Hallo.. salam kenal dan selamat menikmati ceritaku, Panggil saja aku RuQi, Aku seorang indigo, dan aku ingin sedikit berbagi pengalaman kepada kalian kalian yang suka cerita mistis,
Kisah ini berawal saat kami ingin liburan dikota J.T(panggil saja seperti ini) untuk menikmati masa liburan... awalnya dalam perjalanan kami kesana biasa saja tidak ada yang aneh, dan keanehan itu terjadi disaat mobil kami tiba tiba berhenti ditengah perjalanan kami,
_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
"Siap ya berangkat.." ucap Mbak Dina saat kita akan berangkat liburan
"siap Mbak.." jawab ku
"Jalan aja.." saut mas putra di sampingku
akhirnya mobil kami melaju melewati halaman dan pagar rumah untuk menuju jalan besar...
"Asyikkk.. nyalain musik dong mbak.. biar nggak bosen dijalan.." kataku
"iya.." kata mbak Dina, dengan cepatnya dia lalu memutar musik yang selalu aku dengar saat bepergian
Hanya aku yang menikmati musik itu, Mbak Dina yang fokus menyetir mobil hanya diam tidak terlalu memperhatikanku, sedangkan mas putra hanya memejamkan mata dari kita berangkat tadi..
"Huoooo huoooo.." teriakku mengikuti alunan lagu..
"Berisik tau nggak de'.." mas putra tiba tiba melemparkan Snack kearahku yang mengenai kepalaku..
"Jahat banget si mas, sakit tau.." protesku, padahal nggak sakit, cuma ntah kenapa reflek bilang sakit..
"Cuma dilempar bungkus ciki masa sakit si de'..??" jawab cuek mas putra
"Buat ku dilempar daun juga sakit kalo yang lempar Mamas mah" ucap ku seakan aku memang sakit sekali..
"Iya iya maaf, reflek masnya.. habisnya kamu si, udah gede masih teriak teriak dimobil, malu tau didenger pengendara lain.."
"Aku bosan mas, ayo kita Mabar.." ajak ku, dan akhirnya mas putra mengangguk mengiyakan
"Mau Mabar apa..??" tanya ku
"life after aja ya,"
"Nggak ah, yang lain aja.." jawabku
"COC..."
"Bosen itu Mulu.."
"Among.."
"Hmmm.. ya udah yuk ML aja, mau nyoba skin baru.." kataku yang hanya dijawab gelengan kepala mas putra
"Udah masuk mas,"
"Udah.." jawab mas putra
"Rank ya.."
"Terserah kamu.."
aku pun langsung sibuk dengan ponselku setelah masuk kedalam game untuk Mabar, hingga tidak terasa sudah 3 jam kita bermain.. setelah itu aku memutuskan menyudahi permainan karena lapar..
"Mbak laper.." rengek ku memang dari siang aku belum makan, bahkan ini sudah sore tapi Mbak Dina tidak menawariku makan..
"Iya, bentar lagi Mbak cari tempat makan.."
"Ya udah,...
Mbak aku tidur dulu, nanti bangunin kalo udah mau turun.."
"Kita mau makan apa mas putra..??" tanya Mbak Dina pada mas putra
"Apa aja, saya nggak pilih pilih.." jawab mas putra
"Iya.."
Aku tertidur pulas dimobil, tidak tau lagi apa yang diobrolkan mereka, karena aku sudah terlalu lapar dan lelah, hanya merasakan tangan mas putra yang mengelus kepala ku sebelum aku benar benar terlelap..
dan ntah sudah jam berapa aku bangun, karena Mbak Dina dan mas putra tidak membangunkan ku, padahal aku sudah minta untuk membangunkan ku..
aku pun mencoba membuka mata, melihat didalam mobil tidak ada siapa siapa.. aku mencoba melihat keluar...
ternyata hari sudah malam, ntah berenti dimana ini, karena jalanan yang sepi dan tidak ada penerangan jalan,
"MBAKKKK..." panggilku yang ingin turun dari mobil, tapi tiba tiba mas putra sudah berlari ke arahku..
"Didalam saja, jangan keluar ya.." ucapnya tanpa ekspresi
"Kenapa si mas,.. aku mau keluar, mau lihat ada apa...??? kok kita berenti disini sih.." gelap lagi.." tanya ku heran, berharap langsung dapat jawaban..
"Mama's belum tau, tapi kamu didalam dulu saja, tunggu Mamas masuk.." mas putra langsung menutup pintu mobil dan menyuruhku untuk menunggu didalam..
30 menit, 60 menit.. entah sudah berapa menit terlewat, tapi mereka tidak juga masuk kedalam, sedangkan aku, jantungku sudah seperti teremas didalam mobil, nafas ku pun juga sudah seperti orang yang lelah seperti orang selesai berlari,
Kutengok kanan dan kiri, mas putra sama Mbak Dina masih diluar, ntah apa yang mereka bicarakan, tapi hari malah semakin gelap, aku yang merasa gelisah hanya bisa mengetuk kaca mobil,
lapar ku sudah tidak terasa lagi, tapi badanku merasa gelisah karena jalanan yang gelap,
Aku sudah mencoba mengetuk kaca mobil, tapi kedua orang itu masih saja sibuk berbicara, aku mencoba mengetuk lebih kencang lagi, dan akhirnya mas putra menengok kearah ku..
Mas putra yang melihat kearah ku mengajak Mbak Dina untuk menuju mobil, lalu mas putra masuk ke mobil, sedangkan mbak Dina masih menunggu diluar..
"Mas.. badan aku nggak enak rasanya.. jantung sama nafas aku nggak enak juga.." rengekku saat aku melihat mas putra
"Sabar ya de' kita lagi nunggu ada mobil lewat, tiba tiba mobil berhenti disini, dan ternyata dari kamu tidur tadi tidak ada mobil lewat selain mobil kita, mas sama sopir kamu sudah mencoba cari bantuan diluar, tapi dari tadi hanphone kita tidak ada sinyal.." jelas mas putra menengkanku
"Hahh.. serius mas, kita terdampar disini.." kaget ku
"Bukan terdampar, kita terjebak disini.." ralat mas putra
"Sama aja.. terus gimana dong.. aku nggak mau tidur disini.. banyak yang ngeliatin aku dari tadi, aku nggak mau disini pokoknya, hikk hikk.." protesku rasanya air mataku panas sudah mengalir dipipiku
"Sabar ya, Mamas disini, kamu aman kalo didalem, pokoknya kamu jangan keluar, tutup telinga dan mata kamu, jangan melihat mereka, kamu aman disini ya.. sudah jangan nangis lagi.." kata mas putra lagi,
Sebenarnya, aku memang penakut, dan ini lah yang tak aku suka pada diri ini, hanya kak putra yang selalu bisa menenangkan aku dari dulu,
Karena setiap aku pergi, aku selalu tidak bisa leluasa, aku takut pada takdirku, takut pada teriakan teriakan mereka yang tidak semua orang bisa dengar, aku takut bila mereka selalu menghantui ku setiap hari..
seperti hari ini..
"Iya mas, aku didalem aja.. tapi mas putra hati hati diluar ya.."
"Mas nggak jauh kok, hanya didepan sini.." menunjuk kearah depan samping pintu mengemudi
Aku mengangguk, dirasa aku sudah tenang, mas putra akhirnya keluar lagi untuk berjaga didepan..
baru 20 menit berlalu, aku mendengar ketukan jendela di sampingku... aku mencoba mengabaikannya, tapi ketukan dikaca mobil masih bisa terdengar..
Akhirnya aku melihat kearah kaca, tempat mas putra berdiri dengan mbak Dina, mereka masih ada disana, setelah itu aku melihat dikaca sebelah kiri yang diketuk, tapi tidak ada siapa siapa.. sengaja aku tidak menyalakan lampu handphone, dan mencoba mendekatkan wajahku lebih dekat lagi dengan jendela...
Aku tidak melihat apa apa.. memang makhluk makhluk itu tidak bisa mendekat kesini selamat kalung merah delima ku masih terpakai.. kalung ini menjadi perisai agar mereka tidak bisa mendekat kecuali bangsa jin, namun kalung ini berguna disaat Tante kunyi tidak ada di dekatku untuk melindungiku..
Aku memberanikan diri mencoba lebih dekat lagi kekaca mobil untuk melihat keluar lebih jauh lagi, 5 menit kemudian aku mencoba menjauh dari kaca mobil,
aku tidak berhalusinasi, tapi aku melihat banyak sekali orang tua dan anak anak berkelompok, seperti terdapat desa disana..
aku mendekatkan lagi wajahku kekaca mobil,
"Itu beneran desa.." ucapku lirih tapi tidak mengurangi rasa kaget ku,
"Astaga.. kok bisa sih, disana seperti siang, sedangkan disini malam.."
Heran... dan Bingung.. mungkin itu yang aku rasakan saat itu, aku bisa melihat antara siang hari dan malam hari bersamaan, diwaktu dan jam yang sama.. sebelah kanan malam hari, dan dikiri siang hari..
Seperti mimpi... aku mencoba menepuk pipiku pelan, tapi saat terasa sakit, aku yakin bila itu tidak bermimpi,
aku tidak pernah melihat desa kasat mata seperti ini sebelumnya, seperti desa pada umum umumnya, bahkan dulu saat aku pertama kali diajak Tante kunyi kesana hanya melihat pandoponya yang tidak berpenghuni, seperti hutan hutan Pati yang berawan,
Disini... Banyak sekali rumah rumah bambu, walau aku melihat dari kaca jendela mobil, tapi aku bisa melihat banyaknya penduduk disana, mereka bergotong royong untuk bekerja, berjualan, anak anak yang gembira berlari kesana kemari, bermain mainan bambu dengan senang, tak jarang orang tua dan nenek nenek menapih padi..
Pandanganku beralih pada anak kecil yang sedari tadi melihat kearah ku, ternyata dia yang mengetuk kaca mobil dengan cara melempar batu kecil kearah sini.. dan saat aku melihat anak itu, dia tersenyum dan melambaikan tangan kearahku...
Aku hanya melihatnya, tanpa merespon dia yang masih melambai lambai menunggu aku meresponnya, selang beberapa menit aku akhirnya berhenti melihatnya, dan mencoba diam sambil memeluk lututku, berharap waktu cepat pagi...
namun waktu seakan berhenti, mungkin pikiranku, atau memang waktu seakan lama sekali, mas putra dan Mbak Dina masih setia menunggu diluar, dan ketukan dijendela seakan tidak mau berhenti, setiap kali seakan bertambah kencang ketukan dikaca.. tapi aku tetap tidak ingin merespon, aku tidak ingin harus membuat mas putra dan Mbak Dina khawatir..
Aku takut setelah aku mengikutinya, mereka akan mencoba menahanku disana, aku tak ingin kejadian yang dulu terulang kembali sewaktu aku dipesantren.. karena bagiku, tidak ada hal baik bila berteman dengan makhluk makhluk yang sudah sedari kecil ingin mengambil ruh ku...
Waktu dan detik masih berjalan, didalam mobil aku sendiri, tidak peduli lapar yang dirasa, atau takut yang terus datang, aku terus memanggil nama Tante kunyi, berharap Tante kunyi bisa mendengar suaraku, karena sekarang aku ingin pulang,
Klekkk,,, (suara pintu mobil dibuka)
Mas putra dan Mbak Dina ternyata masuk kedalam mobil,
"Kamu belum tidur..??" alis mas putra mengernyit saat melihatku
"Aku nggak bisa tidur.." jawabku, dan kembali membenamkan mukaku disela sela lututku
"Kamu takut de'..." tanya Mbak Dina
"Nggak.." jawabku yang masih enggan mengangkat kepalaku yang terkubur disela sela lututku
"Ya sudah, kamu tidur ya de'..." mas putra langsung menarik kepala ku untuk direbahkan dipahanya..
aku hanya menurut tanpa protes, karena itu yang aku inginkan sekarang..
Aku merasakan mas putra mengelus kepalaku perlahan, seakan akan ketakutan ku dibawa pergi, aku tiba tiba merasa kantuk kembali.. hingga aku mencoba memejamkan mata dan tidak beberapa lama, aku pun tertidur kembali..
Samar samar aku merasakan seperti ada angin yang bertiup kearahku,
bau rumput dan tanah basah menyeruak tercium dihidungku, aku sedikit bingung, apa aku berhalusinasi lagi... atau kita sudah kembali dialam kita lagi..
Mau tidak mau karena penasaran dan senang, aku membuka mata kembali.. tapi bagaimana kagetnya kami, saat membuka mata, kami bertiga berada di gua...
bagaimana bisa disini...????
Kapan kita kesini..???
ya Tuhan...
banyak pertanyaan didalam hatiku, saat aku ingin berdiri, mas putra dan Mbak Dina terbangun dari tidurnya..
"Astaghfirullah.." kaget Mbak Dina..
"Kita Dina mas, de'.. " tanya nya lagi
Mas putra hanya melihat sekeliling, raut wajahnya tidak menunjukan dia panik atau heran karena kita disini..
"Aku nggak tau Mbak, aku kan tadi tidur dimobil, terus pas bangun aku disini sama kalian.." jawabku lirih
"Ya Allah.. kita dimana ini de', mbak takut.. ayo kita pulang.." kata Mbak Dina
"Gimana bisa pulang Mbak, saya juga nggak tau jalan.."
Rasanya aku pingin sekali teriak untuk minta tolong,
"Itu ada kakek kakek, ayo kita tanya jalan.." kata mas putra, lalu dia menggandeng tanganku untuk jalan
Mbak Dina mengikuti dari belakang..
Tapi sebelum sampai kesana, kami melihat kakek kakek itu menjauh, seperti terdorong kebelakang...
"Permisiii..." teriak mas putra agar kakek itu berhenti, namun semakin kita mendekat, kakek itu semakin menjauh, dan kemudian menghilang entah kemana..
Shock.. kita bertiga langsung memantung.. dan mencoba melihat sekeliling lagi, sekarang tempat ini seperti hutan Pati tak berpenghuni, pohon jati yang menjulang tinggi, aku mencoba berbalik badan untuk melihat jalan yang kita lalui tadi, tapi nihil.. jalan yang kita lewati tadi seakan bercabang, dan aku tidak tau jalan mana yang kita lewati tadi..
Seakan tau kita tersesat didunia lain, kami memutuskan untuk terus berjalan..
kami berjalan lurus kedepan, ntah kearah mana, tapi kami terus berjalan tanpa henti, hingga kita tiba dipekampungan yang terasa tidak asing bagiku..
Ya.. itu adalah perkampungan yang tadi malam aku lihat, kami tidak berbicara, tapi kami berjalan masuk kearah perkampungan itu..
Setelah melewati gapura, aku melihat anak yang memanggilku dengan lemparan batu kecil dijendela semalam.. dia tersenyum dan melambaikan lagi tangannya...
aku masih tidak ingin merespon, kami hanya berjalan lurus agar bisa pulang, karena seingatku, jalanan diujung desa ini adalah jalan pulang...
penduduk desa ini sangat ramah, mereka tersenyum dan ingin mendekat, tapi terhalang dengan pembatasku... hingga terdengar suara lembut seorang kakek tua. ditelingaku...
"Kalian mau apa..???" ada suara didalam telingaku.. tapi aku tidak merespon
"Kalian mau apaaa..." lagi... suara itu terdengar lagi,
"Disini bukan tempat kalian..."
"Pulang lahhh..."
"Kembali kalian..."
satu persatu suara suara itu memenuhi telingaku.. aku mencoba menutup telingaku, tapi Suara itu masih terus berdatangan..
mas putra dan Mbak Dina mencoba memelukku,
"Pulanglah nak..."
"Jalan lah terus,"
"Jangan pernah menengok kebelakang,"
"Jalan lah nak.."
"Bagaimana harus jalan, kakiku seperti berat untuk melangkah, bahkan tubuhku seperti mau roboh bila tidak ada mas putra dan Mbak Dina menopang.. tapi aku harus bisa, mereka juga pasti takut, tapi mereka masih menopangku agar bisa memimpin jalan.. " fikir ku
Dengan memaksa kaki dan tubuh untuk bergerak, tidak lupa aku beristighfar sepanjang melangkah.. agar Allah selalu melindungi kami..
Tidak ada yang berbicara, kami hanya diam sepanjang perjalanan, mungkin karena sudah pernah melewati desa gaib, mas putra dan Mbak Dina tidak ada yang bertanya atau mengeluarkan suara..
"Ayo pulang..." Suara yang familiar ditelinga ku, dia lah yang aku panggil panggil dari tadi, kenapa baru sekarang datang,
Air mataku tidak bisa berhenti, aku menangis, mas putra yang melihat aku menangis sesenggukan mencoba menggendongku dibelakang punggungnya.. aku yang lemas hanya pasrah,
"Akhirnya pulang..."
fikir ku senang, Tante kunyi sudah datang, kita akhirnya bisa pulang, terbebas dari hutan dan desa ini.. walau mereka tidak menjahatiku, tapi trauma masa lalu masih membekas diingatan, itulah yang membuat aku tidak ingin berteman dengan makhluk makhluk kasat mata selain Tante kunyi..
Aku yang sesenggukan karena menangis tidak sadar bila aku tertidur, ntah berapa lama mas putra menggendongku, akhirnya kita bisa menemukan mobil kita yang sudah dijaga warga setempat..
Padahal semalam mobil kita terdampar dijalan yang tidak ada yang melaluinya, tapi sekarang, mobil kita ada dijalan pinggir rumah seorang ibu yang sedang berjualan nasi uduk.. ibu itu melihat mobil kita terparkir disana lama tapi mereka tidak melihat kita turun dari mobil, dan saat ibu itu memanggil suaminya untuk mengecek, didalam tidak ada siapa siapa.. akhirnya suami ibu itu memanggil warga untuk mencari kami.. ternyata, mereka menemukan kami dihutan jalan saat kami ingin pulang...
Konon, disana memang selalu ada saja orang orang yang hilang, bahkan ada yang pulang 3 hari tapi mereka seperti orang linglung...
disana sering mendapati desa yang tak pernah mereka lihat, dan buat pejalan yang ingin mencari tempat bermalam, pasti tak jarang mereka akan tersesat disana..
DAN INI LAH KISAHNYA, WALAU NGGAK MENARIK MUNGKIN BUAT KALIAN, TAPI AKU INGIN BERBAGI SEDIKIT SAJA KISAH KISAH YANG PERNAH AKU LEWATI.. SEMOGA KALIAN SUKA YA...