"Mas, kamu beneran bakal tetap pergi?" Andin yang duduk di pinggir ranjang memandang pantulan sang suami dari cermin dengan tatapan iba.
Laki-laki berperawakan jangkung lantas duduk bersebelahan dengan perempuan yang sudah dinikahinya selama dua tahun tersebut. Ia usap lembut puncak kepala Andin.
Dengan nada mohon pengertian ia berkata, "Sayang, aku harus pergi. Sebelum adzan subuh nanti aku sudah pulang, kok. Siangnya kita jalan-jalan, ya?"
Bahu Andin berguncang akibat isak tangis. Sebagai bentuk ungkapan dari pasrah namun tidak rela. Ia harus pasrah ditinggal sang suami bekerja di malam hari meskipun akal dan batinnya menolak menerima keadaan yang demikian.
Yuda—Suami Andin menyodorkan segelas air ke hadapan sang istri. "Hal-hal yang kamu takutkan enggak bakal terjadi. Kamu hanya perlu minum obat terus tunggu aku pulang sambil tidur yang nyenyak, ya!" Yuda kemudian memberikan beberapa pil berbentuk kapsul kepada Andin.
"Sampai kapan aku harus minum beginian, Mas? Coba percaya aku sekali aja, Mas! Rumah ini ada pen–" protes Andin di sela isak tangisnya terpotong oleh narasi Yuda.
"Aku percaya kamu, Sayang. Sudah, ya. Aku berangkat kerja dulu. Kamu tidurnya yang nyenyak, ya. Aku sayang kamu." Yuda mengecup kening Andin. Beberapa saat setelahnya terdengar suara kendaraan berlalu meninggalkan kediaman mereka.
"Bohong! Jahat kamu, Mas. Kamu bilang percaya tapi masih saja minta aku minum obat ini!" Andin membuang kapsul dari genggamannya hingga berhamburan di lantai kamar.
"Tidak ada yang berubah hanya dengan meminum obat tidur begitu, Mas. Suara-suara aneh di rumah ini tetap saja menggangguku," lirih Andin.
Andin menarik selimut, menutupi sebagian tubuhnya yang sudah berbaring di kasur. Waktu yang menunjukkan jam tidur dan hawa malam yang sejuk adalah suasana yang tepat untuk memejamkan mata. Akan tetapi telinga Andin tidak mendukungnya untuk terlelap.
Sudah lebih enam bulan lamanya mereka menempati rumah tersebut. Selama itu pula hampir tiap malamnya Andin akan diliputi rasa resah, khawatir dan ketakutan. Bagaimana tidak? Pendengarannya acap kali menangkap suara-suara yang bila dicek tidak ada kegiatan apa pun dari siapa pun. Sudut matanya sering kali sekelebat melihat sesuatu yang seolah bergerak. Namun ketika dipastikan tidak ada jejak peristiwa apa-apa.
Seperti malam ini. Walau terdengar sayup tapi cukup jelas bahwa ada suara bayi menangis.
"Aku harus pastikan. Aku harus buktikan bahwa apa yang kudengar dan kulihat selama ini bukan halusinasi seperti yang Mas Yuda sangkakan selama ini. Melainkan memang ada yang janggal dengan rumah ini. Aku harus berani! Aku bisa! Aku harus berani!" Andin meyakinkan dirinya dalam hati.
Ia menarik dan menghela napas panjang lalu bangkit dari tempat tidur menuju jendela kamarnya. Berusaha mencari sumber suara. Sepi. Selain lampu taman tidak terlihat apa pun dari balik kaca jendela.
"Ah! Tunggu dulu, apa itu?" Andin mengikuti arah bayangan yang bergerak.
Di depan pagar rumahnya terlihat seorang perempuan tengah berdiri. Perempuan yang mengenakan daster sebatas betis tersebut terlihat sibuk mengelus perut yang membuncit selayaknya ibu hamil.
"Dengan perut sebesar itu, malam-malam begini mau kemana sih tuh ibu? Apa sedang nunggu dijemput suaminya, ya? Kasihan. Aku tawari masuk aja, deh."
Andin hendak membuka pintu rumahnya. Sekelebat bayangan melintas di sampingnya menuju dapur. Andin urung keluar rumah. Ia memilih mengikuti arah bayangan tersebut tadi.
"Enggak ada siapa-siapa? Tapi aku benar-benar yakin tadi ada yang berjalan ke arah sini." Andin mencermati tiap sudut ruang dapur.
"Arghhhh!"
Andin mundur ke belakang. Di rumah itu hanya ada dirinya dan sang suami. Lantas anak siapa yang sedang duduk di bawah meja makan dan tersenyum lebar ke arahnya.
Suara tangis dan tawa anak kecil kemudian saling bersahutan. Andin berlari menuju ruang depan. Ia harus keluar. Setidaknya untuk menemui ibu di depan pagar rumahnya tadi untuk minta pertolongan.
Keringat membasahi dahi dan telapak tangan Andin yang bersusah payah menggerakkan gagang pintu. Gagang pintu macet. Berulang kali Andin mencoba membuka pintu tapi tidak berhasil.
Lampu ruangan tempat ia berdiri berkedip-kedip. Lampu dari dapur padam seketika.
"Aaaargh, tolong!" rintihan tiba-tiba dari seorang perempuan yang menggedor jendela rumahnya membuat Andin tersentak.
"Aaargh! Tolong," rintihan itu makin menjadi.
Andin menyingkap seluruh gorden jendelanya. Di hadapannya seorang perempuan dengan rambut yang menutupi hampir seluruh wajahnya tengah berdiri dan mengelus perut buncitnya. Ada darah yang mengalir di betis hingga ujung kaki perempuan itu. Andin mengetuk-ngetuk jendela. Perempuan itu menoleh kepadanya.
"Argh!" Andin terjatuh. Ia begitu terkejut mendapati perempuan di luar sana wajahnya rusak parah. Seperti seseorang yang baru saja mengalami kecelakaan.
"Mama." Seorang bocah laki-laki yang entah dari mana datangnya beringsut memegang kaki Andin.
Andin membekap mulutnya. Degup jantungnya berpacu tidak beraturan. Merengsek, ia kembali masuk ke kamar. Membuka paksa jendela kamarnya yang sulit sekali digerakkan. Aroma bau anyir yang menusuk hidung, suara gelak tawa anak-anak, tangisan bayi serta teriakan minta tolong dari luar sana membuat Andin nyaris putus asa.
Andin meraih kursi di depan nakasnya. Dengan penuh tenaga dalam beberapa kali hentakan jendela kamar Andin pecah. Tanpa memperdulikan pecahan kaca masih tertancap di beberapa sisi jendela Andin nekat melompat melewati jendela tersebut.
Beberapa bagian tubuh Andin terkena goresan pecahan kaca. Itu semua tidak menyurutkan langkahnya untuk segera mencapai pagar demi melepas dirinya dari teror yang mencengkam. Dari belakangnya, Andin masih dengan jelas mendengar suara-suara tangis bayi, tawa anak kecil dan jeritan minta tolong yang saling bersahutan.
Air mata mengaliri kedua pipinya. Suaranya tercekat seakan hilang ditelan ketakutan. Suara-suara yang menyeramkan membuat Andin berlari sekuat tenaga menjauh dari kediamannya meskipun tak tahu arah tujuan.
Andin tiba di sebuah persimpangan. Ada warung kecil di sana. Rasa lelah membuatnya spontan duduk di warung tersebut.
Seorang perempuan paruh baya menyuguhkan segelas minuman ke hadapan Andin.
"Penghuni unit B5, ya?" tanyanya.
Andin yang menenggak minuman hanya mengangguk meski di kepalanya berseliweran tanya bagaimana ibu itu bisa tahu nomor rumahnya.
"Mending buruan pindah dari rumah itu!"
"Hah? Maaf, maksudnya gimana, Bu?" Andin meraih gorengan yang ada di atas meja. Berlarian membuatnya merasakan lapar.
"Itu rumah yang kamu tempati sekarang, bekas tempat bunuh diri! Si penghuni yang stres suaminya punya banyak selingkuhan, meracuni anak-anaknya dengan racun tikus. Terus dia sendiri yang lagi hamil besar gantung diri! Orang-orang yang pernah nunggu rumah itu hanya berakhir dengan dua nasib ...."
"Apa itu, Bu?"
"Kalau enggak mati, gila!"
Selama ini yang dibutuhkan Andin adalah seseorang yang percaya dengan cerita yang ia alami. Akan tetapi mendapati penjelasan yang demikian dari pemilik warung membuat Andin kehilangan kata. Ia bingung harus bersikap bagaimana.
Andin meraih gelas minumnya tadi. "Ini?" Andin melongo melihat isi gelas yang tadinya bening, sekarang berwarna merah pekat. Ia semakin melongo mendapati piring berisi gorengan yang tadi ia santap kini berisi lengan, kaki, dan jari jemari manusia selayaknya ukuran bayi.
"Mana yang akan menjadi nasibku? Mati atau gila?" Andin menatap nanar hidangan di hadapannya.
*selesai*