Malam itu, suasana di desaku begitu dingin. Tak seperti biasanya, sunyi dan sepi.
Mak ijah tetanggaku, tiba-tiba ingin buang air besar. Di desaku waktu, pada tahun 90an MCK belum banyak di rumah pribadi.
Semua aktivitas MCK masih dilakukan di sungai di desaku itu, begitu juga malam itu mak Ijah kebelet buang air besar akhirnya dia memberanikan diri ke sungai sendirian.
Jarak antara sungai dan desaku tidak terlalu jauh, ada sekitar 10 km jaraknya dengan rumah terdekat. Sungai itu sudah masuk bagian dari desa ini.
Saat mau ke sungai, kami harus melewati pohon Asam yang sangat tinggi dan besar. Satu-satunya pohon besar yang berdiri di sana.
Sebenarnya, ada pohon lain yang ada di sana tetapi yang paling tinggi dan besar hanya pohon Asam itulah yang ada.
Mak Ijah tiba-tiba merinding saat melewati pohon Asam itu, perasaannya tidak enak antara mau pulang saja atau teruskan ke sungai.
Karena sudah kebelet, beliau nekat ke sungai melewati pohon itu.
" hik..hik.. mak.. " terdengar suara anak kecil menangis.
Mak Ijah kaget mendengar suara itu, anak siapa yang menangis malam-malam begini? pikirnya.
Mak Ijah berusaha menghiraukan suara itu, dia terus berlari menuju sungai. Saat setibanya, mak Ijah langsung menunaikan hajatnya.
" Mmak, lihat anak saya gak? " tiba-tiba ada suara perempuan bertanya pada Mak Ijah.
" Enggak, mana ada anak kecil berkeliaran malam-malam begini. Apalagi ini sungai. " Jawab mak Ijah.
Dia tak peduli dengan perempuan itu, bahkan melihatnya saja dia tidak. Hingga dia berpikir siapa malam-malam begini nyari anaknya di sungai?
Setelah selesai, mak Ijah kembali pulang ke rumah. Saat melewati pohon Asam itu, mak Ijah kembali teringat dengan suara tangis anak kecil tadi.
" Apa jangan-jangan anak yang menangis tadi itu adalah anak perempuan tadi yah? " gumam mak Ijah.
Dia berlalu pergi, dan..
" Mak, makasih anak saya sudah ketemu.. "
" Hehehe... "
Terdengar lagi suara perempuan tadi dan diiringi suara ketawa anak kecil.
Mak Ijah refleks menoleh kearah suara, betapa kagetnya dia ada perempuan memakai baju daster serba putih dengan rambut panjang terurai sampai ke depan, disampingnya ada anak kecil berkepala botak yang seluruh tubuhnya berwarna hitam kelam.
Karena suasana malam itu disekitaran pohon dan sungai itu gelap, hanya di sinari cahaya bulan.
Nampak samar-samar wujud itu sambil melambai kearah mak Ijah.
Sontak mak Ijah menjerit histeris, dia berlari kencang kearah desa.
" Tuloongg.. tuloong.. " teriak mak Ijah.
Pada malam itu, ada sekumpulan pemuda yang baru pulang main. Biasanya mereka kalau malam suka kumpul ke rumah temannya secara bergiliran.
Malam itu giliran rumah Dimas, antara rumah Dimas dan sungai tak terlalu jauh. Saat mereka pulang mereka mendengar suara jeritan mak Ijah.
" Kenapa mak? kenapa menjerit begitu? " tanya salah satu pemuda itu.
" Ada itu.. hah..hah.. putih, perempuan, anak.. " mak Ijah kesulitan menjelaskannya.
Dia kesulitan mengatur napasnya, maklumlah wanita paruh baya ini sudah cukup tua untuk berlari kencang.
" Udah Zal, antar mak Ijah pulang dulu yuk " kata salah satu temannya itu.
Rizal, nama pemuda itu juga bertetangga dengan mak Ijah.
Sesampainya di rumah, mereka masih penasaran dengan mak Ijah tadi.
" Mak, tadi kenapa menjerit minta tolong? " tanya Adi, salah satu teman Rizal itu.
" Udah, besok aja nanyanya. Kalian lebih baik cepat pulang sana, ini udah malam. " Setelah itu mak Ijah langsung masuk rumah dan menutup pintu itu dengan rapat.
" Mak Ijah kenapa yah Di? " tanya Rizal.
" Yah, aku ga tahu juga Zal. Emm, Zal.. To, temani aku ke sungai yuk, kebelet ini " kata Adi kepada Rizal dan Anto, temannya.
" Ah males, udah malem ni. Aku mau pulang, tidur. Dah.. " sahut Rizal, dia juga masuk ke rumahnya.
Rumahnya sangat dekat dengan rumah mak Ijah, hanya seberang jalan aja, jalan setapak kecil buat dilalui orang-orang jika ingin ke sungai.
" To, temani yah. Kebelet nih.. " kata Adi sedikit merengek kepada temannya itu.
" Ya udah, udah.. cepetan sana. " Jawab Anto dengan males.
Dia sebenarnya tidak mau, tapi kasihan juga lihat temannya itu. Keringat dingin mengucur menahan sakit perut yang sudah dia tahan dari tadi.
Adi berlari kearah sungai, dia sudah tak tahan. Saat melewati pohon Asam, samar-samar dia mendengar suara senandung diiringi tawa anak kecil.
Dia tak terlalu memperhatikan, karena sudah tak tahan menahan rasa sakit perutnya yang meronta-ronta ingin dikeluarkan isinya.
Saat dia sampai di sungai, dia menyadari Anto tak bersamanya.
" Si*lan tuh bocah, aku dibiarin sendirian disini " gerutu Adi.
Tetapi Adi salah, saat Anto menyusul Adi yang sudah berlari kencang menuju sungai, Anto melihat sesuatu sedang bergelantungan di pohon Asam itu.
Dia takut, tidak berani melewatinya. Dia jadi teringat dengan mak Ijah tadi, jangan-jangan sosok itu yang membuat mak Ijah lari ketakutan.
Saat dia ingin berbalik arah, dia sempat melihat sosok itu terbang kearah sungai.
" Mam*us, Adi ada di sana lagi. Mudah-mudahan tuh bocah ga kenapa-kenapa. " Katanya sambil berlalu pergi.
Saat di sungai, Adi masih fokus dengan hajatnya.
Tiba-tiba ada yang menyapanya.
" Lagi apa bang? " kata suara itu.
" lagi Be*ak lah, ngapain lagi " jawab Adi sekenanya.
Lama kemudian, suasana menjadi hening. Perasaan Adi menjadi tidak enak, kalau seandainya orang itu sudah pergi pasti terdengar suara langkahnya kan?
Tapi tunggu dulu, saat dia datang juga tak terdengar suaranya?
Saat diamnya, dia jadi teringat dengan mak Ijah tadi.
" Si*l, kenapa baru sekarang ingatnya, kenapa ga dari tadi. Maakk.. " Adi gemetaran, sambil berdiri membetulkan celananya.
Dia menoleh kebelakang, dengan perasaan campur aduk dia memberanikan diri menatap apapun yang ada dibelakangnya.
Saat dia menoleh, sosok perempuan berbaju putih duduk bersila di atas batu besar dipinggir sungai itu.
Dengan Rambut panjang kusut masai terurai sampai ke depan, sedikit menutupi wajahnya. Terlihat matanya sebelah warna merah menyala.
" Maak.. mak.. makk.. " Adi menjerit histeris.
Lari tunggang langgang sesekali di terjatuh, celananya yang tidak sempat dia resleting melorot jatuh, membuatnya agak susah berlari.
" Hii..hii..hi.. " terdengar suara wanita tertawa nyaring di belakang dan semakin dekat.
Membuat Adi semakin ketakutan hingga tak sadarkan diri.
**
Beberapa saat kemudian, Adi terbangun oleh suara azan subuh.
Dia membuka matanya pelan-pelan, di sana sudah ada Ibunya yang menangisinya sedari tadi.
Dia bangun, dirumahnya sudah ramai orang dan di sana juga ada Anto temannya.
" Kamu kenapa nak, kenapa pingsan di sana? " tanya bapak Ramlan, Ayahnya Adi.
" Aku ga tau pak, aku habis buang hajat di sungai. Tiba-tiba ada seorang wanita mengerikan menggangguku, dan aku ketakutan pak, huuu... " Adi menceritakan kejadian malam tadi, dia menangis seperti anak kecil.
" To, kenapa kamu tak temani aku ke sungai, kamu malah pergi tinggalin aku sendirian. " Kata Adi, dia terlihat marah pada Anto.
" Aku mau menemanimu Di, tapi kamu berlari terlalu kencang. Jadi aku menyusulmu dari belakang.
Saat aku menyusul mu, aku juga melihat sesuatu dari pohon Asam itu.
Aku takut, jadi aku balik lagi buat pulang, saat itu aku juga sempat melihat sosok itu terbang ke arah sungai.
Aku takut kamu kenapa-kenapa Di, jadi memutuskan memanggil bapakmu dan orang desa lainnya untuk menemuimu " jawab Anto panjang lebar.
Semua orang mengerti, ternyata ada sesuatu di pohon Asam itu.
" Sudah, sudah.. nak Adi sudah siuman, sudah dipastikan dia baik-baik saja.
Lebih baik kita semua sholat subuh berjamaah di masjid aja, mari doakan semoga desa kita selalu aman dan tentram. " kata pak Ustadz Ramli.
Akhirnya semua warga membubarkan diri dari rumah Adi, mereka semua sholat berjamaah di masjid desa tersebut.
Pak Ustadz Ramli pulang ke rumah, dengan sedikit perasaan lelah.
Dia baru saja pulang dari pengajian di desa seberang, yah letaknya lumayan jauh. Beliau termasuk Ustadz terkenal di daerahnya.
Banyak orang meminta tolong padanya untuk memimpin pengajian di rumah atau di desanya.
Saat itu, beliau baru pulang dari desa yang letaknya lumayan jauh.
Saat mengendarai motornya, dia dicegat beberapa warga. Mereka meminta tolong untuk menyadarkan Adi yang pingsan karena terjadi sesuatu padanya.
Makanya, dia menyempatkan diri untuk membantu warga yang kesusahan di desanya.
" Assalamualaikum.. " pak Ustadz memberi salam saat masuk rumahnya.
" wa'alaikumsalam.. " jawabku.
Iya, pak Ustadz Ramli adalah Ayahku.
" Bapak, pulangnya pagi sekali. Tidak biasanya pak? " Tanyaku pada Bapak.
" Tadi ada urusan sebentar, Ibumu mana? " tanya Bapak.
" Ibu lagi masak buat sarapan pak " jawabku lagi.
Saat itu hari kamis, aku bersiap untuk sekolah di salah satu madrasah Aliyah negeri di kotaku.
Seperti biasa, sebelum berangkat aku membantu Ibu dulu di rumah, beberes rumah atau mencuci pakaian.
Pagi ini, aku mau membantu Ibu mencuci pakaian. Karena pagi ini Ibu mau pergi ke desa sebelah, ada saudara melakukan hajatan.
Seperti tradisi di desa kami, kalau ada saudara ada hajatan biasanya jauh-jauh hari kami sudah membantu mereka menyiapkan segalanya.
Pagi itu, aku membawa cucian cukup banyak ke sungai. Aku sengaja pagi-pagi sekali pergi ke sungai untuk mencuci, sekalian buat mandi juga.
" Bu, Naura pergi ke sungai dulu yah? " pamitku pada Ibu.
" Pagi sekali nak, tidak apa kamu sendiri? " tanya Ibu.
" Gak apa bu, ini sudah mau setengah enam. Bentar lagi sungai juga rame sama orang-orang " jawabku.
Pada saat itu, kami tidak tahu kejadian malam tadi, bapak tak sempat bercerita kepada kami soal kejadian Adi semalam.
Beliau terlihat kelelahan, ingin beristirahat sebentar sebelum mengantar Ibu ke rumah bi Temi. Saudaranya Ibu.
Aku berjalan sendirian kearah sungai, suasana diluar begitu sepi tidak seperti biasanya.
Saat melewati pohon Asam, sekelebat aku melihat bayangan orang dibawah pohon Asam itu.
Tapi aku tak menghiraukannya, setelah sampai aku sudah menyibukkan diri dengan cucian lumayan banyak itu.
Aku berusaha cepat mencuci baju, biar cepat selesai mandi dan pergi sekolah. Hari sudah mulai terang, tapi pagi itu nampak sepi sekali.
Biasanya orang-orang sudah ramai ke sungai, mencuci, mandi bahkan buang hajat di sana.
Tapi pagi itu berbeda, ada perasaan tak enak yang aku rasakan. Saat semuanya selesai, aku bergegas mandi.
Aku mandi besar, habis selepas haid. Aku mencoba menyelam masuk kedalam air, samar-samar aku melihat seseorang duduk diatas batu memperhatikanku mandi.
Celupan pertama selesai, kembali masuk kedalam air aku melihat ada orang didalam air, berenang kearah ku, aku buru-buru keluar air.
Tak satupun aku melihat orang disekitaran sungai, untuk ketiga kalinya aku berendam kedalam air aku terkejut dengan sosok wanita pucat sedang memegangi kakiku.
Aku berusaha keluar tapi tak bisa, dia menahan kakiku. Aku tak bisa mengeluarkan suaraku didalam air.
Napasku tertekan, hampir tak bisa bernapas. Rasa takut dan tak bisa bertahan lama didalam air membuatku panik.
Aku sudah tak tahan, sosok itu mendekatkan wajahnya kearahku. Wajah putih pucat dengan bola matanya hitam semuanya, dia membuka mulutnya lebar-lebar.
Seolah-olah ingin mengatakan sesuatu, aku hampir tak sadarkan diri tapi aku bisa merasakan, tubuhku seperti ditarik keluar air.
Aku sempat mendengar dia berbisik..
" Tubuhmu wangi.. aku mau.. " katanya.
Saat itu aku sudah tak sadarkan diri.
Saat aku bangun, aku sudah di rumah. Aku melihat begitu ramai orang-orang mengelilingiku, aku mendengar beberapa orang berbicara.
" Emang pak Ustadz ga bilang apa ke Naura, kalau saat ini sungai berbahaya.. " kata Bapak-bapak yang ada di sana.
" Udah, saat ini jangan ada dulu ke sungai. Kalau mau nyuci atau mandi, ke sumur saja.
Bagi yang tidak punya, boleh menumpang pada warga lainnya yang punya. " sahut lagi Bapak lainnya.
Saat ini aku berada didalam kamar sama Ibu dan beberapa Ibu-ibu yang lainnya.
Setelah berpakaian, aku menghadap ke Bapak dan para warga lainnya.
" Kamu kenapa Ra, masa mandinya jauh banget. untuk ga hanyut kamu, mana dalam banget lagi.. " kata salah satu warga, dia adalah Andri salah satu teman main sekaligus teman sekolah juga.
" Apa? aku tadi mandinya tidak jauh kok, dekat dengan cucianku. Bahkan tidak terlalu dalam airnya " jawabku jujur.
Mereka akhirnya menjelaskan padaku, kalau aku ditemukan hampir tenggelam di sungai.
Akhirnya aku kapok mandi ke sungai sendirian. Dan saat ini Pohon Asam itu masih ada, sosok makhluk itupun masih misterius.