Tubuhku refleks meringkuk kala hawa dingin yang semula menyapa kulitku dengan halus, kini perlahan menusuk hingga ke tulang. Dengan sangat terpaksa, aku mulai membuka kedua mata dan mencari keberadaan selimut.
Awalnya aku hanya meraba-raba saja, namun saat pandanganku mengarah pada sisi ranjang sebelah kanan, mengapa Mamah sudah tidak ada di tempatnya?
"Mamah ...."
Suaraku merendah diiringi oleh detak jantung yang semakin berdebar hebat. Aku lantas mengubah posisi menjadi duduk, kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Namun, nihil. Tidak ada siapa pun di dalam kamar ini, kecuali aku dan Anneth.
"Anneth!" Aku memekik ke arah Anneth. Hantu Belanda itu tampak sedikit terkejut sebelum menoleh ke arahku. "Di mana Mamah?" tanyaku tanpa basa-basi.
Karena merasa heran, Anneth spontan menautkan alisnya dan menjawab, "Untuk apa kau bertanya? Bukankah dia ada di sampingmu?" katanya.
Tak hanya Anneth yang merasa bingung, melainkan aku juga. Pasalnya, Mamah memang sudah tidak ada di tempatnya. Lalu mengapa hantu Belanda itu justru mengatakan hal yang sebaliknya?
"Kau itu lihat tidak, sih? Tempat di sampingku itu sudah kosong, Ann!"
"Dia tidak pergi, Keyra. Dia masih ada di sampingmu, bahkan dia masih tertidur dengan nyenyak."
Aku refleks mengerutkan kening. Meskipun bingung, aku tetap memastikan tempat tidur Mamah dan hasilnya masih tetap sama. Tempat itu sudah kosong tanpa ada sosok Mamah di sana.
"Ck! Di sampingku tidak ada siapa-siapa, Anneth! Sudah ku bilang, Mamah pergi tanpa sepengetahuanku! Kau itu sebenarnya lihat atau tidak, sih?!" Tanpa sadar, intonasiku mulai meninggi.
Anneth yang menyadari perubahan nada bicaraku pun lantas turun dari atas lemari dan berjalan menghampiriku. Hantu Belanda itu menempatkan dirinya tepat di hadapanku. Spontan, aku refleks menutup hidung saat aroma tak sedap mulai menguar dari tubuhnya.
"Kau kenapa, Keyra?" Hantu Belanda itu bertanya dengan sorot wajah khawatir.
Bukannya menjawab, aku justru mengisyaratkan Anneth untuk memberi jarak, agar aku bisa menghirup udara sejenak sebelum menutup hidung kembali.
"Kenapa kau tutup hidung?" tanya Anneth heran.
"Kau bau."
"Aku?" Anneth menunjuk dirinya sendiri dan dibalas dengan anggukan kepala oleh diriku.
"Kenapa aku bisa bau? Bukankah tampilanku saat ini tidak menyeramkan?"
Aku mengangguk. "Tapi, kau benar-benar bau." Meskipun tampilan Anneth saat ini hanya mengenakan gaun putih polos tanpa noda darah, namun aroma tidak sedap itu tetap menguar dari tubuhnya, bahkan sangat kuat.
"Kau tahu? Bau ini adalah bau yang sama, seperti yang ku hirup saat makan malam tadi." Aku menjelaskan lebih rinci.
Sontak, ku lihat reaksi Anneth yang menegang dan menatap manik mataku dengan tatapan intimidasinya.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" ujar Anneth dengan intonasi datar. "Bukankah aku sudah mengatakannya? Aku tidak hadir di acara makan malam keluarga. Apa pernyataanku masih kurang jelas?" sambungnya lagi.
Ah, sungguh. Mengapa aura Anneth saat ini terlihat begitu menyeramkan?
"Kenapa jadi kau yang marah? Bukankah aku yang seharusnya marah?"
"Untuk apa kau marah?" Anneth menjeda kalimatnya sebelum membuka suaranya kembali. "Bukankah aku sudah menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur?"
Aku menggeleng mendengar penuturannya. "Jujur atau tidak, kau tetap menakutiku, Ann. Sekarang, katakan, di mana Mamah?" Aku bertanya dengan tidak sabaran.
Anneth yang tampak lelah menghadapiku pun mulai beranjak dari tempatnya. Hantu Belanda itu kembali naik ke atas lemari dan bermain dengan bonekanya.
"Jawab, Anneth! Di mana Mamah sekarang?!" Aku kembali membentak Anneth, namun Anneth hanya melirik sekilas ke arahku dan segera membuang pandangannya.
Karena terlampau kesal, aku segera bangkit dan menghampiri hantu Belanda itu sampai di depan pintu lemari.
"Kenapa kau diam saja? Jawab! Di mana—"
"Aku bilang, dia ada di sampingmu! Apa kau tuli?!" Bentak Anneth tepat di depan wajahku.
Aku refleks menutup telinga seraya memejamkan mata. Telingaku sedikit berdenging saat mendengar teriakannya. Bahkan, kepalaku mulai terasa sakit dan tubuhku langsung terjatuh dalam posisi duduk.
"Keyra!" Anneth kembali memekik. Kini hantu Belanda itu duduk bersimpuh tepat di hadapanku. "Maafkan aku, Keyra. Maafkan aku," ucapnya menyesal. Kemudian, tangannya mulai menyentuh lenganku dan mengelusnya dengan lembut.
Sementara aku masih belum mampu untuk menatap wajahnya. Aku terlalu takut dengan situasi saat ini.
"Maaf, Keyra. Maaf. Tolong jangan menunduk lagi. Maafkan aku."
Aku tidak melakukan perintahnya. Selain merasa takut dengan sosok Anneth saat ini, kepalaku juga masih terasa sakit. Bahkan, telingaku pun masih berdenging selama beberapa saat.
"Jangan menunduk lagi, Keyra. Lihat wajahku. Bagian mana yang sakit? Apa aku sudah menyakitimu?" Anneth menyentuh bagian kepala dan lenganku secara bergantian untuk memastikan kondisiku.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan segera menjauhkan telapak tangan Anneth dari anggota tubuhku. Perlahan, aku mulai mengangkat pandanganku dan bertemu tatap dengannya.
"Kenapa?" Suaraku mulai bergetar. "Kenapa aku tidak bisa mempercayaimu?" Karena pada nyatanya, pernyataan Anneth saja masih belum cukup bagiku. Apa yang sudah ku lihat, justru berbanding terbalik dengan penuturan Anneth. Bagaimana bisa aku mempercayai hantu Belanda itu?
"Kenapa aku harus melalui hal-hal yang aneh seperti ini, Ann?" Cairan bening itu berhasil lolos dari pelupuk mataku. "Kenapa aku melihatmu dengan kondisi yang menyeramkan saat makan malam tadi?" Aku memandang ke arahnya dengan perasaan sarat akan kecewa.
"Kenapa bau itu masih muncul?" Aku masih membutuhkan jawaban yang jauh lebih jelas, mengapa Anneth bisa mengeluarkan bau yang tidak sedap dari tubuhnya?
"Dan kenapa Mamah tidak ada di sampingku? Bukankah kau sudah berjanji untuk menemaniku saat tidur?" Ini pertanyaan terakhir dari sekian banyak pertanyaan beruntun. Dan selama itu juga, air mataku tidak berhenti mengalir.
Ku lihat Anneth mulai mengubah mimik wajahnya. Hantu Belanda itu memasang wajah datar saat ini. Tak ada tanda-tanda marah, tak ada tanda-tanda sedih, dan tak ada tanda-tanda kecewa. Hantu Belanda itu hanya menatap manik mataku dengan dalam tanpa memberikan reaksi apa pun.
Lalu sedetik kemudian, Anneth mulai mengangkat tangannya dan menghapus jejak air mata yang ada di kedua pipiku.
"Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu dengan jujur, Keyra. Tapi, kau tidak mempercayaiku."
"Lalu, aku hanya berhalusinasi, begitu?"
Anneth menggeleng tegas. "Aku tidak mengatakan bahwa kau berhalusinasi, Keyra. Kau hanya—"
Baca selengkapnya di aplikasi karyakarsa!