Pendakian Menuju Kematian
Suatu hari teman teman ku mengajak ku untuk mendaki ke gunung dalam rangka perpisahan setelah lulus SMA, orang orang yang akan ikut mendaki gunung adalah Aku, Bobi, Chika, Dani, Erika, dan Fazri.
Kami menyesuaikan jadwal masing-masing, akhirnya kami pun memutuskan untuk mendaki pada hari kamis. Setelah beberapa hari menunggu akhirnya hari yang kami tunggu pun telah tiba juga.
[Kamis 05:46] kami berangkat dari rumah masing-masing untuk berkumpul di bawah tempat pendakian, namun nampaknya Erika agak terlambat dan baru datang pada jam setengah tujuh itupun di antar oleh orangtuanya, Erika berasal dari keluarga kaya jadi orangtuanya pasti sangat mengkhawatirkannya. "Kalian...tolong jaga Erika baik-baik, jika terjadi sesuatu yang buruk kami akan sangat terpukul, jadi tolong jaga anak kami sebaik mungkin. " Ucap orangtuanya Erika.
"Ibu...Ayah...gak usah segitunya, aku tuh udah besar bukan anak SD lagi." Ucap Erika.
Mendengar perkataan Erika, sontak mata ibunya sedikit berkaca kaca dan mereka meninggalkan Aku dan yang lainnya.
[Kamis 06:56] akhirnya kami memulai pendakian menuju puncak gunung, saat itu rasanya benar-benar menyenangkan kami bersanda gurau pokoknya seneng banget deh.
"Erika...kamu yakin, perkataan mu tadi tidak menyakiti hati orangtua mu?" Ucap Bobi bertanya.
"Iya sih...tapi itu juga karena mereka yang terlalu OverProtective...padahal aku ini udah lulus SMA." Ucap Erika.
"Pendakian ini seru juga...lebih seru lagi kalo ada Kuntilanak, Gunderowo, Potong, atau hantu tentara perang." Ucap Fazri yang memotong pembicaraan.
"Aaaa...kamu jangan bicara kayak gitu...jangan Nakut nyakitin!" Ucap Chika.
"Iya...lagian jangan sompral di tempat kayak gini lah!" Ucap Dani.
"Tenang ajalah...hantu kan gak nyata." Ucap Fazri. Dari perkataan sompral yang dikatakan Fazri tadi aku agak khawatir, karena takut sesuatu buruk menimpa kami.
[Kamis 12:36] tiba-tiba kedua kaki Chika keram, dan kami memutuskan untuk beristirahat di tempat yang datar sambil menikmati bekal makanan yang kami bawa...pada saat itu aku terfikir akan menembak Erika saat sore hari ketika kami sedang menikmati SunSet.
[Kamis 13:16] kami melanjutkan pendakian menuju puncak gunung, di beberapa waktu kami beristirahat agar kaki kami tidak keram seperti yang terjadi pada Chika, tapi saat itu si Fazri ini masih kayak sompral sompral gitu, memang dia itu orangnya suka tantangan dan si paling horor lah, dia merasa kalau dia itu si paling berani dan hak takut dengan kata kata sompral yang dia ucapkan. Aku sempat menegur si Fazri yang gak ada tatakrama dengan situasi ini, tapi dia membantah omongan ku dan disitu kami sempat cekcok saling berada argumen, tapi akhirnya Erika memisahkan kami, dan kami saling meminta maaf satu sama lain.
[Kamis 15:06] Kami beristirahat lagi, tapi tiba-tiba terdengar suara gonggongan anjing yang terdengar dari bawah, awalnya kami bersiaga tapi lama kelamaan suara gonggongan anjing itu mulai menghilang. Dan setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.
[Kamis 17:16] Tiba-tiba handphone milik Chika terjatuh ke semak-semak yang sontak membuat Chika syok.
"Haaa... handphone ku….! Bagaimana ini teman-teman?" Ucap Chika sambil menangis.
"Tidak ada waktu lagi...Aku dan Fazri yang akan mencari handphone milik Chika, dan kalian terus mendaki untuk mendirikan tenda di atas!" Ucap Bobi.
Akhirnya kami terbagi menjadi dua tim, dan tim ku terus mendaki menuju puncak gunung.
[Kamis 18:06] Akhirnya tim ku berhasil menggapai puncak gunung dan segera mendirikan tenda, gara-gara salah memperhitungkan waktu aku tidak jadi menembak Erika di sore itu, tapi aku berencana menembaknya saat pagi di keesokan harinya. Lalu kami pun segera mendirikan tenda serta berpacu dengan terbenamnya matahari.
[Kamis 19:06] Setelah rasa khawatir kami pada keadaan Bobi dan Fazri, akhirnya mereka tiba dengan handphone Chika dan di sambut gembira oleh Chika.
"Kalian gak apa apa...?...Makasih Bobi...makasih Fazri...tanpa kalian handphone ku gak bakalan ketemu...pokoknya makasih banget...!" Ucap Chika yang gembira.
[Kamis 20:06] Kami menikmati api unggun, makan-makan, dan juga ini saatnya cerita seram.
"Kalian pernah gak mimpi aneh?" Ucap Dani.
"Mimpi ku kali ini benar-benar aneh dan menyeramkan, setelah lelah pulang dari piknik saat tengah malam, sebelum tidur aku sempat menonton video horor yang disturbing, tapi aku menghiraukannya...sampai saat aku tertidur aku bermimpi dimana aku sedang tidur di tempat yang sama, dimana aku tidur bersama nenek ku, tapi saat aku ingin membangunkan nenek ku tiba-tiba aku terbangun dalam mimpi dimana aku tidur di tempat yang sama, siklus itu berulang berkali-kali namun lama-kelamaan latar dari kamar tidur itu seperti semakin mencekam, seakan-akan aku sadar dalam mimpiku sendiri, aku takut ini pertanda kematian, tapi akhirnya setelah berkali-kali terkena efek loop aku tersadar tepat saat jam 3 aku bisa ke luar kamar, tapi saat melihat keadaan rumah aku melihat keluargaku sudah terbunuh oleh seseorang yang misterius, saat aku berteriak tiba-tiba aku benar-benar tersadar, aku sempat mencubit diriku sendiri dan aku tak berani tidur lagi...itu adalah mimpi buruk yang selalu ku ingat." Ucap Dani yang bercerita.
"Itu benar-benar menakutkan! Tapi bagaimana bisa mimpi seperti itu terjadi?" Ucap Chika.
"Entahlah...mungkin karena pikiranku yang terganggu dengan video disturbing dengan lagu yang di reverse." Ucap Dani.
"Halah...gak serem! Malem malem gini lebih seru kalau kita ketemu kuntilanak, atau hantu seram seperti arwah tentara yang gugur." Ucap Fazri yang masih berbicara sompral.
Aku menegurnya lagi, tapi tetap saja si Fazri itu keras kepala dan gak takut dengan omongan sompral nya.
[Kamis 22:26] Fazri tiba-tiba membangunkan ku dan dia menyuruhku untuk menemaninya untuk buang air kecil, awalnya aku menolak tapi akhirnya aku mengiyakan saja.
"Kau gak usah ketakutan gitu, mana ada hantu-hantuan kayak arwah tentara yang gentayangan!" Ucap Fazri, tapi setelah ucapannya itu aku melihat sesosok pria memegang senjata dan tanpa kepala, aku mengatakan apa yang ku lihat pada Fazri.
"Hahahaha...kau lucu sekali! Sudahlah ayo kita kembali ke tenda!" Ucap Fazri yang tidak percaya padaku.
[Kamis 23:56] Aku kesulitan tidur lagi karena kejadian tadi yang sulit aku lupakan, sampai saat aku akan terlelap aku mendengar suara langkah kaki bolak balik dari tenda, aku tak berani memeriksa dan aku melanjutkan tidurku.
[Jum'at 03:06] Aku terbangun dari tidur dan masih mendengar suara langkah kaki, aku keluar tenda awalnya aku tak melihat siapapun, aku berkeliling di sekitaran tenda, tapi saat aku kembali teman-teman ku sudah tewas dan aku melihat sosok pria memegang senjata tanpa kepala, tapi tiba-tiba aku terbangun...ya...itu hanya mimpi.
[Jum'at 06:06] Kami semua terbangun, tapi di luar dugaan ku kira pemandangannya akan indah dan cerah tapi malah sangat dingin dan mataharinya tertutupi oleh kabut tebal, aku yang tadinya ingin menembak Erika tidak jadi lagi karena suasana yang tidak mendukung. Kami memutuskan untuk diam dulu di tenda dan menunggu suhu lebih hangat dan kabut lebih menghilang.
[Jum'at 08:16] Kabut sudah agak menipis, suhu juga sudah mulai hangat dan saat itu kami memutuskan untuk menuruni gunung ini dengan suasana yang sangat berbeda, Chika yang tadinya sangat antusias menjadi ketakutan, Fazri yang tadinya bercanda dengan sompral tiba-tiba diam.
[Jumat 15:06] Tiba-tiba turun hujan gerimis dan kamu1 berusaha mencari tempat yang datar untuk mendirikan tenda, atau setidaknya mencari tempat berteduh.
[Jum'at 15:16] Tiba-tiba sebuah batu yang longsor menggelinding ke arah kami, kami pun pergi ke arah berlawanan tapi naas batu itu terbelah dua dan salah satu pecahannya menimpa kami hingga terjatuh ke sebuah jurang kecil hanya setinggi kurang lebih 1,5 meter. aku tersadar dan segera membangunkan teman-teman ku. Mereka semua baik-baik saja terkecuali Erika yang kepalanya terus mengeluarkan darah, kamu syok dan segera menutup lukanya yang menganga, Erika masih hidup detak jantung nya masih berdetak, akhirnya aku memangku nya di punggung ku dengan semacam tas untuk memangku, aku bisa merasakan tangan Erika terasa sangat dingin seolah-olah dia sudah tiada.
[Jum'at 17:46] Saat kami terus menuruni gunung, aku sempat melihat ke belakang dan melihat sosok yang sama yaitu pria memegang senjata tanpa kepala, aku tak mau memperburuk keadaan dan memutuskan untuk tidak menceritakannya.
[Jum'at 18:06] Matahari sudah terbenam, tapi kami tiba-tiba menemukan gubuk berbentuk seperti trapesium dengan ukuran tembok hanya setinggi lutut kami, akhirnya kami mendirikan tenda di tengah-tengah, tapi karena satu tenda besar untuk laki-laki rusak karena tragedi tadi, akhirnya hanya Chika dan Erika yang nampaknya sudah tak menghembuskan nafas yang tidur di dalam tenda.
[Jum'at 19:16] kami memutuskan memainkan permainan yang peraturan nya kami merangkak dari sudut ke sudut untuk menjaga diri, takutnya ada Longsor susulan. Karena gubuk ini berbentuk trapesium jadi si Bobi yang kebagian jarak paling jauh dari permainan ini. Lalu kami terus bermain walau di tengah gelap gulita semalaman, sampai tak terasa matahari mulai terbit dan kami tetap terjaga semalaman itu.
[Sabtu 06:13] Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan untuk turun ke bawah gunung, kamu masih bersedih atas kematian Erika dan entah apa yang akan kami katakan pada orangtuanya, ini adalah pengalaman mendaki gunung terburuk yang pernah aku alami.
[Sabtu 09:13] akhirnya kami mencapai pos dan pihak pos segera menelepon ambulans untuk membawa mayat Erika. Saat itu Fazri dan Dani sedang menenangkan Chika yang terus menangis, lalu Bobi yang sedang melihat mayat Erika bilang pada Chika, "kalau mau ikutan main ngomong Dong jadinya aku malah menabrak mu! Kalau mau udahan juga jangan langsung pergi dong bikin kaget saja kamu Chik!" Chika pun menyangkal perkataan Bobi.
"Tapi tadi malam aku menabrak seseorang dan seperti terus ikut bermain, tapi tidak sampai matahari terbit" Ucap Bobi. Seketika semua orang menatap ke arah mayat Erika yang tergeletak.
THE END.