02. - Penyendiri -
Michikko tidak menjawab. Di sudut bibirnya yang tersembunyi di balik uraian rambut panjang menyungging senyuman tipis misterius. Ia mengangkat bonekanya dan menimang – nimang setelah itu dengan penuh kasih sayang mendudukkannya pada sebuah kursi batu. Gadis itu mendekatkan telinganya pada mulut boneka, mulut boneka itu bergerak naik turun dan Michikko mengangguk – anggukkan kepala. Sebuah pemandangan yang tidak lazim, seolah – olah dua sosok di hadapan lima pemuda itu bercakap – cakap.
Michikko termenung sesaat,
‘Watashi wa sorera o korosubekidesu ka?’ ( “Apa aku harus membunuh mereka ?” ) tanyanya dalam bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh Seto dan kawan – kawan.
Mendadak terdengar suara parau, namun, suara itu hanya didengar oleh Michikko seorang, ‘Anata ga karera o korosanakereba, karera wa anata o koroshimasu. Anata wa karera no yōna kurutta hitobito no te de oroka ni shinubekidesu ka’
( “Jika kau tak membunuh mereka, merekalah yang akan membunuhmu. Haruskah kau mati konyol di tangan orang – orang gila seperti mereka ?” ).
Michikko menggeleng – gelengkan kepalanya, keningnya berkerut,
‘Īe. Kore wa tadashiku arimasen, karera wa tada tanoshinde imasu... Watashi wa sore o suru koto ga dekimasen, gomen'nasai‘
( “Tidak. Ini tidak benar, mereka hanya iseng saja... aku tak bisa melakukannya, maaf,” ).
‘Orokana shōjo! ! ! Karera wa dōbutsu no kokoro o motta ningendesu. Sorera ni taisho suru koto wa, tadashī ka machigatte iru ka o hanasu tame ni mohaya hitsuyōde wa arimasen! Watashi no meirei ni hantai shimasu ka!!'
( “GADIS TOLOL !!!Mereka adalah manusia – manusia berhati binatang. Berhadapan dengan mereka tidak perlu lagi bicara benar atau salah ! Apa kau hendak menentang perintahku !!” )
Michikko tersentak, tahu – tahu ia sudah berada di tempat lain. Tempat itu gersang, banyak sekali tumbuh – tumbuhan kering dan meranggas [ luruh secara massal (tt dedaunan), baik krn sebab-sebab alami maupun krn serangan hama dan penyakit ]. Tanah di sekitar tempat itu kering dan retak – retak bagaikan terbakar oleh sengatan matahari di musim kemarau yang panjang dan di hadapannya berdiri seorang nenek tua bongkok, berpakaian hitam, berambut awut – awutan, tangan kanannya memegang sebuah tongkat berwarna hitam dengan ukiran ular melingkar sementara kepalanya adalah kepala tengkorak manusia.
Dua kilatan cahaya kecil memancar dari sela – sela rambutnya yang kelabu dan menutupi hampir seluruh wajahnya. Kilatan cahaya itu begitu tajam menusuk, membuat Michikko tak berani menatapnya lama – lama.
`Gozonji no yō ni, orokana shōjo… o bāchan no Takano Ria ni awanakattara, koko made sumu koto ga dekinakattadarou. Watashi ga subete no chisei o kare ni okutta nochi, kore wa anata no hōshūdesu ka?'
( “Ketahuilah, gadis tolol... jika aku tak melihat nenekmu Ria Takano, mungkin kau takkan bisa hidup sampai saat ini. Inikah balasanmu setelah kuturunkan semua ilmu kepandaianku padanya ?” ), suaranya menyakitkan telinga, serak dan parau bagaikan burung gagak.
Dengan kedua belah tapak tangannya Michikko menutup sepasang telinganya sambil berseru keras, `Takano Ria ga darena no ka wakaranai! Anatahadaredesu ka, watashi o kinishinaide kudasai! Ike!’
( “Aku tak mengenal siapa itu Ria Takano ! Siapa kau, jangan ganggu aku ! Pergi !” ).
`Kare... Kare... Kare... Kare... Kare... Anata wa watashi o oidasu yūki ga arimasu ka? Watashi ga ikite iru ma, dare mo watashi o chūmon dekinai koto o shitte imasu ka, anata no ningyō o mite kudasai. Dare ga kono ningyō o kureta no ka oboete imasu ka?'
( “He... he... he... he... he... kau berani mengusirku ? Tak tahukah kau bahwa selagi aku masih hidup, tak seorangpun boleh memerintahku, lihatlah bonekamu. Ingatkah kau, siapa yang memberimu boneka ini ?” ).
`Misakko wa watashinohaha kara no okurimonodesu. Kanojo wa watashi ga shitakunai koto o suru yō ni watashi ni iu koto ga dekimasen.'
( “Missukko, adalah pemberian ibuku, dia tak mungkin menyuruhku melakukan hal – hal yang tak kuinginkan,” ), sambil berkata demikian Michikko menggendong dan menimang – nimang bonekanya, sementara bibirnya bersenandung lirih :
‘Komori-uta, komori-uta... Nenaito ka ni sasa rete…’
Itu adalah lagu nina bobo yang dinyanyikan dalam bahasa Jepang. Mendadak angin berhembus perlahan, memainkan setiap helai rambut panjang Michikko. Gadis itu menengadah ke langit dan suasana yang tandus dan gersang itu perlahan – lahan berubah menjadi sebuah tempat yang penuh dengan bunga sakura dan sepasang mata Michikko menyapu ke sekitar dan terhenti pada sesosok tubuh wanita berkimono putih. Rambutnya hitam panjang disanggul dengan rapi, sanggulan pertama seakan menutupi bagian belakang kepala, sanggulan kedua sedikit lebih kecil dari sanggulan pertama begitu pula sanggulan ketiga dan keempat semakin ke atas semakin kecil dan sebuah tusuk konde berwarna merah dengan ukiran bunga sakura menancap pada sanggulan paling atas sebagai aksesoris.
Wanita itu berkulit kuning langsat, cantik mempesona, sebagian wajahnya tertutup oleh bayangan payung merah muda dengan corak bunga sakura.
‘Anatahadare? Watashi wa anata o shitte imasu ka?’
( “Siapa kau ? Apakah aku mengenalmu ?” ), tanya Michikko.
Wanita itu menoleh perlahan, sepasang matanya bulat menatap Michikko dengan lembut, ia tersenyum lalu berkata,
`Anata wa michikko no tadashī koto o shimashita. Watashi wa anata o hokori ni omou,’
( “Kau melakukan hal yang benar Michikko. Aku bangga padamu,” ).
Sepasang mata bulat dan indah Michikko beralih ke arah boneka yang disodorkan oleh Seto. Hanya sesaat saja, ia kembali memain-mainkan Missukko dan tidak lagi peduli dengan Seto yang kini menunjukkan air muka tidak senang, “Hei, Michikko ... aku sedang berbicara padamu, tidak bisakah kau menghargaiku walau sedikit saja !”
Diam. Habis sudah kesabaran Seto, lalu dengan kasar ia merebut Missukko dari tangan pemiliknya dan melemparkan jauh-jauh. Air muka Michikko berubah menjadi tidak senang, “Apa salah Missukko hingga diperlakukan seperti itu ?” tanyanya sambil berdiri hendak meraih bonekanya. Saat tangannya hampir meraih boneka yang tergeletak di dekat kaki Pandu, Pandu menendangnya jauh-jauh. Boneka itu melayang tinggi ke udara dan saat hendak jatuh Lino meraihnya dan melemparkannya tinggi-tinggi ke udara, saat hendak mendarat sebuah tangan lain menyambar dan kembali melemparkannya tinggi-tinggi ke udara.
Boneka itu dibuat mainan oleh 5 orang itu sementara Michikko berteriak-teriak meminta agar bonekanya dikembalikan. Tapi, tak ada yang peduli hingga 5 orang itu berlari meninggalkan tempat itu sambil memain-mainkan Missukko. Michikko mengejar dan bermaksud merebut kembali bonekanya, tapi, lagi-lagi Pandu, dan kawan-kawan masih terus melakukan perbuatan iseng dan nakalnya sambil tertawa-tawa.
Kejar-mengejar terjadi hingga menuju ke halaman sekolah. Michikko tertinggal cukup jauh. Karena tak berhasil mengejar Seto dan kawan-kawan, ia putus asa. Dalam keputus asaannya ia jatuh terduduk dan menangis, membiarkan dirinya menjadi tontonan para siswa-siswi lain. Tanpa disadari, sebuah tangan lembut memegang bahu Gadis Jepang itu, “Mereka keterlaluan sekali,” Michikko menoleh, tampak olehnya seorang siswi jelita tengah menatapnya dengan perasaan iba. THALIA, sahabat karib Michikko satu-satunya, “Biar aku yang menanganinya,” sambil berkata demikian ia berdiri dan melangkah ke arah Seto dan kawan-kawannya yang berdiri agak jauh dari Michikko berada.
“Kalian keterlaluan sekali, merebut paksa boneka kesayangannya. Mana ... mana boneka itu kembalikan padaku atau kuhajar kalian,” ujar Thalia geram.
“Mengapa kau membela gadis Jepang itu ? Apa kau jatuh cinta padanya dan ingin menjadi lesbiannya ?” sahut Pandu.
“Tutup mulut kotormu, Pandu. Mana ? Kemarikan boneka itu,” tegas Thalia.
Lino memberikan Missukko pada Thalia, dengan sigap Thalia meraihnya, “Jangan sekali-kali kalian mengganggunya lagi atau kalian berurusan dengan guru BP,” ancamnya lalu meninggalkan Seto dan yang lain. Tanpa disadari oleh Thalia, tampak Raga berbisik ke telinga Seto, “Untuk sementara kita biarkan dulu wanita Jepang itu bernafas lega. Selama Thalia ada disampingnya, kita tidak akan bisa bebas memperlakukannya sesuka kita, bukan ?”
“Aku jadi merasa iba dengan gadis Jepang itu,” ujar Edward.
“Hei, jangan-jangan kau naksir padanya, ya ?” sahut Lino.
“Mungkin, ya ... mungkin tidak,” jawab Edward singkat.
“Dasar, Playboy,” sahut Lino sambil menepuk pundaknya, “Tapi, jika kau benar-benar jatuh cinta padanya... kami akan kehilangan satu-satunya sahabat terbaik,”
“Hei, Michikko ... ini bonekamu. Jangan menangis lagi, malu dilihat orang,” kata Thalia sambil menyodorkan Missukko ke hadapan Michikko yang masih menangis.
“Arigato gosai mass ( Terima kasih banyak ),” ucap Michikko sambil menerima untuk kemudian memeluk erat Missukko lalu meninggalkan tempat itu diikuti dengan Thalia.
“Kalau boleh tahu, apa keistimewaan boneka ini hingga kau begitu memperhatikannya sedemikian rupa ?“
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Michikko. Sekalipun Thalia sudah menjadi sahabatnya semenjak masuk di SMA TIDAR I, baginya, Michikko adalah sosok wanita misterius. Tak bisa memahami isi hatinya. Menyaksikan Michikko menangis, ia sadar bahwa sebenarnya wanita Jepang itu membutuhkan teman untuk diajak bicara. Tapi, ia tak tahu bagaimana harus memulai percakapan yang bisa membuat atau menggerakkan hati wanita itu untuk terus bercerita tentang latar belakangnya. Michikko tetaplah sosok misterius baginya dan membuat penasaran orang yang berada di dekatnya. Boneka yang dibawanya itu, tampaknya juga bukan boneka sembarangan, ada sebuah kekuatan mistis tersimpan di dalamnya. Itu ia rasakan saat membawa dan kekuatan itu hilang saat Michikko menerimanya kembali.
Sekian lamanya mereka berdiam diri, Thalia merasakan bulu kuduknya berdiri. Sebuah hembusan angin tajam nan dingin membuatnya merasa tidak nyaman. Pada saat itu Michikko berkata dengan suara berat dan dalam, “Dia datang,”
Thalia menoleh kesana kemari, “Siapa ?” tanyanya bingung.
“Dia,” kata Michikko sambil menunjuk ke samping kanan Thalia sementara wajahnya tertunduk dan membiarkan rambutnya menutupi wajah.
“Michikko, jangan membuatku takut, di tempat ini hanya kita berdua saja tak ada orang lain lagi,” ujar Thalia sambil perlahan-lahan menoleh ke arah kanan. TIDAK ADA SIAPAPUN, tapi, ada rasa takut menjalar dari ujung kaki sampai ke ujung rambutnya. THALIA MERINDING.
`Sate, kiwotsukemasu'
(“Baiklah, aku akan berhati-hati,” ) ujar Michikko tiba-tiba.
“Apa maksudmu, Michikko ? Mengapa aku merasa tak nyaman sekali ?” tanya Thalia sambil menggosok-gosok bahu kanannya. Hawa dingin itu berangsur-angsur hilang dan kembali normal. Thalia baru bisa menarik nafas lega. Itu adalah kejadian yang pertama kali ia alami saat bersama dengan Michikko.
_____
Bersambung jilid ke-3