"Ayolah ini tak akan seru tanpamu" rengek Nara.
"Kau tahu kalau aku mabuk laut dan kau masih berani mengajakku? Apa kau ingin melihatku mati muda?" tanya Saerin dengan nada kesal.
Terhitung sudah 30menit sejak mereka duduk di kafe dan 25menit sejak Nara meminta Saerin untuk menemaninya pergi berlibur ke pulau Jeju, ia hampir saja menerima tawaran itu jika saja Nara tidak mengatakan kalau mereka akan pergi menggunakan kapal feri.
Nara memajukan wajahnya dan menatapnya lamat lamat "Bohong, kau hanya takut dengan kemungkinan munculnya hiu kan?" godanya dengan senyum jahil.
Saerin melepas cengkraman tangan Nara dan mengaduk aduk minumannya dengan sedotan tanpa melihat wajah sahabat yang sedang duduk dihadapannya itu. Jawabannya benar, dia takut dengan kemungkinan itu.
"Ayolah lagi pula kita tidak akan turun kelaut, kita hanya akan berada di atas kapal sampai tiba di pulau Jeju"
"Tapi tetap saja..."
"Hiu tidak bisa melompat masuk ke dalam kapal sayang, dan aku yang membayar semua biaya nya, apalagi yang kurang?"
"Yang kurang adalah aku benci laut" balas Saerin spontan yang mana mengundang tawa Nara
"Ayolah kau hanya perlu menemaniku berlibur selama beberapa hari"
Saerin berdiri dari duduknya secara tiba tiba dan langsung menatap Nara dengan tajam "Nara, kau tahu aku tidak suka paksaan dan kau tetap melakukan itu" ucapnya tegas.
"Oke oke, ayo kembali duduk, sebagai gantinya kau harus menginap di rumahku dan sampai aku pergi besok malam, deal?" Nara menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
Saerin menerima uluran tangan itu dan mencengkramnya kuat "Deal"
-o0o-
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dua jam sebelum jadwal keberangkatan Nara, Di rumah Nara, Saerin sedang berusaha untuk membangunkan dan membantu sahabatnya itu bersiap untuk pergi liburan bersama kakaknya selama tiga hari, ia jadi terpaksa mengajak kakaknya karena Saerin menolak untuk ikut. Tak lupa, ia juga menghubungi kakaknya untuk ikut mengantar mereka ke pelabuhan.
Tok Tok Tok! Terdengar suara ketukan pintu, disusul dengan munculnya seorang lelaki tinggi berusia 23 tahun yang merupakan kakak Nara.
"Apa Nara belum bangun?" tanyanya pelan.
"Belum"
"Baiklah, aku yang akan ambil alih, kau boleh keluar"
Saerin menundukkan kepalanya sebentar sebelum keluar dari kamar itu dan menutup pintunya rapat. rapat.
Tak lama kemudian, terdengar suara teriakan yang sangat keras, disusul dengan suara 'Brugh' keras yang kemungkinan berasal dari Nara.
"Hehehe, dia sudah bangun, kau boleh masuk" ucap DaeHyun yang langsung disusul oleh lemparan bantal.
Saerin tertawa singkat sebelum akhirnya mengambil kembali bantal tersebut dan masuk ke dalam kamar Nara untuk membantunya bersiap.
-o0o-
"Aku akan merindukanmu" Ucap Nara saat mereka berpelukan untuk berpisah.
Saerin menepuk nepuk punggung Nara dan mengatakan hal yang sama kepada sahabatnya tersebut.
"Jaga dirimu baik baik, semoga kita dapat bertemu lagi" ucapnya dengan senyum manis.
"Hei, apa yang kau katakan? Kita pasti akan bertemu lagi setelah tiga hari!" balas Saerin tak terima.
"Oke oke, sampai jumpa" Nara mulai menarik kopernya untuk memasuki kapal feri yang sudah bertengger di pelabuhan itu, sebelum masuk ia melambai lambaikan tanganhya dengan semangat ke arah Saerin sekan akan ini adalah kali terakhir mereka bertemu.
"Huh, ada ada saja perkataannya" monolog Saerin setelah melihat kapal besar itu meninggalkan pelabuhan.
Seojun mengacak acak rambut adiknya gemas sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil untuk pulang.
-o0o-
Pukul 9 pagi, Saerin terbangun dari tidurnya akibat suara berisik yang ia dengar padahal ia berniat untuk tidur lebih lama di hari liburnya yang indah ini.
"Ibu, ayah, kakak, kenapa kalian seperti itu?" tanya Saerin ketika menemukan seluruh anggota keluarganya yang berada di ruang keluarga dengan ekspresi yang tidak bisa dihljelaskan.
Seojun yang menyadari keberadaan adiknya langsung mengambil remmote dan mematikan televisi yang sedang menayangkan sebuah berita terbaru.
"Eh? Kenapa dimatikan, aku juga mau lihat"
"Tidak boleh, itu bukan sesuatu yang penting dan..."
"Dan kau belum sikat gigi! Cepat pergi sikat gigimu sebelum aku melemparmu ke bak mandi!" gurau kakaknya.
"Ck, kukira kenapa" dengan kesal dan langkah yang dihentak hentakkan, Saerin berjalan menuju kamar mandi untuk menyikat giginya sekaligus mandi.
"Ayah, ibu, sepertinya kita tidak perlu memberitahukan berita ini kepadanya" ucap Seojun dengan senyum tipis.
-o0o-
Tok! Tok! Tok!
"Kak, kenapa kalian melarangku untuk menyentuh ponselku dan melihat berita di tv? Apa terjadi sesuatu?" tanya Saerin sembari membuka pintu.
"Ti-tidak ada yang terjadi, semua baik baik saja"
Saerin berjalan mendekati Seojun dan menatapnya lekat lekat sambil berkacak pinggang.
"Kau bohong, kau tidak biasanya dirumah sepanjang hari kalau kau tidak memiliki masalah"
Seojun terlihat gugup, namun gelagat aneh yang paling disadari oleh Saerin adalah tanganjya yang tampak menyembunyikan sesuatu. Saerin pun berjalan dengan cepat ke arah kakaknya dan langsung merampas ponselnya yang sedang ia pegang.
Saat membuka layar kunci ponsel itu matanya langsung melotot kaget "Ka-kak, ini gak bener kan? I-ini kan kapal yang dinaikin Nara semalem" ucap Saerin gemetaran.
Seojun mengacak acak rambutnya frustasi dan menghela nafas keras, ia mengambil ponselnya dari tangan Saerin dan melemparnya ke kasur "Iya, itu kapal Nara, semoga aja dia selamat" ucapnya sambil memeluk sang adik.
Saerin. tak sangguo berkata kata, air matanya mengalir deras dan tubuhnya bergetar.
"Nggak, ini nggak mungkin, aku harus ke pelabuhan" Saerin melepaskan pelukan itu secara paksa, ia langsung mengambil asal jaket tebal milik kakaknya dan pergi meninggalkan ruangan itu dengan terburu.
"Saerin, aku ikut"
-o0o-
Begitu sampai di pelabuhan Saerin langsung turun dan berlari menuju kerumunan yang terbentuk di pelabuhan, ia menyelip di antara banyaknya orang hanya untuk melihat nama nama orang yang berhasil di temukan, dalam keadaan selamat mauoun tidak.
Meskipun sudah mencari cukup keras dan teliti selama berkali kali, ia tetap tidak menemukan nama sahabatnya dan kakaknya sampai seorang petugas datang untuk memperbarui daftar tersebut.
Bagai disambar petir disiang bolong, kaki Saerin terasa lemas begitu melihat nama sahabatnya Jung Nara dan juga kakaknya Jung Daehyun berada pada daftar orang yang tidak selamat.
Jika saja Seojun tak datang tepat waktu untuk menangkap tubuh adiknya itu, mungkin Saerin akan terinjak injak oleh kerumunan orang yang ada.
"Nggak, ini nggak bener, aku harus nanya ke petugas itu" Saerin berusaha berdiri dengan sisa sisa tenaganya dan berjalan tertatih tatih menuju pos penjaga untuk mendapatkan informasi lebih.
"Permisi paman, apa aku boleh melihat mayat dari orang bernama Jung Nara dan Jung Daehyun?" tanya Saerin sopan.
"Mohon maaf, anda siapa? Apa anda keluarga terdekat korban?"
"Saya sahabatnya"
"Baiklah, kau boleh melihatnya sebagai perwakilan keluarga, keluarganya tak bisa dihubungi hingga saat ini" Petugas itu keluar dari pos nya dan berjalan menunjukkan arah kepada Saerin.
Selama perjalanan itu hati Saerin terasa sakit, mereka memang anak konglomerat, namun karena hal itu pula orang tua mereka jarang berada di rumah karena sibuk mengurus bisnis keluarga yang berada di berbagai belahan dunia. Dan untuk pertama kalinya ia meeasa kalau mer3ka itu menyedihkan.
Saerin menatap dua kantong jenazah yang ada di hadapannya, menurut perkataan sang petugas, kantong sebelah kiri berisikan mayat gadis pernama Jung Nara dan yang lainnya berisi mayat pria bernama Jung Daehyun.
"Paman, apa aku boleh membukanya? Untuk memastikan"
"Tentu saja, oh iya, apa dia kerabatmu?" petugas itu menunjuk Seojun yang berdiri di sebelahnya.
Saerin menganggukkan "Ya, dia kakak saya"
Setelah berpamitan kepada mereka berdua, petugas itu pergi meningalkan kedua kakak beradik yang hatinya sedang terombang ambing.
Saerin memegang resleting kantong tersebut dan membukanya secara perlahan.
"Ukh" ia menutup mulutnya dengan tangannya yang lain saat melihat wajah Nara yang sudah tak bernyawa.
"Kak, apa itu benar benar kak Daehyun?" tanya Nara pada kakaknya.
"Sayangnya ya, dia Daehyun"
Saerin mwnutuo kembali kantong jenazah itu dan pergi meninggalkan Seojun yang masih terdiam di tempatnya, ia berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar hingga menabrak orang berkali kali.
"Saerin! Kau kenapa?? Apa yang salah denganmu? Kau tidak seharusnya seperti ini" ucap Seojun tegas.
Saerin menatap kakaknya tanpa ekspresi, tidak ada perasaan yang terlihat di matanya, persis seperti ikan mati.
"Apa yang salah padaku? Tidak ada, dan kau bilang apa tadi? Aku tidak seharusnya seperti ini? Tidak, aku memang harus seperti, kalau aku ikut, setidaknya Kak Daehyun masih hidup, seharusnya aku yang disana, kalau saja aku tidak terlalu takut kepada khyalan khayalanku mungkin kak Daehyun masih hidup sekarag, begitu pun Nara, ini salahku, semua ini salahku-"
"Cukup!" Seojun menghentikan ucapan adiknya dengan sedikit bentakan dan langsung memeluknya, ia tidak ingin adiknya terlalu menyalahkan diri sendiri, karena ini sudah takdir, iya ini adalah takdir.
"Berhenti menyalahkan dirimu oke? Ini bukan salahmu, ini adalah takdir, sudah menjadi takdir mereka jika harus mengalami ini"
"Takdir? Takdir kau bilang? Jika ini takdir maka kak Daehyun telah menggantikanku untuk mati! Kalau aku ikut kak Daehyun pasti masih hidup! Ini bukan takdir, ini kesalahan!" Saerin menangis terisak didalam pelukan kakaknya, ia sungguh tak menyangka kalau ini akan terjadi. Jika bisa, ia ingin mengulang waktu, namun sayang itu tak akan pernah terjadi.
Seojun menepuk nepuk punggung adiknya itu untuk menenangkannya dan sesekali mengecup pucuk kepalanya. Ia tahu perasaan yang sedang dialami adiknya, karena ia juga sedang merasakannya meskipun tidak sama persis.
-o0o-
Terhitung sudah seminggu sejak kejadian itu terjadi, sampai saat ini Saerin belum juga keluar dari kamarnya, ia bahkan tidak mau sekolah sejak hari itu, makan juga di letakkan di depan pintu kamarnya.
Suatu hari, dihari ke 8 sejak ia mengurung dirinya di dalam kamar, ditengah dinginnya udara saat musim semi, ia melihat Nara yang sedang tersenyum manis di dalam mimpinya dengan Dahyun yang bersiri disebelahnya.
Ia senang, sangat senang namun mulutnya tak dapat berbicara dan tubuhnya tak bisa digerakkan. Sama sekali.
Nara berjalan menghampirinya dengan senyum manis dan langkah yang riang "Saerin, kau tidak perlu bersedih lagi, aku sudah bahagia disini, kau tidak perlu tahu aku ada dimana, yang pasti kau tidak boleh sedih atas kepergian kami jika kau tidak ingin aku ikut sedih"
Kini giliran Daehyun yang bicara "Nara benar, ini buka salahmu, ini adalah takdir, jadi berhenti menyalahkan dirimu sendiri oke?"
Nara berjalan mendekati Saerin dan memegang kedua pipi gadis itu "Saerin, kau adalah sahabatku, sahabat terbaik yang aku punya, rasanya itu tidak benar jika kau terlalu sedih atas kepergianku ini bahkan kau sampai mengurung dirimu sendiri" Nara menghentikan ucapannya dan tersenyum manis sambil menintikkan air mata
"Aku sudah bahagia disini bersama kak Daehyun, karena itu kau juga harus bahagia"
Setelah mengatakan hal itu, mereka pergi berjalan menuju sebuah pintu yang tampak bercahaya, saat mereka hampir memasuki pintu tersebut, barulah tubuh Saerin dapat digerakkan dan ia dapat kembali berbicara.
"Tunggu!" teriaknya.
Namun semuanya telah terlambat karena mereka sudah menghilang di balik pintu bercahaya itu.
Keesokan paginya, untuk pertama kali setelah tragedi kapal tenggelam itu, Saerin keluar dari kamarnya dan berknisiatif untuk keluar rumah.
Tujuannya cuma satu, tempat abu Nara dan Daehyun disemayamkan.