di suatu pagi ada seorang gadis yang sedang duduk sambil meminum secangkir teh di depan rumahnya.
dia adalah Okta seorang penulis terkenal, karya nya sudah banyak yang terbit dan diperjualbelikan di beberapa toko buku.
Okta sedang memikirkan sebuah ide untuk karya nya yang selanjutnya, namun tiba-tiba datang seorang pria Yang merupakan kekasihnya...
"taa kamu lagi apa?". Lian
"aku lagi duduk aja, sambil mikir juga sih". ucap Okta
Lian juga merupakan seorang penulis terkenal, ia dan Okta sama-sama menulis buku-buku sebagai hobi dan juga pekerjaan.
kemudian Lian menggenggam tangan Okta dan mengatakan sesuatu...
"kita harus berjuang bersama yaa...". senyum Lian
"yaudah pasti lah yan". balas Okta
disisi lain Kiran melihat Okta dan Lian dari kejauhan, tampaknya ia tidak suka dengan kedekatan Lian dan Okta.
hari berganti siang, sekarang Okta sedang menulis sebuah novel di ruang kerja nya, kebetulan sekali Kiran datang dan menghampiri sahabatnya itu...
"ta kamu lagi update atau karya baru?". tanya Kiran
"ini aku lagi bikin karya baru, kali ini sih genre nya roman". jawab Okta
Kiran duduk di samping Okta sambil menopang dagunya dan memperhatikan Okta.
Okta yang melihat Kiran yang sedang memperhatikan nya menjadi tak nyaman...
"kenapa ran?". tanya Okta sambil mengetik
"kamu sama Lian pacaran yaa?". tanya Kiran
"iya..hehe". senyum malu Okta
"udah lama?". tanya lagi Kiran
"yaa belum sih baru sebulan". jawab Okta
Kiran duduk tegak dan menghadap lurus ke arah komputer, dari raut wajah nya tampak seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"kamu tumben nanya-nanya?". tanya Okta
"gak apa-apa sih, soalnya kalian keliatan Deket". jawab Kiran
Okta hanya tersenyum mendengar jawaban kiran dan kembali fokus mengetik cerita untuk novel barunya.
beberapa jam kemudian Lian datang dan menghampiri Okta dan Kiran yang sedang mengetik karya mereka masing-masing...
"hai ta, ran". sapa Lian
"hai". datar Kiran
Okta langsung menoleh kearah Lian dan tersenyum manis.
"kamu tumben kesini? mau ketemu aku?". tanya Okta
"iya dong...oh iya entar kita makan malem bareng ya.. kebetulan aku bawa sesuatu loh". ucap Lian
"oke...aku jadi penasaran kamu bawa apa". senyum Okta
Kiran hanya bisa terdiam dan mendengarkan apa yang mereka bicarakan, walaupun dia sebenarnya tak ingin mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi keadaan berkata lain, ia harus menjadi nyamuk...
"yaudah aku balik ke ruangan aku yaa". ucap Lian
"oke...sampai ketemu nanti". senyum Okta
hari pun mulai gelap, Okta sudah selesai dengan episode pertama novelnya, ia pun merapihkan barang-barang nya dan berpamitan kepada Kiran...
"ran aku pulang duluan ya, kamu gak mau bareng?". tanya Okta
"duluan aja, aku lembur kayaknya". jawab Kiran
"oke aku duluan byee". pamit Okta
Okta pun bergegas pulang kerumahnya, sedangkan Kiran kembali mengetik karyanya, ia harus bekerja keras, karena ia tak secepat Okta.
malam ini Okta pergi ke sebuah restoran bersama dengan Lian. Lian juga membawa sebuah kado untuk Okta, kemudian ia memberikan kado tersebut kepada Okta...
"kado??". bingung Okta
"hari ini kan anniversary kita, jadi aku kasih kamu hadiah". ucap Lian
"oh iya, maaf ya yan aku lupa". ucap Okta
"gak apa-apa kok kan yang penting aku inget". senyum Lian
Okta pun membuka kado tersebut, dan ternyata isinya adalah sebuah boneka...
"boneka?". heran Okta
"itu boneka Kirana, model terbaru dan diambil dari kisah di novel". jelas Lian
"wah...keren banget". kagum Okta
"semoga kamu suka yaa". berharap Lian
"ya pasti lah, kan kamu yang kasih". senyum Okta
malam pun semakin gelap, Lian baru saja mengantarkan Okta pulang ke rumahnya, Okta pun berpamitan dan segera masuk ke rumahnya, ia langsung bersiap siap untuk tidur.
di kamar mandi Okta sedang menyikat giginya sambil berirama dan fokus menatap wajahnya di kaca... namun tiba-tiba saja ada sebuah bayangan yang lewat di belakangnya.
jantung Okta mulai berdebar, ia langsung menatap kaca dengan fokus, namun ia tak melihat ada nya sesuatu.
"kayaknya aku halu deh". tenang Okta
setelah selesai menyikat giginya ia langsung ke kamarnya, ia tidak lupa mematikan lampu kamarnya, dan segera tidur di kasur.
jam terus berdentum setiap jam nya, pukul 02:15 Okta terbangun karena mendengar suara-suara aneh...
"suara apa sih, berisik banget". keluh Okta
ia pun bangun dan menghampiri sumber suara tersebut, ternyata itu adalah suara tv menyala yang tidak ada sinyal.
"siapa lagi yang nyalain tv, di rumah kan cuma ada aku". heran Okta
ia pun langsung mematikan tv tersebut dan menaruh remot tv di samping tv, Okta perlahan berjalan meninggalkan tv tersebut, namun baru beberapa langkah tv menyala kembali.
jantung nya mulai berdebar, perlahan ia kembali mendekati tv tersebut, namun ia sudah tak melihat remot yang baru saja ia taruh di samping tv tersebut.
perasaan nya mulai tak enak, kemudian ia mencari-cari remot tv, tetapi tetap tak ada, dengan putus asa dan bingung ia duduk di sofa, dan betapa terkejutnya Okta, ia melihat remot tv tersebut ada di sofa dan yang paling membuat tak habis pikir adalah...ada boneka Kirana di samping remot tersebut.
tanpa berfikir panjang ia langsung menekan tombol power, tak lupa ia membawa boneka Kirana, kemudian ia bergegas menuju kamarnya.
setibanya dikamar ia langsung menaruh boneka Kirana di meja rias, setelah itu ia langsung tidur dan menutupi wajahnya dengan selimut.
keesokannya harinya okta baru saja tiba di ruangan kerjanya, Kiran sudah ada duduk disana mengerjakan novel yang sedang ditargetkan nya.
"ran..kamu udah ada di kantor aja, padahal kan kamu kemarin lembur". ucap Okta
"iya nih, aku lagi ngejar target". jawab Kiran
"semangat yaa". senyum Okta
"makasih yaa". senyum balik Kiran
Okta duduk di bangku nya, ia masih bingung dengan kejadian semalam yang ia alami, kemudian ia menelpon Lian
"halo..yan kamu lagi apa?". tanya Okta
"lagi gak ngapa-ngapain sih". jawab Lian
"oh iya kamu beli boneka Kirana dimana?". tanya Okta
"di toko world doll, kenapa emang nya?". tanya balik Lian
"gak apa-apa sih aku Nanya doang hehe". senyum Okta
"owh...kalo ada apa-apa bilang aja yaa". ucap Lian
"iya, yaudah aku lanjut kerja ya". ucap Okta
Okta pun mematikan telphone nya, kemudian ia melamun memikirkan tentang boneka Kirana, Kiran yang menyadari Okta yang melamun langsung menegur nya...
"ta...jangan ngelamun". tegur Kiran
"hehe enggak kok". senyum Okta
"kalo ada apa-apa cerita aja taa, gak usah sungkan". saran kiran
Okta merasa seperti nya ia ceritakan saja apa yang terjadi kepada nya, lagi pula Kiran kan sahabat nya.
"jadi... semalam tuh aku diganggu sama hantu". jelas Okta
"hantu!". terkejut Kiran
"iya, aku sih awalnya biasa aja, tapi kok lama-lama malah makin gak logis". jelas Okta
"aku sih gak pernah ngalamin yang kamu alamin, tapi nanti aku bakal coba tanya sama temen aku". ucap Okta
"makasih yaa ran". senyum Okta
"sama-sama, lagian kan kamu sahabat aku". senyum balik Kiran
kemudian mereka melanjutkan kembali pekerjaan mereka masing-masing.
beberapa jam kemudian sudah waktunya istirahat, Okta dan Kiran berjalan ke kantin untuk makan siang bersama....di kantin mereka makan bersama, kebetulan Lian juga datang dan ikut makan bersama dengan mereka, namun tampaknya Kiran tak nyaman dengan kehadiran Lian.
"taa..aku pindah yaa". ucap Kiran
"loh kok pindah?". tanya Lian
"hehe, gua gak mau jadi nyamuk!". ketus Kiran kepada Lian
Kiran pun beranjak pergi ke meja di depan sana, sedangkan Lian merasa ada yang aneh dengan Kiran...
"kayaknya Kiran gak suka aku sama kamu". ucap Lian
"enggak kok yan, dia emang orangnya kayak gitu". jawab Okta
"tapi aku saranin kamu jangan terlalu Deket deh sama dia, aku takut aja kamu kenapa-napa". jelas Lian
"dia kan sahabat aku, gak mungkin lah dia ngelakuin hal yang jahat sama aku". bela Okta
"iya...tapi kamu tetep waspada aja". saran Lian
beberapa jam kemudian mereka kembali ke ruangan kerja, Okta melihat raut wajah Kiran yang tampak tidak mood.
Okta segera mengupdate novelnya, setelah beberapa menit Kiran pergi entah kemana, Okta tetap fokus pada komputer nya, namun tiba-tiba komputer milik Kiran menyala sendiri.
Okta mulai merasakan sesuatu yang tidak enak, ia menghampiri komputer kiran lalu mematikannya, kemudian ia duduk kembali, terapi tiba-tiba saja bangku Kiran bergerak dengan sendirinya, dan ada boneka Kirana di bangku tersebut...
"hah....". dengan spontan Okta berteriak dan menutup matanya
di waktu yang bersamaan Kiran datang dan menghampiri Okta yang sedang ketakutan...
"taa kamu kenapa?". tanya Kiran
Okta membuka matanya dan sudah tak melihat adanya Boneka Kirana yang tadi ada di bangku Kiran...
"tadi komputer kamu nyala sendiri, terus bangku kamu juga gerak sendiri". takut Okta
"kamu serius?". tak percaya Kiran
"aku serius ran, kayaknya aku beneran diganggu hantu". ucap Okta
"yaudah nanti malam kita ke rumah temen aku ya ta". ucap Kiran
Okta mengangguk-angguk mengiyakan ucapan Kiran, setelah itu mereka kembali mengetik karya mereka masing-masing.
beberapa jam kemudian hari berganti sore, Okta sudah selesai mengupdate novelnya, ia pun pulang dan menunggu nanti malam Kiran yang akan menjemput nya.
setibanya di rumah Okta kekamarnya dan tiduran, lalu ia menerima telphone dari Lian.
"taa nanti malam aku ajak kamu ke luar ya". ucap Lian
"maaf Yan kayaknya gak bisa, aku udah ada janji sama Kiran". jawab Okta
"emang kamu mau kemana?". tanya Lian
"ke rumah temennya Kiran". ucap Okta
"owh...yaudah lain kali ya". Jawab Lian
"oke". Okta mematikan telphone nya.
kemudian ia membaringkan tubuhnya dan melihat atap kamarnya, ia tampak letih, dan takut dengan apa yang akhir-akhir ini terjadi kepada nya.
tiba-tiba saja ia melihat boneka Kirana melayang ke arah lemari dan masuk kedalam, Okta ketakutan dengan apa yang ia lihat, ia perlahan mendekati lemari tersebut, dengan gemetar ia membuka lemari tersebut.
ia sungguh dikejutkan dengan sesosok makhluk hitam yang memegang Boneka Kirana, ia mundur dan langsung berlari sambil berteriak-teriak..
"hah...tolong".
makhluk tersebut mengikuti Okta yang berlari, dan seketika tubuh Okta melayang dan terjatuh dengan sendirinya...
ia langsung berlari keluar rumah dengan keadaan kepalanya yang berdarah, di luar ia menabrak Kiran yang baru saja tiba di depan rumahnya.
"taa lu kenapa?". tanya Kiran dengan panik
Okta hanya menunjuk ke dalam rumahnya dengan gemetar dan ketakutan, Kiran langsung merinding ketika ia melihat sosok makhluk hitam yang melotot ke arahnya, dengan segera ia menarik tangan Okta ke dalam mobilnya.
setelah itu mereka telah tiba di rumah Andin (teman Kiran yang merupakan seorang indigo), mereka langsung masuk dan menemui Andin...
"Din...teman aku diganggu sama hantu". ucap Kiran
"yaa...aku liat dari aura teman kamu, saya melihat ada sesosok mahluk hitam yang menggangu kamu, dia merupakan hantu kiriman orang, ada yang menginginkan kamu mati". jelas Andin
Okta menelan ludah dengan penuh rasa takut dalam dirinya, ia tak menyangka ada orang yang menginginkan dia mati.
"kamu jangan takut, itu hanya membuat kamu lemah". ketus Andin
"terus aku harus gimana?". tanya Okta
"kita harus mengusirnya, cepat kita kerumah kamu". serius Andin
mereka pun pergi menuju rumah Okta, setibanya disana Andin seperti merasakan aura yang kuat.
"dia punya tempat bersemayam". ucap Andin
"bersemayam?". bingung Okta
"apa kamu pernah melihat sebuah barang yang aneh dan suka bergerak dengan sendirinya?". tanya Andin
"iya, boneka Kirana". jawab Okta dengan cepat
"cepat ayo kita ambil boneka itu". perintah Andin
mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah Okta, setelah itu mereka langsung masuk ke kamar Okta dan mengambil boneka Kirana.
namun tiba-tiba saja sosok makhluk hitam tersebut muncul dan mengamuk, semua barang melayang, dan berjatuhan dengan keras.
"jangan ganggu kami! pergi dan jangan pernah kembali!". gertak Andin
namun mahkluk hitam tersebut malah tertawa dan seketika ia mendekati Kiran, dan mendorong nya hingga terpental dan berdarah.
"pergi kau...iblis terkutuk!". Andin melempar sebuah air ke makhluk tersebut
makhluk hitam tersebut kepanasan dan perlahan menghilang terbakar menjadi abu, lalu tiba-tiba saja abu tersebut berubah menjadi lian.
Okta terkejut dengan apa yang ia lihat...
"makhluk itu terbakar, dan membawa roh manusia ini, dan manusia ini yang mengirimnya kepada mu". jelas Andin
"tapi kenapa Lian melakukan ini semua". tanya Okta
Andin berjalan sambil berkata...
"Lian tidak ingin kamu menyainginya dalam setiap karya novel, oleh sebab itu ia mendekati mu, dan berusaha untuk membuat mu mati melewati makhluk hitam itu". jelas Andin
Okta tak menyangka bahwa Lian selama ini telah menipunya, kemudian ia mendekati Kiran dan membawa nya ke dokter bersama dengan Andin.
sedangkan soal Lian, ia telah di makamkan...
beberapa Minggu kemudian hidup Okta sudah normal kembali ia sudah tak diganggu lagi oleh makhluk yang pernah datang mengganggu nya.
Okta dan Kiran sekarang menjadi lebih dekat dan mereka sesekali berbagi inspirasi untuk hasil karya mereka masing-masing.
sedangkan Boneka Kirana sudah berada di tangan Andin, dan menjadi koleksi horornya.