Aku yang lelah dengan hidup berjalan dengan yakin mendekati ombak laut malam ini, dinginnya tak melunturkan tekad ku untuk mati.
Aku mulai merasakan air laut di kaki ku, semakin berjalan semakin naik air itu seolah memakan tubuhku.
Air mata yang membasahi pipi ku, dengan bibir ku yang bergumam kata "maaf" tiap kali mengingat sosok adikku yang mungkin sedang menunggu ku pulang.
"Tapi maaf Renjana, kakak sudah sangat lelah"
Arunika Pramesti, gadis berusia 18 tahun yang kehilangan semangat hidupnya karena melalui banyak sekali ketidakadilan dunia.
Ibu nya meninggal 5 tahun silam karena penyakit kanker yang di idapnya, lalu sang ayah yang menjadi tulang punggung keluarga juga meninggal 3 tahun yang lalu setelah merasa stress karena kehilangan istri tercinta nya.
Dan Arunika yang masih beranjak remaja saat itu di haruskan menghidupi adik perempuan satu satunya yang kini berusia 8 tahun.
Arunika yang saat itu tidak tau apa apa untuk mencari uang, karena tidak ada seorang pun keluarga dari ayah dan ibu nya yang peduli ia memutuskan untuk tinggal di panti asuhan sampai sekarang dengan sang adik.
Kepahitan dunia yang membuat nya lelah dan ingin mati, karena menurut nya ini tidak adil dan tidak seharusnya terjadi padanya.
Meskipun bunda sang ibu panti dan anak anak panti baik terhadap nya dan adiknya itu tidak cukup membuat ia lega.
Karena ia berfikir ia tidak bisa menjadi Kakak yang baik bagi Renjana, ia tidak bisa menggantikan posisi sebagai ibu dan ayah bagi gadis kecil itu, ia tidak bisa memastikan masa depan nya bahagia.
Berhari hari ia memikirkan tentang tekad nya untuk mati, dan hari ini Arunika yakin pada dirinya untuk mengakhiri hidup di laut pada malam hari, tanpa ada yang tau.
************
Keputusan yang cukup berat meninggalkan Renjana di panti asuhan tetapi satu sisi ia berfikir bahwa mungkin lebih baik jika Renjana dapat di adopsi tanpa harus dengan nya, karena mana ada yang mau jika mengadopsi 2 anak sekaligus. Karena Renjana tidak ingin terpisah maka ia saja yang memutuskan untuk memisahkan diri dengan adiknya antara kematian dan kehidupan.
Air laut sudah se-perut ku tapi mengapa aku merasa sedikit takut karena melihat ombak dari dekat, tapi aku meyakinkan diriku bahwa ini adalah cara mati yang tidak sakit.
Sebelum aku berjalan lagi tiba tiba seseorang memegang pundak ku, menahan agar aku tidak melanjutkan ke tengah laut.
grap!
"Kamu gila?! Apa yang kamu lakukan! ini bisa membahayakan mu!"
Teriaknya seorang laki laki asing yang tidak begitu terlihat wajahnya olehku karena kegelapan
"Siapa kamu? Kamu tidak berhak menghentikan saya, Saya ingin mati!" ucapku sedikit teriak karena suara ombak yang begitu besar
"Tidak!! Ayo kita kepinggir dulu, kamu tidak bisa seperti ini! atau kita berdua akan di makan ombak"
"Lepaskan tangan saya, dan anda bisa pergi! Ini tidak ada hubungannya dengan anda"
Aku menepis tangan nya tapi dengan cepat juga dia menangkap ku di gendongan nya.
"Maaf tapi aku tidak bisa membiarkan seseorang mati di depan mataku" ucap dia berbisik di telingaku
Sementara aku terus meronta, dan ketika sampai di daratan aku di jatuhkan oleh nya di atas pasir.
"awhh, kau sengaja ya!" ujar ku menatap dia dari bawah dengan cahaya rembulan yang tepat di atas kepalanya membuat ku terkesima melihat wajahnya yang tampan.
'ets argh tapi tidak, bukan waktu nya aku terpesona seperti ini' batin Arunika
"Kamu ingin mati bukan? bahkan itu lebih sakit dibanding ku jatuhkan kau di atas pasir empuk itu"
'sial berani sekali dia' batin Arunika
"Kau! Tidak ku kenal dan tidak seharusnya kau menghentikan ku!" ujar Arunika dan bangun dari duduk nya
"Kamu pikir aku akan menonton saja melihat dirimu mati seperti itu, meskipun kita tidak saling kenal apa salah nya menyelamatkan orang itu sudah naluri manusia!"
"Astaga! tinggal tidak usah di lihat kan bisa!"
"Terlanjur sudah terlihat, lagian ketika orang lain dalam musibah di ujung ajal tapi ingin hidup kembali kenapa gadis seperti mu itu malah ingin mati?! kau tidak bersyukur pada Tuhan mu"
"Saya tidak tau anda, saya juga tidak ingin mendengar ceramah anda jadi biarkan saya pergi?"
Setelah mengatakan itu aku hendak beranjak kaki tetapi dia lagi lagi menahan ku dengan tangan nya.
"Berikan aku 3 hari!"
Arunika mengernyitkan dahi nya karena tidak mengerti dengan apa yang pemuda dihadapan nya ini bicarakan.
"Berikan aku 3 hari untuk membuktikan kepada mu bahwa hidup itu tidak buruk, bahwa kamu harus tetap hidup bagaimanapun caranya"
Pemuda yang tidak ku ketahui namanya, menatapku dengan ketulusan tapi itu tidak menggoyahkan pendirian ku.
"Itu tidak akan berhasil"
Ucapku tegas
"Aku tau sebenarnya kamu tidak ingin mati! bahkan di tengah laut tadi kamu pasti sempat ragu bukan?
aku tidak akan memaksa mu jika 3 hari dengan 3 cara itu tidak berhasil maka itu terserah padamu nantinya aku tidak akan memaksa jika kamu ingin mati lagi"
Ujar pemuda itu lalu aku mengangguk, entah ada apa dengan ku tapi kata katanya seperti menghipnotis ku.
"Deal"
*************
[DAY-1] MUSIC
Kemarin malam aku berhasil pulang ke panti bersama pemuda itu yang baru ku ketahui namanya, Niskala.
Ternyata dia lebih tua di banding ku, aku mengetahui nya karena sepanjang jalan pulang dia selalu mengoceh yang rasanya membuat ku ingin menutup telinga.
Pemuda tampan yang sangat berisik tetapi, ia sedikit menghangatkan hati ku karena ternyata masih ada yang peduli tentang nyawa ku.
Sama dengan Niskala, Renjana adikku ternyata menungguku di teras malam itu bersama bunda panti... mereka mencemaskan keadaan ku.
Bolehkah aku bersyukur sekarang? karena tidak jadi mati hari ini, tapi keinginan ku itu masih terus menghantuiku hingga pagi ini.
"Aruni, kamu tidak apa? apa makanan nya tidak enak?"
Suara dari bunda panti membuat ku tersadar dari lamunan
"Ah, tidak aku tidak apa. Masakan bunda mana ada tidak enak hehhe" Ucapku dan tersenyum
"Kakak mau Nugget ku?"
Renjana berbicara padaku dan memberikan Nugget goreng itu di piring ku
"Tidak, ini untuk mu saja kakak sudah kenyang Renjana Terimakasih ya"
Ujar ku mengembalikan nuggets ke piring nya
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu menginterupsi pandangan kita kearah pintu terbuka
"Selamat pagi"
Ucap seseorang itu sembari memberikan senyumannya
Huft!
Aku membuang nafas ku kasar ketika melihat siapa yang datang, ah benar apakah aku belum memberitahu kalian? bahwa 3 hari ke depan Niskala akan berkunjung ke panti hanya untuk menceramahi ku dengan 3 caranya itu.
*****
Masih di hari yang sama hanya saja aku dan Niskala kini berada di taman dekat panti, kami sepakat untuk membicarakan ini jauh dari panti karena takut jika saja ada yang mendengar niat ku kemarin.
"Jadi cara pertama apa?"
Tanya ku dengan langsung
"Apa yang kamu ingin lakukan?"
"Mati?"
Jawabku seadanya
"Astaga! itu tidak termasuk. Masa tidak ada yang kamu ingin lakukan?" Aku melihat raut Niskala yang kesal akan ucapan ku tadi
"Sebenarnya ada" Setelah mengucapkan itu aku melihat raut Niskala sangat senang seperti anak kecil yang hendak di belikan permen.
Jujur saja kenapa pria seperti dia ini sifatnya seperti anak anak!
"Apa itu?"
"Aku ingin membuat lagu, tapi aku tidak pandai bermain alat musik"
Ujar ku jujur
"Ah itu sih gampang, apa kamu sudah ada lirik nya? kebetulan aku bisa bermain gitar"
"Ada dalam buku diary ku"
Senyuman Niskala saat aku mengatakan nya benar benar membutakan ku pada terik matahari yang mulai menyorot kulit putihku.
"Kalo begitu, bisakah kita bertemu di sini lagi? aku akan membawa gitar dan kamu bisa mengambil buku mu itu"
"Baiklah"
**************
[DAY-2] CAMPING
Hari kedua dimana Niskala masih mencoba dengan 1 hari tersisa. Jujur saja aku tidak tau apa yang akan dia lakukan lagi...
Setelah kemarin berhasil membuat laguku kini ia berkata tentang Camping, karena dulu aku membuat kenangan indah bersama ayah dan ibu di suatu dataran tinggi dan Niskala mengetahui nya lewat buku diary ku, dengan lancang nya dia membukanya yang membuat ku kesal sekali kemarin.
Tapi here we are.. aku, Renjana dan Niskala berada di daratan tinggi untuk menginap satu malam saja. Awalnya bunda panti tidak mengizinkan kita karena mengingat Niskala yang orang baru dan khawatir terjadi sesuatu pada ku dan Renjana, tapi berkat bujukan Renjana adikku yang juga sangat ingin camping jadi lah kami di sini, berjaket tebal karena suhu yang lumayan dingin.
Aku melihat Niskala yang sedang membangun kedua tenda kami karena dia beralasan bahwa aku tidak usah membantunya karena lebih baik menjaga Renjana, tapi bukan kah dia bodoh? Dari tadi tidak menyelesaikan pekerjaannya itu, so mandiri yang padahal dia kesulitan...
"Sini berikan itu padaku!" Aku mengambil paksa Palu yang dia pegang
"Aku bisa sendiri kok!" Niskala mencoba merebut kembali palu yang kini di tangan ku
"Bicaramu itu seperti profesional saja!" Dan terjadilah perebutan palu saat itu, tapi akhirnya dia mengalah dan hanya membantu menegakkan tenda
"Lain kali jangan so mandiri! Lebih baik begini karena cepat selesai kan" ujarku menatap nya dan yang ditatap hanya membalas "ya ya ya"
______
Waktu begitu cepat hingga matahari sudah hilang dari peradaban dunia hari ini, bulan menggantikan nya seiring kegelapan malam yang makin sunyi.
Setelah kami bertiga makan malam dengan bekal yang dibawa, Renjana lelah karena terus bermain jadi dia sudah terlelap di dalam tenda.
Sementara aku? Aku masih saja di hantui keinginan mati ku, apakah meloncat dari tebing di sekitar ku akan baik baik saja? Karena sepertinya tidak.. Renjana akan trauma nantinya, aku masih akan mencari waktu yang tepat untuk itu...
"Hei! Kau tidak berfikir untuk mati lagi bukan? Karena melamun"
Tiba tiba saja Niskala sudah duduk di samping ku, kita berdua sama sama membisu di depan api unggun sampai dia kembali berucap...
"Lebih baik kau segera tidur! Biar aku yang jaga di luar sampai larut"
Karena aku tidak ingin ribut saat ini jadi "baiklah"
___
Aku terbangun lalu melihat jam pada ponsel ternyata ini masih pagi buta, pukul 4 lebih tepatnya.
Dan aku memutuskan untuk kembali tidur namun sepertinya aku sudah terlanjur bangun dan tidak lagi bisa tidur jadi aku pergi keluar untuk menunggu sunrise,
Secangkir kopi panas yang ku genggam sambil menikmati suara burung burung yang tidak pernah aku dengar saat di kota, pagi ini sangat indah.
Niskala datang menghampiri ku "selamat pagi" sapa nya
"Pagi" ujar ku tersenyum
"Ini masih jam 5 kau bangun dari tadi?" Tanya nya padaku
"Ya, dari jam 4 tadi aku terbangun"
"Bagus deh, kalo gitu ini memudahkan ku untuk memulai cara berikut nya" Ujar Niskala yang membuat ku sedikit bingung
"Hari ini sudah hari baru Arunika, jadi saat nya mencoba hal yang terakhir"
Ah ya benar saja, tapi memang harus sepagi ini? Sebenarnya apa yang dia rencanakan? -batin Arunika
Dengan tiba tiba saja Niskala memutar lagu yang kita buat kemarin lusa dan kini dia mengulurkan tangan nya padaku...
"Maksudnya apa?"tanya ku kebingungan
"Aku tau dari diary mu bahwa berdansa adalah salah satu mimpi mu sewaktu kecil, jadi kenapa tidak kita lakukan juga?"
Ucapan nya seketika membuat ku kaget, karena aku kira hanya dalam mimpi ada seseorang yang mengajak ku berdansa.
Melodi dari lagu yang aku buat dan lirik yang sangat romantis membuat suasana menghangat, aku menerima uluran tangan nya dan kami berdansa di temani matahari yang menyapa.
"I would never fall in love again until I found him
I said, I would never fall unless it's you I fall into
I was lost within the darkness, but then I found him
I found you"
[lyrics song I found you by Stephen Sanchez] *anggap aja lagu yang di buat Arunika, her aku ganti him ya liriknya
Kita berdansa hinggal lagu selesai, aku tidak pernah memikirkan ini akan terjadi dalam hidupku
"Apa tekad mu untuk mati masih ada?, Kamu tidak akan menikmati matahari terbit lagi jadi tolong jangan sia siakan hidupmu" Ujar Niskala
"Aku tidak tau, aku lelah" tanpa sadar aku menjatuhkan air mata
"Lelah itu tandanya kamu butuh istirahat bukan mati Aruni" Niskala dengan tiba tiba memeluk ku
"Aku lelah dan aku takut untuk tidak memberikan Renjana kebahagiaan, aku takut dia kecewa, aku takut tidak bisa menggantikan peran ayah dan ibu untuknya"
"Kau tau? Aku menyelamatkanmu karena aku teringat saat Kakak ku juga mati di hadapan ku sendiri sewaktu kecil tapi yang lebih parah nya aku tidak bisa menyelamatkan dia, dan aku tidak ingin hal itu terjadi padamu Aruni...hidup itu bukan harus di sesali,
Lelah itu wajar yang ga wajar justru kamu menyerah sama ujian yang Tuhan kasih buat kamu. Arunika, Renjana pasti akan selalu bahagia karena masih mempunyai keluarga yaitu kamu yang sebagai kakak nya sementara aku? Aku masih merasa bersalah pada kakakku saat itu, jadi mohon demi Renjana demi orang yang kamu cintai dan demi masa depan mu kamu harus bertahan" (Niskala melepaskan pelukan)
Kata kata yang di ucap Niskala merobohkan tembok kokoh yang aku jaga selama ini, aku menangis kencang saat itu mengingat kebodohan ku yang ingin mati tanpa ada rasa tanggung jawab bahwa aku bisa bangkit dan merubah nasib keluarga ku.
Aku selama ini di butakan oleh rasa penyesalan dan kesedihan hingga sekarang aku baru sadar bahwa banyak yang mencintai ku. Bahwa mati bukan jadi pilihan yang tepat.
"Kakak?" Renjana berlari ketika mendapati ku menangis
"Kakak kenapa?"
Renjana memeluk ku yang juga menyambut nya berlutut
Aku seharusnya tidak begitu, malang nya nasib Renjana yang berusia 8 tahun jika aku mati begitu saja.
"Maafkan kakak Renjana, maafkan kakak"
Lirih ku sambil terus terisak di pelukannya
"Kak Niskala nakalin kakak ya? Atau kakak jatuh?" Celotehan Renjana yang masih persis seperti anaka anak pada umumnya membuat Niskala tersenyum.
"Tidak kok, kakak Aruni katanya sayanggg banget sama Renjana" ujar Niskala
"Oh kalo itu sih aku juga sayang sama kakak, kakak ga bakal ninggalin aku seperti ibu dan ayah kan?" Tanya Renjana menatap Arunika yang melonggarkan sedikit pelukan mereka
"Nggak, kakak ga bakal ninggalin Renjana karena kakak sayang sama Renjana"
Mereka mengeratkan pelukannya kembali seperti tidak ingin terpisah, lalu kemudian tangan Renjana dengan iseng nya menarik tangan Niskala yang berada di sampingnya untuk ikut berpelukan bersama, sampai sampai Niskala dan Arunika sama sama terkejut dan menjadi canggung saat itu.
"Kakak jangan diam diam saja dong, aku lapar nih"
Dan ucapan terakhir dari Renjana itu menutup cerita pendek ini, cerita tentang bagaimana seseorang yang mencoba bertahan dengan keadaan yang tidak baik baik saja, tentang mati yang bukan jalan dari setiap masalah.
TAMAT
Cerita ini memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa jangan menyerah sama apapun yang terjadi dalam hidup kita, masalah apapun itu selalu ada jalan nya tapi kematian adalah jalan buntu yang tidak ada indah nya.
Semoga cerita ini membuat kalian yang sedang down menjadi punya semangat lagi ya, maaf kalau ada kesalahan pengetikan terimakasih dan sampai jumpa