Cerpen Santet
Anya Asokawati, wanita berusia dua puluh delapan tahun itu, baru saja melahirkan anak pertamanya. Setelah lima tahun digunjingkan mandul, Anya akhirnya mampu membuktikan kalau dia bisa menjadi seorang istri yang sempurna bagi pria bernama Aji Notonegoro.
Satu bulan setelah proses melahirkan secara sesar, Anya merasakan sakit di bagian perut bagian kanan. Rasa nyeri yang mendadak itu selalu datang di malam hari. Anehnya, rasa nyeri itu hanya berlangsung ketika pukul sebelas malam sampai azan subuh terdengar.
Pukul satu dini hari, ketika sakit itu berlangsung, bayi perempuan Anya selalu saja menangis. Bayi itu menolak menyusu pada Anya. Sang suami terpaksa memutuskan untuk memberikan susu formula. Gagal sudah program asi ekslusif yang Anya inginkan. Namun, tangisan bayi itu tak mau berhenti walaupun telah diberi susu dan digendong oleh ayahnya.
"Mas Aji, bawa Naya ke rumah ibu!" lirih Anya seraya menahan sakit.
"Tapi, kamu nanti sendirian, Dek." Pria berusia tiga puluh dua tahun itu mendekat. Tubuh tinggi tegapnya mengusap bahu sang istri dengab lembut.
"Ndak apa-apa. Aku kuat, kok, Mas. Sudah sana cepat! Kasian Naya."
Aji mengangguk. Untungnya, rumah orang tua Aji dekat, sekitar seratus meter dari rumahnya. Saat Anya sedang sendirian, mencoba membaluri perutnya dengan minyak kayu putih, tiba-tiba bayangan sosok wanita tua muncul di layar televisinya yang tidak dihidupkan.
"Astagfirullah!" pekik Anya.
Anya sempat mengerjap beberapa kali, memastikan bayangan yang dia lihat di layar televisi kamarnya. Bayangan itu masih terlihat tepat berdiri di belakang Anya. Padahal di kamar itu Anya sedang sendirian. Perempuan itu menoleh ke belakang tak ada siapa pun di sana. Namun, saat Anya berbalik kembali, secara mendadak muncul sosok wanita tua dengan rambut tipis menempel di kulit kepala yang terlihat hampir botak, wajahnya bersimbah darah mengerikan. Anya kehilangan kesadaran kemudian.
***
"Malam ini ada ibu sama Nur yang nemenin kamu. Jadi, kalau kamu sakit, biar ibu yang jaga Naya. Maaf ya, Dek, Mas belum bisa antar kamu ke dokter." Aji mengusap kepala sang istri dengan lembut.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku paham sama pekerjaan kamu. Aku masih kuat, kok. Tiga hari ke depan kamu ambil cuti, kan?" Anya merapikan kerah seragam polisi milik Aji.
"Iya, Dek. Semoga malam ini kamu nggak sakit lagi, ya." Aji melirik arloji di tangan kiri yang menunjuk angka sembilan.
Malam itu adalah jadwal Aji menjaga pos polisi tempat dia bekerja. Dia akan pulang esok hari pukul enam. Setelah berpamitan, Anya mengecek bayinya yang terlelap di tangan ibu mertuanya.
"Kamu istirahat saja, Nya. Biar Naya Ibu sama Nur yang jaga," ungkapnya.
"Tapi, Bu–"
"Mbak, mau Nur temani?" Nur keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya.
"Mbak maunya bobo sama Naya, Nur." Anya meraih Naya dari tangan Bu Sri.
Sontak saja, bayi itu terbangun dan menangis. Tadinya, Anya hendak membawa bayi itu ke kamar.
"Tuh kan, Ibu bilang apa. Naya biar sama Ibu saja, ya." Sri mencoba menenangkan Anya.
"Asi aku gimana, Bu?" Anya membendung bulir bening itu agar tak menetes di pipi.
"Pompa aja, Mbak, nanti Nur hangatkan kalau Naya haus." Adik iparnya juga ikut menenangkan.
"Ya sudah kalau begitu. Makasih ya, Bu, makasih ya, Nur." Anya mengulas senyum ketulusan. Dia sangat bersyukur memiliki mertua dan adik ipar yang baik seperti mereka.
Hampir saja Anya merebahkan tubuhnya di atas kasur, ponselnya berdenting. Tampak Mas Aji bersama perempuan lain sedang berbincang di tepi jalan dalam layar ponsel pintar itu. Namun, Anya tak dapat melihat wajah perempuan itu dengan jelas. Nur masuk membawakan Anya susu hangat. Dia melihat sang kakak ipar tak bisa lagi membendung kesedihannya.
Saat Nur menanyakan kenapa Anya menangis, perempuan itu menyerahkan ponsel miliknya pada sang adik. Nur langsung menghubungi kakaknya. Aji menjelaskan kalau wanita tersebut korban pencopetan yang bertemu dengannya sebelum ke kantor.
"Kayaknya Mbak Anya khawatir berlebihan, deh. Mas Aji itu orangnya setia. Kalian udah nikah lima tahun lebih. Aku yakin Mas Aji nggak akan semudah itu selingkuh," pungkas Nur.
Anya merasakan sedikit kelegaan setelah berhasil diyakinkan oleh Nur.
***
Pukul setengah dua belas malam, Anya terbangun karena rasa nyeri perut yang mulai menghantam. Tiba-tiba, dia melihat sosok wanita tua yang terlihat di layar televisi kembali. Sontak saja Anya menjerit sampai terdengar oleh ibu mertua dan adik iparnya.
“Kamu kenapa, Anya?” Sri dengan paniknya menghampiri menantunya bersama Nur.
“Ta-ta-tadi, tadi ada nenek-nenek keliatan di layar tv, Bu.”
“Ah, ngaco kamu. Nggak ada apa-apa di sini." Sri dan Nur memastikan sekitarnya.
Mendadak kemudian, Naya menangis seiring dengan rasa sakit yang makin hebat yang Anya rasakan.
"Mbak Anya, perutnya sakit, ya?”
Nur melirik ke arah tangan Anya yang masih meremas bagian perut seraya mendesis.
“Ini sakitnya beda, Nur. Ini nyeri banget! Terus rasanya panas,” jawabnya kesakitan.
“Coba kamu minum obat pereda nyeri dulu,” pinta Sri.
“Sudah habis, Bu. Ssshhh … ini sakit sekali.”
“Pakai minyak angin, Nya," titah Sri lalu menoleh pada putrinya, "Nur, kamu siapkan botol beling berisi air hangat buat mbakmu, ya." Nur mengangguk.
Naya masih saja menangis sampai Sri membawa bayi itu ke rumahnya. Alhasil, Naya menjadi tenang setelah keluar dari rumah orang tuanya. Untungnya, Sri maklum dengan kondisi menantunya yang kemungkinan masih merasakan nyeri di bagian perut bawah pasca melahirkan secara sesar. Padahal, sakit yang Anya rasakan berbeda.
Anya tinggal sendiri di dalam kamar. Nur masih menyiapkan air hangat untuknya. Wanita itu lantas meringkuk di dalam kamar sembari memegangi perut menahan sakit. Namun, ada sosok hantu anak perempuan yang melintas di samping ranjang Anya seraya berlari dan tertawa. Lantas saja Anya menguatkan diri untuk bangkit. Dia menuju keluar kamar sampai menabrak Nur.
"Mbak Anya, kenapa?" tanya Nur.
"Kita ke rumahmu aja, Nur!" Anya bergegas meraih tangan Nur.
***
Keesokan harinya saat Aji pulang dari bekerja, Sri bertemu putranya lebih dulu. Ia langsung menceritakan semua kejadian yang menimpa Anya dan Naya malam tadi. Ketika Aji mengucap salam masuk ke rumah, Naya sedang terlelap di ranjang bayi kala itu. Bayi mungil itu, sesekali menggeliat di dalam balutan bedong kala mendapat sentuhan jari ayahnya yang menyapa.
“Mas, ke dokternya nanti malam aja, ya?" pinta Anya.
“Bukannya kamu udah bikin janji temu tiga hari lagi?"
“Tapi, semalam perutku nyeri banget, Mas!"
“Aku coba izin sama komandan dulu. Kamu telepon pihak rumah sakit buat daftar ulang, ya. Sekarang aku mau tidur dulu, soalnya aku ngantuk banget, nih,” jawabnya.
"Mas…."
"Ya." Aji menoleh pada sang istri.
"Maafkan aku soal semalam, ya?"
Aji mengangguk, lantas merentangkan tangannya bersiap menyambut Anya dalam pelukan. Sebenarnya dia sangat senang jika dicemburui oleh istrinya. Hal yang jarang terjadi karena Anya kerap bersikap acuh.
***
Selepas Magrib, Anya bersama Aji pergi ke rumah sakit di mana dia melahirkan Naya. Dokter spesialis kandungan yang menangani proses melahirkan Anya kebetulan memiliki jadwal pukul tujuh malam.
Di dalam ruangan tindakan, kondisi perut Anya diperiksa dengan alat USG.
“Kondisi rahim Ibu bagus, kok. Tidak ada masalah,” ucap Dokter Dewi.
“Lalu, kenapa saya merasa nyeri di bagian perut ini ya, Dok?” tanya Anya seraya menunjuk perut bagian kanan.
“Asalnya bukan dari tempat jahitan operasi, kan?” tanya dokter itu memamerkan senyum hangatnya yang dijawab Anya dengan gelengan kepala.
“Kalau begitu, mungkin Ibu terlalu capek. Saran saya istirahat yang cukup, jangan terlalu sering menggendong bayi Ibu. Dan yang terpenting, jangan sampai Ibu stress, kasian dedeknya nanti. Ini saya beri pereda nyeri yang aman jika nanti sakit. Vitaminnya juga jangan lupa diminum, ya." Dokter yang mengenakan jilbab warna ungu muda itu, menyerahkan secarik kertas berisi resep obat untuk Anya.
Setelah pamit dari ruangan sang dokter, Anya dan Aji menuju ke bagian apotek.
“Mas, nanti bawa motornya pelan-pelan, ya. Perut bawahku masih nyeri,” pinta Anya.
“Iya, Dek. Ummm, Mas mau nanya, memangnya kamu capek ngurusin Naya?” Aji menatap Anya lekat.
“Enggak, Mas. Masak aja enggak, nyapu ngepel juga enggak. Aku cuma cuci popok Naya aja,” jawab Anya.
“Ya sudah kalau begitu. Pokoknya kamu jangan terlalu capek. Nanti aku aja yang cuci popok dan baju kita."
Itulah hebatnya Mas Aji yang sangat sempurna di mata Anya. Pria tinggi tegap itu tak pernah malu membantu pekerjaan rumah istrinya. Semenjak mereka menikah Aji juga selalu meringankan pekerjaan Anya. Apalagi wanita itu pernah bekerja sebelumnya. Sampai Anya dan Aji akhirnya berhasil menjalankan program kehamilan, Anya memilih berhenti bekerja di usia kandungan delapan minggu. Aji juga tak ingin jika istrinya nanti mengalami keguguran lagi.
Saat di perjalanan pulang, sesuatu yang membuat Anya bergidik ketakutan pun muncul. Wanita itu melihat sosok perempuan yang tengah berdiri di tepi jalan. Sosok itu mengenakan daster putih nan lusuh. Rambutnya panjang selutut dan berantakan menutupi wajahnya. Perempuan yang Anya yakini hantu kuntilanak itu lalu tertawa cekikikan. Anya meremas pinggang suaminya kuat dan menyuruhnya bergegas.
“Kamu, kenapa?” tanya Aji.
“A-aku, aku lihat kuntilanak, Mas, buruan!"
Sekilas Anya melirik kaca spion motor untuk memastikan tak ada yang mengikutinya. Namun, hantu perempuan itu masih terlihat jelas di kaca spion dan sedang berdiri di tempat yang tadi Anya lihat. Hantu itu tertawa melengking seraya melayang pergi.
***
Sesampainya di rumah, Sri mewajibkan Anya dan Aji untuk membersihkan tubuh lalu berganti pakaian sebelum bertemu dengan Naya. Terdengar suara seorang wanita yang bertamu malam itu. Ratih, sahabatnya Anya, membawa hadiah untuk Naya.
"Maaf, ya, aku terpaksa datang malam. Pas aku balik dari Yogyakarta, aku baru tahu kalau kamu udah melahirkan. Makanya aku langsung ke sini," ucap wanita berusia empat puluh tahun itu.
"Nggak apa-apa, Tih. Lagian kamu repot-repot banget datang bawa kado lagi," ucap Anya.
"Nak Ratih, ikut makan malam sekalian, yuk! Ibu udah masak soto ayam," ucap Bu Sri menyela.
Ratih mengangguk setuju. Mereka lantas bersantap malam sambil berbincang.
"Kamu belum nikah, Tih? Eh, maaf ya sampai nanya begini," ucap Bu Sri di ruang makan.
"Belum, Bu. Nunggu jodohnya sebentar lagi," Aku Ratih.
"Amin, semoga dipercepat, ya." Bu Sri tersenyum hangat.
Sepulangnya Ratih, malam itu semuanya terasa baik-baik saja untuk Anya. Ponsel Aji berdering. Panggilan kerja menyapa dan mengharuskannya untuk hadir. Tepat pukul sebelas malam, rasa nyeri yang hebat itu kembali menyerang Anya.
Tangisan Naya juga kembali terdengar bahkan ditambah dengan jeritan. Entah apa yang bayi itu rasakan. Seandainya saja Anya bisa mengerti bahasa tubuh Naya dan tangisannya, tetapi sayangnya hal itu tak akan terjadi.
Anya yang ditemani oleh Nur akhirnya kembali ke rumah ibu mertuanya sambil menggendong Naya. Lantunan Surat Yasin terdengar dari suara ponsel yang diperdengarkan Nur kala itu. Ibu Sri juga menyerukan pada Anya untuk ikut serta membaca ayat kursi berkali-kali sampai rasa nyeri itu hilang dan Anya bisa tertidur pulas.
Keesokan harinya, orang tua Anya datang berkunjung. Anya langsung menceritakan kejadian yang menimpa pada mereka. Raut wajah ketakutan jelas terlihat kala wanita di hadapan Anya itu bergidik ngeri mendengarkan penuturan putrinya.
Ayahnya Anya memutuskan untuk menghubungi temannya melalui ponsel. Menurut pria paruh baya itu, ia punya kenalan teman yang paham dengan kejadian yang menimpa putrinya. Entah Anya benar menderita penyakit medis yang sesuai dengan ilmu kedokteran atau malah non medis yang berhubungan dengan segala hal gaib. Akhirnya setelah ayahnya menutup ponsel, ia memberikan Anya saran untuk menemui seseorang yang kerap dipanggil “Habib”.
“Coba saja, Nak, siapa tau dia bisa mengobatimu,” ucap ayahku yang tak henti-hentinya meyakinkanku sedari tadi.
“Baiklah, Ayah, Ibu, nanti akan kubicarakan dengan Mas Aji,” jawab Anya.
***
Selepas magrib, kekhawatiran di raut wajah Anya mulai nampak. Terlebih saat ayah mertua membawa keponakannya yang kerap dipanggil ustaz untuk datang ke rumah. Mereka datang setelah salat magrib berjamaah di masjid. Semua keluarganya Aji berkumpul di ruang tamu rumahnya.
“Tolong tutup pintunya!” pinta Ustaz Yusuf memberi perintah pada Aji. Ia seperti melihat sesuatu di luar rumah dan menatap dengan tajam.
Langsung saja Aji menutup pintu rumah yang memang biasa terbuka jika ada tamu berkunjung. Ibu Sri datang membawa beberapa cangkir kopi dan setoples biskuit untuk dihidangkan.
“Coba, Anya, duduk di sini sebentar!” Ustaz.Yusuf menunjuk ke arah kursi di sampingnya.
“Turuti saja!”
Aji meraih putrinya yang sedang Anya gendong dan memberi isyarat gerakan mata pada sang istri untuk duduk di samping Ustaz Yusuf dan dibatasi oleh bantal kursi untuk memberi jarak. Lalu, pria itu mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah perut Anya. Sontak saja wanita itu terperanjat karena hawa panas yang tiba-tiba dia rasakan mengarah ke arah perutnya. Apakah ini aliran energi dari Ustaz Yusuf yang entah Anya masih belum paham bagaimana itu bisa terjadi.
Setelah keheningan tercipta beberapa saat karena semua perhatian tertuju pada tindakan Ustaz Yusuf, akhirnya ia buka suara memecah keheningan di ruangan itu, “Boleh saya minta air?”
Ibu Sri bangkit dan beranjak menuju dapur untuk meraih segelas air putih. Setelah Ustaz Yusuf membacakan ayat suci dengan suara lirih, kemudian ia tiup permukaan air dalam gelas itu. Ia menyerahkan gelas berisi air putih itu ke Anya.
“Minumlah, jangan lupa baca bismillah!" titahnya.
Setelah memastikan anggukan kepala Aji, Anya lalu meminum air tersebut sampai habis. Ustaz Yusuf kemudian pamit menuju masjid kembali, karena azan isya telah berkumandang. Tak ada penjelasan pasti yang terucap dari pria yang berusia empat puluh lima tahun itu saat pergi. Lalu, ayah mertua dan suamiku menyusul sang ustaz menuju masjid.
***
Pukul sembilan malam tepat saat Aji bersiap untuk berangkat ke pos jaga, Anya menceritakan saran dari ayahnya.
“Baiklah, aku besok tuker libur sama Mas Edi, kita ke tempat habib itu, biar ayahmu tak penasaran,” ucap Aji.
“Terima kasih, Mas.” Anya kembali memandang ke arah jam dinding di kamar.
“Sudah jangan dicemaskan lagi, aku yakin malam ini semua akan baik-baik saja. Aku berangkat, ya.”
Senyum hangat Aji memang selalu berhasil membuat Anya tenang. Wanita itu mengecup punggung tangan suaminya penuh cinta dan dibalas Aji dengan mencium kening istrinya. Kegiatan rutin yang selalu mereka lakukan sebelum sang suami berangkat bekerja. Setelah sepeda motor milik Aji melaju pergi, anya terkesiap kala melihat sosok pocong berwajah hitam tengah berdiri di depan gerbang rumah. Tangannya gemetar saat menutup pintu.
“Astagfirullahaladzim, kumohon jangan ganggu aku dan keluargaku,” lirih Anya.
Dia langsung menutup dan mengunci rapat pintu dan jendela. Lalu, wanita itu bergegas menuju kamar dan berbaring mendekap tubuh mungil bayinya. Malam itu, akhirnya Anya bisa terlelap pulas dan tak kesakitan seperti malam sebelumnya. Tak lupa juga dia mengikuti saran Nur untuk menyalakan rekaman seorang Qori dari ponsel yang melantunkan Yaasin berulang-ulang kali sampai subuh menjelang.
***
Tepat pukul satu siang Anya pergi bersama suaminya menuju alamat rumah seorang habib yang ayahnya berikan. Keduanya tak tahu nama jelasnya. Menurut sang ayah, Anya hanya cukup menanyakan alamat "Habib" nantinya semua orang di lingkungan sekitarnya sudah paham siapa dia.
Betapa mengejutkannya saat Anya tiba di alamat tersebut. Lingkungan kumuh yang penuh dengan gunungan botol bekas dan sampah elektronik yang menumpuk, menyambut kedatangan keduanya. Padahal yang ada di pikiran Anya tadi sudah terbayang kalau dia akan berada di lingkungan penuh santri dan bangunan masjid atau pesantren. Namun, kenyataannya ini bukan lingkungan yang dia harapkan.
Di teras rumah kayu yang akan Anya datangi itu, berdiri seorang wanita berusia kurang lebih empat puluh tahun, berambut pendek seleher, menyambut Anya dengan kepulan asap rokok miliknya. Kalung rantai emas yang ia kenakan sangat mencolok sampai ke bagian dada. Wanita itu membuang puntung rokok yang baru saja habis tepat ke samping Anya.
“Mau cari siapa?” tanyanya.
“Apa betul ini rumah Pak Habib?” tanyaku.
“Oh, Habib. Sebentar, ya,” ucapnya lalu pergi ke dalam rumah.
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang hanya mengenakan kaus tanpa celana, berlari dari arah dalam dan menabrak Anya. Ia hanya tertawa terkekeh menatap Anya. Di tangannya tergenggam uang kertas sepuluh ribu. Lalu, ia berlari dan pergi.
“Bagaimana bisa dia nggak pakai celana ke luar rumah seperti itu, menjijikkan!” gumam Anya.
“Yang penting anak kita jangan sampai begitu,” sahut Aji.
Tak lama kemudian pria yang dipanggil habib itu datang mengenakan sarung dan kemeja batik. Rambut keritingnya panjang sebahu. Sekali lagi, ia tak seperti yang Anya bayangkan. Pria itu meminta izin untuk menyentuh tangan Anya. Aji mengangguk setuju. Meski awalnya ragu, akhirnya Anya memberikan tangan kanan padanya.
“Ini banyak angin yang masuk ke tubuh kamu, mau ya saya kerik badannya?” tanya pria berjanggut itu.
“Hah? Dikerik? Badan sebelah mana?” Anya mengernyit.
“Punggung kamu aja, nanti saya keluarkan anginnya.”
Anya memandang suaminya dengan cemas. Ia mengerti kalau ada yang tak beres dengan orang ini. Herannya banyak juga yang berkunjung ke rumah pria tersebut untuk mendapatkan pengobatan. Pengobatan yang menurut Anya aneh dan menjurus ke arah pelecehan. Akhirnya, Anya meminta Aji untuk bangkit.
Anya memutuskan untuk pamit setelah mengucap tak mau dikerok. Pria itu meminta sejumlah uang dua ratus ribu dan menyerahkan dua botol jamu yang harus Anya minum. Suami istri tersebut segera pamit. Tak akan sudi lagi Anya kembali ke tempat itu. Botol jamu itu juga dia buang ke tempat sampah.
Anya menghubungi ayahnya untuk mengutarakan keluh kesah. Tak lupa juga dia memperingatkan pada ayahnya agar jangan pernah meminta pengobatan pada lelaki yang dijuluki habib tadi. Sungguh sangat disayangkan orang-orang yang menjulukinya habib. Perawakan yang urakan, tempat kumuh, berantakan, dan jauh dari perilaku orang yang cinta rasul karena tak tahu menjaga kebersihan.
***
Malam itu, Anya mulai merasa tenang karena ada suaminya yang menemani. Namun, tepat pukul sebelas malam, setelah tiga hari merasa baik-baik saja, rasa sakit itu kembali menyerang. Kali ini lebih sakit dari biasanya. Anya tak henti-hentinya menangis dan menjerit sampai Aji ikut menangis saat memeluk tubuh sang istri yang meringkuk kesakitan.
Ibu Sri mendapat saran dari tetangga yang terbangun mendengar jeritan Anya. Tetangga bernama Mbak Mar itu menyarankan agar Ibu Sri memanggil tetua kampung yang bernama Pakde Bagas. Pria paruh baya itu dipercaya memiliki kelebihan dalam hal gaib. Namun, Aji tak percaya dengan hal-hal seperti itu. Akhirnya ayahnya Aji memanggil Ustaz Yusuf kembali.
Saat Aji berada di dapur, ada sesuatu yang menyentuh bahu Anya. Wanita itu sempat berpikir kalau suaminya yang datang. Akan tetapi, saat dia menoleh ke samping kanan, betapa terkejutnya Anya ketika mendapati sosok wanita tua yang pernah dia lihat sebelumnya, berdiri bersama sosok anak perempuan yang wajahnya penuh darah sedang menatap tajam. Sontak saja Anya berteriak sekuat tenaga memanggil suaminya yang bergegas menghampiri.
“Pergi! Pergi dariku!”
“Dek, ini aku suamimu,” ucap Aji berusaha menenangkan istrinya.
Anya langsung menangis sejadi-jadinya di pelukan sang suami. Setibanya Ustaz Yusuf, pria yang menggunakan gamis putih dan kopiah hitam itu mengelilingi rumah seraya melantunkan ayat suci dan mengucapkan kalimat thayyibah dengan tasbih di tangannya berulang-ulang.
Akhirnya ia menceritakan sesuatu yang menimpa Anya pada Aji. Seseorang yang ia tak mau sebut namanya memang mengirimkan sesuatu yang di luar nalar. Sejenis ilmu hitam atau yang dikenal dengan santet. Nahas, Anya yang sedang dalam kondisi masih tak suci karena masa nifas, terkena. Ustaz Yusuf akan berusaha menjaga rumah mereka dengan izin Allah. Dia juga berpesan kepada kami agar selalu membaca surah yasin fadilah dan meminta pertolongan hanya kepada Allah S.W.T.
Ibu dan ayahnya Aji, mencuri dengar penuturan Ustaz Yusuf. Mereka merasa naik pitam. Keesokan harinya mereka membawa seseorang yang bernama Pakde Bagas. Ia dikenal dapat menyembuhkan orang-orang yang terkena santet dengan aliran ilmunya sendiri secara kejawen. Pada sore hari, pria itu datang lalu mengitari rumahnya Aji.
“Ini tuh orang deket, dia iri sama Nak Anya. Mungkin dia juga menyukai Nak Aji makanya mau menyingkirkan Nak Anya pakai cara halus," tutur Pakde Bagas.
“Kita balas aja kalau begitu, Pak. Biar tau rasa,” sahut Sri mulai geram.
"Iya, Bu, aku juga kesal. Kasian si Anya kesakitan setiap malam," si papa mertua menimpali.
“Jangan, Bu, Pak! Biar Allah saja yang balas,” sahut Aji yang muncul dari arah depan setelah pulang bekerja.
“Enggak bisa, Ji! Biar aja Ibu yang mau balas, kasihan tuh lihat Anya tiap malam kesakitan dan diteror sama setan,” keluh Ibu Sri. Dia menyadari kehadiran Anya lalu menatap wanita itu dengan rasa iba. Sementara Anya hanya tertunduk lesu seraya menggendong bayinya.
“Kalau kita balas, sama aja perbuatan kita nggak beda jauh sama dia. Nggak akan ada habisnya nanti. Sudahi saja, Bu, serahkan saja sama Allah,” kata Aji bersikeras.
Namun, Ibu Sri tak menurut. Dia tetap saja nekat membalas, meski tanpa persetujuan dari putranya. Pakde Bagas pun menyanggupi.
“Nanti, kalau kalian mendengar berita orang sini yang masuk rumah sakit karena sakit di perutnya, cukup tau saja, ya. Nanti juga dia datang ke sini untuk minta maaf. Saya pamit dulu kalau begitu,” ucap Pakde Bagas.
***
Seminggu kemudian, Anya sudah tak merasakan lagi rasa sakit di bagian perut. Apalagi semenjak dia rutin membaca surat yasin setiap habis salat isya. Allah benar-benar melindunginya dan keluarganya. Tak ada lagi penampakan makhluk astral yang datang mengganggu.
Seseorang mengetuk pintu rumah Anya siang itu. Ratih datang membawakan kue bolu cokelat yang dia beli dari toko roti. Sempat berbincang di teras, akhirnya Ratih pamit. Dia akan pergi ke Kalimantan karena dipindahtugaskan. Nur datang membawakan opor ayam buatan ibunya untuk Anya.
"Eh, ada Mbak Ratih. Mbak, katanya kemarin masuk rumah sakit, ya? Mbak, sakit apa?" tanya Nur seraya meraih bolu pemberian Ratih.
"Saya habis operasi karena menderita usus buntu," tuturnya mengulas senyum.
Sempat terlintas rasa curiga di pikiran Anya kala teringat kata-kata Pakde Bagas tempo hari. Namun, Anya tak boleh berburuk sangka. Anya, Nur, dan Ratih lanjut untuk berbincang.
Setelah satu jam lebih kunjungan Ratih ke rumah, dia pun pamit menuju sepeda motornya. Hanya saja langkah Anya terhenti, ia tak jadi menaiki motor matic-nya. Wanita itu malah menghampiri Anya dan memeluknya seraya menangis.
“Maafkan aku ya, Nya. Maafkan aku….”
“Maaf untuk apa, Tih?”
“Pokoknya maafkan aku, ya.”
Ratih lalu pamit pergi tanpa menoleh lagi. Anya dan Nur saling bertatapan. Kini mereka paham dari mana rasa sakit di perut Anya dulu datang. Nur juga sudah mendengar penjelasan dari ibunya dan dia baru teringat kalau Ratih baru saja masuk rumah sakit.
Nur akhirnya menceritakan kisah yang selama ini Aji sembunyikan. Sebenarnya, Aji hampir saja melamar Ratih tujuh tahun lalu sebelum bertemu Anya. Hanya saja, orang tua Ratih tak setuju karena perbedaan kasta keduanya. Ratih merupakan anak pengusaha, sedangkan Aji hanya pemuda biasa sebelum menjadi polisi.
Jika memang Ratih yang melakukannya, Anya sudah ikhlas dan menyerahkan semuanya pada Allah. Karena hanya Allah Yang Maha Agung dan yang sebaik-baiknya Maha Pengadil.
*** Tamat ***