"Jangan terlalu hanyut dalam fantasimu sendiri ya. " Kata-kata itu seolah terus berulang kali berputar di dalam kepalanya, gadis itu hanya diam menatap ke atas tanpa harus berkata apa pun. Tidak bergerak, seolah ia benar-benar sudah tidak mampu bergerak lagi.
Tidak ada yang tau bagaimana perasaannya saat ini, seolah semua orang tidak akan pernah memperdulikan dirinya. Memangnya siapa? Siapa Hana di mata mereka? Tidak ada yang menganggap Hana berada di dunia ini, ibunya sendiri bahkan membuangnya ke rumah sakit jiwa tanpa berpikir panjang. Dia pikir anak gadisnya itu sudah gila.
Memikirkan semua itu, Hana hanya bisa tersenyum miris. Melihat dirinya sendiri yang tampak miris tidak diperdulikan siapa pun, siapa? Tidak ada. Sampai seseorang seperti menggenggam tangannya yang begitu dingin dan lembab. Hana menoleh ke arah samping dengan susah payah, wajah pucat itu. Tidak ada kata baik-baik saja.
"Jangan berpikir yang tidak terjadi, mereka perduli kepadamu. Jangan pernah berpikir jahat kepada mereka semua termasuk, ibumu-"
"Mereka memang tidak menganggapku, jika benar apa katamu. Maka aku tidak akan pernah berada di sini. Seperti seseorang yang hilang akal, seperti mayat hidup." Ucapnya dengan nada pelan, suaranya seolah telah habis hanya sekedar mengatakan hal-hal yang menurutnya tidak mampu.
Nathan hanya terdiam, tidak mengatakan apa pun kecuali tangannya yang senantiasa menggenggam tangan yang lebih mungil darinya dengan erat. Seolah tidak akan pernah pergi dari kehidupan gadis itu, bagaimana bisa Nathan begitu tega meninggalkan Hana? Tidak akan, sudah di pastikan tidak akan pergi. Nathan sudah memutuskan semua itu.
Tidak ada yang bisa diperbaiki di sini. Tidak ada lagi, atau bahkan sekedar membuat Hana seperti dulu. Rasanya sangat sulit, semua senyuman manis itu yang membuat mata bulat itu seperti bulan sabit itu, telah menghilang bersama hancurnya malam.
Keluarga yang begitu tega. Tetapi, meskipun demikian. Mereka masih perduli kepada Hana, mengobati Hana sampai sembuh total tanpa harus membebani gadis itu selamanya. Anak itu masih punya masa depan yang begitu panjang, dan mungkin saja sebuah pintu masuk ke sebuah cahaya kebahagiaan.
Tidak ada yang tau akan masa depan, tapi Nathan hanya berharap jika semua itu akan terjadi di masa yang akan datang nanti. Mungkin tidak untuk sekarang, besok atau lusa.
"Aku akan berada di sini, menemani sampai kau merasa lebih baik."
"Benarkah? Atau kau hanya membuat omong kosong sebagai penenang sementara?" Nathan menggelengkan kepalanya, tidak mungkin seperti itu. Perasaan sayangnya kepada Hana nyata apa adanya, tidak dibuat-buat sama sekali.
"Aku tidak berbicara omong kosong, akan aku buktikan. Aku bukan mereka yang menelantarkan dirimu."
☘️☘️☘️
Bukan sebuah omong kosong saja, semua itu kenyataan. Pada akhirnya Nathan memang terus menemani Hana, tanpa jeda atau bahkan beristirahat sama sekali. Hana senang, akhirnya ada seseorang yang perduli kepada dirinya.
Lelaki itu bagaikan sebuah pintu kebahagiaan untuk dirinya nanti. Namun, sekarang adalah sebuah bayangan saja. Nathan hanyalah sebuah bayangan saja.
"Tunjukan di mana temanmu? Bolehkah dokter berteman dengannya? Dia pasti sangat baik bukan." Hana mengangguk antusias dan menatap Nathan yang berdiri di pojok ruangan seraya menatapnya balik dengan tatapan teduh, tidak pernah Hana dapatkan dari siapa pun.
"Dimana dia Hana? Bolehkah?"
"Dia ada di sana. Dia selalu di sini dan menemaniku tidur dan juga bermain." Pria itu menoleh ke arah pojok ruangan dimana Hana menunjuk. Tidak ada siapa pun, hanya dirinya dan Hana yang berada di ruangan tersebut. Benar-benar tidak ada orang lain selain mereka berdua di sana.
Pria itu tetap tersenyum, ia tau bagaimana menjadi orang yang kesepian. Tidak mengenakan, membuat nyaman pun lebih mendominasi. Pria itu adalah dokter yang selama ini merawat Hana, bersabar dengan segala apa yang Hana katakan, menangani ketika gadis itu mengamuk atau bahkan menangis histeris.
Hana sering lupa dengan apa yang terjadi sebelumnya, gadis itu tampak tertekan dengan keadaan yang dia alami. Tidak ada jalan keluar, tapi masih ada sebuah jalan yang hanya bisa Hana lewati.
"Apa dia sangat baik? Dia pasti orang baik, sampai kamu begitu menyukainya."
Hana menatap ke arah Nathan, dia berada di sana. Menatapnya dengan tatapan teduh tanpa henti dan bahkan setiap saat. Tatapan yang begitu menenangkan Hana saat ini.
"Iya, aku menyukainya."
"Hana..." Hana menatap lagi dokter tersebut, ia tidak begitu yakin hanya saja tatapan pria itu begitu lain.
"Dia hanya imajinasimu, dia tidak nyata-"
"Dia nyata! Buktinya dia ada di sini bersamaku! Bukan seperti ibu dan ayah yang menganggapku gila!"
Tidak tau jika kedua orang tuanya berada di luar ruangan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di duga, tatapan sedih di antara kecewa dengan diri sendiri. Mereka telah gagal menjaga anak mereka sendiri. Membuat mental anak itu terganggu.
"Hana, dengarkan aku."
"Dia ada di sini! Kau tidak lihat!? Dia ada di sini bersama ku!" Seketika Hana mengamuk, ketika Nathan sejenak menghilang dari pandangannya.
Nathan tidak hadir lagi, dia menghilang secara tiba-tiba di mata Hana. Gadis itu menjerit menyebut namanya, Dimas mencoba menenangkan Hana. Namun, tidak kunjung berhasil. Kian lama Hana tidak bisa dikendalikan, emosinya yang tidak bisa di kontrol lagi seperti semula.
Dimas membuang nafas panjang, dan menyuntikan obat penenang. Membuat Hana seketika berhenti bergerak, gerakan memberontak itu kian memudar membuat Dimas agak cemas. Tidak ada pilihan lain, tidak mau jika Hana melukai dirinya sendiri lagi dan sekian kali. Bahkan pergelangan tangan gadis itu penuh dengan luka sayatan garpu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melihatmu seperti ini terus. Kau harus segera sembuh, dan melupakannya." Tatapan lelaki itu yang begitu pedih. Menatap ke arah Hana yang masih berada dipelukan Dimas.
"Aku hanya fantasimu, aku tidak bisa membelamu secara nyata. Tapi kau tau, aku menyayangimu secara nyata."
Hana yang ditidurkan di atas bangsal secara perlahan, agar tidak menganggu tidur gadis itu. Dia butuh istirahat begitu banyak, otaknya butuh istirahat dan mentalnya juga butuh waktu untuk tidur sejenak. Dimas terdiam, ia membenarkan selimut yang berantakan. Ia menoleh ke arah samping di mana sebuah bingkai foto menunjukan tiga anak kecil yang begitu tersenyum bahagia di sana. Nampak tidak ada beban dan mereka bahagia, Dimas tersenyum tipis.
"Maafkan aku, aku gagal menjaga apa yang aku punya."
☘️☘️☘️
Dua hari lelaki kecil itu menghilang, semua orang mencarinya yang tidak kunjung ditemukan. Tidak ada cara lain, keluarganya bahkan sudah pasrah dengan anak mereka yang menghilang secara mendadak. Tidak tau apa alasannya yang tidak bisa dijelaskan lagi.
"Kau mau kemana, Dimas? Diluar masih hujan! Kembali nak!" Anak itu mengabaikan ucapan ibunya sendiri dan malah memilih berlari ke arah pantai.
Tidak ada tempat lain, semua sudah ia jelajahi dan tetap saja tidak menemukan titik terang kemana temannya pergi sekarang. Tidak ada penjelasan yang jelas, tidak ada.
Berlari ke arah pantai yang begitu ramai, di sana ada gadis kecil itu yang berusaha masuk ke arah pantai. Tidak ada alasan lainnya, Dimas tidak bisa berpikir.
"Ombaknya begitu besar, mustahil bisa di gapai."
Dimas tidak tau pasti, hanya saja firasatnya menunjukan akan sesuatu yang berada di dalam sana. Dimas melepaskan sepatunya dan tanpa berpikir panjang ia langsung menyelam menerjang ombak besar yang begitu membuat tubuh beberapa terpental, tekanan air laut ia mencoba melawan.
"Jangan ke sana! Kau bisa tenggelam nak!" Tidak didengarkan lagi. Dimas berusaha untuk menyelamatkan, tidak mau gagal menyelamatkan dan melindungi apa yang dirinya punya.
Di tengah ia menyelam, samar-samar melihat bayangan atau tubuh seseorang yang ia kenal. Pakaian yang sama seperti apa yang ia sering lihat ketika bermain dan ketika mendekat.
"Tidak, tidak mungkin." Batinnya menjerit, mencoba mendayung tubuhnya sendiri mendekat dan menarik tubuh yang sudah kaku mengambang itu.
Begitu dingin, tidak bisa dirasakan lagi bagaimana. Dimas tidak bisa menjelaskan lagi, ia tidak bisa berkata-kata lagi sekarang. Ia memeluk tubuh itu, yang sudah kaku bagaikan bongkahan es yang berada di tengah lautan.
"Maafkan aku..."
"Nathan..."