Makan malam kali ini tak senikmat biasanya. Meskipun ada berbagai macam sayur dan lauk, namun aromanya berhasil dikalahkan oleh bau anyir yang menusuk hidungku saat ini.
Jarak antara semangkuk sayur asam dengan tempat dudukku hanya beberapa senti saja, tapi mengapa bau anyir yang berjarak satu meja makan justru berhasil mengalahkan aromanya?
Tak perlu menebak pun aku tahu siapa pelakunya dan sudah pasti itu adalah ulah Anneth.
Hantu Belanda itu turut hadir pada acara makan malam hari ini. Tak lupa dengan boneka beruangnya yang selalu dibawa ke mana-mana. Hantu itulah penyebab dari bau anyir ini. Begitu mengganggu dan menusuk indra penciumanku.
"Yangti." Aku memanggil Eyang Putri tanpa menoleh ke arahnya. Atensiku saat ini hanya tertuju ke arah Anneth yang sedang menatap ke arahku.
"Adek mau diambilkan lauk apa?" itu suara Eyang Putri. Beliau mengira aku menginginkan lauk lebih.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku kembali bersuara, "Apa Yangti cium bau amis di sini?"
Aku sadar bahwa pertanyaanku berhasil menarik perhatian seluruh anggota keluarga yang hadir di meja makan saat ini. Bahkan, Mamah sudah meletakkan jari telunjuknya tepat di bibirku, agar aku berhenti berbicara.
"Jangan ngomong sembarangan! Ayo, makan." Mamah memberi perintah. Tangannya bersiap untuk memasukkan satu sendok makan ke dalam mulutku.
Namun, aku segera mengalihkan wajahku. "Aku gak mau makan." Lagi pula, siapa juga yang akan tahan dengan bau anyir yang begitu menusuk saat ini?
Bahkan, aku tak hanya mencium baunya saja, karena Anneth sudah menampakkan wujudnya tepat di hadapanku. Begitu kotor dan juga menyeramkan. Bagaimana bisa hantu Belanda itu menampakkan wujudnya dengan sengaja?
Gaun tidur berwarna putih polos itu sudah dilumuri oleh darah. Di bagian dadanya pun terdapat sebuah robekan besar, karena luka tusuk yang diterima oleh Anneth. Tepatnya, di bagian jantung. Bahkan, aku dapat melihat dengan sangat jelas saat puluhan belatung berjatuhan dari bekas luka tusuk itu.
Ughh ... rasanya aku ingin muntah saat melihat penampilan Anneth saat ini.
"Adek lihat apa?" Itu suara Eyang Kakung. Beliau tengah mengamati gerak-gerik diriku saat memandang ke arah sebuah kursi kosong. "Jangan dilihat, biarkan saja," ucapnya lagi.
"Apa Yangkung melihatnya?" Karena jujur saja, aku sedikit terkejut saat mendengar penuturan Eyang Kakung. Apa sosok Anneth bisa dilihat oleh orang lain?
Lalu Eyang Kakung menggelengkan kepalanya, membuat Eyang Putri dan juga Mamah spontan memasang wajah tegang.
"Adek makan saja, biarkan dia duduk," kata Eyang Kakung.
Tentu saja keningku berkerut secara spontan. "Tapi, dia sedikit mengganggu." Bagaimana tidak? Bahkan, kini Anneth tengah berusaha untuk menyentuh punggung tanganku.
Ahh ... percayalah ... gerakan Anneth yang seperti itu berhasil membuat seluruh bulu kudukku meremang. Aku merinding tahu!
"Biarkan saja."
Ah, ini sangat menyebalkan! Andai bersikap acuh terhadap makhluk halus semudah itu, tentu saja aku sudah melakukannya. Tapi masalahnya, hantu Belanda ini teman kecilku. Dia mana pernah menjaga jarak denganku?
"Tapi, Eyang ... dia duduk di sebelah Adek." Tanganku refleks mengepal saat Anneth berhasil menyentuh lenganku.
Di bawah meja makan sana, aku bisa merasakan kakiku yang kejatuhan hewan-hewan kecil. Tentu saja itu belatung. Mereka bergerak dengan sangat cepat saat di area betisku.
Oh, Ya Tuhan ... ini sungguh menjijikan. Tak cukup dengan menampakkan wujudnya yang menyeramkan, Anneth bahkan berhasil menyentuhku dan membuatku merasa jijik. Ini benar-benar sudah di luar batas!
‘Ku mohon ... pergilah, Ann.’ Aku membatin dalam hati sambil memejamkan mata. Sedikit berharap, agar Anneth bisa mendengar suara hatiku.
"Jaga adikmu, Keyra," pesan Anneth dengan suara lirih.
Kedua bola mataku spontan membulat sempurna. "Anneth!" Pekikanku berhasil mengejutkan Eyang Kakung, Eyang Putri, dan juga Mamah.
Lalu sesaat kemudian, aku dapat merasakan — Baca selengkapnya di aplikasi karyakarsa!