Untuk putri kesayangan bunda
Elissya Mananta.
Eliss…. Tinggal beberapa hari lagi kelulusanmu.
Maaf, bunda tidak bisa hadir dihari bahagia itu.
Bunda pergi,
Ini bukan kemauan bunda, Bunda hanya tak mampu menghindari takdir.
Selamat atas kelulusanmu nak, semoga kamu selalu bahagia.
Meskipun tak lagi bersama, yakinlah bunda akan selalu menjagamu diantara bintang.
Kupeluk surat terakhir dari bunda, ada rasa sesak di dada harus kehilangan orang yang selama ini menjadi tumpuan hidup. Aku rapuh hingga tak sanggup lagi kubendung air mata. Rasanya seperti mimpi, ingin segera ku terbangun sehingga secepatnya bisa terlepas dari kisah menyedihkan ini. Hingga kesadaran meyakinkanku bahwa semua memang nyata.
Entah karena tak iklas melepas atau karena tak mampu menerima keadaan, hingga terbersit rasa ingin menyalahkan. Menyalahkan bunda yang seperti telah merencanakan kematiannya. Aku yang menyaksikan sendiri bagaimana menurunnya kesehatan bunda setelah ditinggalkan ayah tiga tahun yang lalu. Yang ada dipikiran bunda hanyalah ayah, hingga rasa tersebut berhasil mengganggu kesehatan jiwanya dan perlahan mengikis daging dalam tubuhnya.
Telah kulakukan berbagai cara untuk membangun semangatnya, tapi semua itu belumlah cukup. Bunda tetap diliputi kehampaan seperti hanya raga yang tersisa tanpa ada jiwa yang menempati.
Bunda seperti mengabaikan keberadaanku. Tidakkah ada sedikit rasa kasian, membiarkanku hidup sendiri di dunia yang begitu menakutkan. Jika hanya untuk ditinggalkan bukankah sebaiknya mereka tak pernah menghadirkanku di dunia ini.
Pikiran ini sungguh memporak-porandakan akal sehatku. Tak seharusnya aku berpikiran buruk seperti ini. Pikiran yang hanya akan menjerumuskanku ke lubang dosa terdalam. Lebih baik aku belajar iklas melepas tanpa adanya rasa penyesalan.
Ku mencoba menetralisir keadaan dengan banyak beristighfar dan meminta ampunan pada Yang Maha Kuasa atas hal bodoh yang sempat terlintas di pikiran. Lalu mulai kubangun keyakinan dalam diri jika kematian merupakan sebuah peristiwa yang paling niscaya untuk diingkari. Langkah sekecil apapun bisa memungkinkan menjadi penyebab Jika Tuhan telah berkehendak. Perginya bunda memang sudah menjadi takdir yang kuasa.
***
Tepat empat hari setelah kepergian bunda, kegiatan kelulusan di sekolahku dilaksanakan. Sekejap rasa sedihku sedikit teralihkan oleh uporia perayaan sekaligus penobatanku sebagai lulusan terbaik.
Sebagai lulusan terbaik aku mendapat sebuah reward berupa beasiswa melanjutkan kuliah di salah satu fakultas kedokteran terkenal di kotaku.
Menjadi dokter memang cita-citaku dari kecil bahkan menjadi harapan ayah bunda semasa hidupnya. Andai mereka masih ada tentu saat ini akan menjadi hari terbahagia kami.
Sayangnya beasiswa yang kudapatkan hanya sebatas menanggung biaya pendidikan saja tidak termasuk biaya sehari-hariku.
Meskipun sempat dilema akhirnya aku memutuskan untuk mengambil beasiswa tersebut. Untuk biaya hidup sehari-hari aku penuhi dengan uang tabungan peninggalan ayah bunda semasa hidupnya. Uang yang sengaja mereka persiapkan untukku.
Namun seiring berjalannya waktu, memasuki semester empat perkuliahan, aku mulai menyadari jika uang tabungan itu sudah semakin menipis. Mau tidak mau aku harus mulai memikirkan cara mendapatkan uang untuk dapat bertahan hidup.
Bukannya berniat mengabaikan peran keluarga terdekatku, tapi aku hanya tak ingin menambah beban hidup mereka. Mungkin inilah waktunya aku belajar untuk bisa menghidupi diri sendiri.
Perjuangan hidup yang sebenarnya baru saja dimulai. Aku mulai belajar menghidupi diriku sendiri dengan bekerja paruh waktu di sebuah restoran di kotaku. Bekerja sambil kuliah bukanlah perkara yang mudah, kesibukan sudah pasti menemani hari-hariku. Kesibukan yang membuatku tak lagi bisa menikmati serunya masa muda seperti yang biasa dilakukan oleh orang seusiaku pada umumnya, serta mulai lupa rasanya tidur nyenyak dimalam hari karena waktu itu harus kugunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah.
Hari ini pengunjung restoran lebih ramai dibandingkan hari-hari sebelumnya. Bonus dari atasan telah menantiku, namun bukannya membangkitkan rasa senang justru sebaliknya melenyapkan selera kerja. Otakku dipenuhi oleh segudang tugas kuliah yang belum aku selesaikan. Aku ingin memprioritaskan pendidikan, tapi aku juga tak bisa mengabaikan pekerjaan ini.
Aku berhasil keluar dari tempat melelahkan itu sekitar pukul sebelas malam. Sungguh badan dan pikiran yang teramat lelah. Andai bunda masih ada tentu aku bisa membagi sedikit lelah ini.
Aku berjalan menyusuri malam seorang diri, terseok-seok sambil menahan dinginnya udara malam yang menusuk hingga tulang belulangku. Di saat seperti ini lagi-lagi dunia tak berpihak padaku, mobil angkutan yang biasanya memberi keteduhan dan sebagai pengantar kini tak lagi menunjukkan wujudnya. Air mataku menetes seiring langkah kakiku.
“Bruk..” Seketika Benda keras menghantamku, kurasakan tubuhku melayang. Aku masih sadar ketika tubuhku terhempas di bibir jalan, aku bingung namun tak ada yang bisa aku lakukan bahkan menggerakkan jentikku sekalipun.
Pandanganku remang dan mengabur, tak sanggup lagi mendengar dan berucap, namun retinaku sekilas menangkap seorang laki-laki yang keluar dengan cepat dari mobil dan segera berlari kearahku.
Mataku tak bisa lagi kubuka, seluruh tubuh merasakan sakit yang tak bisa kujelaskan hingga rasa sakit tersebut berangsur-angsur menjadi hambar dan membuat tubuh seakan terbang.
“aku telah berjuang, berjuang melebihi kemampuanku
aku merasa sangat lelah, lelah berjuang sendiri. Aku menyerah”.
Sesosok wanita berlahan menghampiriku, menggenggam tanganku dan tersenyum penuh kedamaian. Saat ku amati dengan seksama wajah itu sangatlah tidak asing, tetap cantik seperti dahulu, sosok yang sangat aku rindukan.
“bunda, Eliss kangen”
Sosok itu kembali tersenyum, membelai pipiku kemudian berlahan menjauh dan semakin jauh hingga tak mampu lagi kugapai.
“bunda” lirihku. Kehidupan kembali menyadarkanku.
Aku ingin bangkit tapi badanku terasa berat, bahkan menggerakkan jemaripun aku tak berdaya. Samar-samar kurasakan riuh di sekitarku bahkan sesekali sepasang tangan menyentuh bagian tubuhku. Aku membatin apa gerangan yang telah terjadi. Aku tak sanggup untuk berpikir, rasa sakit mendominasi tubuhku, aku hanya ingin tidur sekejap saja untuk melupakan rasa sakit ini.
Entah berapa lama aku telah tertidur, aku merasa sakit yang kurasakan sebelumnya mulai sedikit berkurang. Aku kembali pada kesadaranku, tapi aku tetap saja tak mampu menggerakkan tubuhku. Tubuhku berselimutkan perban, sepertinya benturan hebat itu telah berhasil menghancurkan sebagian tubuhku.
“Tuhan, akan kutunjukkan kepadaMU rasa syukur atas kesempatan yang telah kau berikan kepadaku”.
Tiga hari telah berlalu, aku merasakan tubuhku semakin membaik. Hal ini tidak terlepas dari perawatan rumah sakit yang begitu luar biasa, selain itu juga berkat bantuan Bu Lastri yang begitu setia menjagaku.
Bu Lastri adalah asisten dari pak Kenandara Dolken yang ditugaskan untuk menjaga dan memaniku selama menjalani perawatan di rumah sakit. Pak Kenan adalah penabrak tubuhku pada malam naas itu. Meskipun begitu ia merupakan pria yang bertanggungjawab, karena mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhanku.
Setelah kurang lebih satu bulan perawatan, akhirnya aku dinyatakan sembuh dan diizinkan menjalani rawat jalan oleh dokter yang merawatku. Aku bersyukur pak Kenan masih tetap mempekerjakan bu Lastri untuk merawatku dan ia juga membiayai kebutuhan sehari-hariku.
Bertubi-tubi kebaikan yang diberikan pak Kenan terhadapku, bahkan sampai aku dinyatakan sembuh sepenuhnya dan telah kembali menjalani pendidikankupun ia tidak menghentikan bantuan tersebut. Entahlah apakah musibah yang terjadi patut aku syukuri karena berkat kejadian tersebut aku dipertemukan dengan pak Kenan yang telah memberiku banyak kemudahan seperti sekarang.
Aku sedih ketika mendapati kenyataan jika pak Kenan sedang mengalami hal sulit dalam hidupnya. Istri yang sangat disayanginya pergi saat sedang berjuang melahirkan calon anak pertamanya sekitar dua tahun yang lalu. Jiwanya diliputi kesedihan hingga akhirnya mengalami depresi akut. Apalagi ditambah hidupnya yang penyendiri cukup mampu mengikis daging dalam tubuhnya.
Kejadian ini seperti sebuah dejavu, dimana aku harus kembali menghadapi peristiwa yang sama persis seperti yang dialami oleh bunda dulu.
Aku yang telah banyak menerima kebaikan darinya merasa terpanggil untuk membantunya keluar dari masalah psikis yang dialaminya. Untung saja Pak Kenan tidak melakukan penolakan atas niat baikku tersebut.
Dengan bantuan ahli medis akhirnya pak Kenan menjalani serangkaian psikoterapi. aku dan Bu Lastri selalu berupaya melakukan apapun yang dokter perintahkan guna mempercepat pemulihannya. Bahkan tak jarang juga aku melakukan konsultasi dengan dosen-dosen di kampusku guna mengetahui cara-cara menyembuhkan masalah kejiwaan.
Sungguh hasil yang tidak menghianati usaha, pak Kenan berangsur mampu keluar dari depresi yang dideritanya. Semangat hidupnya kembali muncul hingga akhirnya sampai pada kehidupan normalnya.
Bersamaan itu juga aku berhasil menyelesaikan perkuliahanku. Hari ini secara resmi aku meraih gelar dokter. Aku sangat bahagia karena aku berhasil meraih gelar ini meskipun banyak masalah hidup yang sempat kuhadapi. Aku yakin selama kita bersungguh-sungguh maka Tuhan pasti akan memberikan sebuah keberhasilan.
“Bunda… Hari ini aku wisuda, Bunda senang kan karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang dokter?.
Bunda… aku berencana akan melanjutkan pendidikan di bidang psikiatri. Aku ingin membantu mereka yang bermasalah pada kejiwaannya. Doakan Elisya ya bunda!
Bunda… Ada sebuah kejutan untukmu. Aku akan segera menikah dengan Kenan. Tahukah bunda, aku merasa nyaman berada di sisinya. Keberadaannya membuatku mampu melupakan rasa kesepian dan kesendirian yang sebelumnya aku rasa.
Aku sayang Bunda dan ayah. Tetaplah menjagaku diantara bintang.