Lagu itu terdengar sejak aku memasuki pelataran rumah kamu. Pelataran rumah yang tak lagi menampakkan citra pemiliknya. Bunga bunga mawar merah yang telah Melayu tak ada yang menggutingnya, dibiarkan saja menggelayut menutupi bunga lain yang baru mereka. Begitu juga dengan tetesan yang berderet membentuk huruf O disekeliling kolam kecil, telah menggondrong dan untuk beberapa Minggu kedepan mungkin akan semakin gondrong. Aku menyaksikan ikan ikan nila kecil warna warni yang tenang dibawah bunga teratai, entah diam karena lapar atau karena air yang menghijau berlumut.
begitu masuk rumah kulihat kamu melantunkan lagu jauh, sembari menata pakaian kedalam sebuah koper
bukan kah kemarin kau sudah packing? tanyaku benarkah? kau menghentikan melipat gaun, menatap wajah ku dengan mendekatkan alis. Aku mengangguk. oh mungkin aku lupa, tapi aku harus packing lagi, satu hari lagi bukankah kita mau berangkat sayang? kau kembali melipat pakaian sambil mengikuti lagu masih mengalun.
kau tahu lagu ini sayang? pertanyaan yang tiba tiba, menyadarkan aku dari lamunanku akan indahnya wajahmu, manisnya senyummu... aku menggeleng, karena jujur saja meskipun aku telah sering mendengar lagu itu, tapi aku tak pernah tahu ap artinya.
mungkin jika aku ceritakan kmu tak akan percaya sayang! tidak kau harus sungguh sungguh percaya! karena itu aku akan mencoba percaya sayang?!
Kau meninggikan nada suaramu , nada memelas . disaat itulah aku berubah menjadi luluh dan tak tega untuk tetap mempertahankan pendapatku, Baik lah aku pun sebenarnya tak tahu ap itu, kau mulai bercerita yang ku tahu lagu itu indah, seperti....
kau berhenti bicara, tidak seperti biasanya kau bercerita, kau akan terus merangkai kata demi kata bait demi bait tak peduli seperti ap reaksi lawan bicaramu.
kau tiba tiba menutupi mukamu dengan kedua telapak tangan mu, aku hanya menatap mu dan itu terlalu biasa bagiku, Bukankah akhir akhir ini kau begitu? kau akan tiba tiba melakukan hal serupa setelah kau mengatakan sesuatu.
Tapi aku tak biasa karena kali ini, kau tak pernah menyelesaikan kalimatnya. kenapa kau berhenti? bukankah sudah kukatakan aku akan percaya apa yang kau katakan sayang,
Bagaimana mungkin kau percaya apa yang aku akan katakan nanti, Jika aku sendiri tak pernah mempercayai nya. tak peduli kau percaya atau tidak, aku akan tetap percaya, sudah tak perlu kau hibur aku sayang!!! menghiburmu? tidak aku sama sekali tak berniat menghiburmu!!! jika aku sendiri tak bisa menghibur diriku sendiri bagama mungkin aku menghiburmu sayang?!!! Rasa itu indah tapi juga hampa, seperti apa yang kau rasakan saat mendengar lagu itu...
kau berdiri kembali melipat pakaian yang menggunung disisi koper, memilahnya kemudian kau masukkan kedalam koper, kau terus begitu dan aku pun terus menatapmu.
Apakah kau tak sadar bahwa matamu telah mengalir seperti sungai, begitu derasnya dan satu persatu terjun diatas koper, Apakah kau jga akan mengemasi air matamu dalam koper bersama pakaian pakaian?
Apakah hatimu lupa bagaimana cara mengekspresikan kesedihan. begitu parah kah luka lukamu itu hingga menuju kedalam ulu hatimu?
Aku terus menatap air matamu. mereka air matamu seolah lebih tahu akan kepedihan hatimu daripada dirimu sendiri, sebenernya jika aku kuasa, aku akan menyampaikan jempol ku untuk menyeka derasnya air matamu, sayang nya aku tak bisa meski ad hasrat dan kekuatan besar yang mendorong ku
Air matamu terus saja membuat hati ku begitu terenyuh. Meski bayangan hitam kelam kemarin dulu dengan segera menyerang pikiran ku.