Kanvas itu masih kosong, cairan tinta warna warni itu masih tetap berceceran disana. Namun ada satu hal yang tak biasa disini, satu yang aneh dalam mataku adalah ketika menangkap sosok kerdil itu. Memunggungiku sambil menatap Kanvasnya lekat-lekat. Apakah si Kerdil itu seorang seniman?
"Kisana." Gema suara besar itu menghentikan langkahku yang hendak menyentuh pundaknya. Suara itu besar, menggema menggelegar memenuhi ruangan. Namun ruangan ini pun juga aneh, ini seperti sebuah dimensi, dimensi lain menyerupai ruangan namun tak ada tembok atau ujung disini. Hanya putih, putih sejauh mataku memandang.
"Kisana, apa kau lupa bab kehidupan?" Tanyanya, aku bimbang disini. Bahkan untuk berucap pun rasanya tak mampu, seakan bagian dari diriku kosong. Aku hanya merasakan diriku, juga hanya mampu memandang mematri tiap apa yang ada di hadapan mataku.
"Roda waktu mengatakan, selama hirupan nafasnya dalam dunia. Dia berbuat curang dalam artian, mengurangi hak orang." Itu suara lain yang muncul dari dalam diriku. Hei tunggu, aku tidak bisa menyampaikan pembelaan disini.
"Kisana, kau tau kebajikan selalu mulia dari apapun. Jika nafasmu memilih hidup sebagai seorang yang curang, maka pedihnya bara api itu akan membakarmu. Lantas, penghakiman ini akan memutuskan apa yang berhak kau dapatkan."
Suara besar itu auranya berubah, setelah mengatakan hal itu rasanya panas itu menjalari tanganku. Ini panas sekali sungguh, rasanya seperti sedang menggenggam bara api. Namun kobaran asap pada tanganku tak ditemukan, lantas darimanakah panas ini berasal.
Kerdil dihadapanku itu mulai mengangkat tangannya, dengan kuasnya tangan mungilnya mulai menari di atas kanvas. Bak pesulap profesional kerdil yang memunggungiku itu melukis, satu gambaran diriku dengan kedua tangan yang terbakar, lalu ia berhenti dan diam.
"Semacam itulah dirimu, kau pun tak bisa melarikan diri dari Tuhanmu dan balasannya. Karmalah yang saat ini sedang membakarmu." Ujar Suara berat itu lagi.
"Lantas, hirupan nafas mana yang akan bersaksi selanjutnya?" Tanya Suara berat itu lagi, tanganku masih tetap terbakar rasanya. Bisakah ia menghentikan panas ini?
"Tidak Kisana, sama seperti dirimu yang terus menerus curang. Seperti itulah hal itu akan berlanjut." Ujarnya, menjawab seluruh rasa sakitku.
"Lantas, bagian manakah yang akan bersaksi sekarang?" Tanyanya lagi.
"Dibawah kilatan petir milik malaikatmu, kami di bawa masuk kedalam sebuah gubuk. Kecil di pinggir sawah, disana ada seorang wanita dengan hasrat di dadanya mereka mulai melakukan senggama." Kesaksian yang entah datang darimana itu membuatku tercengang, sesuatu yang ku tutupi begitu saja di paparkan.
"Kisana, tindakan itu adalah bodoh. Kau membuat dirimu dalam masalah lebih besar lagi." Ucapan itu nampak seperti sebuah ancaman, kudukku berdiri tegang. Hei ini menyeramkan sungguh, nuansa putih ini perlahan berubah. Terkikis menjadi abu, bara-bara api itu mulai menyala-nyala. Timah-timah panas itu mulai memenuhi mataku, ini mengerikan aku ingin pergi.
Satu hal yang pasti, kerdil dengan kuasnya mulai menggambarkan sesuatu lagi. Dalam hitungan detik gambaran pada kanvasnya itu membutakan mataku. Gelap, panas, bahkan lebih panas dari apapun. Sekilas pengelihatanku kembali, kali ini aku tau sumbernya itu dari timah panas yang di tuangkan kemataku. Tubuhku seakan berada di gurun pasir panas, pijakannya bukan pasir. Darah dan nanah yang melepuh-lepuh itu memenuhi kakiku. Tanganku terborgol dengan rantai yang bertuliskan karma. Dari sana aku merenungi segala perbuatanku di alam sana, alam manusia yang indah. Mengapa aku melakukan kesalahan yang besar sebelum mati.
"Hidup dan Karma itu berkaitan. Jangan sia-siakan kesempatanmu dalam dunia, jika kau menghargai nafasmu dengan baik, kau tidak akan berada disini saat ini. Sesungguhnya, sumber dari segala kebahagian alam semesta, adalah Aku."
Suara itu berasal dari kerdil didepanku, setelah mengatakan itu melalui gema. Sosok kecil itu menghilang, meninggalkan banyak penyesalan dalam hatiku.