Seorang gadis cantik blasteran Belanda, baru saja menghentikan mobilnya di depan halaman rumah besar bernuansa Eropa. Iris mata Wilna tak kunjung lepas, menatap bangunan tua yang masih berdiri kokoh di hadapannya dengan ilalang kering di sekitarnya.
Benarkah ini rumah yang baru saja di beli oleh sang ayah? Dan bagaimana bisa pria kolot itu membeli rumah sekotor dan sebesar ini?
Drt!
Drt!
Drt!
Ditengah Wilna menurunkan dua koper dari bagasi mobil, tiba-tiba ponselnya bergetar petanda panggilan masuk. "Halo?" salamnya.
"Sayang, kamu udah sampe disana? Gimana sama rumahnya? Bagus kan? Papa, mama, sama adik kamu lagi dalam perjalanan. Tunggu kami ya sebentar lagi."
"Ini beneran rumah yang papa maksud? Papa udah kebanyakan uang ya sampe beli rumah gajelas kayak gi----"
KREKH!
Kalimat Wilna terpotong, ketika mendengar seperti ranting pohon yang di injak oleh seseorang dari arah belakang. Dengan rasa penasaran, dia tolehkan kepala dan...
Kosong.
Tidak ada siapapun disana selain dirinya. Dengan helaan nafas berat, Wilna lantas mengubah topik pembicaraan. "Yaudah, Wilna coba cek kedalem dulu ya. Kabarin kalo ada apa-apa." katanya kemudian memutus sambungan teleponnya.
Kaki jenjang Wilna mulai melangkah menginjak teras rumah yang lumayan kotor, terlepas berdecih kesal sambil mendumel, matanya lantas teralih ke arah pintu masuk. Dimana pintunya lumayan besar untuk seukuran rumah biasa.
Wilna merogoh saku celana untuk mengeluarkan kunci utama tapi,
Prakh!
Dia tak sengaja menjatuhkannya. Di barengi dengan decakan kesal, Wilna lantas membungkuk untuk mengambilnya. Dalam hitungan detik, dia bisa melihat dengan jelas kalau ada sesuatu yang bergerak di bawah kursi.
Apa itu? kedua alis Wilna tertaut bingung, karena pergerakan itu tidak terlihat lagi. Perlahan tangannya menyalakan flash ponsel dan dia arahkan ke bawah kursi.
Nihil, tidak ada apapun selain kotoran tikus dan tumpukan debu.
Sudahlah, Wilna kembali fokus untuk masuk kedalam rumah barunya dan membereskan barang- barang miliknya. Kini, gadis yang usianya sudah genap 20 tahun itu berhasil membuka pintu dan masuk kedalam rumah.
Semua furniture-nya lengkap, dan ternyata isi rumah tersebut tidak sekotor luarnya. Wilna tersenyum lega, dia tarik dua koper masuk kedalam dan melihat seluruh bagiannya.
Ada dua kamar tidur di lantai atas, dan tiga di lantai bawah. Untuk kamar mandi dan toilet sudah pasti berada di lantai dasar tepatnya pada deretan pojok dapur. Kalau dapur, Wilna merasa cukup puas karena isinya sudah sangat lengkap ditambah menja makan yang lumayan besar. Kembali ke tengah, ada ruang tv yang megah di hiasi rak berisi barang kuno, salah satunya piring antik. Dan terakhir ada taman megah di bagian belakang rumah.
Gila, berapa banyak uang yang sudah di keluarkan oleh sang ayah untuk rumah semegah ini?
"Kakkkkk!!! Kakakk!!!"
Suara anak kecil yang menggema, membuat Wilna tersenyum dan bergegas berlari ke arah pintu utama rumah. Dia pikir adiknya sudah sampai. Tapi ternyata masih kosong.
Wilna terdiam kaku sambil menatap sekitar rumahnya yang mendadak hening, tidak ada satupun orang selain dirinya yang berada di dalam sana. Sial, apakah dia halusinasi karena kurang tidur?
Sambil terus meyakinkan diri, Wilna lantas menghempaskan tubuhnya di atas sofa sambil memejamkan mata.
'Selamat datang...'
Suara itu terdengar jelas tepat di telinga kanan Wilna. Suaranya sangat lirih, serak, dan berhawa dingin. Dengan cepat, Wilna lantas membuka mata untuk memastikan sekitarnya lagi.
Tetap saja kosong.
"Aishh.." umpatnya kesal, kemudian mengeluarkan ponsel. Kenapa ayahnya lama sekali? Padahal jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah yang lama. Sepersekian menit Wilna menelepon, sang ayah tak kunjung menjawab.
Alhasil dia pasrah, dan memilih untuk masuk ke salah satu kamar.
Wilna memilih kamar yang kasurnya berukuran besar berwarna merah muda. Ada dua lemari kayu di sisi kiri, dan meja rias berkaca sedang di sisi kanan. Lucu, pikirnya. Dia lantas mengangkat koper ke atas kasur dan mengeluarkan semua isinya.
Sudah separuh beres, tiba-tiba Wilna mendengar ada klakson mobil dari depan rumah, dimana sang ayah baru saja sampai bersama ibunya dan juga Rina; adiknya. Senyum manis Wilna mengembang, sampai membentuk lesung pipi samar.
"Kalian kenapa lama banget sampe nya?" tanya Wilna ketika keluar dari dalam kamar.
Ina tersenyum menatap putri sulungya. "Tadi ban mobil papa mendadak bocor di persimpangan jalan, jadi mau gamau harus di tambal dulu. Gimana sama rumahnya? Kamu udah milih kamar?" katanya menjawab, di iringi dengan pertanyaan kembali.
Kepala Wilna mengangguk mantap. "Udah kok, ma. Aku sih fine aja sama rumahnya, walaupun terlalu besar untuk keluarga kecil kayak kita. but, it's oke. Aku lumayan suka kok." Senyum manis Wilna terbentuk, kemudian menoleh ke arah pria bule paruh baya yang sedang menyeret dua koper di tangannya.
"Papa beli rumah ini berapa duit?"
"Gak terlalu mahal, karena ini punya paman kamu." jawab James sedikit meledek kemudian melangkah masuk kedalam.
Ina terkekeh menatap Wilna yang sudah mendengus sebal. Setelah ayah, dan ibunya masuk kedalam rumah. Wilna terkejut dengan kehadiran seorang nenek-nenek berkebaya cokelat yang berdiri di balik batang pohon besar.
Nenek itu menatap dengan sorot mata khawatir ke arah Wilna, kemudian menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Siapa sih?" gerutu Wilna tak peduli, kemudian melangkah masuk kedalam rumah.
******
Mungkin lebih dari empat jam keluarga kecil itu membereskan seisi rumah dan barang bawaannya. Sekarang mereka sudah duduk melingkar di depan meja makan, sambil menikmati beberapa porsi masakan sang ibu.
"Rin, kamu suka gak sama sama rumah baru kita?" Wilna iseng bertanya pada gadis mungil yang asik memeluk boneka beruang di seberangnya.
Rina tersenyum lebar. "Suka dong, soalnya Rina dapet temen baru disini." Jawaban polosnya sukses membuat Wilna saling melempar tatapan dengan sang ibu dan ayah.
Oh! Mungkin yang di maksud teman baru adalah boneka beruang itu, karena Rina nemuin boneka itu di dalem lemari kaca ruang tv.
"Besok mami sama dady bakal mulai kerja lagi, Rina gaboleh nakal ya sana kakak Wilna di rumah?" Ina mencoba membujuk si mungil sambil mengusapnya lembut.
"Iya, mami." Jawab Rina lucu.
"Oh iya, sampe kapan kamu kuliah daring?" James membuka topik pembicaraan baru seraya menuang air putih kedalam gelasnya.
Wilna menggeleng. "Aku gatau, pa. Cuma yang pasti dalam waktu dekat ini gakan offline lagi, tau sendiri covid masih gak jelas." Jawabnya yang langsung di beri anggukan pelan oleh James.
Makan malam mereka berjalan lancar seperti biasa, tidak ada keanehan atau ketidaknyamanan di dalam rumah tersebut. Mungkin karena sugesti mereka yang terus percaya bahwa rumah ini aman, setelah di kosongkan oleh kakaknya James.
Tok! Tok! Tok!
"Biar aku aja yang buka." Wilna lantas beranjak menuju pintu utama dan membukanya
Jujur, tubuh Wilna sedikit tersentak ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Nenek. Ya. Nenek yang tadi siang mengintip di balik pohon besar. "Nenek? Ada apa kesini? Nenek butuh bantuan?" tanya Wilna sesopan mungkin.
Nenek itu menggeleng, tatapannya lurus ke dalam rumah sambil menggeleng. "Pergi, pindah, mati. Pergi, pindah, mati. Pergi, pindah, mati." Ucapnya berulang kali membuat Wilna melongo bingung.
"Maksud nenek apa? saya gak ngerti. Nenek nyasar ya?"
Kepala si nenek menggeleng lagi. "Pergi, pindah, mati. Pergi, pindah, mati. Pergi, pindah, mati." Mulutnya kembali mengucapkan tiga kata tersebut, dan tak lama terasa hembusan angin kecang dari depan.
"Siapa, Wil?" James datang menghampiri karena anaknya tak kunjung kembali ke meja makan.
Kali ini si nenek terdiam, dia berbalik badan dan melangkah pergi begitu saja.
"Udah ayo masuk, mungkin orang gila." James menarik Wilna masuk dan mengunci pintunya.
Wilna terdiam, setiap langkahnya terus menyalurkan kebingungan tiada tara. Apa maksud dari ucapan sang nenek? Apakah hanya ngelantur atau memang ada maksud tersembunyi? Haruskah Wilna mencari nenek itu dan bertanya maksudnya?
******
"Pagi adikku sayang." Ucap Wilna ketika baru saja sampai di meja makan, dan mengecup singkat pipi tembem Rina. Gadis mungil itu tak bergeming, dia asik bermain dengan boneka beruang dengan raut wajah datar.
"Loh, tangan mama kenapa memar gitu? mama jatuh?" Wilna kembali bertanya dengan alis tertaut bingung. Bisa terlihat jelas kalau lengan kiri ibunya di penuhi dengan dua luka lebam membiru.
Ina menggeleng. "Engga tau, kayaknya sih kepentok meja pas mama tidur. Jadi gak kerasa. Untugnya gak sakit." jawabnya santai sambil meletakkan satu mangkuk bubur sayur ke hadapan Rina.
Wilna merasa tidak masuk akal kalau lebam itu tercipta sangat jelas hanya dalam kurun waktu satu malam, apalagi posisi nakas di kamar orang tuanya sejajar samaa kasur, jadi gimana caranya Ina bisa terpentok? Apa mungkin dia jungkir balik pas tidur? aneh.
"Rina, kamu jangan main ke lantai dua sendirian lagi kayak semalem ya? bahaya tau gak?" tiba-tiba James buka suara.
Sedangkan Wilna melongo. "Hah? adek main ke lantai dua sendiri? kok bisa sih, Rin? Kamu udah lima tahun, masa gak ngerti bahaya?" omelnya seketika.
Gadis mungil itu menatap Wilna dan James dingin. "Rina gak sendiri, Rina di ajak main sama Riri. Dia temen baru Rina. Riri janji bakal jagain Rina."
"Engga, Rin. Kamu jangan ngaco, disini gak ada siapa-siapa selain kita!" Nada bicara Wilna sedikit meninggi.
Pasalnya dia mulai merasakan hal-hal janggal di rumah ini.
"KAKAK GAUSAH IKUT CAMPUR!!!" Rina membentak layaknya orang dewasa yang terlampau emosi.
Suasana hening. James, dan Ina terkejut bukan main melihat perubahan sifat Rina. Tidak pernah sama sekali Rina berperilaku seperti itu. Hembusan angin kencang lantas menerpa wajah mereka di barengi dengan gemuruh guntur.
"Rina capek, Rina mau tidur." Gadis mungil itu lantas turun dari kursi dan melangkah masuk kedalam kamar orang tuanya.
Ina menggeleng menatap Wilna, mengisyaratkan kalau ada sesuatu yang tidak beres dengan diri Rina.
Dengan perasaan campur aduk, Ina buka suara. "Aku ambil cuti tahun ini." nalurinya sangat kuat kalau ada hal janggal pada putri bungsunya.
******
"Rin, kamu main apa? kakak masuk ya?" Wilna memberanikan diri untuk melangkah masuk kedalam kamar orang tuanya, dimana Rina berada. Gadis itu sedang bicara sendiri, di hadapan boneka beruang yang dia sandarkan pada tembok.
Wilna tersenyum tipis, imajinasi anak kecil memang sangat tinggi. "Rin, kakak mau minta maaf kalo ada salah omong. Kakak gak maksud ikut campur kok, kakak cuma-----"
Kalimat Wilna menggantung ketika Rina menoleh dan memperlihatkan separuh wajahnya..
"MAMAAAAAA!!!!!!"
Teriakan nyaring Wilna membuat Ina langsung lari masuk kedalam kamar. "Ada apa, Wil?" tanyanya khawatir.
Wilna menunjuk ke arah Rina yang wajahnya sudah separuh lembam. "RINA! Astaga kamu kenapa bisa kayak gini nak!? Ada apa sama wajah kamu!???" Ina mulai menangis sambil memeluk anaknya.
"Engga, ma. Awas, mama!!" Wilna menggeleng-geleng sambil berteriak histeris karena dia melihat sesuatu.
Sesuatu yang aneh berada di dalam tubuh Rina. "RINA JANGAN!!!" Wilna kembali teriak ketika Rina hendak menusukkan garpu ke punggung sang ibu.
BRUKH!
Wilna berhasil mendorong tubuh Rina hingga jatuh ke lantai, dan pingsan.
15.15 p.m
"Anak kamu sudah di rasuki iblis, ndo. Iblis itu sudah lama tinggal di dalam rumah tersebut dan di kunci kedalam boneka ini." wanita paruh baya berlogat jawa itu mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Rina.
Ina dan Wilna masih tak bisa percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kenapa kamu berani pindah ke rumah terkutuk itu? Penghuni sebelumnya langsung pindah setelah sehari tinggal disana, dan istrinya masuk rumah sakit jiwa."
"Hah? rumah itu milik adiknya suami saya. Gamungkin ada hal seperti itu, dan katanya rumah itu tidak pernah di tinggalin siapapun setelah adik suami saya pindah."
"Bohong." Nenek itu membantah. "Semua penduduk disini sudah tau kalau rumah itu adalah rumah terkutuk. Karena pemilik awalnya adalah seorang dukun santet. Keluarga kamu dalam bahaya, ndo." Lanjutnya menjelaskan.
Ina mulai menangis sambil menatap Rina yang tak kunjung sadarkan diri. "Lalu gimana sama anak saya, nek? Apa nenek ada solusi?"
Si nenek yang di percaya sebagai suhu di daerah tersebut lantas mengangguk. "Pindah, pergi, atau kalian akan mati." Kalimatnya sukses membuat mata Wilna membelalak kaget.
Dia teringat dengan ucapan nenek-nenek berkebaya malam itu.
"Nek, maaf saya ingin tanya. Apa nenek kenal sama nenek berkebaya cokelat di daerah sini? Saya sempet ketemu dua kali, dan dia terus mengucapkan hal aneh." Wilna memberanikan diri untuk bertanya demi menghapus rasa penasaran.
Mendengar pertanyaan tersebut, nenek itu tersenyum manis. "Kenal, dia bukan manusia. Dia kakak saya yang sudah meninggal tahun lalu karena di guna-guna oleh dukun lain. Dia tidak jahat, karena kerjaannya selalu memberi tanda pada orang yang akan mengalami petaka."
Lutut Wilna langsung lemas mendengar hal tersebut, jadi selama ini yang dia lihat itu adalah hantu? Dia bicara dengan hantu malam itu? Gila, tubuh Wilna seolah kehilangan tenaga sekarang.
"Iblis pada tubuh anak ini sudah merasa nyaman, sehingga sulit untuk di keluarkan. Ada dua kemungkinan yang bisa saya berikan. Iblis itu keluar dan anak kamu selamat, atau iblis itu keluar tapi juga membawa jiwa anak kamu."
Tangis Ina kembali pecah, rasa takut langsung menyelimuti dirinya. "Tolong kami,mbah. Kami gatau harus berbuat apa karena ini pertama kali bagi kami mengalami hal diluar nalar. Kami mohon mbah." Ina terus memohon dan nyaris bersujud.
"Tenang saja, saya akan melakukan yang terbaik demi menyelamatkan anak kamu. Tepatnya pada jam delapan malam, besok. Saya akan datang ke rumah kamu. Siapkan seratus lilin putih, benang merah, dan kain putih untuk ritual pengusiran anak kamu."
"Baik mbah." Ina langsung menyetujui.
******
Malam berikutnya....
Wilna sudah membeli barang yang telah di perintahkan, dia juga sempat beradu mulut oleh James yang menganggap hal ini tidak masuk akal. Wajar, James adalah tipe orang yang sangat rasional dan selalu berpikir dengan logika. Beda dengan Ina dan Wilna.
Seluruh lilin di susun oleh Wilna, melingkari kursi kayu yang berada diruang tengah. Ina terus berusaha mengajak Rina bermain walaupun ada rasa takut karena Rina terus menunjukan keanehan. Seperti; suaranya yang tiba-tiba berubah jadi berat, matanya mendelik ke atas, atau berucap mantra aneh.
Tepat pada jam 8, mbah datang masuk kedalam rumah mereka sambil membawa satu nampan sesajen lengkap. Dia meletakkannya di hadapan kursi tersebut, sambil mengucap doa.
"Rina." Mbah memanggil anak itu lembut, dan seketika saja Rina melangkah menghampiri, dan duduk di atas kursinya.
Suasana sangat mencekam, ditambah guntur terus berbunyi dan rintik hujan mulai turun. James mengikat tubuh Rina menggunakan tambang berukuran sedang, dan menutupi wajah Rina menggunakan kain putih.
"Wahai iblis, keluarlah dari tubuh anak tak berdosa ini dan kembalilah ke tempat asalmu." Mbah mulai menyipratkan air dari dalam kendi dan berputar mengitari Rina.
Rina tak bereaksi dalam waktu cukup lama. Tubuhnya diam, kemudian...
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA...." Rina tertawa nyaring seolah mencibir ritualnya.
Mbah tak gentar, Wilna terus saling genggam bersama ayah dan ibunya sambil terus membaca doa di dalam hati. Mereka sangat berharap kalau ritual ini berhasil.
"KELUAR!" Mbah sedikit keras sekarang, tangan kanannya memegang kepala Rina kasar hingga mendongak. "KELUAR DASAR IBLIS PENUH DOSA! TINGGALKAN KELUARGA INI! TINGGALKAN DUNIA INI!" lanjutnya memerintah.
"AAAAAKKKKKKKKKKKKKKKKKK!!" Rina berteriak sangat kencang dan melengking sampai kendi yang berada di genggaman mbah pecah.
Wilna jatuh terduduk, telinganya terasa sangat sakit, dan terus berdengung.
"Sialan! PERGI DARISINI ATAU SAYA USIR SECARA PAKSA!?" ancam mbah penuh penekalan kemudian memegang kepala Rina lebih kuat.
Suara tawa Rina terdengar beda sekarang, sangat dalam dan berat seperti seorang bapak-bapak. "Siapa kalian? Kenapa kalian mengganggu kesenangan saya bersama anak ini? Dia sudah setuju untuk ikut bersama saya." ucapnya lantang.
"KELUAR!" Mbah mendongakkan kepala Rina tanpa memperdulikan ucapan iblisnya.
Iblis itu tertawa karena ritual ini tidak mempan.
Dengan rasa terpaksa, mbah memutuskan untuk membaca mantra rahasia miliknya untuk mengusir setan secara paksa. Ditengah komat kamit, Rina mulai berontak sampai ada angin kencang yang mematikan lilin di sekitarnya.
Suasana gelap, listrik mendadak padam, dan hujan semakin deras.
"Nyalakan salah satu lilinnya." Titah mbah dengan mata terpejam.
James lantas menyalakan lilin tersebut.
Mbah kembali membacakan mantranya dan...
"AAAARRGGHH!!!"
Crat!
Rina memuntahkan cairaan berwarna hitam pekat dan berbau busuk dari dalam mulutnya. Seisi ruangan mendadak mual.
Sedangkan mbah masih terus membaca mantra untuk mengeluarkan iblis itu.
"HUUUEEEKKKKKKK!!!!"
Crat!
Rina kembali muntah, membuat Wilna melotot dan khawatir dengan keadaan sang adik. "Rin, kakak mohon lawan, kamu anak kuat." Gumamnya dibarengi air mata.
"KELUARLAH WAHAI IBLIS PENUH DOSA!!!!!!!" mbah mengakhiri mantranya dengan teriakan berupa kalimat seperti itu.
"AAAAARRRGGHHHHHH!!!" Rina kembali berteriak hingga kursinyaa sedikit melayang keatas dan...
BRUKH!
Kursi itu kembali jatuh ke tanah. Listrik dan seluruh lilin kembali menyala secara ajaib.
Mbah membuka kain putihnya perlahan, menunjukan wajah pucat Rina yang sepertinya telah kehabisan tenaga. Jari mbah memegang leher Rina, bermaksud memerika nadinya.
"Gimana mbah? Gimana sama anak saya?" tanya Ina yang mulai menangis.
Mbah menarik nafas panjang, kemudian jatuh terduduk.
Wilna menggeleng. "Jangan bilang....."
"Rina, kembali."
Dua kata itu membuat seisi rumah menangis haru dan memeluk tubuh Rina erat.
-END-