Menjadi penulis itu bukan hal yang mudah, tapi itu juga bukan hal yang sulit bagi ku. Sejak kecil ku suka menulis, sejak kecil ku suka membuat karya. Jika di pikir pikir... Sudah banyak karya yang ku hasilkan. Tapi aku ragu untuk mempublikasikan karya itu dulu.
Bertahun tahun berlalu, menulis sudah menjadi bagian dari hidup ku. Tak ada hari tanpa menuangkan imajinasi menjadi bentuk tulisan dan mempublikasikan nya.
Aku senang saat ada yang menyukai karya ku. Tapi.. Kalau gak ada yang baca pun gak apa sih.. Tapi ku ucapkan, terimakasih banyak sudah mampir ke karya ku. Setiap orang yang singgah ke karya ku membuat ku senang.
Dan sejak itu juga, aku memutuskan untuk menjadi penulis. Aku akan terus berusaha untuk menjadi penulis hebat suatu hari nanti. Bekerja di bidang yang paling di gemari, siapa sih yang gak suka?
Tapi.... Pernah gak? Kalian malu waktu baca karya buatan sendiri, apalagi karya itu di tulis saat masih kecil. Saat dimana masih belum mengerti cara menulis yang baik dan benar. Hanya sekedar menuliskan kata dan imajinasi dalam bentuk tulisan di selembar kertas atau buku.
"Li. Ini kotak apaan?" Tanya Fan kakak ku sambil mengambil sebuah kotak kardus dari atas lemari.
Aku yang saat itu sedang duduk di meja belajar, menghadap laptop dan mengetik novel menoleh sekilas. "Kotak lama... Mungkin isi barang barang lama ku. Dah lama banget gak ku buka sih... Entahlah isinya apa." Ujar ku sedikit tak peduli sambil tetap fokus mengetik. Pasalnya, aku sedang mengetik di bagian yang seru, jadi takut kehilangan ide atau lupa ide di tengah kan kacau.
Fan yang penasaran pun membuka kotak kardus itu. "Widih.. Isi nya buku sama kertas doang..." Ujar nya sedikit terkejut.
Aku masih cuek dan fokus mengetik. Ku pikir paling buku buku pelajaran lama.
"Wah.. Kamu masih simpan karya mu dulu toh... Kirain dah di buang."
Tunggu, apa? Aku menghentikan kegiatan ku dan sedikit mengingat. Apa aku memang masih menyimpan nya? Judul novel nya apa saja aku sudah lupa. Lagian itu sudah lama banget.
"Misteri SMA Pulau Rintis, Teman atau musuh, Agent, Kakak terbaik, Magic Crystal, The legend of crystal elemen, Darkness... Dan banyak lagi. Kenapa gak di publish aja sih?"
Tunggu, judul judul itu kan...
"Huwa!!! Kak Fan jangan asal baca dong!!" Dengan cepat aku langsung merebut kertas kertas dan kardus itu.
"Idih pelit amat. Perasaan dulu aja sante waktu nulis sampe nulis di bawah meja segala."
"Itu kan dulu! Sekarang beda kak!"
"Iya iya... Lagian dulu ketahuan banget amatir nya. Dah gitu kaya semut berbaris gak ada paragraf nya lagi."
Aku hanya terdiam dan menatap datar. "Jadi orang jangan terlalu jujur. Gak baik!"
"Dih. Jujur kan baik atuh.. Gak baik apaan?"
"Gak baik lah! Buat hati."
Mendengar jawaban ku, Fan hanya menatap datar dan berjalan menuju kursi meja belajar.
"Ku edit dulu ya, sekalian tambahin juga. Coba kamu baca lagi novel lama mu, siapa tau bisa dapat inspirasi tambahan."
Aku hanya mengangguk singkat dan mengambil salah satu lembaran kertas. Aku sedikit membaca ulang karya ku itu. Dan saat itu aku sadar...
"Kok tulisan ku jelek amat ya? Dah kaya semut baris, gak jelas spasi nya lagi. Pemilihan kata nya juga berantakan banget. Dan... Ini beneran tulisan ku? Kok kaya kecambah yang habis jatuh berserakan di lantai ya?" Celetuk ku tanpa sadar. Di sisi lain, Fan justru mati matian menahan tawa mendengar ucapan ku.
Sungguh memalukan... Karya ku dulu benar benar kacau!!
Tapi... Sekacau apapun karya ku itu, aku tetap gak bakal pernah buang. Karena itu adalah langkah awal ku menjadi penulis. Ketahuilah, aku ini masih amatiran yang perlu banyak belajar. Dan sekarang aku tau, semua yang ku tau selama ini karena pengalaman dan dukungan kalian. Terimakasih.