Lihatlah wanita itu, terdiam sendu di sudut kamar berukuran tiga kali dua. Kaki berselonjor ke depan, pikiran kosong dengan kedua tangan sibuk mengusap kedua kakinya menggunakan minyak yang memiliki aroma khas. Ia tidak sendiri ada anaknya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang yang baru saja dilahirkannya beberapa hari yang lalu. Namun keberadaan anaknya itu tak mampu mengurangi kesenduan jiwanya.
Saat anaknya terbangun dan menangis, tak sedikitpun ia mencoba bangkit untuk sekedar menenangkannya. Ia hanya terdiam seolah-olah tidak terusik dengan tangisan bayi merah tanpa dosa tersebut.
Ketika tangisan bayinya semakin mengeras, ia terkadang ikut menangis namun tagisan tanpa suara hanya deraian air mata yang terlihat membasahi pipi tirusnya.
Tangisannya justru menjadi tawa ketika bayinya berubah diam. Bukan tawa kebahagiaan melainkan tawa yang sulit dideskripsikan. Anaknya dianggap menjadi muara atas apa yang menimpanya saat ini.
Haripun telah berubah menjadi siang, beberapa jam terlewati tanpa sedikitpun sentuhan terhadap anaknya. Ia hanya melakukan hal yang sama tanpa aktivitas yang bermakna. Kali ini suasananya sedikit berbeda, tak terdengar lagi tangisan, hanya sesekali terdengar rintihan kecil yang samar-samar. Mungkin saja yang empunya suara sudah kehabisan tenaga mengingat sedari tadi tak adanya cairan yang masuk ke dalam perutnya.
Hidup wanita itu memang tak seindah orang-orang, bukan karena tak memiliki harta benda, bukan pula karena ketiadaan kasih sayang.
Keberadaan orang tua yang selalu menuntut kesempurnaan. Ketika orang seusianya mendapatkan kemerdekaan untuk dapat menentukan hidupnya sendiri, ia justru berbeda. Ia selalu berada di bawah control kedua orang tuanya termasuk dalam hal memilih pasangan hidup.
Ia memiliki pilihannya sendiri. Sosok laki-laki biasa yang teramat dicintai. Meskipun pilihannya mendapat banyak pertentangan, tapi ia tetap pada pendiriannya.
Demikian pun kedua orang tuanya yang tak pernah menyerah, mereka berupaya merobohkan pendirian tersebut kendati terkesan menghalalkan berbagai cara. Mereka mempunyai alasan atas keputusan yang telah diambil.
Hanya saja segala usaha mereka menjadi sia-sia, sebab ada kehidupan dalam perutnya saat ini.
Kenyataan ini berhasil memporak porandakan hati dan perasaan mereka sehingga akhirnya terjadi tindakan pengusiran tersebut.
Sedih memang harus meninggalkan orang yang teramat disayanginya. Namun ia tetap harus pergi sebab ia ingin menentukan hidupnya sendiri.
Dengan langkah gontai akhirnya ia menemui laki-laki yang sangat berkontribusi atas apa yang menimpanya. Berharap laki-laki tersebut bertanggung jawab.
Dan benar saja, laki-laki itu menyatakan kesediannya untuk menikahinya dalam waktu dekat ini.
Namun manusia hanya bisa berencana, Sebuah kejadian berhasil mengkaburkan rencana yang telah mantap tersebut. Laki-laki itu membatalkan semua rencananya, hanya gara-gara kesalahpahaman yang tak sengaja dilihatnya.
Saat itu laki-laki itu memang memergoki dirinya yang sedang bersama laki-laki lain. laki-laki yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Keberadaan sang sepupu bersamanya saat itu sesungguhnya hanyalah selaku perpanjangan tangan dari orang tuanya. Memintanya kembali dengan sebuah syarat.
Ia tak mampu memenuhi syarat tersebut. Tak sanggup harus mengorbankan janin tak berdosa dalam rahimnya. Meskipun sesungguhnya ia sangat berharap berkumpul dengan keluarganya.
Ia merasa tak berdaya. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menguatkan dirinya. Ia butuh semacam bahu untuk bersandar demi meringankan perasaan dan beban di hatinya.
Ia mengiba agar laki-laki itu mendengarkan penjelasannya. Laki-laki itu masih pada pikiran dan kecewanya hingga tak mengubah keputusannya.
Ia hanya mampu menelan pahitnya kehidupan, hamil tanpa keberadaan suami dan keluarga terdekatnya.
Beratnya kehidupan harus ia lalui sendiri. Hari-harinya penuh gunjingan dan cibiran, orang-orang memvonisnya dengan berbagai persepsi negative tanpa mau merasakan betapa sulitnya berada diposisinya.
Hidupnya menyakitkan, terlebih saat proses persalinan. Disaat rasa itu mulai tak tertahan, ia menganggap kematian menjadi satu-satunya pilihan. Ia berharap agar Jiwanya pergi saja meninggalkan tubuh dengan segala kesakitannya.
Namun takdir berkata lain, sungguh ia masih diberikan kesempatan untuk menjalani pahitnya kehidupan. Jauh di lubuk hatinya ia mengumpat Tuhan karena memberikan takdir yang bertentangan dengan keinginan, bahkan kini adanya beban kehidupan yang harus ditanggungnya.
Kembali ke cerita awal. Tak sekalipun ia beranjak untuk menyentuh anaknya, tetapi ketika anak itu hanya terdiam ia mulai bangkit untuk memastikan keadaannya.
Tubuhnya yang ringkih mendekat ke atas ranjang tempat anaknya dibaringkan. Ia memandangi dengan seksama wajah anaknya, ia tersenyum bangga betapa gagah puteranya.
Semakin lama kulit mulus anaknya terlihat mulai membiru. Ia sadar sedang terjadi hal yang kurang baik padanya. Ia memangku anaknya kemudian ditimang-timang, namun bayi mungil itu tetap saja tidak menunjukkan sebuah pergerakan. Ia menangis, Seketika itu juga timbul keinginan dalam dirinya untuk segera mengakhiri penderitaan puteranya, ia ingin anaknya bahagia.
Ia terjerembap ke lantai ketika tangan-tangan menghakiminya. Ia hanya mampu berteriak ketika tangan-tangan itu merampas bayinya. Ia tak memiliki kekuatan untuk merebutnya kembali, ia tak berdaya.
Riuh kekesalan mengelilinginya, orang-orang memberikan umpatan-umpatan yang begitu menyakiti hatinya, lebih sakit dari pukulan fisik yang didapatinya. Ia merasa sangat takut, semakin lama ketakutan itu semakin menjadi-jadi.
Hingga akhirnya ia berhasil keluar dari rasa takut itu, entah berapa lama karena ia sendiri tak menyadarinya. Tidak ada lagi orang yang menghakiminya bahkan mencibirnya. Ia mulai merasakan kenyamanan bersama orang-orang yang hampir senasib dengannya. Disinilah ia sekarang tempat pengasingan bagi mereka yang mengalami sakit pada jiwanya.
Mungkin mereka telah menganggapnya gila,
Atau mungkin menganggapnya manusia jahat
Tak ada yang salah pada mereka
Karena begitulah keadaannya
Mereka menilai berdasarkan apa yang terlihat.
Andai saja mereka berupaya memahami kondisinya
Memahami penyebab dari segala yang terjadi
Atau mencoba berada diposisinya
Tentu ceritanya akan menjadi berbeda.
Semua ini bukanlah kemauannya
Ia hanya dipermainkan oleh keadaan
Ia telah berusaha melawan keadaan itu
Namun kenyataannya tak bisa,
Ia menyerah,
Ia telah lelah berjuang sendiri.
………Selesai……..