Menjadi protagonis wanita dalam sebuah dongeng romantis sangat ku harapkan dari jaman SMP. berandai - andai menjadi seorang putri yang dilamar oleh seorang pangeran tampan dan kaya dari kerajaan bangsawan. dan melahirkan anak tampan dan cantik seperti Cinderella. Hmm.... penuh khayalan otakku ini. bagaimana mau jadi seorang putri. tinggal dan hidup sederhana di desa saja sudah beruntung.
Ah! aku lupa, perkenalkan nama ku Siana Anastasya. sekarang aku berusia 21thn. tidak kuliah dan hanya pengangguran. bapak ku seorang petani sawah sedangkan ibu hanya seorang ibu rumah tangga.
Saat pertama kali aku lulus sekolah sampai sekarang aku terkadang sering mengeluh kepada kedua orang tua ku. "Mengapa aku tidak kuliah, lihat! semua temanku berkuliah di jurusan yang tinggi-tinggi" kataku membentak dan mereka hanya berkata "Kita miskin nak, bapak tidak berpengusaha seperti bapak yang lainnya, kita hanya orang kampung yang hanya bisa bersyukur dan terus berdoa" Ucap mereka sampai pergi menghilang dari hadapanku. air mataku selalu mudah jatuh setelah mendengarnya, ada rasa sesak sebagai seorang anak yang hanya diam di rumah dan mengeluh ingin berkuliah.
'sudah tau dari awal akan seperti ini mengeluh sih!' batinku marah menggebu - gebu dalam Isak tangis "bodoh!.... bodoh"
~ TIGA TAHUN YANG LALU ~
"ibu.... ibu lihat aku juara satu Bu" Ucapku penuh gembira saat pulang sekolah.
"wah... anak ibu pintar, semoga makin pintar ya nak..." Ucapnya penuh doa.
"amiin Bu, semoga Tasya bisa kuliah dan jadi orang sukses nanti kelak" Ucapku dengan senyum sumringah. namun wajah ibu tiba-tiba murung dan sedih. "nak kamu tak mungkin bisa berkuliah seperti anak lainnya, ibu dan bapak tidak punya uang" lirihnya pelan.
Wajah yang gembira sumringah menjadi murung dalam kekecewaan.
"ibu Tasya bisa kok kuliah... bisa" Ucapku
"bagaimana nak?" tanyanya
"dengan beasiswa, pasti Tasya dapat" Ucapku penuh percaya diri.
"semoga nak" Ucap ibuku lalu pergi sampai tak terlihat dari hadapanku.
"huuh.... Bu Tasya akan berusaha" lirih ku dalam ke sunyian.
SMAN 3 LAKSANA SURGAKU
aku sedang berada dibelakang sekolah saat ini, mungkin ini yang terakhir kalinya pergi ke sekolah.
"Tasya" Ucap Dion. ya! dia yang memanggilku ke sini. "ada apa Dion?" tanyaku. ""maukah kau menjadi pacarku? sekarang kita sudah lulus sekolah" ucapnya tiba-tiba.
oh tidak! dia Dion orang tertampan disekolah menembakku lagi. hatiku senang saat itu. Tapi... tidak! aku tidak boleh berpacaran, aku harus mengejar mimpiku menjadi orang yang sukses kelak nanti.
"tidak bisa Dion, a... ku...aku tidak mau" Ucapku sambil melihat Dion yang sudah menunggu jawabanku.
"kenapa? bukankah kau berkata Kau akan berpacaran lulus saja?" tanyanya.
oh tidak! dia juga masih mengingat perkataanku saat dulu dia menembakku.
"tidak Dion, aku tidak sempurna untukmu... masih banyak wanita sempurna diluar sana yang cocok untukmu" Ucapku lalu pergi meninggalkannya.
"kau sama saja seperti mereka, kurang sempurnalah, kurang cocoklah, jujur saja kau tidak mencintaiku Tas!" keluhnya berteriak.
aku masih bisa mendengarnya tapi bagaimana lagi... maaf Dion, suatu saat saja, tunggu aku....
setelah dari belakang sekolah lalu aku pergi ke kelasku. "Tasya sini cepat duduk" Ucap Nabilla lalu aku pun mengangguk. ya! dia teman dekatku dan dia sangat populer di sekolah karena cantik ( maklum saja di kampung orang cantik cuman sedikit.) aku duduk disampingnya karena kami sebangku. lalu datang seorang guru berusia 40thn masuk kedalam kelas kami.
"ibu hanya akan mengucapkan selamat kelulusan kalian, dan doa terbaik ibu untuk kalian yang sudah menjadi murid ibu di tahun terakhir ini, sekian selamat tinggal" Ucapnya panjang lebar. kami pun berfoto bersama untuk terakhir kalinya lalu beberapa orang pun pergi sampai kelas mulai hening.
"pulang yuk" ajak Nabilla padaku
"tidak ah, duluan saja" jawabku
"baiklah dah" Ucap Nabilla
"oh ya aku akan berkuliah di xxxxx kalau kamu?" tanya sebelum pergi
"tidak tau" jawabku singkat
"baiklah dah" ucapnya benar-benar pergi dari hadapanku tanpa beban.
Sebenarnya aku menunggu Bu guru yang lebih tepatnya Bu Yani untuk berbicara sesuatu padaku sebelum ia pergi, namun nyatanya dia hanya tersenyum padaku dan pergi meninggalkanku. aku pun memutuskan untuk pulang saja.
saat di koridor sekolah di depan pintu ruangan guru aku melihat Caca, ya! teman sekelas ku, ah! dan Nia, Ando mereka juga keluar dari ruangan guru. oh! di sana ada Bu Yani juga.
aku pun tidak pikir panjang dan mengabarkan mereka tapi aku kaget dan syok mendengar perkataan Bu Yani.
"selamat yah, kalian bertiga mendapatkan beasiswa di xxxxx, ibu bangga" Ucap Bu Yani lalu meninggalkan Caca, Nia, dan Ando.
"terima kasih Bu" jawab mereka serentak dan pergi.
bagai di. sambar petir di siang bolong aku sangat kaget mendengar penuturan dari Bu Yani.
"ja... di yang mendapat beasiswa itu bukan aku, oh tidak bagaimana ini" gumam diriku sendiri.
aku pun pulang dengan rasa kecewa yang membara. dan dari situlah aku terus mengeluh kepada kedua orang tua ku, karena mengharapkan beasiswa yang ku harap dapat kan tapi tak ku dapat saat ini. guyuran air hujan pun membasahi tubuhku.
~FLASBACK OFF~
Hari yang cerah pagi ini aku putuskan untuk membantu bapak panen di sawah untuk pertama kalinya karena biasanya aku hanya membantu ibu di rumah. sampai hari pun makin sore sudah tak terasa panen pun selesai.
"nak ayo kita pulang" ajak bapakku
"ternyata sangat melelahkan ya pak" Ucapku ditepi sawah yang sedang mengangkut hasil panen tadi.
'sekarang aku merasakan apa yang bapak rasakan setiap hari' batinku.
"begitulah nak" ucapnya.
"ya sudah ayo pulang" Ucapnya, aku hanya mengangguk mengiyakan.
aku dan bapak membawa padi-padi hasil panen satu sepeda milik kami satu-satunya. menurut ku sepeda itu sudah butut alias jelek dan tidak boleh di pakai.
setelah di depan rumah sederhana kami, aku mengerutkan keningku.
"pak mobil mewah siapa itu?" tanyaku.
"bapak juga tidak tau nak, kita lihat saja pemiliknya kedalam" Ucapnya lalu di angguki oleh ku.
saat kami membuka pintu betapa kagetnya aku dan bapak, saat melihat banyak orang di dalam rumah sederhana kami. lalu aku pun melihat sosok yang ku kenal, ya! dia "Dion?!" Ucapku.
"iya nak dia datang bersama keluarganya untuk melamar mu" ucap ibuku santai.
aku pun melototkan mataku sambil melihat ke arah Dion yang sedang tersenyum tampan kepadaku. Dion yang sedang tersenyum pun berjalan ke arah ku, berjongkok dan mengeluarkan kotak kecil lalu membukanya.
"maukah kau menjadi pendampingku?"