2 Jam kemudian, kereta pun sampai di stasiun 011. Arin dan teman-temannya melangkah keluar dari gerbong kereta. Arin langsung memesan taksi online dan menunggu bersama teman-temannya di luar stasiun.
“Temen-temen, nanti kita mampir ke rumah pamanku. Dia akan menjadi Tour Guide kita,” seru Arin berusaha melawan suara keramaian jalan.
“Oke, Rin!” balas Frendi.
Sepuluh menit kemudian, datanglah taksi yang dipesan Arin. Mereka langsung memasukkan tas mereka di bagian belakang. Rena duduk paling depan, karena ia tidak mau mabuk perjalanan. Arin, Frendi dan Kevin duduk di bagian tengah.
“Wah, Century City enggak buruk juga ternyata. Lumayan bagus penataan kotanya. Lihat Frendi! Ini sangat keren!” ujar Kevin memuji.
Frendi hanya melihat sekilas. Ia duduk di tengah dan menyandarkan tubuhnya.
Suasana di dalam taksi mulai hening. Kevin yang sudah kelelahan mengomentari setiap gedung yang dilewati pun terlelap tidur bersama Frendi. Arin tetap terjaga dan mengecek peta digital di gadgetnya. Sesekali ia mengintruksi supir ke jalan tercepat. Sedangkan Rena hanya diam dan bersandar di sisi pintu mobil. Mungkin Rena merasa pusing.
“Dek, udah sampai,” ujar supir taksi membuat Kevin dan Frendi terbangun.
“Baik, Pak. Terima kasih. Ayo temen-temen!” Arin membuka pintu mobil lebih dulu.
Mereka pun mengeluarkan barang mereka masing-masing. Arin memastikan tidak ada yang tertinggal.
Di hadapan mereka, terdapat rumah tingkat dengan cat warna biru langit berpadu putih. Itu adalah rumah milik pamannya Arin.
Arin segera menghubungi pamannya dengan gadgetnya.
“Halo, Paman! Iya nih, aku sudah sampai. Oh, gitu ya. Oke Paman, aku tunggu.”
Arin menyudahi percakapan singkatnya.
“Temen-temen, kita tunggu depan teras, yuk! Paman bilang lima menit lagi mau sampai,” ujar Arin.
Mereka pun langsung bergerak memasuki halaman rumah pamannya Arin. Di sana mereka melihat patung air mancur berbentuk elang yang tengah membentangkan sayapnya. Ditambah hiasan bunga yang berwarna warni di teras.
“Rin, kamu dengar suara tangisan anak kecil tidak?” bisik Rena dengan mata yang mengedarkan pandangan.
“Tidak. Aku cuma mendengar suara burung dari atas,” balas Arin sambil mengetuk layar gadgetnya.
“Masa, sih? Keras banget, Rin.”
“Ren, jangan memikirkan hal aneh kali ini. Tenangkan pikiranmu. Mungkin hanya halusinasi,” ujar Arin tanpa menoleh ke Rena.
Rena pun hanya terdiam dan memeluk boneka boba berukuran sedang.
Saat Rena kembali berjalan, tiba-tiba ia mendengar suara tangis misterius lagi, entah darimana. Seakan suara itu sangat dekat dengannya.
“Jangan ambil bonekaku!”
“Berikan! Atau kau kubunuh!”
Rena langsung berhenti berjalan dan memejamkan matanya rapat-rapat. Kepalanya mendadak pusing.
“Ren! Loe kenapa?” seru Kevin mendekati Rena.
“Aku gapapa, kok. Kepalaku tadi tiba-tiba sakit, mungkin tensi darahku turun,” balas Rena lirih.
Arin yang baru selesai memainkan gadgetnya, langsung mendekati Rena. Begitupun dengan Frendi.
“Apa yang terjadi, Ren?” tanya Arin panik.
Rena langsung membuka matanya sedikit, “Aku gapapa, Rin, Fren. Pusing aja, kok.” Rena tersenyum.
“Oke, habis ini kita tidak langsung pergi ke bukit. Kita akan menginap di sini,” ujar Arin.
“Kenapa, Rin?” tanya Rena.
“Kata pamanku, mobilnya masih dipakai oleh orang lain. Nanti malam baru kembali. Toh, kamu juga kebetulan sakit, kan? Biar sekalian istirahat,” ujar Arin.
Rena mengangguk sambil memegang kepalanya. Ia merintih kesakitan, namun bukan karena tensinya yang mendadak turun. Ia tak ingin merusak liburan kali ini dengan sisi indigonya yang mulai bekerja.
Mereka langsung dipersilakan masuk oleh pembantu di sana, dan ditunjukkan kamar untuk mereka singgahi sementara waktu. Di sana ada dua kamar yang disediakan. Satu untuk Frendi dan Kevin, satu lagi untuk Arin dan Rena.
“Terima kasih, Mbak,” ujar Arin sopan kepada pembantu itu.
“Sama-sama, Dik. Kalau butuh sesuatu, bisa pencet bel di dalam kamar.” Pembantu itu pun menunjukkan bel yang terpasang di tembok
Arin mengangguk.
Mereka pun menempatkan diri ke kamar masing-masing. Arin membantu Rena berjalan, melihat kondisi fisik Rena yang kurang fit.
“Ren.”
“Iya, Rin.”
“Ini bukan karena sisi indigomu yang kambuh ‘kan?”
Rena terdiam sesaat, “Tentu saja bukan, Rin. Kamu lihat tadi aku mabuk perjalanan, ‘kan?”
Arin menatap Rena penuh selidik, ia tahu Rena sedang menutupi sesuatu.
“Oke, Ren. Aku pikir sisi indigomu kambuh,” ujar Arin menyerah.
Rena tersenyum, “Tidak, Rin. Jangan khawatir.”
Kamar itu pun lengang sejenak. Tiba-tiba Rena menutup telinganya dan menjatuhkan boneka boba yang tadi ia peluk.
“Please, jangan ganggu lagi!” gumam Rena menunduk.
Arin yang sedang membuka tas miliknya memandang sekilas ke arah Rena.
“Sudah, Ren. Buat tidur aja,” tegur Arin. Ia pikir, telinga Rena berdenging akibat sakit kepala.
“Eh, iya, Rin. Makasih.”
Arin mengangguk.