Zia terus saja menangis memikirkan kekasihnya.
" Zie , mau sampai kapan lo akan menangis seperti ini ? " tanya Nomi sahabatnya
" Bagaimana gue tidak sedih ? Tunangan gue menghilang di hutan ,dan ini sudah hampir 2 minggu. Padahal kita akan menikah lagi 1 bulan ," ucap Zia yang terus menangis terisak-isak.
"Sabar Zie, kita juga sudah melaporkan masalah ini ke kantor polisi, dan para polisi yang pergi ke sana untuk mencari Gio juga tidak ada kabar sama sekali sampai sekarang," sahut Gilang sambil duduk di samping Zie
" Bagaimana kalau kita susul Gio ke sana ? Mungkin mereka lagi mengalami ke sulitan dan butuh bantuan kita," terang Zie
" Benar yang di katakan Zie, lebih baik kita susul mereka . Mungkin mereka terjebak di suatu tempat dan tidak bisa kembali," balas Nomi
" Sebenarnya Gio ngapain sih pergi ke hutan ? " tanya Putra sambil menatap Zie
" Dia ke hutan ingin liburan dan itu juga diajak sama teman di tempat kerjanya, padahal gue tidak ngizinin dia pergi kesana, tapi dia tetap pergi ke sana diam-diam."Kata Zie dengan wajah yang begitu murung.
"Kalau begitu besok kita susul Gio kesana, "sahut Gilang
" Tapi kok gue ragu ya ? Takutnya kita tidak bisa kembali bagaimana ? " ujar Putra dengan wajah yang terlihat takut
" Tidak usah mikirin yang aneh-aneh, kita pasti bisa kembali." Balas Nomi dengan semangat
" Sekalian juga kita pergi kesana untuk liburan ,pasti Gio saat ini lagi senang-senang di sana," jawab Gilang
"Baiklah kalau begitu, gue setuju pergi ke sana." Kata Putra
"Berarti semuanya sudah setuju ? Lalu kapan kita pergi ke sana ? " tanya Zie dengan tidak sabar
" Besok pagi kita berangkat ke sana ," jawab mereka
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Besok paginya mereka semua sudah bersiap-siap untuk pergi ke hutan.
" Zie ,apa nama hutannya ? Gue lupa soalnya," tanya Gilang yang sudah menghidupan mesin mobilnya.
" Namanya Hutan Hati, kata Gio pemandangan di sana sangatlah indah. Apalagi di depan Villanya ada banyak bunga, dan warna bunganya juga berwarna hitam dan merah,"tutur Zie
"HAH ? " Putra tampak kaget mendengarnya. "Nama hutannya aneh sekali,lalu kenapa bunga yang ada di sana hanya berwarna merah dan hitam ? Rasanya kok aneh sekali," ucap Putra
" Tapi gue suka banget sama bunga berwarna seperti itu,gue jadi tidak sabar ingin sampai di sana ," balas Nomi
" Tapi Zi,lo tau dari mana mengenai semua itu ?"tanya Putra sambil menatap Zie
" Waktu Gio baru sampai di sana ,dia sempat menghubungi gue dan memberitahu semuanya ,tapi setelah itu dia tidak menghubungi gue lagi sampai sekarang," air mata Zie sudah menetes menceritakan semuanya
Sebelum memasuki Hutan Hati, mobil mereka tiba-tiba saja mati.
" Kenapa mobilnya tiba-tiba mati Gi ? " tanya Putra dengan cemas
"Iya Gi, apa lo tidak ngecek mobil lo dulu sebelum di bawa ?" tanya Nomi terlihat cemberut
"Sudah kok, gue sudah cek dan bahkan sampai dua kali ,"terang Gilang
" Tapi kok sekarang malah tiba-tiba mati ? Lo pasti bohong ," tuduh Nomi dengan wajah yang kesal
" Sudah...sudah... lebih baik kita cek dulu mesin mobilnya," ucap Zie
" Kalau begitu biar gue cek dulu," balas Gilang
Putra lalu membantu Gilang memperbaiki mobil.Namun tiba-tiba mereka di hampiri oleh seorang Kakek tua yang kebetulan lewat di sana.
" Maaf Nak , kenapa dengan mobilnya ?" tanya Kakek itu sambil menatap mereka.
" Tidak tahu Kek, tapi teman kami sudah memperbaiki ," ucap Nomi
" Kalian ini dari mana dan mau pergi ke mana ? " tanya Kakek itu
"Kami dari Kota Kek dan sekarang kami mau pergi ke Hutan Hati Kek, " jawab Zie
Mata Kakek itu langsung terbelalak lebar mendengar ucapan Zie
" Lebih baik kalian kembali ke Kota , dan jangan pergi ke sana," kata Kakek itu
" Tapi kenapa kami harus kembali Kek ? Kami kesana ingin mencari teman kami,"ucap Nomi dengan bingung
" Kakek tidak bisa memberitahu kalian alasannya, karena nanti dia bisa datang," ucap Kakek itu yang langsung pergi begitu saja.
" Apa maksud ucapan dari Kakek itu ya ? " tanya Zie bingung
" Gue juga tidak mengerti , tapi tidak usah di pikirkan ucapannya ." Balas Nomi pada Zie
" Tapi kok gue jadi takut ya ? " tanya Zie
"Tidak usah takut, mungkin Kakek itu asal bicara saja, " jawab Nomi
"Kemana Kakek tadi ? " tanya Putra pada Nomi dan Zie
" Sudah pergi," jawab Nomi
" Ya sudah, kalau begitu ayo kita lanjutkan perjalanannya karena mobilnya sudah kita perbaiki," kata Gilang
"Tapi gue ragu pergi ke hutan ," ucap Zie menunduk
" Memangnya kenapa Zie ? Kenapa kamu tiba-tiba ragu ? " tanya Putra dengan alis mata terangkat
"Perasaan gue tidak enak setelah mendengar ucapan Kakek tadi," terang Zie
" Memangnya Kakek tadi bilang apa pada kalian ? " tanya Gilang sambil menatap Zie dan Nomi
" Kakek tadi menyuruh kita agar balik ke kota," sahut Nomi
" Kenapa dia menyuruh kita balik ke kota ? Alasannya apa ? " tanya Putra
" Dia tidak memberi alasannya,tapi malah langsung pergi begitu saja," ucap Nomi
" Kita sekarang sudah hampir sampai di hutan ,masak mau balik sih ? " ucap Gilang merasa kesal pada Zie
" Iya Zie, lo yang duluan ngajakin kita datang ke hutan, tapi sekarang malah lo sendiri yang ingin ngajak kita balik," gerutu Putra yang juga kesal pada Zie
"Apa cuma segitu saja perasaan cintamu pada Gio ? " tanya Nomi kesal
" Maaf , aku hanya takut kalau kita tidak bisa pulang. Apalagi mendengar ucapan Kakek tadi," balas Zie.
Perasaan Zie tiba-tiba saja tidak enak, apalagi mobilnya tiba-tiba mati dan Kakek itu bicara seperti itu padanya.
" Ya sudah , lebih baik kita lanjutkan perjalanannya. Pasti Gio sekarang lagi senang-senang di sana, "ujar Gilang
" Baiklah kalau begitu," ucap Zie.
Mereka lalu masuk ke mobil dan melanjutkan perjalanannya.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Setelah memasuki Hutan Hati, suasana dari hutan itu sangat mencekam dan juga gelap. Pepohonan juga sangat lebat, karena belum pernah di tebang selama bertahun-tahun.
" Hutannya terlihat seram banget," ucap Zie tampak ketakutan. Dulu saat Zie masih duduk di bangku SMA,dia pernah hilang di hutan selama 1 minggu. Dan waktu itu dia di tolong oleh seorang pria yang seumuran dengannya. Pria itu tinggal di hutan bersama Neneknya. Tapi Zie tidak pernah bertemu dengan Nenek pria itu karena pria itu menyembunyikannya di suatu tempat yang jauh dari tempat tinggal Neneknya. Semenjak itu Zie takut sekali dengan hutan, apalagi melihat Nenek dari pria itu yang selalu membawa pisau.
" Namanya juga hutan Zie, semua juga seperti ini." Jawab Nomi
" Tidak usah takut Zie, gue ngerti kok kalau lo masih trauma sama hutan, tapi ini demi Gio ," sahut Putra.
Zie hanya bisa diam menahan perasaan takutnya.
Mereka juga kerap mendengar suara-suara aneh, tapi sahabat Zie tidak menghiraukan semua itu.
" Dimana Villanya ya ? " tanya Gio yang terlihat bingung. Dan tiba -tiba mereka melihat seorang Nenek-nenek sedang membawa kayu bakar.
" Itu ada Nenek-nenek , kita tanya dia saja." Kata Nomi sambil melihat ke arah Nenek itu.
Wajah Nenek itu begitu pucat sekali seperti mayat hidup.
"Wajah Nenek itu kok pucat sekali ya ?" tanya Zie
"Mungkin dia memang seperti itu, Zie. Tidak usah mikir yang aneh-aneh," sahut Gilang
"Iya Zie , wajahku juga sering pucat jika tensiku rendah , " balas Nomi.
Mereka lalu turun , dan menemui Nenek itu.
" Permisi Nek, boleh aku bertanya ? " kata Gilang
Akan tetapi Nenek itu hanya menganggukkan kepalanya, tanpa bicara sedikitpun.
" Di hutan ini katanya ada sebuah Villa, kira-kira apa masih jauh dari sini ? " tanya Nomi
Nenek itu menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
" Terima kasih Nek," ucap Gilang dan setelah itu mereka masuk ke mobil
" Sepertinya Nenek itu tidak bisa bicara," balas Nomi
"Iya kamu benar," jawab Gilang yang selalu berpikir positif
Ketika mobil mereka pergi, Nenek itu langsung tertawa dan melayang.
"Hi...hi...hi..." suara tawa Nenek itu cukup keras sambil menatap mobil mereka. Bola mata Nenek itu tidak ada ,dan kukunya juga berubah menjadi panjang.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Villa yang mereka cari.
" Ini Villanya, " kata Nomi
" Besar juga ya ? " tanya Putra.
" Eh, itu ada Nenek-nenek lagi membawa cangkul. Kita tanya pada Nenek itu yuk ? " ucap Gilang
Sedangkan Zie hanya menunggu di mobil karena merasa takut. Tidak menunggu lama teman Zie telah kembali.
" Kita langsung masuk saja, Nenek itu adalah pemilik Villa ini ." Kata Nomi.
" Zie, tadi kami sudah bertanya mengenai Gio, dan kata pemilik Villa ini tidak ada yang datang dengan ciri-ciri seperti Gio," ujar Putra
" Iya Zie, jangan-jangan Gio tidak datang kemari. Sepertinya Gio berbohong dengan lo," ucap Nomi
" Tapi dia beneran ngirimin gue foto bunga yang sangat mirib dengan bunga yang gue lihat di depan Villa tadi," jawab Zie
" Mungkin saja Gio dapat bunga itu dari orang lain," sahut Gilang
"Lebih baik kita istirahat, ini sudah malam ." Kata Nomi
Nomi tidur dengan Zie sedangkan Gilang tidur dengan Putra.
" Teng...teng...teng..." suara lonceng berbunyi berkali-kali.
" Suara lonceng apa itu ya ? " tanya Putra pada Gilang
" Mungkin itu suara lonceng jam antik," ucap Gilang
1 jam kemudian mereka telah tidur, tapi hanya Zie yang belum tidur. Gadis itu masih ketakutan.
" Zie , lo belum tidur ? Tidurlah Zie , kita pasti baik-baik saja. Lo seperti ini pasti karena masih trauma,"terang Nomi yang langsung tidur lagi.
" Awwwwwwhuuuuu awwwwkong kong awwwwhuuuu kong kong awhhuuu," suara lolongan anjing yang cukup keras terdengar begitu lama dan itu membuat Zie semakin ketakutan.
Kemudian Zie mendengar seperti ada yang menyeret rantai.
" Hi...hi...hi..." Zie mendengar suara orang tertawa di depan kamarnya.
Zie mencoba membangunkan Nomi, namun Nomi tidak mau bangun.
Tubuh Zie langsung gemetar,dia lalu menutup wajahnya dengan selimut hingga tanpa sadar dia sudah ketiduran. Ketika dia tidur, Zie bermimpi bertemu dengan Gio.
" Gio, kamu kemana saja ? " tanya Zie dengan sedih.
" Zie , kamu harus pergi dari hutan ini. Kalau kamu tidak pergi ,maka kamu akan seperti aku. Jangan pernah makan di restoran dekat Villa ini." Ucap Gio dengan wajah yang begitu pucat.
" Tapi kenapa Gi ? " tanya Zie bingung.
" Turutin saja ucapanku, kalau kamu mendengar lonceng berbunyi tiap malam itu artinya akan ada orang yang mati di hutan ini."
Mata Zie terbelalak lebar mendengarnya.
" Lupakan aku Zie dan jangan cari aku, karena kita sekarang berbeda," ucap Gio dengan sedih
"Apa maksudmu kita berbeda? " tanya Zie bingung
Namun tiba-tiba banyak roh yang datang ingin mendekatinya, dan bahkan dia di kelilingi oleh banyak roh yang gentayangan.
" Zie ,cepat pergi ." Teriak Gio
" Aaaaa..aaaa ! "suara teriakan Zie yang terdengar begitu keras.
" Ya Tuhan , untung ini cuma mimpi." Ucap Zie sambil mengelus dadanya
Dia lalu mengambil air minum, setelah itu dia meraba tempat tidurnya namun Nomi tidak ada.
" Kenapa Nomi tidak ada ? " pikir Zie panik dan bingung.
Zie kemudian mengambil ponselnya, di sana dia melihat ada pesan masuk dari sahabatnya. Dan ternyata sahabatnya jalan-jalan di sekitar Villa ini. Karena Zie tadi masih tidur jadi mereka membiarkan Zie tidur.
Zie lalu pergi ke kamar mandi untuk mandi.
" Gue laper nih,kita makan yuk ? " ajak Nomi pada Putra dan Gilang.
"Bagaimana dengan Zie ? Masak kita meninggalkan dia sih," balas Putra
" Sepertinya dia masih tidur, pesan gue saja hanya di baca saja. Kemarin dia kesulitan untuk tidur karena ketakutan ,jadi biarkan saja dulu dia tidur. Nanti kita bawakan dia makanan," ucap Nomi
Mereka lalu pergi ke restoran yang ada di dekat Villa itu. Setelah sampai di sana mereka langsung memesan makanan.
" Nek , jangan lakukan itu lagi . Aku mohon Nek ! " ucap Dimas - cucu Nenek Ranti
" Kalau kamu melarang Nenek, maka Nenek akan membunuhmu. Lebih baik kamu pergi dari sini dan bersihkan Villanya ." Kata Neneknya dengan wajah marah dan berapi-api.
Dimas lalu pergi meninggalkan Neneknya yang lagi memotong daging manusia. Dimas kemudian mendekati meja Nomi dan sahabatnya. Setelah itu dia memberikan surat pada mereka.
" Ini apa ? " tanya Putra
" Baca saja ," balas Dimas yang kemudian pergi meninggalkan restoran itu.
" Ya ampun, cucu pemilik Villa ini ganteng banget," ucap Nomi sambil menatap Dimas.
Putra lalu membuka surat dari Dimas, dan matanya langsung terbelalak lebar membacanya , dan tangannya juga mendadak gemetar.
" Kamu kenapa ? " tanya Gilang
" Kita harus pergi dari sini, cucu Nenek tadi bilang kalau Neneknya itu seorang psikopat, dan dulu dia juga seorang dukun terkenal.Dia membunuh banyak orang karena dulu suaminya di bunuh oleh seseorang. Karena itu dia melakukan balas dendam dengan membunuh siapa saja orang yang datang ke hutan ini," ucap Putra berbisik dengan wajah yang terlihat sudah pucat pasi dan tangan yang gemetar.
" Berarti kita akan di bunuh ?"tanya Nomi yang juga tampak ketakutan.
" Kita harus pergi dari sini ,"balas Gilang
" Bagaimana dengan Zie ? Kalau kita menjemput Zie maka dia pasti keburu menangkap kita," jawab Putra yang sudah panik.
" Kalau begitu kita tinggalkan Zie , dari pada kita mati." Kata Nomi.
Mereka lalu diam-diam meninggalkan restoran itu.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
DI Villa
Zie buru-buru ingin menyusul teman-temannya, dia ingin mengajak mereka pergi dari hutan ini. Namun tiba -tiba ada sebuah potongan tangan dengan kuku yang sangat panjang menarik kakinya. Zie di tarik oleh potongan tangan itu.
" Aaaaaaa ..tolong ! " teriak Zie dengan suara yang cukup keras.
Dimas yang barus sampai di Villa itu langsung menolong Zie. Setelah potongan tangan itu pergi , Dimas kaget melihat Zie.
"Ka_kamu ," ucap Dimas
" Kamu bukannya yang dulu pernah menolongku ? " ujar Zie
" Iya benar, itu aku. Tapi kenapa kamu berada di sini ? Aku sudah bersusah payah waktu itu membawamu pergi dari hutan ini, tapi kamu malah kesini lagi." Gerutu Dimas.
Dimas sebenarnya jatuh cinta dengan Zie , namun dulu dia tidak bisa berbuat apa-apa. Waktu itu dia hanya bisa menyelamatkan gadis itu dari Neneknya.
" Lebih baik kamu pergi dari sini dan selamatkan dirimu. Mumpung Nenekku belum tahu kalau yang datang ke hutan ini berjumlah 4 orang, soalnya dia mengira kalau yang datang hanya 3 orang." Balas Dimas.
Waktu temannya Zie turun menemui Nenek Dimas, Zie merebahkan tubuhnya di dalam mobil karena kecapean, jadi Nenek Dimas tidak tahu kalau yang datang ke hutan berjumlah 4 orang.
"Kenapa aku harus pergi dari sini," sahut Zie bingung.
Dimas lalu menjelaskan semuanya pada Zie.
" Kenapa kamu tidak melaporkan masalah ini ? " tanya Zie marah
" Aku sudah melakukan itu, tapi mereka semua berhasil di bunuh oleh Nenekku, tapi tadi aku sudah memberikan surat pada sahabatmu, dan mudah-mudahan mereka membacanya," balas Dimas
" Berarti Gio juga di bunuh," ucap Zie yang sudah menangis . Tubuh gadis itu mendadak menjadi lemas, Dimas yang melihat hal itu langsung memelum Zie dan menenangkannya.
" Pakailah jimat ini, agar para roh yang gentayangan disini tidak bisa mengganggumu. Jimat ini dulu milik kedua orang tuaku. Nenekku juga memakai jimat ,agar para roh yang masih gentayangan tidak bisa membalas dendam kepadanya. Tapi jimat yang di pakai oleh Nenekku di buat oleh dia sendiri," terang Dimas
Tiba-tiba roh Gio muncul.
" Zie, kamu harus pergi dari sini. Putra, Gilang ,dan Nomi sudah lari meninggalkanmu, tapi dia di kejar oleh Nenek Ranti, " kata roh Gio
Zie menanggis melihat roh kekasihnya itu.
" Tolong ,lupakan aku Zie ! " balas roh Gio yang juga menangis melihat Zie. "Dimas, tolong selamatkan Zie ! Pergilah ke kamar Nenekmu, dan bakar kamarnya. Kelemahan jimat yang di pakai oleh Nenekmu ada di kamarnya sendiri , dan setelah jimatnya tidak berfungsi maka semua roh yang ada di sini pasti akan langsung membunuh Nenekmu . "Ucap roh Gio yang langsung pergi.
Dimas dan Zie langsung pergi ke kamar Nenek Ranti yang terletak di belakang Villa. Di dekat kamar Nenek Ranti ada begitu banyak tulang-tulang manusia. Zie tampak gemetar melihat semua itu.
Dimas kemudian menggenggam tangan Zie . Mereka lalu membakar kamar Nenek Ranti dan setelah selesai mereka pergi menyelamatkan teman Zie.
◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇◇
Saat ini teman Zie sudah di tangkap dan di ikat oleh Nenek Ranti. Gilang baru saja di bunuh oleh Nenek Ranti.
" Ha...ha...ha...sekarang giliran kalian "ucap Nenek Ranti tertawa senang.
" Lepaskan kami Nek ,"balas Nomi dan Putra yang sudah menangis.
Ketika Nenek Ranti ingin mendekati Nomi , tiba-tiba banyak sekali roh yang datang menariknya dan setelah itu membunuhnya hingga meninggal.
Mata Nomi dan Putra membulat melihat semua itu. Zie dan Dimas yang baru datang juga tampak terkejut melihat semua itu. Dimas lalu menyelamatkan Putra dan Nomi.
" Zie, Gilang sudah tidak ada Zi ." Kata Nomi dan Putra sambil menangis.
Mereka menangis melihat jasad Gilang yang sudah di bunuh. Karena jasad Gilang masih utuh ,jadi mereka memutuskan membawa jasad Gilang ke kota agar bisa di lihat oleh keluarganya.
Sebelum meninggalkan tempat itu, mereka membakar Restoran dan Villa itu agar para roh yang masih gentayangan mendapatkan tempat yang layak.