemarinya yang satu meraba pipinya yang sudah dialiri oleh air mata. "Sudah cukup! Tidakkah yang kau lakukan ini sudah sangat keterlaluan? Kau menamparku hanya karena aku tidak tersenyum padamu?" Ia menggeleng tak percaya. "Alasan kekanak-kanakan macam apa itu?"
"Kekanakan kau bilang? Bagaimana perasaanmu jika seandainya aku yang melihatmu dengan raut seperti itu? Kenapa kau selalu memasang ekspresi jijik dan sebal seperti itu saat melihatku? Memangnya apa salahku?" Ia menelengkan kepala, netranya menyorot tajam dengan semburat merah di sekelilingnya. "Lalu sekarang kau bilang aku keterlaluan dalam memerlakukanmu? Hah, yang benar saja Ayesha! Kau membuatku muak!" Bryan mengempaskan tubuh mungil itu dengan kasar, membuat Ayesha terpelanting hingga ia terjerembab ke lantai.
Mengehela napas panjang, dada Ayesha masih memburu dengan deru napas tak beraturan. Rasa sakit yang ditorehkan oleh pria itu makin membuatnya benci dengan keadaan. Hanya ada sesak, sakit, dan juga pedih. Bahkan tak jarang ia meminta pada Tuhan agar ajal dari suaminya itu lekas ditibakan. Setidaknya jika Bryan mati kesengsaraan dalam hidupnya akan sedikit berkurang.
Masih enggan untuk beranjak. Nyalang ia pandangi bahu Bryan yang sudah jauh dari jangakuannya. Derap dadanya bergemuruh dipenuhi amarah menggelegak yang tak bisa lagi untuk ia tahan. Dengan kasar ia usap air matanya, lalu kemudian bangkit dan menyongsong sosok pria yang selama delapan tahun terkahir ini telah menjadi suami dalam hidupnya. Seorang pria yang dulunya lemah lembut bak malaikat itu kini menjelma bagai iblis yang terus merongrong hidupnya dengan luka-luka baru. Rasanya sakit, bahkan melebihi itu. Ia sampai tak bisa menjabarkan lagi bagaimana bentuk hatinya sendiri saat ini.
"Lantas aku harus bagaimana, hm? Apakah aku harus selalu tersenyum, memerlakukanmu bagai raja meski kau sudah meluluh lantakkan duniaku dengan perlakuan bejatmu?! Apa kau pikir aku tidak punya perasaan?" Wanita itu berucap dengan parau, sedang jemarinya mencengkeram kuat lengan baju Bryan agar pria itu tak lagi melangkahkan kakinya pergi.
"Aku?" Bryan menunjuk dirinya sendiri. Sedang wajah rupawannya masih memasang tampang bodoh seolah ia tak tahu menahu mengenai maksud dari ucapan Ayesha.
"Ya, kau Bryan Abimara. Lihatlah sendiri seberapa zalimnya kau pada istrimu sampai-sampai untuk memandangmu saja rasanya aku mau muntah!" Memutar lututnya segera, Ayesha bergegas menuju ruangan tempat di mana ia menyembunyikan sebuah amplop coklat berisi kebiadaban suaminya yang ia peroleh sejak Minggu lalu. Sesuatu yang membuat hati dan dunianya kian lebur dalam keterpurukan.
'Pakk'
Ayesha melempar bukti yang ia miliki dengan kasar. Menimbulkan bunyi nyaring saat amplop berisi banyak lembaran photo itu beradu dengan wajah suaminya yang kini nampak kaku dan marah.
Pria itu mematung, kegeraman jelas terlihat di wajahnya yang mulai memerah. Antara malu dan menolak mengakui, yang jelas kini Bryan tak bisa berkelit lagi.
"Katakan, apa aku masih punya alasan lain untuk tersenyum lagi di hadapanmu?" Ayesha mengambil secarik photo yang berserak di lantai, mengamatinya sekilas sebelum melempar lembar memuakkan itu ke wajah suaminya lagi.
"Kau menjijikkan, Bryan! Kau penjahat! Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Apa belum cukup semua derita yang selama ini sudah kau berikan? Apa belum cukup kau menyiksaku? Apa belum cukup, ha?!" Ayesha berteriak di tengah tangisnya. "Kenapa kau lakukan ini padaku?" imbuhnya seraya melayangkan pukulan tak berati di dada pria itu. "Apa salahku?" Ia menceracau dengan tangis pilu.
Pria itu hanya bergeming, netranya terpejam sesaat sebelum jemarinya yang kekar itu mencengkeram erat bahu Ayesha dan mengempaskannya tanpa belas kasihan.
'Haaah....' Helaan napas panjang itu terdengar sangat lega. Bryan, pria itu mengusap pelipisnya pelan, menekuk lututnya dan mengambil serakan photo yang membuat istrinya itu meledak tanpa kendali. Senyumnya tertoreh, netranya yang semula tajam pun sedikit menyipit karenanya. Ia terlihat bahagia saat memandangi potret biadab itu, seolah angannya kembali berkelana menjelajahi ringkasan waktu tatkala potret itu diambil.
"Bukankah dia terlihat cantik di sini?" Bryan menelengkan kepalanya, memasang senyum mencemooh yang membuat Ayesha kian ternganga. "Bukankah kami terlihat serasi?" Ia mengusap potret itu, meraba bagian pinggul dan juga dua wajah yang asik bercumbu. "Yah, berhubung kau sudah mendapatkan buktinya, aku tak akan berkelit lagi sekarang. Itu memang kami, Yesha! Aku dan adikmu." Pria itu menyeringai puas, gelak tawa jahatnya menggema memenuhi ruang. Netranya berkilat-kilat seolah ia bangga dengan apa yang dibuatnya.
"Aku tak pernah menyangka jika pria yang selama ini ku nikahi ternyata punya sisi menjijikkan melebihi seekor binatang. Tak hanya kasar dan pelit, ternyata kau juga brengsek, Bryan!"