Pagi hari,Mia membuka kedua matanya.Dia merasakan sakit luar biasa di bagian inti tubuhnya.Pergulatan yang terjadi semalam benar benar luar biasa,tidak hanya menguras air mata Mia tapi juga keringat dan tenaga.
Mia menoleh kesamping,dia mendapati seorang pria tampan disisinya sedang menatapnya dengan tatapan tajam.Mia langsung menggelinding kebawah ranjang dan bersembunyi dibawah selimut tebal.
"Siapa kamu?"Tanya Martin.
"Aku Mia,teman Ellen."Jawab Mia lirih.
"kemana Ellen pergi?"Tanya Martin lagi.
"Aku tidak tau,"sahut Mia singkat.
"Bohong,kamu kan temanya.Masa kamu bisa tidak tau kemana dia pergi?"Martin sedikit meninggikan suaranya untuk membuat Mia takut.
"Tolong jangan marah padaku Tuan,aku sendiri juga ditipu olehnya."Mia mencoba meyakinkan pria itu kalau dia benar benar tidak tau keberadaan Ellen saat ini.
Mia bisa saja memberitahu Martin jika Ellen kabur ke negara tetangga.Tapi Mia akan rugi dua kali jika Martin sampai bisa menemukan Ellen.Dia tidak hanya akan kehilangan kesuciannya,tapi juga uang seratus juta pemberian Ellen.
Harga diri Mia memang sudah hancur,tapi hidupnya tidak boleh hancur ditangan rentenir.Mia tidak boleh menyalahkan siapapun atas semua yang terjadi padanya.Dia lah yang memutuskan untuk menerima tawaran Ellen,dia juga harus mau menanggung konsekuensinya.
"Tolong ijinkan aku pergi Tuan,"Mia memelas.Berharap Martin mau membiarkan dia pergi begitu saja setelah kasus penipuan yang dilakukanya.
"Kamu pikir aku akan mengijinkan barang yang sudah aku beli dengan harga tinggi begitu saja?Konyol sekali!"Martin menyeringai.
"Barang yang sudah anda beli?Apa maksud Tuan?"Mia memasang wajah bingung.
"Aku membeli Ellen dengan harga tinggi dari kedua orangtuanya,tidak disangka barang yang aku dapat malah jauh lebih bagus dan berkualitas."Wajah Martin terlihat sangat bahagia seolah baru saja menang undian lotre.
"Aku bukan barang Tuan,aku seorang wanita,"Mia marah.Dia merasa tersinggung dengan kata kata yang keluar dari mulut Martin.
"Wanita yang akan menjadi penghangat ranjangku.Mulai saat ini dan seterusnya,kamu adalah milikku seorang."Ucap Martin tegas.
*
*
*
Hidup Mia berubah drastis setelah Martin membawanya pulang kerumah.Martin memberinya kemewahan dan kemudahan dalam segala hal,tapi Mia tetap saja tidak bisa merasakan bahagia.Mungkin karena Mia merasa terpaksa menikahi pria itu,tanpa cinta dan tanpa rasa sayang sedikit pun.
Sehari dua kali,Martin mendatangi Mia dan meminta haknya sebagai seorang suami.Mia tidak boleh menolak,kalau dia berani menolak maka Martin akan memperlakukannya secara kasar dan brutal.
Pagi itu,Martin pergi ke kantor.Mia diam diam mencoba menghubungi Ellen melalui telfon rumah.
Tut...Tut...Tut..telfon itu tersambung.
"Hallo,"ucap Ellen.
"Ellen,ini aku Mia."Ucap Mia.
"Hai,apa kabar Mia,"sapa Ellen ramah.
"Jangan berpura pura tidak bersalah Ellen,kamu sudah menjebak aku,"Mia marah marah.
"Maaf Mia,aku terpaksa melakukan itu.Aku tidak mau Martin mengejar aku sampai keluar negri,"suara Ellen terdengar sangat menyesal.
"Teganya kamu menumbalkan temanmu sendiri,kamu benar benar..."Obrolan Mia terputus.Ellen menutup telfonya.
Mia membanting telfon rumah itu.Dia merasa kesal pada sikap Ellen sahabat dekatnya.Mungkin inilah takdir dari seorang Mia,dia harus rela menjadi teman tidur dari seorang CEO lumpuh.Seorang pria dingin,galak dan kasar.