"Tolong aku!" Aku berteriak sekuat tenaga meminta pertolongan seseorang. Aku tengah dikelilingi oleh ratusan iblis yang meminta jatah mereka atas perjanjian yang telah kuperbuat dengan raja iblis.
Jika aku dapat memutar waktu, mungkin aku tidak akan pernah melakukan hal tol*l itu. Meminta bantuan pada iblis, menjual jiwaku pada mereka, bersekutu dengan mereka dan meninggalkan imanku pada Tuhanku. Dan semua itu semata-mata hanya untuk kejayaan didunia.
Aku ingin pergi dari neraka ini! Aku ingin kembali pada diriku sendiri. Aku merasa aku sudah tiada saat semua iblis yang menyeringai menatap diriku sambil memandangi tubuhku yang tak tertutup sehelai benangpun. Ku pejamkan mata sambil berteriak di tengah keramaian iblis yang mendekati diriku detik demi detik, seolah aku sedang berada di panggung konser dengan jutaan penonton.
Kemudian aku buka mataku saat udara disekitar tubuhku dingin menusuk tulang. Tahu-tahu aku berada di sebuah jalan yang membelah hutan, di ujungnya ada seberkas cahaya putih yang memberi aku harapan. Dengan masih tanpa busana dengan hawa dingin yang tak ternilai, aku berlari tersaruk-saruk melewati jalan berkerikil yang membuat kakiku lecet penuh darah. Semakin jauh aku berlari, jalanan itu semakin menanjak dan hawa semakin dingin.
Kudengar desisan yang saling bersahutan di belakangku, aku menoleh kearahnya. Astaga! Ratusan ular tengah berlomba-lomba untuk mendapatkan gadis ini! Aku sudah tak kuat lagi. Namun aku masih berusaha berlari menuju cahaya itu.
Ku berlari terus menanjak jalanan kasar dengan penuh rasa sakit. Aku sudah lebih dekat dengan cahaya itu. Ku kencangkan laju lariku. Tapi tiba-tiba tubuhku seakan melayang diudara dan seperti terjun dari tebing. Sialan! Ternyata jalan itu buntu dengan tinggi yang tak terukur. Badanku menghantam dasar dari buntu itu. Aku sudah mati! Aku sudah mati! Pikirku dalam hati.
Namun ternyata aku masih bisa membuka mataku, kulihat sembil orang yang terikat duduk di kursi dengan bekas-bekas siksaan yang mengerikan, dan baru saat itu aku sadar jika aku juga dalam keadaan terikat.
Kulihat makhluk penyiksa dengan pisau dan cambuk di tangannya dan terlihat juga tongkat besi yang membara-bara merah di tangan iblis yang tahan akan panas itu. Aku akan disiksa oleh mereka! Mereka mulai mengambil diriku, rasanya satu kali cambukan seperti seratus kali lipat tanganmu terjepit pintu.
Tolong aku! Ya Tuhan! Aku ingin lepas dari mereka! Berikan aku kesempatan! Aku sudah muak dengan hidup ini! Aku tak ingin melihat wajah-wajah iblis itu! Tolong aku Tuhan!
Tiba-tiba aku membuka mataku perlahan dan terlihat cahaya putih, lantas kulihat beberapa orang dengan pakaian serba putih yang mengelilingi diriku yang lemah. Dan dibalik orang-orang itu ada beberapa suara yang membacakan ayat-ayat Tuhan. Hatiku lega rasanya, saat tahu bahwa aku masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki semuanya. Aku sudah mengira bahwa orang berpakaian putih itu adalah malaikat, tapi ternyata mereka adalah dokter.
Aku masih bisa hidup hari ini, namun semua gemerlap hidup yang dulu kumiliki saat bersama setan sudah terbalik 180 derajat. Aku kini hanya manusia biasa yang bisa terduduk di kursi roda dengan suara yang hancur. Aku tak bisa menyanyi lagi, menikmati gemerlap panggung konser dan dipuja oleh banyak penggemar. Aku hanya bisa duduk merenung dan mencoba memperbaiki hubunganku dengan Tuhanku yang sejati.