Andini Pertiwi, seorang siswi yang diberi 'keistimewaan' melihat hal-hal yang tak biasa dilihat oleh orang normal.
Dengan keistimewaannya itu kadang ia masih belum terbiasa oleh apa yang dilihatnya, sampai hari ini ia yang sudah mendudukin kelas 2 SMA. Ditambah lagi dia aktif berorganisasi yang membuatnya kadang lebih lama disekolah sampai waktu maghrib yang dimana jam-jamnya 'mereka' sering memunculkan diri.
**
3 hari yang akan datang Dini akan berkemah di suatu desa ditengah kota, Dini sebagai panitia pergi ke bumi perkemahan untuk menyelesaikan persiapan perkemahan dari sekolahnya dengan teman-teman 1 organisasinya.
Dini pergi ke Buper (Bumi Perkemahan) dari pagi karna cukup banyak yang harus disiapkan.
Untuk pertama kalinya Dini pergi ke Buper karna sebelumnya hanya panitia laki-laki dan beberapa orang panitia perempuan yang pergi untuk mengurus bagian lapangan atau Buper.
Dini mendapat bagian mengerjakan bagiannya disekolah yang berhubungan dengan administrasi. Meskipun pada akhirnya Dini juga mendapat bagian lapangan saat hari H.
Sejak awal memasuki area buper, Dini merasakan hawa yang tak biasa atau tak mengenakkan. Area buper ini lebih ke lapangan dipinggir Bendungan dan disebrang bendungan terdapat perkebunan masyarakat setempat. Tetapi disekitar lapangan memang tidak ada kediaman warga, hanya ada beberapa warung kosong yang akan ada isinya jika ada yang berkemah disana.
Dini melihat-lihat area buper dan sekitarnya termasuk bendungan yang airnya tidak terlalu banyak tapi tidak surut. Disebelah bendungan terdapat beberapa toilet umum untuk mereka yang berkemah di buper ini.
Waktu sholat dzuhur sudah tiba, Dini dan teman-temannya pergi ke Mushola yang sudah disediakan pihak buper.
Saat Dini mau ambil air wudhu tiba-tiba saja airnya mati, Dini sudah mencoba membuka kran lain tetapi sama saja tidak ada air yang mengalir. Dini kebingungan kenapa airnya mati, Dini pun menyusul temannya yang sedang melepas sepatu untuk segera masuk ke mushola dan segera ambil wudhu.
"Ray, ko airnya mati ya? Padahal bendungannya lagi gak surut. Apa listriknya mati?" Tanya Dini pada Raya
"Masa sih? Tadi aku ke toilet ada tuh airnya." Ucap Raya
"Ditempat wudhu udah dicoba?"
"Belum sih"
"Yaudah ayo sini deh" kata Dini sambil menarik tangan Raya untuk mengikutinya
"Tuh gak ada kan airnya?" Ujar Dini setelah membuka kran air satu persatu
Raya pun mencoba membuka krannya sendiri
"Loh? Ini apa?" Kata Raya pada Dini menunjuk pada kran yang mengalirkan air
"Lah?" Dini keheranan kemudian menatap Raya
Raya paham kenapa Dini menatapnya bingung, Raya sudah tau 'keistimewaan' Dini dan kadang 'mereka' mengganggu Dini yang bahkan Dini sendiri tidak menggangu 'mereka'
"Gak mungkin kan 'dia' iseng Din?" Tanya Raya
Dini menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang khawatir.
"Wey!" Zidan mengagetkan Dini dan Raya yang sedang bertatapan dengan perasaan takut
Sontak mereka berdua pun kaget
"Astaghfirullah Zidaaan!!" Ucap Raya kesal sambil memukul-mukul Zidan
"Aduh aduh kenapa sih Ya, segitu kagetnya emang?" Tanya Zidan
"Iyalah, kamu nih ngapain coba ngagetin gitu" kata Raya dengan nada kesal mengerenyitkan dahinya
"Ya lagian kalian ngapain deh tatap-tatapan gitu? Ini kan bukan film India" kata Zidan dibarengi tawanya
"Kepo dah lu, udah sana sana" usir Raya kesal. Dini tiba-tiba bengong dan Raya tak sadar karna dari tadi dia sedang bicara dengan Zidan.
"Din? Dini?" Ucap Raya menyadarkan Dini yang sedari tadi hanya bengong melihat ke arah Bendungan
Raya pun melihat ke arah yang Dini lihat
"Kamu lihat apaan sih Din sampe bengong gitu?"
"Itu Ray, dari tadi ada yang merhatiin kita dari balik pohon di bendungan sana sambil senyum-senyum gitu."
"Serius kamu Din?"
"Dia senyum dan matanya ngalir darah Ray"
"Hahh?! Ssssttt udah Dini udah. Sekarang kita wudhu aja. Anggap aja kamu gak lihat apa-apa yaa, kita obrolin ini lagi nanti" ucap Raya menenangkan Dini
"Iya Ray" kata Dini dengan mata berkaca-kaca
** Hari H perkemahan **
Di hari pertama perkemahan semuanya lancar tanpa ada gangguan dari 'mereka' setelah Dini dan Raya menceritakan kejadian saat mereka survey pada pembina. Pihak sekolah pun meminta bantuan pada ustadz dan kuncen disana untuk menjaga area buper dan sekitarnya saat perkemahan.
Tapi saat malam tiba, yang kebetulan adalah malam jum'at semua peserta dan panitia mengadakan berdo'a dan baca yasin bersama ditengah lapang setelah sholat maghrib berjamaah. Pengecualian untuk peserta perempuan yang sedang haid menunggu ditenda mereka ditemani panitia yang bertugas untuk jaga area buper.
Saat semua yang ditengah lapang sedang khidmat berdo'a dan mengaji, tiba-tiba dari salah satu tenda peserta perempuan ada yang berteriak. Panitia yang sedang berjaga pun kaget dan langsung menghampiri sumber suara.
Dini yang sedang ikut mengaji pun segera membereskan alat sholatnya dan menghampiri peserta yang terus berteriak dan tiba-tiba tertawa.
Saat hendak sampai tenda, Dini melihat ada sosok 'lelaki' dengan sorot mata yang menggebu dan menjulurkan lidah pada peserta yang kerasukan itu.
Pak Ustadz pun datang dan menyadari ada sosok itu, lalu ia menghampiri siswi perempuan yang sedari tadi menangis dan tertawa. Belum selesai pak ustadz mengatasi siswi ini, di belakangnya seorang siswi kerasukan juga dan semakin lama semakin banyak yang kerasukan. Kerasukan masal ini membuat semua panitia sibuk untuk meminta bantuan pada kuncen sebelumnya menjaga area buper dan guru-guru yang bisa mengatasi hal-hal seperti ini.
Dini sendiri mencium bau anyir darah dibelakang tenda, dan Dini langsung paham kenapa mereka kerasukan.
Tak lama kemudia kuncen pun datang dan mengatasi para siswi yang kerasukan. Setelah selesai menenangkan para siswi, kuncen menemui panitia dan pembina untuk berhati-hati jangan membuang darah haid sembarangan.
"Pak, bu tolong sampaikan pada anak-anak perempuan yang sedang haid untuk tidak membuang pembalut bekas haidnya sembarangan. Kalau bisa dicuci dulu sebelum dibuang, karna 'mereka' suka dengan darah apalagi yang segar. Kalau di cuci kan darah menyatu dengan tanah jadi lebih aman. Tapi sebisa mungkin jangan bengong juga, karna salah satu anak disini ada yang disukai penghuni disini. Kalau anak itu kerasukan lagi, kalian berikan saja minum air hangat dan bacakan ayat-ayat Al-Quran ya."
"Iya pak, nanti kita sampaikan. Terima kasih ya pak. Maaf sudah merepotkan bapak sampai larut malam begini." Ucap pak pembina
"Iya tidak apa-apa, kalau begitu saya pergi dulu ya" pamit pak kuncen
"Iya pak. Dimas tolong antar ya" tunjuk bu pembina pada Dimas salah satu panitia
Sementara itu, Dini masih berjaga disekitar tenda peserta perempuan yang tadi kerasukan.
"Kak?" Tanya seseorang dari dalam tenda
Dini menyoroti ke dalam tenda dengan senter dan tidak langsung menjawab untuk memastikan siapa yang memanggilnya.
"Kak? Kak Dini bukan?" Tanya peserta yang tadi
"Iya de, kenapa?" Jawab Dini sambil terus menyoroti
"Aku gak bisa tidur kak, pengen pipis juga"
"Gak bisa ditahan aja?"
"Gak bisa kak, anter dong kak" ajak peserta itu
"Yaudah ayo, jangan lama-lama yaa"
"Iya kak" kata peserta itu yang kemudian menghampiri Dini
Mereka berdua pun pergi ke toilet. Dini merasakan hawa yang agak aneh dari peserta ini.
"Jangan lama yaa" kata Dini mengingatkan
Sudah 5 menit tapi peserta itu tidak keluar juga, Dini mengetuk pintu toilet dan menyuruhnya untuk segera keluar
"De? Udah belum? Ko lama? Katanya mau pipis?" Tanya Dini
Dari arah buper ada yang menyoroti Dini, ternyata Zidan dan Dimas yang sedang buru-buru kebelet.
"Dini? Dini kan?" Tanya Dimas
"Iyaa" jawab Dini menutupi sedikit wajahnya karna silau cahaya dari senter
"Kamu ngapain disini sendirian?" Tanya Dimas lagi
"Aduh aku ke wc dulu ya kebelet banget" kata Zidan
"Iya iya udah sana" kata Dimas
"Aku lagi anter Siska (peserta) katanya gak bisa tidur terus dia pengen pipis. Tapi udah 5 menit gak keluar-keluar"
"Siska yang mana? Yang 'itu'?" Tanya Dimas
"Iyaa"
Dimas kaget karna tadi setelah ia mengantar kuncen, Dimas melihat Siska sedang di posko karna dia pingsan.
Zidan pun keluar, Dimas menarik tangan Zidan dan Dini untuk segera ke atas atau ke buper.
"Eh eh tar dulu itu Siska masih di wc"
"Udah ayo ikut ajaaa" ajak Dimas sambil terus menarik tangan Dini dan Zidan
"Kenapa sih Dim?" Tanya Zidan
Mereka berhenti di tanjakan menuju buper.
"Dan, tadi kata kamu Siska lagi di posko kan?" Tanya Dimas untuk memastikan
"Iyaa, kenapa emang?" Tanya Zidan bingung
Dini dan Dimas pun melihat ke bawah ke arah wc yang ternyata semua pintunya terbuka. Kemudian..
"Aaaaaaaaa!!!" Dimas dan Dini teriak dan lari ngibrit ke buper disusul Zidan yang juga ikut teriak meskipun dia bingung kenapa mereka berteriak
"Hahh hahh hahh" mereka bertiga ngos-ngosan saat sampai di posko
Dan Dini melihat Siska yang terbaring tidur di matras posko dengan kaget dan bingung.
"Kenapa kalian lari-larian? Kayak abis lihat setan aja" tanya kak Ali
"Emang!!" Jawab Dimas spontan
"Jangan bercanda lu Dim" kata kak Ali yang sedang duduk santai dengan kaki diangkat ke kaki satunya kemudian menurunkan kakinya dengan duduk tegap karna kaget
"Duh salah ngomong nih gue kayaknya" kata kak Ali memukul-mukul kecil mulutnya
"Nih minum dulu" kata kak Maudi menyodorkan minuman pada mereka
"Udah sekarang kalian duduk, istirahat dulu. Tidur aja nanti gantian sama yang lain jaganya" lanjut kak Maudi
"Iya kak" jawab mereka bertiga yang masih mengatur nafas
** Keesokan harinya **
Dini, Dimas dan Zidan menceritakan apa yang terjadi semalam pada kak Ali dan kak Maudi. Dini juga menanyakan bagaimana Siska bisa pingsan dan ada di posko.
"Semalem tuh Siska nangis, katanya dia lihat ada laki-laki yang merhatiin dia terus dari luar tenda, pas dicek sekeliling tenda ternyata gak ada siapa-siapa."
"Terus terus?" Tanya Dimas penasaran
"Pas dia balik badan, dibelakangnya ada laki-laki yang satu matanya ngalir darah dan lidahnya melet-melet gitu. Terus dia teriak dan pingsan deh"
"Jadi yang aku anter ke wc itu?" Tanya Dini yang tiba-tiba merinding sekujur tubuhnya
"Loh kamu kesana bukan sendiri?" Tanya Raya yang tiba-tiba ikut nimbrung
"Hah? Enggak" jawab Dini
"Semalem aku lihat kamu ke bawah sendirian. Aku panggil-panggil gak nyaut mungkin gak kedengeran kali ya pas aku mau samperin kamu, aku dipanggil pak guru"
"Din, lu gapapa?" Tanya Zidan
"Gapapa ko Dan" kata Dini
Saat sedang mengobrol tiba-tiba ada peserta yang datang ke arah mereka.
"Kak! Kak, Siska kerasukan lagi" kata teman satu tenda Siska
"Lagi?" Tanya semua yang tadi sedang berkumpul
"Gimana awalnya ko bisa kerasukan siang-siang gini?" Tanya kak Ali
"Tadi kita lagi istirahat abis hiking kan, semuanya lagi capek dan Siska juga lagi duduk sambil bengong mungkin karna capek juga terus tiba-tiba dia teriak-teriak sambil ketawa-ketawa" jelas Rosi pada kakak kakak panitia yang ikut berlari menghampiri tenda
"Dia lagi haid gak?" Tanya Dini
"Setau aku enggak kak, dia pernah cerita katanya dia haid lebih awal dan sekarang gak haid" jelas Rosi lagi
"Berarti dia yang disukai penghuni disini" gumam Dini
"Apa kak?" Tanya Rosi
"Enggak"
Akhirnya karna Siska terus diganggu oleh penghuni disini, Siska dipulangkan lebih dulu dan tidak perlu mengikuti acara perkemahan sampai akhir untuk keselamatannya.
Dan malam pun tiba, malam terakhir berkemah. Malam ini akan ada api unggun dan pentas seni dari tiap kelompok.
Malam itu berlangsung damai sampai keesokan hari semuanya sudah pulang dan meninggalkan area bumi perkemahan.
Terkecuali panitia yang membereskan sisa perkemahan, panitia pulang lebih sore. Saat sebelum mereka pergi, mereka menyempatkan untuk sholat ashar disana. Selesai sholat, Dini keluar dan melihat Bibah (panitia yang satu angkatan dengannya) sedang melihat ke arah bendungan dan tiba-tiba Bibah jalan ke arah toilet yang terbengkalai disebrang bendungan.
"Eh eh Bibah ngapain kesana?" Tanya Dini pada temannya yang lain dengan panik
"Bibah! Bibah!" Semua yang melihat Bibah menghampiri dan memanggil Bibah
Bibah berhenti dan memanggil Dini.
"Andini!" Teriak Bibah dengan pupil mata membesar dan berwarna putih semua
Semuanya kaget "Waaa!.."
Kecuali Dini, Dini tau siapa yang merasuki Bibah
"Kenapa kamu merasuki temanku?"
"Gara-gara kamu, aku jadi tidak bisa menemui anak perempuan itu!" Ucap seseorang dari dalam tubuh Bibah dengan nada menggeram
"Untuk apa kamu menemui dia? Dia tidak nyaman dengan kehadiranmu!" Jawab Dini
"Awalnya aku hanya bisa melihat anak perempuan itu karna area yang kalian tempati sudah dijaga ketat oleh kuncen. Tetapi dengan bod*hnya ada yang membuang darah segar dan akhirnya aku bisa masuk ke area itu dan menemui gadis itu Ha Ha Ha..!! Tapi gara-gara kamu dan teman-temanmu, semuanya berantakan. Aku tidak bisa bertemu dia lagi karna sekarang dia sudah ada "penjaganya" . Sebagai gantinya, aku akan mendatangi kalian bertiga yang menghalangiku!" Jawab jin itu menunjuk Dini, Dimas dan Zidan
"Din gimana nih? Aku takut. Apa kita lapor pak ustadz aja?" Tanya Zidan
"Tapi pak ustadz kan udah pulang tadi karna ada urusan juga" jawab Dini
"Terus gimana dong?" Tanya Zidan lagi
"Dimas coba bilangin ke pak kuncen" kata Dini
"Iya Din"
Dengan kebetulan pak kuncen ada disini dan merasakan ada aura kemarahan didekat bendungan.
"Pak kuncen!" Kata 7 orang itu serempak saat melihat pak kuncen datang sebelum Dimas pergi menjemputnya
"Dek Dimas, ajak mereka ke atas. Biar saya yang mengatasinya" kata pak kuncen pada Dimas
"Ayo Raya, Putri, Iman, Oki, Zidan"
"Berhentilah kamu! Tidak usah mengganggu mereka yang bahkan tidak tau salah mereka dimana! Jangan ganggu mereka atau kamu aku lenyapkan dari sini!" Ucap pak kuncen memberi peringatan pada jin yang merasuki tubuh Bibah
"Mereka tidak sengaja menggangumu! Maafkanlah mereka"
"Tidak akan ku biarkan kalian, aaaaarrrghh" Bibah pun pingsan, Dini menghampiri Bibah dan membawanya ke depan mushola dibantu Dimas yang kembali untuk menjemput Bibah dan Dini.
"Nak Dini, berikan jimat ini pada 2 temanmu dan temanmu yang ini" kata pak kuncen yang dimaksud adalah Dimas, Zidan dan Bibah
"Iya pak"
"Setelah sadar, kalian langsung pulang ya. Sisanya biar pihak buper yang mengurusnya. Nanti saya sampaikan." Kata pak kuncen
"Iya pak" kata Dimas dan Dini
Bibah pun sadar dan mereka menyusul teman-temannya yang diatas menunggu mereka. Tanpa sadar Dini meninggalkan jimat untuknya setelah memberi pada Bibah, Dimas dan Zidan saking paniknya dia.
** Sesampainya dirumah **
Waktu maghrib sudah lewat, setelah sholat maghrib Dini berbaring dan ketiduran. Malam sudah larut Dini terbangun kemudian ingat dia belum sholat isya. Pergilah ia ke kamar mandi untuk ambil wudhu, saat itu waktu menunjukkan pukul 01.00.
Saat akan wudhu, Dini melewati tempat sholat atau mushola kecil dirumahnya dan sekilas dia melihat ada yang sedang sholat menggunakan mukena putih. Dia pikir itu ibu atau kakak perempuannya, setelah selesai wudhu Dini pun menuju kamarnya untuk sholat.
Ceklek.. suara kunci pintu terbuka, yaitu kakak perempuannya yang hendak ke wc untuk buang air kecil
"Kakak bukannya tadi lagi sholat di mushola?" Tanya Dini
"Hoamm.. enggak tuh, baru juga keluar mau pipis"
"Oh atau ibu ya?" Tanya Dini lagi
"Ibu? Ibu kan nginep dirumah nenek sama Ayah dari abis maghrib. Nenek tiba-tiba kambuh sakitnya"
"Kak, aku ikut tidur di kamar kakak yaa"
"Kenapa emang?"
"Aku takut"
"Yaudah sana masuk, aku mau pipis dulu"
"Iya kak"
Setelah selesai sholat, Dini pun segera naik ke ranjang untuk melanjutkan tidurnya.
Krieeeet.. suara pintu kamar terbuka
"Lama banget kak pipisnya?" Tanya Dini sambil memainkan ponselnya menghadap dinding dan memunggungi kakaknya
"..." Kakak tidak menjawab
"Aku tidur deket dinding yaa hehe" kata Dini
"..." Kakak tidak menjawab lagi
"Kakak udah ngantuk kali ya" gumam Dini dan melihat kakaknya menyelimuti seluruh tubuhnya
"Aduh sakit banget ini kenapa dah tiba-tiba perut mules" Kata kakak sambil membuka pintu kamarnya
"Dek, lu udah tidur?" Tanya kakak
Dini menoleh ke arah kakaknya dengan bingung.
"Kenapa de?"
"Kakak baru masuk?" Tanya Dini panik
"Iyaa, mules banget tadi perutnya makanya lama" jawab kakak
"Terus ini siapa?"
"Ya gak tau, orang aku baru masuk. Guling kali. Coba buka" kata kakak
Dini yang sudah dari tadi diranjang membuka selimut yang yang disampingnya.
Dan...
Saat dibuka "Aaaaaaaaaaaaaaa..!!!!" Dini dan kakaknya teriak berlari ketakutan dan masuk ke kamar Dini setelah melihat sosok dibalik selimut itu ternyata hanya kepala dengan mata yang berdarah dan lidah yang menjulur.
*TAMAT*