Langit begitu cerah dengan matahari yang hangat menyinari bumi dipagi hari, tapi kehangatan sinar mentari tidak begitu saja membuat mood ku baik untuk hari ini.
Perkenalkan namaku Kala, aku adalah seorang mahasiswi jurusan Hukum disalah satu Universitas Negeri di Yogyakarta, asal ku dari Jakarta sehingga di sini aku menyewa kamar kost sebagai tempat tinggal ku.
Nah permasalahan kost inilah yang membuat mood ku tidak baik hari ini, pasalnya aku harus segera meninggalkan kost ku tercinta ini. Kost yang nyaman, aman dan tentu saja dekat dengan kampus. Tapi sayangnya aku harus segera pindah dari sini dikarenakan aku sudah tidak sanggup membayar uang bulanannya yang sangat mahal.
Keuangan keluargaku sedang tidak baik, sehingga aku harus mencari pekerjaan sampingan untuk membayar uang kost dan juga untuk uang jajanku, namun beberapa hari yang lalu aku baru saja di pecat dari tempatku bekerja. karena aku sering sekali izin dari tempat kerja untuk mengerjakan tugas dan laporanku yang sudah menggunung.
"lo yakin mau cari kost hari ini Kal? jadi lo ga masuk kelas dong" ucap Citra sahabatku.
aku di kampus memiliki 4 sahabat baik yaitu Citra, Yola, Adam dan Darto. Aku bertemu dengan mereka saat Ospek dan kami masih berteman baik samapai sekarang.
“yakin Cit, gue izin dulu hari ini” jawabku dengan penuh keyakinan.
“enggak besok aja hari sabtu? biar kita temenin Kal” ucap Yola menawari.
“ga bisa Yol, soalnya lusa gue udah harus cabut dari sini, hari minggu udah masa tenggang soalnya” ucapku lesu.
“buset dah masa tenggang kayak kartu sim aje Kal, abis pulsa juga kaga lo haha” ucap Darto.
“Diem lo Darti, kaga lucu” ucapku jengah.
“Darti pala lo, Darto ya saudara-saudara” ucap Darto tidak terima namanya di ganti.
“udah ah, gue berangkat dulu, tolong izinin gue ya bilang aja gue sakit” ucapku seraya menuju parkiran motor.
“Ehh tunggu, biar gue temenin Kal” Adam menawari.
“Ga usah Dam gue bisa sendiri” tolakku
“Gue juga ikut, soalnya hari ini kelas pak Yono. Males banget gue” ucap Citra.
“Yaudah kita bolos aja deh semuanya, kita cari kost buat Kala aja hari ini” ucap Darto.
“Ehh enggak enggak, kaliah masuk kelas aja. Jangan bolos cuma karena gue” ucapku melarang mereka untuk ikut bersama ku.
“Udah deh Kal, Yuk cabut” ajak Yola.
“Beneran nih?” Tanya ku memastikan.
“Iyeee ayok ah lama” ucap Darto tak sabaran.
Kami berlima berjalan menuju parkiran motor dan mengambil motor masing-masing. Kami menggunakan 3 motor, Citra di bonceng Adam, Yola di bonceng Darto dan aku sendiri.
Kami berkeliling di sekitaran area kampus untuk mencari kost dengan kriteria yang aku tentukan, yaitu aman, nyaman dan murah.
Tapi sayang sekali, semua kost di dekat kampus sudah full tidak ada lagi yang kosong, karena sekarang baru masuk tahun ajaran baru, jadi kamar kost banyak di sewa oleh maba dari luar pulau Jawa.
Kami berlima istirahat sejenak di warung makan tempat andalan mahasiswa kampusku.
“Gimana Kal, udah full semua” ucap Yola.
“Gimana dong” tanyaku balik.
“Lo ga mau coba cari kost di luar daerah kampus aja? Siapa tau ada yang murah dan bagus. Lo kan punya motor buat ke kampus jadi lo tinggal nyisihin duit lo buat isi bensin nya aja, ga perlu ongkos buat ke kampus” usul Adam
“Yaudah deh, kita cari di luar daerah kampus aja. Gue berharap ada kost yang murah dan bagus” ucap ku lemah.
Seharian kami berkeliling mencari kost namun tidak ada yang pas di hati, entah itu harganya mahal, lingkungan kost nya tidak aman, kost bebas. Huft… aku lelah seharian mencari.
“Ehh guys bentar deh” ucap Citra menghentikan kami semua.
“Kenapa lo? Sawan?” Tanya Darto.
“Itu liat” tunjuk Citra.
“Apaan? Lo nunjuk apaan? Pohon? Atau mbah tukang jamu itu?” Tanya Darto yang tidak mengerti dengan arah jari Citra.
“Ish bego banget si lo” ucap Citra kesal.
“Ya Lo ga jelas banget jir” ucap Darto tak kalah kesal.
Kami menolehkan pandangan ke arah yang di tunjuk Citra, “itu ada plank tulisannya menerima kost” ucap Citra.
“Ohiya, yuk kesana” ajak Yol.
Kami berlima langsung bergegas menuju ke tempat kost itu, disana ada sederet kamar kost yang saling berhadapan, kira-kira ada 10 kamar behadapan. Namun kost tersebut terlihat cukup sepi, seperti tidak ada penghuninya.
“Eh kok sepi amat, di sewain kaga sih” ucap Darto.
Terlihat sebuah pintu di salah satu kamar tersebut terbuka, menampilkan seorang gadis cantik baru saja keluar bersama seorang pria.
“Nanti kesini lagi ya beb” ucap gadis itu seraya cipika cipiki dengan pria yang kami duga berstatus sebagai pacarnya.
Kami berlima saling pandang melihat adegan di depan kami, “mbak permisi saya mau tanya” ucapku pada perempuan itu.
“Iya ada apa ya mba?” Tanya nya padaku.
“Kira-kira di sini ada kamar yang kosong ga ya mbak?” Tanya ku.
“Oh ada mba, itu kamar nomor 2 ujung kosong. Kalo mba mau saya bisa antarkan ke rumah pemilik kosan ini” ucapnya dengan bahasa jawa yang lumayan medok.
“Boleh mba, kalo mba gak keberatan saya mau minta temani ke rumah pemilik kost nya” ucap Ku.
“Yaudah ayo, rumah nya ada di belakang bangunan kost an ini, jalan kaki aja deket kok” ucap perempuan itu seraya menutup kamar kost nya.
“Lo yakin Kal?” Tanya Adam. “Kita masih bisa cari tempat yang lain loh” sambung nya.
“Kita tanya aja dulu Dam” ucap ku.
Kami sudah sampai di sebuah rumah sederhana milik bu Warni sang pemilik kosan ini.
“Assalamualikum, bu iki ada yang mau cari kamar” ucap mba Novi yang baru ku tahu namanya ketika kami berjalan menuju kesini tadi.
“Waalaikumsalam, Novi sopo sing cari kamar?” Ucap bu Warni ketika keluar dari rumahnya.
“Saya bu” ucap ku, “apa ada kamar yang kosong bu?” Tanya ku.
“Oh iya adaa, ada satu kamar kosong disebelah gudang, kamu mau?“ tanya bu Warni.
“Kira-kira harganya berapa ya bu? Mau pas in sama budged dulu soalnya” ucapku tidak enak.
“Sebulan 150 ribu, sama listriknya 25 ribu, kalo air ga usah bayar soale disini pake sumur bukan air pam” ucap bu Warni menjelaskan.
Wah di luar dugaanku, ku kira harganya 400 ke atas, karena melihat kondisi kost an yang lumayan bagus dan bersih, aku tidak menyangka harganya begitu murah.
“Wah beneran bu harganya 175 ribu sebulan?” Tanya ku memastikan.
“Iya bener, tapi ya itu kamar mandinya di luar, tapi kamu tenang aja disini ada 3 kamar mandi untuk di pakai bersama dan fasilitas di kamar cuma ada kasur aja, untuk kipas dan lain-lain saya tidak menyediakan. ” ucap Bu Warni.
“Ga papa bu, saya mau nyewa kamar kos yang kosong itu, besok saya udah bisa pindahan kan bu?” Ucapku dengan semangat.
“Yo kalo mau sekarang juga udah bisa toh mba, ini kuncinya saya serahkan sekarang juga” ucap bu Warni tak kalah semangat denganku.
Aku langsung membayar uang sewa kost untuk 3 bulan kedepan, supaya aku tidak pusing lagi memikirkan uang kost.
Setelah semua transaksi selesai kami menuju ke kamar kost yang akan saya tempati mulai besok “Yok saya antar” ajak Bu Warni.
“Kala, lo yakin mau ngekost disini? Ini kayaknya kosan bebas loh” ucap Citra mengingatkan.
“Iya nih, mana udah maen bayar buat 3 bulan pula” ucap Darto.
“Yaudah deh gapapa, lagian kayaknya kost nya aman deh, kalo masalah penghuninya suka bawa cowo ya gue tinggal kunci pintu aja” ucap Ku.
“Tapi Kal, kost nya kok sepi banget ya, bukan nya tadi kata mba Novi tinggal sisa 1 doang” ucap Yola curiga.
“Ya mungkin penghuni kost nya lagi pada pulang ke rumah masing-masing, positif thinking aja guys” ucapku menenangkan mereka.
“Tapi perasaan gue ga enak Kal dan gue yakin lo juga pasti ngerasain hal yang aneh disini” ucap Adam, diantara kami berlima aku dan Adam bisa dikatakan sensitif dengan hal yang berbau mistis.
“Bismillah aja Dam, soalnya cuma kost an ini yang nyampe di budged gue” ucapku.
“Nah ini kamarnya” ucap Bu Warni ketika kami sampai di depan kamar kostnya.
Kamar kost ku terletak di nomor 2 ujung, dan yang paling ujung itu adalah kamar kost yang di jadikan gudang. Sedangkn kamar mandi yang disebutkan oleh bu Warni tadi terletak di samping gudang itu.
“Oh iya bu ini kok sepi banget, penghuninya pada kemana ya? Terus kamar yang di sebelah kok di jadiin gudang, kan sayang bu” Tanya Citra spontan.
Mendengan pertanyaan Citra yang sangat tiba-tiba, raut wajah bu Warni seakan berubah, “ee… mereka rata-rata para pekerja, jadi siang mereka bekerja dan malam baru pulang” ucap bu Warni.
“Kalau tidak ada lagi yang mau di tanyakan saya permisi” ucap Bu Warni dan langsung cabut dari depan kami.
Kami berlima saling pandang melihat tingkah aneh bu Warni, namun tak urung kami langsung membuka pintu kamar kost tersebut untuk melihat keadaanya.
Suasana di dalam kamar cukup nyaman, ada sebuah kasur dipan disana, selebihnya seperti kamar kos pada umumnya. Tapi minusnya ada sebuah kaca bening yang ada di tembok kamar itu, pemandangannya mengarah ke belakang kost yaitu daerah rumah pemilik kos.
“Itu kaca buat apaan dah? Mau di pake in hordeng kaga bisa, buat liat pemandangan juga tinggi banget. Kalo ada yang ngintip gimane?” Ucap Darto yang aneh melihat ada sebuah kaca bening yang melekat di tembok kamar.
“Ya kan tinggi Tok, kalo mau ngintip juga kaga nyampe” ucap yola.
“Kal lo ga mau nginep di kost gue aja?”Tanya Citra.
“Engga Cit ga usah lagian kan udah di bayar juga, gue mulai malem ini mau beresin barang-barang gue di kost an lama, jadi besok udah bisa di pindahin kesini” ucapku.
“Yaudah kalo gitu besok kita berempat ke kost lo buat nolongin lo pindahan, setuju ga guys?” Tanya Darto pada semuanya.
“Setuju, besok pagi kita semua ke kost lo Kal, dua hari kelar lah ya” ucap Yola.
“Thanks banget ya guys, kalian udah baik banget sama gue” ucapku terharu.
“Sama-sama Kal” ucap mereka semua.
Sejak sore setelah aku pulang mencari kost an, aku membereskan barang-barang ku yang ada di kost lama. Banyak perintilan-perintilan yang harus aku bereskan disini. Aku lelah sejak sore tidak kelar-kelar mengemas barang-barangku.
Ketika pagi hari nya kelima temanku sudah ada di sini untuk membantuku.
“Ini mau nyewa mobil box aja apa gimana Kal, barang lo banyak amat” ucap Darto menggelengkan kepala melihat semua barang ku.
“Kayanya iya deh Tok, gue juga bingung mau di bawa pake apaan, lo ada kenalan supir mobil box gak?” Tanyaku pada Darto.
“Gue ada, bentar gue telpon” ucap Adam.
Barang-barang di kost an lama ku di angkut menggunakan mobil box kenalan Adam, sedangkan kami berlima mengendarai motor untuk menuju ke kost an baruku.
Setelah barang-barang di turunkan, aku, Citra dan Yola mulai menyusun barang-barang itu di kamarku, sedangkan Adam dan Darto mereka sedang merakit lemari ku untuk di letakkan di sudut kamar.
“Perasaan dari kemarin disini sepi banget deh, orang-orang nya pada ga balik apa gimana sih” ucap Yola bingung melihat suasana kosan yang terlihat sepi.
“Mungkin mereka belum pulang Yol” ucapku.
Menjelang sore, kami baru selesai membereskan barang-barang yang ada di kamar ku. Malamnya, Citra memutuskan untuk menginap di sini untuk menemaniku sekalian bantu-bantu menyusun pakaian katanya, dia paham betul kalau aku tidak nyaman di sini walaupun aku selalu menyangkal itu, karena ia tau aku juga sensitif dengan hal mistis.
Malam itu kami kembali merapikan buku-buku dan baju-baju yang tadi belum sempat di susun ke lemari, lalu ketika kami sedang fokus menyusun buku sayup-sayup kami mendengar ada suara tangisan bayi, suaranya pelan namun semakin lama jadi semakin jelas.
“Eh Cit.. lo denger ga kaya ada suara bayi nangis?” Tanyaku pada citra.
Citra diam sejenak, “iya, gue denger. Emang ada yang baru lahiran ya?” Tanyanya.
“Ya mana gue tau, tapi suaranya kaya dari sekitar sini, masa ada anak kosan yang baru lahiran”
“Kali aja anak nya bu Warni yang baru melahirkan, tadikan dia kaya buru-buru banget pulangnya” ucap Citra.
Aku mengangkat bahuku pertanda tidak perduli, toh bagus kalau ada suara tangis bayi, jadi suasananya ga sepi-sepi amat.
Namun ternyata suara tangisan bayi itu terdengar di sepanjang malam, sampai-sampai kami tidur masih di selingi suara tangisan, suaranya begitu dekat dengan kamar ku.
Aku tidur di kasur santai yang sengaja aku beli jika teman-temanku sedang menginap di kosan, ketika sedang lelapnya tidur tiba-tiba pintu kamar ku di ketok dari luar.
Tok tok tok
Aku terkesiap, “Siapa kira-kira yang ngetok pintu kamar pagi-pagi buta begini” ucapku dalam hati, lalu ku tolehkan kepalaku kearah Citra yang sedang tertidur pulas, dia sama sekali tidak terganggu oleh suara ketukan itu.
Lalu aku melihat ke layar Hp ku, jam menunjukkan pukul 3 pagi, dan suara tangisan bayi tadi masih saja terdengar, bahkan suara bayi itu seperti lebih dari satu, dan suara bayi-bayi itu seperti ada di sebelah kamarku.
Sekali lagi pintu kamarku digedor dari luar, “siapa ya” tanyaku.
Tapi tidak ada jawaban, dia terus saja mengetuk pintu seakan tidak mendengar sahutanku.
Aku mengintip melalui jendela di samping pintu, saat aku menyibakkan sedikit gorden dan melihat pemandangan di luar, tidak ada siapapun di depan kamar ku.
“Oalah, mau kenalan toh. Perasan dari kemarin sepi-sepi aja” ucapku santai karena sudah sering sekali aku di ajak kenalan seperti ini jika berada di tempat baru.
Aku berniat untuk kembali memejamkan mataku namun saat aku baru saja merebahkan badanku ke kasur tiba-tiba pintu kamarku di ketuk dengan keras dan ketukan itu di iringi oleh suara tangisan bayi yang semakin memekakkan telinga.
Aku melirik ke Citra yang masih tertidur pulas, aku gak tega buat bangunin dia, aku tau dia pasti capek banget seharian nolongin aku beberes kosan.
Akhirnya aku memutuskan untuk tidur sengan menutup telingaku menggunakan headphone dan menyalakan Murotal Al Qur’an untuk menemani tidurku.
Ketika subuh aku terbangun, sudah tidak ada lagi suara ketukan dan tangisan bayi yang aku dengar semalam.
Sekitar jam 7 pagi aku berniat untuk mandi, setelah ku ambil handuk dan peralatan mandiku, aku menuju kamar mandi yang ada di ujung kamar.
disana ada 3 bilik kamar mandi yang berbaris, bangunan kamar mandi ini terpisah dengan bangunan kamar kosan.
Aku memasuki bilik kamar mandi yang pertama, karena ku dengar ada suara gemercik air di bilik kedua dan ke tiga.
Aku memulai ritual mandiku seperti biasa, namun saat aku lagi mengusap kepalaku menggunakan shampo, sayup-sayup aku mendengar ada yang bersenandung di kamar mandi sebelah, suaranya pelan dan lirih.
Aku tidak ambil pusing dengan suara itu, ku pikir itu adalah anak kosan yang sedang mandi juga dan iseng bersenandung supaya tidak terasa sepi.
Setelah aku selesai mandi dan berganti pakaian, aku keluar dari bilik kamar mandi, ku tolehkan kepala ku ke kamar mandi sebelah namun tidak ada tanda-tanda orang sedang mandi, “ah mungkin sudah keluar duluan” pikir ku.
Saat aku sampai di kamar, ternyata teman-temanku sudah ada di kosanku, mereka sengaja pagi-pagi datang ke sini untuk menbantuku kalau-kalau ada yang perlu di perbaiki.
“Eh udah disini aja” ucapku.
“Iya nih si Adam maksa banget nyuruh kesini, orang masih ngantuk juga” ucap Darto. Darto dan Adam tinggal di kost yang bersebelahan jadi dimana ada Adam disitu juga ada Darto.
“Di depan ada burjo, kita sarapan dulu” ajak Adam.
“Kuy lah laper gue” ucap Yola yang juga sudah ada di sana.
“Gimana Kal, aman?” Tanya Adam ketika kami sedang berdua.
Aku menolehkan kepalaku ke arah Citra dan yang lain, “semalem ada yang mau kenalan” ucapku pelan, karena aku tidak mau membuat Citra takut mendengar ceritaku dan berujung tidak mau lgi menginap di kosan ku.
“Mereka ngapain?” Tanya Adam serius.
“Semalem ada suara bayi nangis rame banget dan jam 3 pagi kamar gue di gedor-gedor gatau oleh siapa” ucapku.
“Tapi mereka ga nampakin kan?” Tanya Adam.
“Enggak kok, sejauh ini aman-aman aja. Ya semoga aja mereka cuma mau kenalan sebates itu aja” ujarku.
Menjelang sore semua teman-temanku pamit untuk pulang ke kosan mereka masing-masing termasuk Citra. Jadi malam ini aku benar-benar sudah tinggal sendiri disini.
Setelah aku mengambil wudhu untuk sholat isya aku bertemu dengan mba Novi yang baru pulang, “baru pulang ta mba?” Tanyaku basa-basi.
“Eh iya mba, baru pulang kerja aku.” Jawab mba Novi.
“Oh iya mba saya mau nanya, ini penghuni kosan pada kemana ya, kok sepi banget” tanyaku pada mba Novi.
“Mereka jarang di kosan mba, pulang paling 3 hari sekali, yang ngekost di sini kerjanya jauh semua, jadi secara ngga langsung mereka cuma numpang narok barang aja disini” ucap mba Novi menjelaskan.
“Ohh gitu” aku menggguk mendengar perkataan mba Novi.
“Yowes, aku masuk dulu ya” pamit mba Novi padaku.
“Iya mba” ucapku.
Aku masuk ke kamar ku dan mulai melaksanakan sholat isya, malam itu belum terlalu larut aku menjalankan sholatku, saat takbir ku kumandangkan sayup-sayup aku mendengar suara tangisan perempuan, suara itu terdengar sangat lirih dan sangat menyayat hati.
Aku terdiam sejenak, lalu seketika aku tersadar lagi dan kembali khusyu dalam sholatku. Sampai aku selesai sholat suara tangisan itu masih terdengar jelas di telingaku.
“Siapa yang nangis malem-malem gini” tanyaku dalam hati.
Ku sibakkan gorden jendelaku untuk melihat situasi di luar kamar, takut kalau mba Novi yang menangis. Namun di luar sepi tidak ada siapa-siapa.
Aku memilih mengabaikan suara tangisan itu, aku merebakan badanku kekasur sambil memainkan Hpku.
Ting… sebuah pesan masuk di Hp ku.
Adam : gimana Kal, malem ini aman?
Kala : barusan gue denger ada suara cewek nangis Dam.
Adam : yang bener lo.
Kala : serius gue ga bohong.
Adam : lo baca-baca ayat yang lo bisa, atau putar murotal dan coba buat tidur, besok gue kesana buat ngecek.
Ayahnya Adam adalah seorang ustad, jadi secara tidak langsung dia paham dengan urusan yang begituan.
Pagi hari nya Adam dan Darto sudah menungguku di burjo depan kost, aku menemui mereka setelah Adam kirim pesan padaku.
“Ya mbok ganti baju dulu ndukkk… cah ayu” Darto menoyor kepalaku karena melihat ku yang masih menggunakan baju tidur semalam.
“Ya ngapain juga rapi-rapi, yang di liat kalian berdua juga” jawabku seraya menyeruput teh anget yang baru di antar oleh mas mas burjo.
“Gimana semalem Kal?” Tanya Adam to the point.
“Gue ga tau dia berenti nangis jam berapa Dam” ucapku.
“Hah? Siapa yang nangis?” Tanya Darto yang tidak mengerti.
“Cuma nangis doang atau ada yang lain?” Tanya Adam lagi.
“Nangis doang sih, kalo suara bayi kaga ada semalem” jawabku.
“Woy siapa yang nangis, terus ini lagi ngomongin bayi siapa? elahh dari tadi gue kaya kaga di anggep dimari” ucap Darto kesal.
Aku menoleh ke Darto, “jadi semalem gue denger ada cewek nangis, tapi di kosan ini ga ada siapa-siapa selain gue dan mba Novi” ucap ku menjelaskan pada Darto.
“Ya mungkin mba Novi yang nangis” ucap Darto.
“Bukan Tok, semalem gue baru aja ngobrol dengan mba Novi”
“Yaudah ayo kita cek” ajak Adam seraya berjalan menuju ke dalam kost.
Aku beranjak dari kursi lalu mengikuti Adam menuju kosanku, “eh woy tungguin gue, kopi gue belom abis ini” teriak Darto namun tak urung diapun ikut masuk bersama kami.
“Kal gue numpang ke kamar mandi dong, kebelet gue” ucap Darto.
“Itu di ujung” aku menunjuk ke kamar mandi yang berada di ujung .
Darto berlalu pergi, ku lihat sekilas dia memasuki kamar mandi tengah. Tak selang berapa lama Darto teriak sambil berlari menuju ke arah kami.
“Woy woy sialan, kampret!” Teriak Darto.
“Eh kenapa lo?” Tanya ku panik.
“Sialan, itu darah siapa yang berceceran di kamar mandi?” Ucap Darto.
“Darah?” Tanyaku bingung.
“Iya jadi pas gue lagi mau buka celana tiba-tiba ada darah ngalir ke kaki gue” ujar Darto.
“Masa sih tok, coba gue cek” ucap ku dan hendak menuju ke kamar mandi namun di cegah oleh Adam.
“Lo tunggu sini, biar gue yang kesana” ucap Adam.
Adam terlihat masuk ke bilik toilet tempat dimana Darto melihat ada darah yang mengalir tadi. tak selang beberapa lama Adam kembali ke kami, “gimana Dam?” Tanya ku.
“Saran gue lo harus secepatnya pindah dari sini Kal” saran Adam.
“Emangnya kenapa?” Tanya ku bingung.
“Tempat ini ga baik buat lo” ucapnya lagi.
“Nah kan bener, dari awal emang tempat ini udah kaga beres, mending lo cari kosan baru aja deh Kal” ucap Darto.
“Ga bisa Dam, gue udah bayar untuk 3 bulan kedepan, dan mau cari kemana lagi kosan murah kaya gini, lagi pula keuangan gue udah menipis, mau minta ke orang tua gue ga mungkin, mereka juga lagi susah” aku memang sudah tidak memiliki tabungan lagi saat ini.
“Gimana kalo lo sementara numpang nginep dulu di kosan Citra atau Yola” usul Darto.
“Gue ga mau ngerepotin kalian, udah cukup kalian susah kemarin nolongin gue. Gapapa kok Dam, Tok gue bakal betah-betahin tinggal disini” ucapku menenangkan mereka.
“Yaudah kalo ada apa-apa cepet hubungi kita Kal” ujar Adam.
Siang itu terlihat ada beberapa penghuni kosan pulang ke kamarnya masing-masing, tapi tidak semua hanya beberapa. Aku juga sempat menyapa mereka untuk sekedar berkenalan.
Hari-hari berlalu sudah sekitar 2 minggu aku tinggal di kosan ini, sebenarnya ada banyak gangguan-gangguan yg datang setiap malam. Entah itu suara tangisan bayi, tangisan perempuan dan ada satu malam aku mendengar suara wanita merintih kesakitan seperti orang yang sedang di cekik lehernya.
Aku sempat panik saat itu dan berlari mengetuk semua pintu di kosan itu, namun hasilnya nihil. Mereka semua baik-baik saja dan mengaku tidak mendengar suara aneh apapun disana.
Selang satu minggu akhirnya aku mendapatkan pekerjaan baru, yaitu sebagai barista di sebuah caffe dekat dengan kampus. Jadwal ku pagi sampai sore kuliah dan dari jam 7 sampai jam 1 malam aku bekerja di caffe itu.
Suatu hari saat aku pulang kerja sekitar jam 1 lewat, setelah sampai di kosan aku membuka gerbang dan memasukkan motor ku. Aku berjalan menuju kamarku, saat aku sedang berusaha membuka pintu kamarku, aku melihat dikamar sebelah seperti ada orang yang sedang mengintip dari balik tirai, namun setelah aku refleks menoleh dia langsung menutup tirai itu dengan cepat, dia seakan mengawasi siapa yang pulang selarut ini.
Aku sempat berfikir, apakah dia penghuni baru kosan ini? Tapi kapan pindah nya. Namun seketika aku tersadar bahwa kamar disebelah ku itu sudah di alih fungsikan sebagai gudang, lalu siapa tadi yang mengintipku di jendela.
Aku bergegas masuk ke dalam kamar dan menguncinya dengan rapat. Nafasku memburu, aku panik. Selama tinggal di sini aku belum pernah di tampakkan dengan wujud apapun selain suara-suara yang kerap terdengar.
Aku mengatur nafasku terlebih dahulu dan barulah aku membersihkan tubuh ku dan berganti pakaian, namun saat aku hendak merebahkan badanku sayup-sayup aku mendengar seperti ada perempuan yang merintih kesakitan lagi seperti yang aku dengar sebelumnya, suaranya seperti orang yang sedang tercekat karena di cekik.
Aku panik, aku tidak tau darimana asal suara itu. Aku langsung menyambar Hp ku untuk mengirim pesan kepada Adam.
Kala : Dam gue denger suara itu lagi
Lama aku menunggu hingga Adam membalas pesanku.
Adam : Lo keluar dari kamar sekarang juga, kemana kek atau lo ke kamar mba Novi dulu untuk malem ini.
Kala : tapi gue ga enak mau bangunin mba Novi.
Ketika aku sedang fokus berkirim pesan dengan Adam, aku mendengar ada suara ketukan lagi di kamarku. Ketukan yang pelan tapi tidak ada jeda, aku lalu beranjak ke arah pintu untuk mengecek siapa yang mengetuk pintu kamarku.
Tidak ada siapa-siapa disana, tapi suara ketukan itu masih saja terdengar kian nyaring menggema di kamarku, aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar. Seketika pandanganku terhenti ke sebuah kaca bening besar di dinding kamarku, kaca itu belum aku tutup karena letaknya yang begitu tinggi.
Disana terlihat sebuah wajah seorang wanita, dengan mulut menganga lebar dan lidah yang menjulur keluar, suara ketukan itu berasal dari nya yang sedang mengetuk ngetukkan kepalanya ke kaca tersebut, dari mulutnya terdengar suara tercekat yang menggema di seluruh penjuru kamar. Sontak aku berteriak dan keluar dari kamarku, aku berlari menuju burjo di dekat kosanku, kebetulan burjo itu buka 24 jam.
Aku panik dan berlari masuk ke dalam burjo dengan air mata yang mengalir deras di pipiku, mas penjaganya pun ikut panik melihat aku yang berlari kencang menuju ke sini.
“Mbak kenapa, kok lari-larian?” Tanya mas itu.
“Mas, saya izin numpang disini ya untuk malam ini. Saya ga berani di kosan sendirian” ucapku memohon agar di bolehkan menumpang disini.
“Yowes gapapa mba disini aja, bentar saya buatkan teh anget dulu biar mba nya tenang” ucap mas itu.
“Makasih mas” ucapku
Aku segera menelpon Adam dan memintanya untuk menemui ku di sini, “hallo Dam, Dam plis tolongin gue, gue takut” ucapku sambil menangis.
“Lo kenapa Kal, lo dimana sekarang?” Tanya Adam ikut panik mendengar aku yang menangis.
“Gue di burjo dekat kost”
“Sendiri?”
“Iya”
“Lo tunggu di sana, gue kesana sekarang” telpon pun terputus.
15 menit berlalu Adam akhirnya sampai di burjo, “Kal lo kenapa?” Tanya Adam setengah panik melihat kondisiku yang kacau.
Ku ceritakan semua yang aku alami tadi di kost, mulai dari seseorang yang mengintip melalui jendela kamar sebelah sampai penampakan kepala perempuan di kaca. Aku syok karena ini seperti teror, karena selama ini aku hanya di tampakkan oleh wujud yang standar-standar saja.
“Udah gue bilang, tempat ini ga bener, yaudah kita disini aja sampe pagi” ucap Adam.
Semalaman aku dan Adam menunggu di burjo, hingga ketika matahari telah memunculkan sinarnya aku dan Adam kembali ke kost, Adam ingin mengecek katanya.
Sementara Adam sedang mengecek suasana di kost, aku lebih memilih untuk mandi terlebih dahulu. Aku buru-buru ke kamar dan mengambil perlengkapan mandi, lalu masuk ke kamar mandi tengah.
Di sana aku hanya sikat gigi, cuci muka dan menyiram tubuh ku seadanya, karena aku masih parno gara-gara kejadian semalam. Setelah membilas tubuhku dari sabun aku melihat ada yang aneh dari lantai kamar mandi ini, air yang baru saja jatuh setelah mengguyur tubuh ku warna nya berubah menjadi warna merah seperti darah.
Yang tadinya air tersebut berwarna jernih lambat laun berubah menjadi merah gelap dan kental, aku sontak menjerit ketakutan.
Terdengar di luar Adam menggedor pintu kamar mandi ini dan aku cepat-cepat memakai pakaian ku lalu berlari keluar dari sana.
“Ada apa Kal?” Adam bingung melihatku memekik tidak karuan dan keluar dengan tergesa-gesa.
Aku mengatur nafasku agar lebih tenang, “ta..tadi air nya berubah jadi darah Dam” ucap ku menunjuk kamar mandi dengan gemetar.
Adam langsung masuk ke kamar mandi tengah tempatku tadi mandi, Adam mematikan keran air yang belum sempat aku matikan.
“Kalaaa” teriak Yola dan Citra yang baru saja sampai di kost ku. Sepertinya Adam yang sudah menyuruh mereka datang ke sini.
“Kal, lo gapapa? Tadi Adam nelpon gue katanya lo semalem di ganggu?” Tanya Citra panik.
Aku mengangguk mengiyakan, “iya Cit, ini aja gue ga tidur semaleman” ucapku lemah.
“Yaudah sekarang lo ganti baju terus kita ke kampus sama-sama ya” ajak Yola dan aku segera masuk ke kamar untuk bersiap-siap ke kampus.
Ketika kami sudah mau berangkat kami melihat Adam sedang berdiri di depan pintu kamar sebalah, yang katanya kamar itu sudah menjadi gudang penyimpanan barang-barang milik anak kost yang belum di ambil.
Adam berdiri cukup lama di depan kamar itu, mulutnya terlihat sedang merapalkan sesuatu yang entah apa itu, lalu dia mencoba membuka pintu kamar tersebut namun ternyata pintu itu terkunci.
Adam mengetuk pintu tersebut, aku sempat heran ngapain Adam ngetuk-ngetuk pintu gudang, toh disana tidak ada orang, tapi tiba-tiba terdengar suara dari dalam gudang itu.
“Siapa ya?”
HAH?! itu siapa yang jawab? Bukannya kamar itu kosong dan terkunci, tapi kok ada suara orang di dalam.
Adam menghembuskan nafas pelan, sedangkan aku bingung dengan apa yang sedang aku lihat.
“Saya minta kamu jangan ganggu teman saya lagi. Paham?” Ucap Adam, namun lama ia menunggu ternyata tidak ada jawaban dari dalam.
“Saya anggap kamu paham” ucap Adam lagi.
Setelah itu Adam mengajak ku pergi dari sana, Citra dan Yola juga sepertinya bingung dengan apa yang di lakukan Adam barusan, tapi Adam menjelaskan tidak ada apa-apa supaya mereka tidak panik.
Di kampus aku dan teman-teman yang lain membahas tentang apa yang aku alami selama tinggal di kosan baru itu.
“Gila Kal, kalo gue jadi lo mungkin udah pingsan kali” ucap Yola.
“Iye Kal, kuat bener mental lo” tambah Darto.
“Ya mau gimana lagi, gue juga bingung mau ngapain, mau pindah juga ga bisa” ucapku pasrah.
“Yaudah kalo gitu malem ini gue nginep di kost lo aja buat nemenin lo Kal” ucap Citra menawari.
“Lo serius Cit? Emang ga takut?” Tanyaku.
“Ya takut sih, tapikan berdua sama lo jadi gapapa” ucap Citra.
“Yaudah kalo gitu makasih ya” ucapku pada mereka semua.
“Pokoknya kalo ada apa-apa cepet telpon kita ya” ujar Darto.
Malam ini Citra menginap di kost an ku, dan aku izin tidak masuk kerja untuk malam ini. Kami mengobrol hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, “tidur yuk Cit, ngantuk gue” ajak ku.
“Lo duluan aja, gue masih scroll instagram nih, paling juga bentar lagi ngantuk”
“Yaudah gue tidur ya”
Lalu aku tertidur dan sepertinya aku tidur sangat pulas, tapi seketika aku terbangun karena mendengar suara tercekat itu lagi dan bau anyir seketika menyeruak di segala penjuru kamar. Saat aku membuka mata, ternyata aku tidak bisa menggerakkan badanku, tubuhku seperti kaku.
Posisiku sedang menyamping menghadap ke tempat tidur yang di tempati Citra, tapi bukannya Citra yang ada di kasur itu malah seorang wanita berbaju daster putih berlumuran darah, dengan wajah hancur, mulutnya menganga lebar dan lidahnya menjulur keluar menghadap ke arahku.
Ya allah, badanku tidak bisa di gerakkan, untuk sekedar berteriakpun aku tidak mampu. Aku hanya bisa merapalkan doa-doa yang ku hapal di dalam hati. Tubuhku seperti di ikat dengan tali yang erat sehingga untuk bergerakpun aku tidak bisa, aku seperti dipaksa melihat pemandangan yang ada di depanku.
Perempuan itu terus mengeluarkan suara seperti tengah di cekik, suara tercekat itu seakan memekakkan telinga.
Terlihat perempuan itu perlahan bangun dari tidurnya dan mendekat ke arah ku. Aku berusaha untuk menjauh ketika tangannya hendak menggapaiku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk bisa teriak namun usahaku sia-sia, aku hanya bisa menangis pasrah sampai akhirnya tangannya berhasil memegang wajahku.
Aku terus berusaha untuk teriak, “AAAAAA….. ALL… ALLAHHU AKBAR!”
“Kal, kall Kalla bangun lo kenapa, Kalaaa!” Citra mengguncang guncang tubuhku, dan seketika aku terbangun dari tidurku dengan nafas yang memburu.
Bajuku sudah basah oleh keringat, dan tanganku gemetaran hebat, aku langsung memeluk Citra.
“Lo kenapa Kal, istighfar” ucap Citra.
“Astagfirullah… astagfirullah” untung cuma mimpi.
“Lo mimpi apaan Kal sampe ngos ngosan gitu, mana jejeritan kaga karuan tadi” ujar Citra.
“Gue..”
“Eh bentar, pipi lo kenapa?” Tanya Citra seraya memperhatikan wajahku.
“Kenapa?” Tanyaku balik.
Citra menyerahkan sebuah cermin kepadaku, terlihat ada memar berwana merah kebiruan berbentuk seperti cap jari di pipiku, seakan akan aku baru saja di tampar oleh seseorang.
Aku tau bekas apa ini, aku sudah hapal dengan segala bekas yang di tinggalkan mahluk halus di tubuh manusia, aku yakin tadi aku tidak mimpi.
Akhirnya malam itu aku dan Citra tidak bisa tidur lagi sampai pagi menjelang, kami hanya bercerita tanpa terasa hari sudah pagi.
Tok tok tok
Pintu kamar ku di ketuk, ternyata di luar sudah ada Adam, Darto dan Yola.
“Widihh pagi amat kalian udah di sini aja” sapa Citra.
“Iya sekalian kita bisa sarapan sama-sama di burjo depan” ucap Adam
Kami berlima pagi itu sarapan di burjo, lalu setelah itu kami akan menonton film di kost an ku. “Bawa ga kasetnya?” Tanya Citra.
“Bawa, kuntilanak push up kan?” Tanya Darto
“Buset dah Tok, udah tau ni kosan angker, lo malah bawa kaset begituan, kaga kaga gue ga mau nonton horor” tolak Yola.
“Yee, kan biar seru nonton horor di tempat angker, biar uji nyali dikit” ucap Darto sompral.
“Udah udah, nonton yang lain aja” ucap Citra menengahi.
Berbeda dengan Adam, ditengah perdebatan Darto dan Citra, Adam malah memperhatikan ku dengan lekat, “pipi lo kenapa Kal?” Tanya Adam.
Aku menoleh dan langsung memegang pipiku, semua matapun tertuju padaku.
“Eh iya Kal, baru ngeh gue pipi lo kenapa? Merah gitu, lo tampar ya Cit?” Tuduh Darto.
“Enak aja, engga ya. Semalem Kala tuh mimpi tapi mimpinya heboh banget sampe jerit-jerit gitu, pas gue bangunin tiba-tiba muka nya udah merah aja” Citra membantuku menjelaskan pada mereka.
“Bener Kal?” Tanya Adam memastikan.
Aku mengengguk mengiyakan, “iya bener, gue mimpi perempuan itu Dam” ucapku dan semuanya diam menatapku.
“Eh Kal, kita semua berencana mau nginep di kost lo” ucap Yola yang mencairkan suasana tegang yang menyeruak diantara kami berlima.
“Hah? Udah gila lo. Emang boleh bawa cowok?” Tanyaku terkejut.
“Itu si mba Novi tiap hari ngajakin cowok nya mulu nginep di kosan kan?”
Iya memang hampir setiap hari mba Novi tidur bersama pacarnya, aku kadang muak melihat mereka, entah apa yang mereka lakukan di dalam kamar itu. Tidak hanya mba Novi, penghuni kosan lainpun kadang kerap terlihat membawa laki-laki ke dalam kamarnya.
“Tapi gue ga berani, nanti di marahin bu Warni” ucapku.
“Yaudah kita izin dulu sama pemilik kost nya, sekalian kita mau jagain lo” ucap Adam.
Setelah dari burjo kami pergi ke rumah bu Warni sang pemilik kost untuk meminta izin teman-teman ku menginap di kamar malam ini.
“Assalamualaikum” ucap kami serempak dan tak lama muncul bu Warni dari dalam rumah.
“Waalikumsalam, kenapa mba mas?” Tanya Bu Warni ramah.
“Jadi begini bu, saya mau minta izin bawa teman-teman saya menginap di kamar untuk malam ini, karena ada sesuatu yang perlu kami kerjakan bersama” ucapku sopan pada bu Warni.
“Tugas kuliah bu” Darto menimpali saat bu Warni terlihat bingung dengan sesuatu apa yang mau kami kerjakan.
Bu Warni menatapku lekat “baru kamu loh mba yang izin ke saya untuk ngajak temen nginep di kost, selama ini anak-anak kosan yang lain tidak pernah izin membawa teman bahkan pacar mereka ke dalam kamar kost” ucapnya lemah.
“Loh emangnya ibu ga marah kalo mereka bawa pacar ke kamar?” Tanya Yola.
“Saya udah pernah menegur mereka dan melarang membawa teman pria ke dalam kamar, tapi mereka malah tidak terima dan keluar dari kosan. Sejak saat itu kosan saya jadi sepi ga ada yang mau nyewa” ucap bu Warni lesu.
“Jadi sekarang saya tidak pernah lagi menegur mereka, saya ga mau kosan saya ga ada yang mau nyewa, saya dapet uang cuma dari kost ini mba” sambungnya lagi.
Kami prihatin kepada bu Warni, dia sampai membiarkan kamar kosnya tercemar hanya karna dia makan bergantung pada uang kosan itu.
“Yaudah mba, saya izinkan mba bawa teman-teman mba nginep di kamar, tapi tolong jangan berbuat yang macem-macem ya” bu Warni memperingati.
“Iya bu, kami ga akan macem-macem kok. Makasih ya bu” ucap ku.
“Sama-sama” ucap bu Warni sambil tersenyum.
“Ohiya bu, cucu ibu mana? Cewek atau cowok bu?” Tanyaku.
“Cucu?” Bu Warni membeo tanda tak mengerti dengan pertanyaanku.
“Iya cucu ibu yang baru lahir, saya sering denger dede bayi nya nangis malem-malem bu” ucapku.
Raut wajah bu Warni seketika pias, dia diam mematung tak menjawab pertanyaanku.
“Bu” aku memanggilnya dan menyentuh punggung tangannya.
“Maaf saya ada perkerjaan yang harus saya kerjakan, kalian silahkan pergi dari sini” ucap bu Warni seraya menutup pintu rumahnya.
Kami berlima saling pandang melihat kelakuan bu Warni barusan, apakah salah jika aku menanyakan tentang cucu nya pikirku.
“Dia kenapa?” Tanya Darto.
“Ga tau, aneh banget” jawab Yola.
“Yaudah yuk kita ke kamar aja” ajakku.
Seharian ini kami hanya menghabiskan waktu untuk menonton film di laptop dan bercerita tentang hal random yang kami alami masing-masing. Sampai malam tiba kami merasa lapar tapi sangat malas untuk keluar mencari makan.
“Yuk cari makan keluar” ajak Darto.
“Males ah, dingin banget di luar. Lo bedua aja yang keluar yahhh” ucap Yola.
“Yeee, itu namanya enak di lo eneg di gue” protes Darto.
“Yaelah Tok sekali-sekali” ucap Citra.
“Yaudah kalian mau makan apa?” Tanya Adam, memang hanya Adam yang sedikit waras di antara dia dan Darto.
“Nasi goreng aja” ucap kami.
Sementara para cowok pergi keluar untuk membeli makan, kami ngobrol-ngobrol masalah perwanitaan. Namun, tak lama waktu berselang kami mendengar suara mba Novi berteriak minta tolong. Sontak kami langsung keluar dan mencari mba Novi, yang ternyata dia sedang terkurung di dalam kamar mandi.
“Mba Novi, mba kenapa?” Teriak ku dari luar sambil menggedor pintu kamar mandi tengah.
“Tolong, banyak darahh tolong” teriaknya lagi.
Aku teringat dengan yang ku alami beberapa hari yang lalu, aku juga melihat genangan darah di kamar mandi tengah ini.
Kami mencoba membuka pintu itu namun tidak bisa, pintunya seakan terkunci dan tidak bisa di buka, terdengar mba Novi menangis di dalam kamar mandi itu, tapi ada yang aneh dengannya. Sesaat setelah kami mendengar ia menangis tiba-tiba suara tangisan mba Novi berubah menjadi suara tawa yang yang lirih.
“Mba, mba gapapa?” Tanya ku seraya mendekatkan telinga ku ke daun pintu.
Tawa mba Novi semakin lama semakin kencang seperti memekakkan telinga, Citra dan Yola mundur dan menarikku menjauhi kamar mandi itu.
“Kal ayo Kal, kayanya mba Novi kesurupan” ucap Citra.
“Iya bener, masa dia ketawa-ketawa sendiri di dalem” tambah Yola.
“Tapi kalo terjadi apa-apa sama mba Novi gimana?” Ucapku khawatir dengan mba Novi, karena aku tau apa yang sedang di lihat oleh nya di dalam.
“Ayo Kall!!“ Yola dan Citra menarikku menjauhi kamar mandi itu dan berlari menuju ke kamar dan berujung menabrak Darto yang sedang berjalan ke arah kamarku.
“Woy kalian kenapa?” Tanya Darto.
“Itu itu” ucap Yola.
“Itu apaan, ngomong yang jelas” ucapnya lagi.
Adam yang mendengar ada suara dari arah kamar mandi sontak langsung menuju kesana, dia mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi tengah tempat mba Novi berada.
“Dia kesurupan” ucap Adam seraya menunjuk ke dalam.
“Hah? Siapa yang kesurupan” tanya Darto terkejut.
“Mba Novi, tadi dia teriak minta tolong katanya banyak darah di sana, trus dia nangis dan ga lama dia ketawa-ketawa sendiri” ucap ku menjelaskan pada mereka.
Didalam masih terdengar suara teriakan mba Novi dan di selingi suara tertawa cekikikan di dalamnya. Terlihat Adam menundukkan kepalanya menghadap kamar mandi itu dan seperti membaca sesuatu lalu ia menempelkan telapak tangannya ke pintu kamar mandi itu.
Tak selang beberapa lama susana di dalam kamar mandi seketika hening, suara teriakan mba Novi tidak lagi terdengar.
“Kalian yang cewek buka pintunya, dia pingsan di dalam.” Perintah Adam.
“Tapi kita takut, nanti dia kesurupan lagi gimana” tolak Yola.
“Enggak dia udah pergi, kalau kita yang masuk nanti dia posisinya lagi polos gimana?” Tanya Adam.
“Benar juga sih, yaudah gue aja” ucap Darto maju hendak membuka gagang pintu.
“Ehhhhh, minggir! Dasar omes” ucapku seraya menarik kerah belakang baju Darto.
Aku membuka perlahan pintu kamar mandi tempat Mba Novi tadi, terlihat disana mba Novi tergeletak di lantai kamar mandi. Tapi dia masih menggunakan pakaian lengkap, sepertinya dia baru saja hendak mandi.
Kami semua membantu mengangkat mba Novi dan membawanya ke kamar kost mba Novi. Setelah beberapa lama mba Novi sadar dan dia sontak menangis dan memeluk Ku.
“Mba kenapa? Mba liat apa tadi di kamar mandi” tanyaku.
“Tadi aku mau mandi, tapi tiba-tiba di lantai banyak banget darah sampe-sampe kaki ku tenggelem oleh darah itu, trus pas aku teriak minta tolong sama kalian tiba-tiba ada dia di belakangku, aku lupa kalo kamar mandi itu ga boleh di pake malem-malem, tapi aku udah keburu kecapekan dan pengen cepet tidur abis mandi jadi ga liat-liat lagi.” Mba Novi menjelaskan kronologi kejadian tadi.
“Dia? Dia siapa mba?” Tanya ku tidak mengerti.
Mba Novi seperti gelagapan dan tidak menjawab pertanyaanku.
“Pokoknya kamu harus hati-hati mba, soale dia datang lagi, dan jangan coba-coba ke kamar mandi tengah kalau malam” ucap mba Novi memperingati.
Kami bingung, siapa yang mba Novi maksud. Tapi kami tidak memperpanjang bahasan itu karena kami tidak mau membuat mba Novi semakin ketakutan.
Akhirnya mba Novi di jemput oleh pacarnya dan akan menginap di kost pacarnya malam itu. Kami berlima kembali ke kamarku dan mulai makan nasi goreng yang di beli Darto dan Adam.
“Gue penasaran, dia yang di maksud mba Novi itu siapa ya?” Tanya Yola.
“Ga tau, yang jelas bukan manusia” jawab Adam.
“Jadi apaan dong? Thanos? Atau mermaid?” Tanya Darto sambil tertawa.
“Eh Darto, kalo dia denger gimana?” Ucap Citra.
“Ya ajak makanlah biar akrab, rene mbak makan karo aku” ucap Darto sambil melambai lambai kan tangannya ke segala arah seperti mengajak seseorang yang tidak tau dimana tempatnya untuk makan bersamanya.
“Hushhh… cangkeme kui di jaga, lek de’e teko tenan piye?!” Ucap Yola seraya menepuk pundak Darto, mereka kalau sudah berdebat pasti bahasa kerajaannya keluar.
“Iyo iyo maaf, guyon aku” ucap Darto.
“Awas lek ijek ngomong meneh, tak pites koe” ancam Yola.
“Wes wes, jangan pada berantem, abisin ituh makanan nya” Citra ikut menengahi.
Setelah menghabiskan makanan dan ngobrol-ngobrol tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, kami semua beranjak untuk mengatur posisi tidur. Darto dan Adam tidur di sudut kamar dengan alas kasur santai, sedangkan kami bertiga tidur merapat di kasur dekat pintu.
Kami terlelap cukup lama dan tiba-tiba aku terbangun mendengar suara bising yang ada di gudang sebelah, seperti ada suara kursi yang terjatuh ke lantai.
Aku diam mendengarkan kegaduhan di sebelah, dan tiba-tiba terdengar lagi suara tercekat seperti yang aku dengar sebelumnya.
Aku beranjak membangunkan Adam untuk memberitahunya tentang suara yang aku dengar.
“Dam Dam” panggilku.
Adam terbangun “kenapa Kal?” Tanyanya.
“Stttttt…” aku menempelkan jari telunjukku ke bibir.
“Kenapa?” Tanya Adam lagi dengan setengah berbisik.
“Kamu denger gak?” Tanyaku.
Adam diam sebentar untuk menyiapkan telinganya lalu seketika menoleh padaku, “kaya ada yang di cekek Kal” ucapnya.
“Iya kan? Nah suara itu yang tiap malem gue dengar” ucapku pada Adam.
“Ayo kita cek” ajak Adam.
Aku dan Adampun keluar kamar untuk melihat suasana di luar, dan suara itu benar berasal dari gudang sebelah kamarku.
“Suaranya dari sini dam” tunjukku.
Adam berusaha membuka pintu gudang itu dengan sekuat tenaga, takutnya bukan suara setan melainkan suara manusia yang sedang di sekap selama ini. Adam terus mendobrak pintu gudang itu sampai Darto dan yang lainnya ikut terbangun karena mendengar keributan ini.
“Kalian lagi ngapain? Mau maling ya? Kok gak ngajak ngajak” ucapnya ngawur.
“Eh bencong, lo ngigo ya?” Ucap Yola seraya menepuk pundak Darto.
“Sakit Yol yaelah” keluh Darto.
“Kenapa Kal?” Tanya Citra padaku.
“Kalian emang ga denger ada suara orang di cekek?” Tanyaku.
Mereka menggeleng, “enggak, malahan gue kira itu suara Darto yang lagi ngorok” ucap Yola.
“Sembarangan lo kalo ngomong, gini gini juga gue kalo tidur itu estetik” ujar Darto tidak terima.
“Tidur estetik tu gimana sih, aneh lu” ucap Yola.
“Lu yang aneh” mereka kembali bertengkar.
“Ehhh udah-udah, mending lo bantu gue buka pintu ini Tok” lerai Adam.
Darto dan Adam berusaha mendobrak pintu gudang itu, tak selang berapa lama pintu itupun terbuka, terlihat ruangan gelap berdebu menghiasi suasana didalam ruangan itu.
“Buset, debunya banyak banget” ucap Yola.
“Haloo ada orang gak?” Teriak Darto.
Blam… Adam menghidupkan saklar lampu guna untuk melihat dengan jelas keadaan gudang itu.
Kami sontak terkejut melihat ada sebuah tali yang menggantung di tengah-tengah ruangan itu, tali yang bawahnya di ikat dan disisakan sedikit ruang untuk memasukkan kepala manusia, dan di bawah tali itu ada sebuah kursi yang tergeletak di lantai.
Iya… itu adalah tali bekas seseorang mengakhiri hidupnya di kamar ini.
“AAAAAAAAAA….” kami teriak dan lari tungang langgang masuk ke kamar ku.
Hiii.. Hiiiiihiiiii…..Hiiiiiii” tiba-tiba di dalam kamarku menggema suara cekikikan yang entah darimana asalnya.
Kami semua ketakutan, Yola dan Citra menangis. Keadaan di kamarku sudah tidak kondusif, kami memutuskan untuk keluar dari kamar itu, tapi tiba-tiba pintu kamarku terkunci dari luar.
“Kal gimanaa ini, kok bisa terkunci dari luar” ucap Darto yang sedang panik.
“Gue ga tau” jawabku
“Dam itu suara siapa?” Tanyaku pada Adam.
“Kayanya ini adalah malam dimana dia bunuh diri” ucap Adam.
“Siapa yang bunuh diri dam, balik yuk woy ya allah takut banget guee” ucap Darto histeris.
Selang 5 menit suara cekikikan itu berhenti sejenak, dan tak berapa lama berganti dengan suara tercekat yang tadi kami dengar.
“Aaa aaakkkk” tiba-tiba aku merasakan leherku seperti di ikat oleh seutas tali dan di lilit dengan sangat erat.
“Kal, lo kenapa?” Pekik Citra.
Aku memegang leherku, untuk melepaskan tali yang mengikat leherku, namun nihil tidak ada apapun di leherku.
“Kalaa!!!!” Panggil teman-temanku.
Di tengah-tengah rasa sakit di leherku, aku seperti di perlihatkan lintas kejadian yang pernah terjadi disini pada masa lalu. Aku melihat ada seorang anak perempuan yang menempati kamar sebelah sedang melakukan tindakan mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung lehernya di tali yang sudah ia sediakan sebelumnya. Dia gantung diri, dan tewas seketika di kamar itu.
Tak lama tali tak kasat mata yang mengikat leherku seakan terasa terlepas dan seketika aku ambruk ke lantai, barulah setelah itu aku bisa bernafas lega, “kal, lo gapapa?” Tanya Adam.
Saat teman-temanku mengerubungi aku di lantai, mataku melotot tajam melihat ke sudut atas kamarku, sontak yang lain pun ikut melihat kemana arah pandangku itu. Seketika mereka semua berteriak histeris saat melihat sesosok wanita berpakaian putih berlumuran darah dan terikat seutas tali di lehernya sedang memandangi kami sambil cekikikan.
Semuanya histeris dan berlari menuju pintu keluar, Adam dan Darto berusaha mendobrak pintu itu dari dalam, ketika akan mendobraknya lagi tiba-tiba pintu terbuka. Terlihat bu Warni yang sudah membuka pintu itu dari luar.
“Bu, di dalem ada setan bu” ucap Yola sambil menangis.
“Iya bu, serem banget ada tali-talinya di leher” ucap Darto gemetar.
Bu Warni tak menanggapi kami, dia langsung masuk ke dalam kamar ku dan menghadap ke sudut ruangan kamar.
“Sudah nduk, ojo di teruskan yo ibu sudah ikhlas melepasmu pergi, ibu sudah ridho. Kamu yang tenang disana ya nduk” ucap bu Warni menghadap ke wanita menyeramkan itu.
“I…ibu, maafkan Dinda bu” terdengar wanita itu merintih dan meminta maaf kepada bu Warni.
“Iyo ndak apa apa nduk ibu ikhlas, yang menyakitimu akan mendapatkan balasannya sendiri nanti. Sekarang kamu bisa pergi dengan tenang” ucap Bu Warni lirih.
Sosok wanita itu perlahan terbang ke atas, ada kilauan-kilauan cahaya putih mengelilingi sosok wanita itu. Sosok menyeramkan itu tadi kini berubah menjadi sosok wanita cantik dan manis, dia terbang kian tinggi hingga perlahan-lahan menghilang dalam pandangan.
Seketika bu Warni ambruk ke lantai dan menangis tersedu-sedu, dia menangis dengan pilu setelah melihat sosok itu menghilang di hadapannya.
Kami mendekat ke bu Warni dan berusaha menenangkannya. Setelah ia sedikit lebih tenang, Adam mendekat dan bertanya pada bu Warni.
“Bu, sebenarnya apa yang terjadi di kosan ini. Kenapa seperti begitu banyak hal ganjil disini, tadi mba Novi juga sempat kesurupan di kamar mandi dan melihat genangan darah disana” ujar Adam.
Bu Warni mengambil nafas lalu menghembuskan nya pelan, dia mulai bercerita “sebenarnya kosan ini dulunya kost yang aman dan nyaman, tidak ada satupun yang berani membawa laki-laki ke sini, tapi sejak saya tinggalkan ke luar kota, saya menitipkan kunci kosan dengan anak saya Dinda, selama 3 bulan saya ke luar kota karena ada urusan yang harus saya kerjakan sendiri.” Ujar bu Warni.
“Selama itu juga Dindalah yang mengurus kosan ini, dia cukup akrab dengan anak-anak yang menyewa kamar disini termasuk Novi, sehingga anak anak disini berani membawa pria ke kamar mereka karena merasa dekat dengan anak saya. Suatu hari Dinda meminta izin pada saya untuk memakai kamar yang paling ujung untuk alasan kerja kelompok, setiap hari dia tinggal di kamar itu dan jarang pulang kerumah, bahkan saya mendapat laporan dari seorang anak kost bahwa dinda sempat pulang ke kost dalam keadaan mabuk berat bersama seorang laki-laki dan masuk ke kamar kost itu.”
“Saya tidak tau apa yang terjadi dengan anak saya, mengapa dia bisa jadi seperti ini, yang jelas suatu hari saya di panggil oleh seorang anak kost yang menyuruh saya ke kamar mandi tengah di kosan. Disana mereka mendengar Dinda mengerang seperti sedang kesakitan, mereka menggedor gedor pintu namun tidak ada jawaban, hanya terdengar erangan dari dalam. Mereka berinisiatif untuk mendobrak pintu kamar mandi itu.”
“Setelah pintu terbuka mereka menemuka Dinda sudah dalam keadaan bersimbah darah, Dinda hanya memakai daster selutut dan mengalir darah segar dari arah selangkangannya, saat itu dia terus mengerang kesakitan.” Jelas bu Warni sambil menangis.
“Saya segera membawa Dinda ke rumah sakit, dan saya sangat tidak menyangka bahwa Dinda di nyatakan baru saja keguguran. Saya syok saat itu, Dinda selama ini tidak menceritakan soal apapun termasuk soal kehamilan nya ini, setelah Dinda sadar dia bercerita padaku pada saat mabuk dia diantar oleh salah seorang teman nya ke kosan, tapi dia tidak tau teman nya yang mana yang mengantarnya itu. Samar-samar dia ingat teman nya itu sedang melucuti pakaian Dinda dan mulai memperkosanya, saat itu Dinda tidak berdaya untuk melawan karena dalam pengaruh alkohol”
“Setelah Dinda pulang dari rumah sakit dia tidak mau di bawa ke rumah, melainkan dia memilih untuk tinggal di kamar kost saja. Sejak kejadian itu Dinda sering kali terlihat mengurung diri di kamar kosan nya, dan tidak mau bertemu dengan orang lain termasuk saya ibunya sendiri. Berhari-hari saya membujuk Dinda supaya mau keluar dan pulang kerumah tapi dia tetap saja tidak mau.”
“Hinga suatu hari anak yang tinggal di kamar kost yang mba Kala tempati ini melapor pada saya bahwa semalam ada suara gaduh dari dalam kamar Dinda, seperti suara benda di banting-banting dan terakhir seperti suara kursi yang terjatuh di lantai.”
“Keesokan harinya saya coba cek kamar itu, meminta anak kosan lain untuk mendobrak pintunya karena terkunci dari dalam, saat itulah hati saya hancur sehancur hancurnya melihat anak saya Dinda tergantung di tengah-tengah kamar, dengan leher terikat tali tambang yang di buatnya sendiri, badannya penuh luka lebam dan tubuhnya seperti di sayat-sayat benda tajam, polisi menduga bahwa Dinda melukai tubuhnya sendiri sebelum melakukan aksi bunuh diri.”
Kami semua tertegun mendengar cerita yang di sampaikan oleh Bu Warni, kami tidak menyangka bahwa anaknya sendiri yang gentayangan di kosan ini.
“Sampai saat ini saya tidak sanggup membereskan kamar tempat Dinda bunuh diri, karena luka di hati saya seakan kembali robek saat saya masuk ke kamar itu, jadi saya biar saja begitu.”
“Malam ini, tepat satu tahun kepergian Dinda. Saya sering di tampakkan oleh arwah Dinda, itu mungkin karena saya belum ikhlas melepasnya pergi dan masih menyimpan dendam dengan orang yang telah memperkosa anak saya.”
Tangis bu Warni pecah, kami hanya bisa memeluk dan menenangkan beliau. Kami tidak tau harus merespon bagaimana, karena kami juga syok dengan kejadian barusan.
“Ibu yang sabar ya, yang terpenting sekarang ibu harus ikhlas dan tabah, biar ibu bisa fokus mendoakan Dinda. Saya yakin Dinda juga akan jauh lebih tenang disana jika ibu bisa melepasnya dengan ikhlas.” Ucapku menenangkan bu Warni.
“Iya mba saya sudah ikhlas atas kepergian anak saya, saya hanya berharap semoga pelakunya mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatannya” ucap bu Warni.
“Bu besok pagi kita bantu membereskan kamar bekas Dinda ya, biar ibu tidak kepikiran lagi” ucap Adam, seketika kami menolehkan pandangan ke Adam.
“Makasih ya mas, saya ga tau harus bilang apa sama mas dan mbak nya, kalian pada baik banget sama saya” ucap Bu Warni lagi.
“Iya sama-sama bu” ucap Adam.
“Stt. Dam” panggil Darto setengah berbisik seraya menyenggol lengan Adam.
“Lo gila ya, itu kamar bekas orang bunuh diri, tali nya aja masih nyantol di langit-langit” protes Darto.
“Kasian Tok, berbuat baik sekali-sekali” ucap Adam.
Keesokan harinya sesuai janji kami membantu bu Warni membereskan kamar bekas Dinda dulu, kondisinya masih sama seperti terakhir kali Dinda menghembuskan nafas terakhirnya setahun yang lalu disini. Kami bergidik ngeri melihat tali yang menggantung di langit-langit kamar ini.
Semua barang-barang di buang oleh bu Warni, termasuk tempat tidur dan lemari. Setelah kamar sudah kosong dan bersih, kami berpamitan dengan bu Warni, kami sebenarnya ada kuliah pagi tapi tak apalah kami datang agak siang ke kampus.
Sejak kejadian malam itu dan bu Warni mengadakan pengajian untuk pembersihan area kost suasana kost pun menjadi nyaman kembali. Sudah mulai banyak orang yang berminat ngekost disini, bu Warni menyediakan kursi panjang di depan setiap kamar agar tamu laki-laki tidak masuk ke kamar karena bu Warni sudah melarang keras penghuni kost membawa teman pria masuk ke dalam kamar.
Untuk kamar mandi tengah kini sudah sering di gunakan oleh penghuni kost baik dimalam maupun siang hari.
Sudah tidak ada lagi teror demi teror yang menghantui penghuni kost di sini. kini kosan ini ramai kembali seperti dulu, dan akupun memilih untuk tetap tinggal disini, namun aku meminta kepada bu Warni untuk pindah kamar di depan, agar lebih dekat dengan parkiran motor, dan yang mengejutkan Citra dan Yola juga memilih untuk pindah ngekost disini juga, kamar kami saling berdempetan.
***
-Kost Angker-
Tamat