Rayya adalah seorang perempuan yang hidup sendiri di perantauan selama 3 tahun lebih, karena sebuah bencana memisahkan dirinya dari keluarganya, dirinya tidak punya biaya untuk mencari orang tua dan adik-adiknya.
Rayya sedang duduk di kursi kasir memikirkan orang tuanya yang jauh entah di mana.
"Bagaimana ya caranya aku sangat merindukan mereka.." gumamnya memainkan jemari tangan.
"Eh Ray, katanya tahun ini kita semua bakal libur seminggu penuh..." serunya bersemangat
"Beneran?"
"Bener, kamu gak pulang kampung?" tanya Desi
"Kayaknya pulang Des, tapi ... "Rayya tidak tau mau bagaimana.
"Udah jangan tapi-tapi, nanti aku bantu kamu kok" ujar Desi
"Makasih Desi, 3 tahun aku tinggal sama kamu, ngerepotin kamu tetap baek banget sama aku" Rayya menahan air matanya.
"Udah ih Ray jangan nangis, tuh liat mereka udah pada kumpul pasti kita bakal gajian yuk." ajak Desi menarik tangan Rayya.
Rayya mengikuti langkah Desi yang menarik tangan nya menuju para karyawan lainnya, rupanya benar mereka semua sedang digaji.
Usai diberi gaji, Rayya memegang dengan amplop gajinya dengan erat penuh keyakinan menemukan keluarganya.
"Ray.. nih" Desi memberi amplop gajinya pada Rayya.
"Apa ini Des, jangan aneh-aneh deh kamu" Rayya merasa sungkan untuk menerima.
"Please, terima Ray, temuin orang tuamu!" ucapnya
"Tapi kamu gimana?" tanyanya tidak yakin
"Tenang, aku udah sisain setengah untuk diriku sendiri" balasnya seraya tersenyum.
"Terima kasih Des!.."
Rayya senang karena Desi memberi sebagian gajinya untuk kebutuhannya agar bisa menemui orang tua nya. Sesuai janji ia pergi setelah libur dari pekerjaan.
Rayya menaiki bus menuju ketempat tinggalnya dulu karena memang jaraknya cukup jauh 6 jam p
"Kemana aku bisa menemukan mereka," Rayya sudah kembali kerumah orang tua nya dulu tapi tidak ada apapun yang didapat
Rayya termenung cukup lama memandangi lautan yang ombak nya saling mengejar mengingatkan nya tentang kejadian yang lalu.
Saat gempa tiba-tiba menguncang dan disusul oleh gelombang tsunami yang tinggi mencapai 15-25 menyapu bersih pemukiman yang memang berada dipesisir.
Rayya dibawa oleh salah satu tetangganya yang berlari bersama beberapa orang lainnya, diangkut bersama hingga terpisah dari orang tua dan adiknya.
"Ayah ibu..!"teriaknya melihat gelombang laut menyusulnya yang dibawa oleh becak barang menjauh.
Rayya tidak sanggup membendung air mata hingga meleleh dipipinya karena mengenang masa itu.
Karena tidak punya petunjuk apapun disini tentang keluarga nya Rayya memilih pergi ke kampung halaman ibunya yang juga di provinsi yang sama tapi dikota yang berbeda.
Tidak tau berapa jam perjalanan yang jelas Rayya berangkat dari siang dan sampai disana pada sore hari.
Dari kejauhan Rayya melihat rumah neneknya nampak berbeda sejak terakhir kali ia berkunjung, ia melihat sesosok anak lelaki berumur 10 tahun berdiri didepan rumah panggung dengan memandang kearahnya .
Rayya satu persatu melangkah hingga sosok itu terlihat jelas dimatanya, ia berlari mendekat dan anak lelaki itu juga menuruni beberapa anak tangga hingga mereka saling berhadapan.
"Ryan...!"kata Rayya dengan suara serak menahan tangis.
"Kakak.." balas anak bernama Ryan menubruk tubuh sang kakak hingga terhuyung kebelakang.
"Kakak kemana saja kau...!" Ryan berteriak lantang disertai tangis membuat penghuni rumah ikut keluar melihat keadaan diluar.
Keduanya menangis dengansaling memeluk hampir 3 tahun tidak bertemu membuat rasa rindu begitu membuncah.
"Itu siapa pak?"Tanya seorang wanita paru baya melihat seorang perempuan yang dipeluk cucunya.
"Itu Rayya nek!"ucapnya tergopoh menuruni tangga melihat cucu perempuannya kembali setelah 3 tahun terpisah oleh bencana.
"Rayya!" Seru kakek berjalan cepat menuruni tangga.
Begitu pun dengan neneknya berjalan cepat menghampirinya dan menarik tubuh Rayya agar melepas pelukan.
Plaakk.....
Tamparan mendarat dipipi Rayya hingga membuat tubuhnya tersungkur di tanah.
"Kak!"
"Anak tidak tau diri, berani nya kau kembali!" bentak neneknya geram
"Apa salahku Nek!"
"Kau masih bertanya, lebih baik kau mati saja dalam bencana itu"
"Nenek apa yang kau katakan!" Balas Ryan marah karena kakaknya diperlakukan sangat kasar.
"Pergi!" Nenek menatap tajam Rayya dan masuk kedalam rumah ikut menarik suaminya dan juga Ryan.
"Aku tidak akan mengampuni anak itu"
Rayya enggan beranjak masih setia menatap tanah dibawah nya dengan air mata berderai membasahi bumi.
Awan mendung ikut serta membasahi bumi menyembunyikan air mata Rayya diantara bulir air hujan.
"Aarrgghh" teriak Rayya menahan sakit hati.
"Nek apa yang kau lakukan pada Rayya, dia cucumu!"
"Cucu katamu!, ibunya meninggal karena memikirkannya" balasnya geram.
"Kalau anakmu masih ada disini dia tidak akan mau melihat kau beginiia baru berusia 14 tahun saat itu tapi dia bisa kembali dalam keadaan baik pasti tidak mudah baginya untuk kembali!"
"Jangan paksa aku" balasnya tidak suka
Hari pun beranjak malam tidak satu pun yang berani membuka pintu untuk Rayya yang masih diguyur hujan diluar sana.
"Nek bawa kakak masuk" Ryan merengek seraya menarik lengan baju neneknya untuk membuka pintu.
"Kakak mu pasti sudah pergi, Ryan udah boleh tidur ya?" menenangkan cucunya.
"Tapi nek ..."
Nenek membawa Ryan masuk kedalam kamar untuk tidur begitu pun dengan dirinya ikut disamping cucunya hingga mereka terlelap. Sementara hujan diluar sana makin deras disertai gemuruh.
*
"Ma.." panggil seseorang dari belakangnya
"Ana kamu kembali." serunya senang
"Ada masalah yang belum aku selesaikan" balas Ana.
"Masalah apa nak?" tanyanya memegang tangan anaknya
"Aku sudah pergi karena memang itu takdirku pada saat itu Tuhan sayang padaku"
"Tapi semua karena anak itu!"
"Rayya tidak bersalah Ma, aku akan mempercayakan dia pada Mama sekarang, perjuangannya untuk kembali kerumah tidak mudah, aku pergi."
"Tidak Ana, jangan pergi!" serunya mengapai tangan anaknya tapi tidak tergapai
"Ana..." Nenek terbangun dari tidurnya dan langsung melihat Rayya diluar masih diguyur hujan.
Krek...
Pintu terbuka diambilkan payung dan membawa Rayya Masuk tapi karena terlalu lama kehujanan Rayya pingsan begitu memasuki rumah.
Rayya mengerjapkan mata beberapa memperjelas penglihatan nya ternyata Ryan berada disampingnya.
"Ryan!"
"Nenek, kakek kakak sudah sadar " serunya Ryan membuat nenek dan kakek ikut melihatnya.
"Maafkan nenek Rayya"
"Tapi ayah sama Ibu mana Nek?"
"Tunggu kamu membaik ya, nanti kita kunjungi mereka." ujarnya lembut, diangguki oleh Rayya
Begitu janjinya siang hari Rayya sudah membaik mereka pun membawa Rayya pergi mengunjungi kedua orang tuanya.
Begitu sampai disana kaki Rayya melemah seketika hingga belutut melihat kedua pusara didepannya.
"Ayah....ibu... " teriaknya pilu dipeluk kedua pusara itu dengan linangan air mata yang tiba-tiba tumbah begitu saja. Membuat yang mendengarnya ikut pilu.
(Ku kira hanya masalah waktu kita berpisah, ternyata semua sudah terlambat, Tuhan menakdirkan kita berpisah dari dunia ini) Rayya