Seorang gadis kecil yang usianya baru saja menginjak 5 tahun itu duduk termenung di sudut kamarnya. Berharap jika beberapa saat lagi, sosok yang ditunggu-tunggu akan menampakan wujudnya dan mengajaknya untuk bermain bersama.
Suasana kamar yang begitu gelap karena hanya disinari oleh lampu minyak tak membuat gadis kecil itu merasa takut. Suara jangkrik yang saling bersahutan dari arah luar rumah turut menemani gadis itu saat rasa kantuknya datang secara perlahan.
Meski berat, gadis kecil itu tetap memaksakan dirinya untuk selalu terjaga. Berkali-kali gadis kecil itu menyebut satu nama sambil bertanya mengenai keberadaan sosok tersebut.
"Anneth ... Anneth di mana sekarang? Anneth dengar suaraku, 'kan? Jawab aku, Anneth ...."
"Keyra ...."
Gadis kecil itu pun terperanjat. Suara lirih yang memanggil namanya terdengar begitu jelas. Pandangannya segera mengedar untuk mencari keberadaan Anneth—satu-satunya teman masa kecil yang dimiliki oleh Keyra.
"Ya! Aku di sini, Ann! Kamu di mana?" sahut Keyra dengan suara lirih. Pekikannya tertahan, karena ada Eyang putri di atas ranjangnya.
"Di sini ... aku di sini, Keyra," sahut Anneth dari kejauhan.
Namun, sayangnya Keyra tak kunjung menemukan sosok Anneth. Teman kecilnya itu seakan jauh dari letak kamarnya berada.
"Di mana, Ann? Tolong perlihatkan dirimu," pinta Keyra.
Anneth menggeleng, meski Keyra tak melihatnya.
"Aku di kamar, Keyra. Kamarku. Kau tahu di mana letak kamarku, bukan? Datanglah ke sini, aku sudah menunggumu."
Keyra spontan mengerutkan alisnya. "Di tempat gelap itu? Apa benar itu kamarmu, Ann?" sahut Keyra masih dengan suara lirih. Memastikan titah Anneth mengenai letak kamarnya berada.
Kini Anneth mengangguk. Tak peduli jika Keyra tak dapat melihat responsnya.
"Kemarilah, Keyra. Kau ingin bermain denganku, bukan?"
Kini Keyra mengangguk, mengiyakan pertanyaan Anneth.
"Kalau begitu, datanglah," titah Anneth seolah dapat melihat respons Keyra.
Keyra tak lagi merespons. Gadis kecil itu lantas bangkit dan melirik eyangnya yang masih tertidur pulas. Keyra tahu bahwa ia dilarang untuk pergi keluar kamar seorang diri. Tapi, Anneth sudah lama menunggunya. Ia tidak boleh membiarkan Anneth menunggu lebih lama lagi.
"Eyang ... Adek main sebentar dulu, ya?" Keyra mengecup kening eyangnya untuk berpamitan. Setelah itu, Keyra menuruni anak tangga secara perlahan, karena suara derit kayu sesekali terdengar.
"Pelan-pelan saja, Keyra. Jangan buru-buru." Anneth memperingatkan Keyra dengan suara lirihnya.
Keyra sempat memperhatikan keadaan sekitar setelah mencapai anak tangga terakhir. Letak kamarnya tepat berada di atas bagian meja makan, sehingga Keyra khawatir ada seseorang yang melihat kehadirannya.
Tapi, siapa juga yang akan duduk di kursi makan pada pukul 1 pagi? Tentu saja tidak ada. Keyra pun menghembuskan napas lega sambil mengelus dadanya.
"Anneth ... ini terlalu gelap," keluh Keyra saat menyadari kondisi rumah eyangnya yang terlampau gelap.
Rumah kayu milik eyangnya ini hanya diberi penerangan oleh lampu minyak. Kalaupun ada lampu listrik, itu pun hanya lampu temaram. Pandangan Keyra sangat terbatas jika harus pergi ke kamar Anneth.
"Ikuti suaraku, Keyra. Aku akan membuat suara ketukan di sekitarmu. Kamu cukup mengikutinya saja," titah Anneth.
Belum sempat Keyra menyetujui perintah Anneth, namun Anneth sudah — Baca cerita lengkapnya di aplikasi karyakarsa!