Hah...Hah...Hah...!!
"Jangan mendekat! Pergi...! Aku bilang pergi!!"
Teriak Delia histeris, gadis berusia sepuluh tahun tersebut menangis ketakutan di dalam kamarnya.
Bugh...!! Tubuhnya mengejang seketika dan ia pun jatuh terjembap ke belakang dengan tubuh kaku.
Delia...Delia...Delia...
Suara mendayu-dayu tersebut terdengar semakin lama semakin jelas di Indra pendengaran Delia. Suara wanita di iringi tawa cekikikan yang membuat bulu kuduk seketika meremang di selangi suara-suara menyeramkan lain terdengar memenuhi ruangan.
Di sudut ruangan, nampak seorang nenek renta memakai kebaya berwarna gelap, rambutnya bagai jerami tak beraturan. Di atas lemari, seorang wanita berwajah pucat, mata bulat berdarah dengan lidah menjulur tak lupa kain putih Kumal dan rambut panjang menjuntai hingga ke lantai, tengah duduk sembari mengayun-ngayun kan kaki nya.
Delia membelalakkan matanya, dia hanya bisa berkedip tanpa bisa bersuara. Tubuhnya kaku, dan entah mengapa dia bisa melihat semua makhluk mengerikan seperti itu.
'Mah! Mamah! Tolong!' Suara itu hanya bisa ia dengar sendiri. Mulutnya terkatup rapat bahkan dia tak bisa menggerakkan satu jari pun.
Dari ke gelapan muncul sesosok tubuh tinggi hitam, yang sekujur tubuhnya di penuhi bulu lebat, matanya merah namun dia memiliki tanduk seperti kerbau.
'Ma-mau apa mereka?' detak jantung Delia semakin cepat, rasa takut memenuhi hatinya darah di sekujur tubuhnya seolah mengalir dengan cepat.
Keringat dingin membanjiri tubuhnya, matanya terus beredar memerhatikan mahkluk itu tiada henti, Delia takut jika salah satu dari mereka mendekat.
Tes...Tes...
Sesuatu menetes membasahi pipi Delia. Pandangan Delia langsung mengarah ke tempat cairan itu menetes.
Deg...Deg...
Jantung Delia seolah akan meledak, kala melihat sebuah kepala tanpa tubuh berlumuran darah tergantung tepat di atas wajahnya.
Arrrggghhh...!!!
Delia berteriak histeris. Namun tetap saja suasana di dalam sana tetap hening, Delia hanya bisa berteriak di dalam hati.
'Tolong! Siapa saja tolong aku! Aku takut.' Air mata meleleh dari kedua sudut matanya.
Kepala itu menyeringai menampakan giginya yang menghitam bercampur darah, Delia tak bisa menyimpulkan itu laki-laki atau perempuan. Yang pasti hanya rasa takut yang saat ini merundung dirinya. Delia menutup mata sambil menangis dia sudah tak sanggup lagi jika harus terus begini.
"Delia sayang! Kenapa kamu tidur di lantai? Astaga, Pah, Papah! Sini Pah!" Terdengar suara yang Delia kenal itu Mamahnya.
Dengan perlahan Delia membuka matanya, sesosok wanita cantik dengan wajah meneduhkan mata berjongkok di hadapannya.
Bruk...!! Delia langsung bangun dan menabrakkan diri pada Ibu nya.
"Mah Delia takut Mah!" Delia membenamkan wajah di dada Ibunya sambil terisak.
"Takut apa sayang? Ada apa?" Mamahnya berucap dengan perasaan khawatir.
"Mereka selalu menggangguku!" Tunjuk Delia ke sudut kamar masih sembunyi dalam pelukan sang Ibu.
"Mereka siapa? Disini tidak ada siapa pun?"
Tap...Tap...Tap...
Suara langkah kaki terburu-buru terdengar mendekat.
"Ada apa Mah? Kenapa teriak-teriak?" Ujar Ayah Delia dengan napas terengah-engah.
Ibunya hanya menjawab lewat isyarat mata lantas menggeleng pelan, dia juga tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Mah aku gak mau tidur sendirian," rengek Delia.
"Ia, malam ini kamu tidur di kamar Mamah. Sudah jangan menangis." Mamah mengusap air mata di pipi Delia. Ayahnya pun menggendong Delia di punggungnya.
Selama beberapa hari Delia selalu berteriak-teriak ketakutan tiap kali dia sendirian, ketika di sekolah pun dia acap kali di temui Nenek renta yang sebelumnya Ia lihat di kamarnya. Hingga gadis kecil itu terlihat murung dan menjadi penyendiri karena teman-temannya menganggap dia aneh.
Delia berjalan menuju toilet karena ingin buang air kecil, sejujurnya dia takut pergi sendirian, namun dia tak punya pilihan lain.
Kriet...
Delia menutup pintu toilet, entah mengapa suara pintu toilet terasa menyeramkan di keheningan jam sekolah.
Delia secepat mungkin melakukan niatnya dan kembali membenahkan pakayannya. Namun, sesuatu yang dingin menyentuh pundaknya.
Seketika, tubuh Delia kembali mengejang tubuhnya tak mampu Ia kendalikan Ia jatuh terduduk dengan punggung menyadar di dinding toilet.
Namun, entah mengapa dia selalu saja sadar dan itulah yang amat Delia sesali mengapa dia tidak pingsan saja. Dan kejadian di dalam kamar pun kembali terjadi.
Sesosok makhluk berambut awut-awutan muncul dari dalam bak mandi, kuku-kuku panjangnya yang hitam amat menjijikan. Di luar dugaan Delia, Nenek-nenek yang sering Ia lihat pun tiba-tiba hadir di sana dan berdiri di sudut ruangan.
Delia ingin berteriak, namun tak bisa dia hanya bisa menangis ketakutan dan memejamkan mata berharap saat dia bangun semua yang Ia lihat telah lenyap dari pandangan.
Perlahan, Delia bisa kembali menggerakkan jemarinya, Ia mencoba menggerakkan Kakinya pula dan dia mencoba bangun dengan mata masih terpejam. Dia membuka pintu dan berlari secepat mungkin dari sana.
Bruk...!! Delia menubruk seseorang dan jatuh terpental ke belakang.
"Delia ada apa?" Suara yang Ia kenali, perlahan Delia membuka matanya. Raut wajah meneduhkan terpampang jelas dari wajah seorang guru Pria paruh baya yang Delia tahu Ia bernawa Pak Suwandi.
Delia hanya diam tak menjawab, dia takut di cap orang aneh lagi. Dia hanya menggeleng sembari menunduk.
"Sudah-sudah jangan takut, Bapak di sini mereka tidak akan berani mendekat." Ujar Pak Suwandi membuat Delia sektika mendongak.
"Bapak tahu mereka?" Pak Suwandi mengangguk meng Ia kan.
"Pak tolong saya takut!" Delia terisak lirih.
"Iya, kamu tenang saja Bapak pasti akan menolong kamu."
Pak Suwandi membantu Delia berdiri. Pak Suwandi seorang ustadz yang biasa mengajar pelajaran Agama di sekolah Delia, dia selalu datang hari Jum'at untuk mengajar di kelas Delia, namun Delia tak tau tentang kelas lain, karena dia tak pernah memerhatikan.
"Sepertinya, mata batin kamu tak sengaja terbuka. Kamu sangat menarik bagi mereka, tubuh kamu seperti magnet yang membuat mereka selalu ingin mendekat, untung kamu punya dia." Ujar Pak Suwandi dengan tenang, wajahnya yang meneduhkan mata serta pakaian khas ustadz yang Ia kenakan membuat Delia merasa aman.
"Mata batin itu apa Pak?" Delia tak mengerti dengan ucapan guru nya itu.
"Mata batin itu, semacam Indigo dia bisa melihat semua makhluk tak kasat mata. Tapi dalam kasusmu ini hanya tak sengaja saja terbuka. Coba katakan pada Bapak, apa ada yang kamu lakukan atau baca sebelumnya?"
Delia terdiam mencoba mengingat semua yang Ia lakukan sebelum semua ini terjadi. Dia ingat! Minggu lalu dia berlibur ke rumah Kakek nya dan dia mendapati sebuah buku di dalam lemari tua, saat dia tengah melihat foto-foto Ibunya semasa kecil. Dia tak sengaja membaca sebuah kalimat yang Delia sendiri tak tau apa artinya, karena kata yang tertulis di sana dalam bahasa yang berbeda.
Setelah semuanya terbuka Pak Suwandi menemui orang tua Delia dan mengungkapkan apa yang Ia ketahui. Ia membantu menyembuhkan Delia dan menutup mata batinnya. Dia juga mengatakan jika Nenek tua yang sering Delia lihat adalah Khodam nya yang melindungi Delia selama ini dari gangguan makhluk halus yang ingin menguasai dia.
Note Author:
Cerita ini terinspirasi dari kisah seorang Anak penderita Epilepsi, cerita ini tidak membuktikan apa pun ini murni imajinasi author semata.
Semoga kalian terhibur😊mohon maaf bila ada salah kata, dan mohon dukungannya🙏