Helen, seorang gadis desa biasa. Selain membantu ibunya memasak dan mencuci dia juga sering membuat anyaman dan kerajinan di waktu senggangnya untuk dijual.
Di usianya yang belia rasa penasarannya masih sangat besar. Kadang dia mencoba membuat kerajinan dari bahan-bahan yang seringkali aneh. Sebagian berhasil, lebih sering gagal.
Tapi itu tidak menghentikannya untuk terus mencoba hal-hal baru.
Hingga suatu hari.
Saat mencari daun yang akan dijadikannya anyaman. Helen melihat sesosok raksasa yang kepalanya menembus awan.
Takut, tentu saja.
Helen segera lari terbirit.
Tapi sekali lagi, rasa penasaran mendorong dirinya.
Menggoda, merayu.
Sedikit demi sedikit Helen mendekat. Raksasa itu tak bergerak, hanya berdiri diam.
Merasa tak diperhatikan oleh makhluk besar itu helen akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh kaki berbulunya.
Raungan memekakkan telinga segera bergema, helen mendongak, sepasang mata merah bercahaya mengintip dari lapisan tebal awan kelabu.
Hatinya turun, serasa jatuh ke danau es, tubuhnya membeku ketakutan, seluruh syarafnya berteriak lari tapi pikirannya tak menanggapi.
Untuk pertama kalinya, helen diingatakn bahwa dia juga memiliki rasa takut, akan sesuatu yang tak diketahuinya.
Tangan gigantisme mengangakst tubuhnya dengan hati-hati. Helen terpejam, merasakan arus udara kuat menekannya, memaksanya untuk berbaring diatas telapak tangan kasar makhluk itu.
Hingga akhirnya setelah menembus lapisan uap air tebal. Helen perlahan membuka matanya kembali.
Wajah tua botak, kulit hitam pecah pecah, cairan nanah dan darah kering mengalir melewati celah retakan.
Mulut helen terbuka lebar-lebar, tak ada suara yang keluar. Teriakan itu tertahan di tenggorokannya.
Sepasang mata merah bercahaya raksasa buruk rupa menatap makhluk mungil di tangannya penasaran.
Helen hanya diam.
Hal itu berlangsung selama hampir setengah jam. Raksasa menguap bosan. Dia mengepalkan tangannya, Helen berada dalam kegelapan.
Mengambil ancang-ancang terlebih dulu, makhluk gigantis itu melemparkan helen jauh!
Helen berteriak sejadi-jadinya!
Habis
Tamat
Pasti dia bakal mati!
Tubuhnya perlahan turun, menabrak ranting-ranting pohon yang memperlambat kecepatan jatuhnya. Lalu secara ajaib, mendarat di atas genteng, menghancurkannya, hingga akhirnya berakhir terbaring di atas kasurnya sendiri.
Ibu Helen yang mendengar kegaduhan segera memeriksa kamar putrinya. Dia terperangah.
“Helen apa yang kau lakukan atap itu baru diperbaiki seminggu lalu!”
Helen hanya melirik, dia terlalu takut untuk bangun, badanya terasa sakit semua.
“Aku mau tidur dulu.” Helen menutup matanya, tenggelam dalam mimpi tak lama kemudian.
Ibunya hanya menggeleng tak berdaya.