Air mataku mengalir deras, tanpa bisa ku tahan, walaupun berada di dalam Bus antar provinsi yang membawaku dan anak ku tanpa tujuan. Karna aku sendiri belum tau mau pulang kemana, orang tuaku sudah tak ada lagi, sementara saudara-saudara ku sama sekali tak tau kalau aku akan pulang. Aku sama sekali tidak memberitahu mereka kalau aku akan datang. Aku tak perduli dengan tatapan heran para penumpang Bus yang menatap ku penuh tanya, namun tak ada yang berani mengungkapkan penasaran nya.
Selama perjalanan air mata terus mengalir, Aku sendiri tak tau mengartikannya. Apakah ini air mata bahagia, sedih, atau perasaan kecewa yg selama ini terpendam dalam hati ku. Perasaan ku berkecamuk, hati ku terasa remuk redam, harus nya aku tak perlu menangis, harus nya bahagia, karena hari ini aku telah berani mengambil langkah dan keputusan untuk hidup ku dan anak-anak ku. Melepas kan diri dari tekanan- tekanan dan kepedihan yang selama ini menyiksa bathin ku. Kupejamkan mataku walau tak ada rasa kantuk, hanya sekedar untuk mengingat suatu kenangan yang indah yang pernah kulalui bersama nya agar bisa menahan air mata ini. Namun ternyata mengingat semua nya semakin membuat air mata ini mengalir deras. Kenangan demi kenangan menari-nari di benak ku. Tanpa bisa menghentikan air mata ku.
Tetap harus ku akui tak mudah mengambil keputusan ini, meninggal kan orang yang selama ini aku cintai, ku bersamai selama sebelas tahun, aku sendiri tak tahu apa aku bisa melewati masa-masa sulit kedepannya sendirian....
Walaupun selama bersama nya aku selalu melewati masa-masa sulit dan menyakit kan sendirian.
Untuk mengambil keputusan ini saja, aku butuh waktu berfikir dan merenungi selama tiga tahun, dan itu bukan waktu yang singkat. Selama tiga tahun ku habiskan sepertiga malam ku dengan mengadukan semua yang aku rasa kan kepada Sang Khaliq, serta tetap mencari solusi bagi masalah rumah tangga yang kami hadapi.
Segala usaha untuk memperbaiki dan mempertahan kan kehancuran rumah tanggaku sudah ku coba demi anak-anak, walaupun hatiku selalu merasa sakit aku tak perduli. Aku di rendahkan, di hina, di caci maki setiap hari, bahkan tak jarang pukulan pun melayang ke tubuh ku karena tak menuruti kemauan nya. Bukan masalah uang dan ekonomi yang menjadi titik tumpuan ku dalam mengambil jalan ini, tapi masalah urusan maksiat yang tak henti di lakukan nya. Mabuk dan judi yang menjadi kebiasaaan hidup nya. Setiap hari pulang pagi, atau tengah malam dalam kondisi mabuk dan bau minuman alkohol, yang begitu menyengat, tak jarang juga muntah tercecer ketika sudah berada dalam kamar, membuatku harus membersihkan nya tengah malam atau pagi buta.
Bahkan sampai kami tidak punya apa-apa lagi, rumah, tanah dan bahkan kendaraan motor habis ludes terjual demi menutup hutang- hutang yang aku sendiri tidak tau berapa banyak dan untuk apa semua itu.
Segala cara sudah ku coba untuk berusaha menyadar kan nya bahwa semua itu salah dan harus di tinggalkan, tapi dia tak bergeming.
Aku sudah konsultasi dengan keluarga besar nya, minta nasehat dari KUA sebagai tokoh agama yang memahami bidang agama dan rumah tangga, bahkan menghadir kan wali ku sendiri untuk menasehati kami. Agar kami bisa memulai kembali dari awal, dari titik nol, walau tak mudah. Semua itu tak membuat nya menyadari nya, malah menjadi-jadi dan semakin melampiaskan segala nya kepadaku.
***
Namun begitu, bukan berarti dia tak punya kebaikan sama sekali. Dia sangat baik dalam hal sosialisasi, pergaulan dengan masyarakat, bahkan bisa di bilang sangat royal jika bersama dengan teman-teman nya. Namun semua itu ternyata tidak bisa di aplikasikan nya dalam rumah, mungkin karena ego nya yang terlalu tinggi hingga sifat tempramental dan antagonis nya mengalahkan kebaikan yang dimilikinya. Atau mungkin saja memang aku bukan pasangan yang baik untuk nya, atau aku yang tak bisa memahaminya.
"Bang, apa salah ku hingga selama ini abang selalu berbuat kasar padaku". Tanyaku.
" Kau tak ada salah" jawab nya.
"Kalau akau tak salah kenapa Abang selalu kasar? " Tanyaku lagi, tak puas dengan jawab nya
"Ah.. ntah lah... jangan banyak tanya. Aku pusing" Dia menjawab acuh sambil berlalu.
Setiap pertanyaan itu kulontar kan pada nya, dia selalu menjawab tidak ada yang salah padamu. Hingga seringkali membuatku bingung, dengan sikap dan perlakuan nya. Dia bahkan tak lagi segan mabuk-mabukan di depan keluarga besarku.
Sampai akhirnya keberanian dalam hatiku timbul dan membuat ku mengambil langkah berpisah itu yang terbaik, dan berusaha ikhlas dengan segala taqdir Nya. Perceraian memang bukan satu-satunya jalan, untuk menyelesaikan masalah, tetapi ketika semua usaha untuk mempertahan kan nya sudah kita tempuh dan tidak mendapat kan solusi, mungkin inilah yang terbaik. Perceraian di benci Allah, tapi di perboleh kan, jika rumah tangga yang di jalani tidak membawa pada kebaikan.
Namun ada satu hal yang membuatku sangat berterima kasih padanya sehingga aku sama sekali tiada membenci dan mendendam atas setiap perlakuan nya terhadap ku. Karena tekanan yang kudapat kan darinya aku bisa jadi belajarَ mandiri, belajar bersabar, belajar tegar, dan belajar mengenal siapa diriku, berusaha terus memperbaiki diri dan mengenal Sang penciptaku. Aku jadi bisa berkumpul dengan orang-orang sholeh yang selalu memberikan semangat dan menguatkan ku untuk tetap bersabar dalam menghadapi ujian dalam kehidupan ini. Dan yang pasti sampai hari ini, alhamdulilah Allah memberikan ketenangan hidup bagi ku dan anak-anak, juga keluarga baru yang in syaa Allah membawa kebahagian sampai di jannah Nya kelak. Aamiin.
"Ummi kita mau kemana?“
" Kerumah pakde", jawab ku sekenanya. Karena memang Aku belum punya tujuan pasti.
Pertanyaan Aishah putriku membuyarkan kan lamunanku.
Ku aktif kan HP ku, untuk menghubungi kakak ku untuk memastikan mereka ada dirumah.
Ting... Ting... Ting... Bunyi pesan masuk berulang kali saat ku aktif kan HP ku.
Kubaca balasan SMS dari suamiku.
"Jangan ke mana-mana".
"Tunggu aku"
"Dimana...? "
Tak kubalas satupun SMS nya. Hanya air mata yang terus mengalir. Kubanyang kan wajah panik dan kebingungan nya mencari-cari keberadaan kami.
Tiiiittt... tiiiittt.... tiiiittt... terdengar nada panggil dr HP ku.
"Assalamu'alaikum, ada apa dek..?? tadi Fandy telpon Abang, Adek dimana?" terdengar suara Abangku di seberang dengan pertanyaan beruntun dan penuh kekhawatiran.
"Wa alaikumussalam, Adek lagi di jalan Bang Mau pulang ke kota M kerumah Abang" jawab ku masih terisak.
"Aduh gimana ya, Abang mau berangkat ke kampung ini, udah mau jalan. Besok baru pulang"
"Ya sudah la Bang, Adek kerumah Kakak aja di KL" kataku kecewa.
"Assalamu'alaikum". Ku putus kan panggilan tanpa menunggu jawaban salam dari seberang.
Ku lanjut kan panggilan berikutnya ke nomor Kakak ku.
" Assalamu'alaikum, dimana Dek? ada apa? Tadi Fandy nelphon". pertanyaan yang sama ku dapat dari kakak ku.
"Wa alaikumussalam, lagi di jalan, mau kesitu".
"Kau pergi ndak bilang ya? "
"Iya, nanti lah aku cerita. Assalamu'alaikum" ucap ku, langsung memutuskan panggilan.
Ternyata dia menghubungi kakak -kakak ku. untung saja aku ndak bilang sebelum nya mau ke rumah mereka, jadi nggak ada alasan mereka berbohong. Karena mereka memang tidak tau akan kedatangan ku.
Ku pejamkan kan kembali mataku, berharap segera tertidur agar tak merasakan lelah dan panas nya perjalanan ini.
Malam hari akhir nya aku tiba di rumah kakak ku.
Mereka menyambut ku dengan kegembiraan, dan pelukan hangat penuh kasih sayang, namun penuh dengan pertanyaan yang siap meluncur kepada ku.
" Aku lelah, mau istirahat" ucap ku, sebelum mereka menyerang ku dengan berbagai pertanyaan. Karena aku memang sangat lelah dan belum ingin membahas masalah ku.
***
Suara adzan terdengar syahdu mendayu-dayu , membangun kan tidur ku. Walau lelah masih menyisakan sakit di badan ku, ku paksakan diri untuk bangun. Langkawi gontai kaki ku menuju kamar mandi. ku bersih kan diri ku untuk segera bersiap-siap menghadap Ilahi, menumpahkan segala gundahmu dan gelisah yang masih menyelimuti hatiku. Di hamparan sajadah ini lah ku tuangkan segala rasa yang masih berkecamuk dalam hati ku. Do'a dan harapan ku panjatkan diiringi dengan air mata yang masih menganak di pipiku, hingga hatiku benar-benar tenang dan siap menghadapi hari ini. setelah puas ku tumpahkan semua isi hatiku, barulah aku beranjak dari atas peraduan hatiku.
Kubangun kan semua penghuni rumah untuk segera menunaikan kewajiban kepada Ilahi.
Kemudian aku pergi ke dapur membantu kakak menyiapkan sarapan pagi bersama keponakanku.
"Sarapan sudah siap, ayo makan... " teriak ku memanggil keponakan dan anak ku.
"Makan enak ni... " celetuk keponakan ku.
"Kalau ada ummi, pasti masakan enak. kalau mamak cuma asal masak aja" lanjut nya sambil memanyunlan bibir nya.
"Kalau mamak masak enak - enak terus, nnti badan mu makin kayak tong".
jawab kakak ku, membuat Kami semua tertawa.
Sejenak aku melupakan masalah pribadi yang menghimpit batin ku.
Setelah keponakan ku berangkat ke sekolah semuanya, Akupun menceritakan apa yg sesungguhnya terjadi padaku, sambil tetap sesenggukan.
"Ya sudah lah, semua sudah terjadi. sekarang kau tenang kan dulu hati mu, Nanti kita fikir kan lagi apa langkah yang sebaik nya kalian ambil."
kakak ku menanggapi di akhir ceritaku.buat hatiku sedikit lega.
***
Dua hari berikutnya, Aku kerumah Abang. seperti yang di katakan nya, kalau hari ini dia sudah pulang dari kampung.
Sampai di rumah nya aku disambut dengan pelukan hangat dan ciuman sayang di pucuk kepalaku.Yaa.. Abang memang selalu menganggap ku sebagai adik kecil nya. Tak perduli walaupun aku sudah punya anak, Dia selalu menganggap ku seperti anak kecil.
Nasib nya anak bungsu kali ya.
"Ayo masuk, kita sarapan dulu, kakak sudah masak makanan kesukaan mu"
"Iya Bang, ayo Aish, salim ama pakde, Bude. " Jawab ku sambil mengarah kan Aish untuk salim ke pakde nya.
Sambil malu-malu Aish salim ke Abang dan kakak iparku, dan langsung di sambut dengan pelukan serta ciuman oleh mereka.
Setelah meletakkan bawaan ku ke dalam kamar, kami langsung menuju tempat makan lesehan. kami biasa makan dengan lesehan.
Ku santap masakan kakak ipar yang memang sedap. Sedikit membuat ku melupakan kesedihan ku.
"Istirahat lah, pasti capek kan...?" Ucap Abang, tanpa bertanya tentang masalahku. Abang memang selalu begitu. dia akan memberikan aku kesempatan untuk memenangkan diri sebelum bertanya tentang apapun yang membuatku sedih
Malam hari setelah makan malam, akhir nya ku putus kan untuk menceritakan semua nya yang ku alami kepada Abang.
"Jadi, bagaimana menurut mu keputusan yang akan kau ambil setelah ini? "
tanya Abang.
"Sementara waktu biar lah dulu Bang, agar kami sama-sama tenang, nanti kalau sampai satu minggu dia gak ada nelpon aku, baru Abang hubungi dia. Beritahu dia kalau kami ada disini, ceritakan aja yang sebenar nya, agar mereka tidak menyalahkan Abang. "
"Ya sudah kalau menurut mu itu lebih baik. Sekarang istirahat lah. "
Kupejamkan kan mataku di peraduan, setelah ku tunaikan 2 rakaat sunnat witir.
Agar hatiku selalu tenang dan selalu dalam petunjuk Allah ketika mengambil keputusan apapun.
***
Satu minggu berlalu setelah kepergianku. Namun sampai saat ini, suami ku tidak sekalipun menelpon kami. mungkin dia terlalu kecewa, atau malah sebalik nya, atau karena egois dan gengsinya, atau malah sangat bahagia atas kepergian ku. Begitulah asumsi yang tercipta dalam benakku. Karena tidak ada komunikasi, membuat ku menduga-duga sendiri apa yang sebenarnya dj fikirkan nya.
Ya... memang komunikasi yang kurang baik selama ini lah salah satu penyebab keretakan hubungan kami. Setiap ku ajak berkomunikasi baik-baik, nanti ujung-ujungnya jadi ribut, karena setiap pendapat dan hal-hal yang tidak sesuai dengan pemikiran nya selalu membuat nya marah dan emosi. akhirnya kuputuskan untuk lebih banyak diam, jika tidak ada sesuatu yang sangat penting. Hal ini kulakukan untuk meminimalisir keributan yang bisa saja terjadi kapan saja. Mengingat akun punya anak yang harus kunjaga perasaan nya. Sebab, kalau suamiku sudah marah dan emosi, dia gak akan perduli walaupun berada di depan Anak-anak. Dia akan tetap memaki bahkan memukul ku, sekalipun ada Anak-anak.
Malam harinya kuputuskan kan untuk menyampaikan kepada Abang, agar dia menghubungi suamiku.
Tiiiit..... tiiiittt.. tiiiit.... nada panggilan tunggu terdengar di HP Abang, yang memang sengaja di speaker.
"Assalamu'alaikum,
bagaimana Bang? " Terdengar sahutan dari seberang sana.
"Wa alaikumus salam, bagaimana kabar nya, Di? "
jawab Abang.
"Ya... gitulah Bang, udah nya gak ada harga nya lagi aku ini sama adek Abang" katanya ketus.
"Bukan begitu, Di. Kamu kan laki-laki, dan suami. pasti lebih tau lah apa sebenarnya yang harus d lakukan".
" Ah.. udah lah itu Bang, kalau udah itu mau nya. ya udah lah... "
"Aku lagi capek Bang,mau istirahat, assalamu'alaikum."
smbung nya langsung memutus kan pembicaraan.
"wa alaikumus salam. " Jawab Abang pasrah, sambil mengedik kan bahunya.
Seperti nya memg dia tidak bisa di ajak komunikasi dengan baik. Tidak mau mendengar alasan dan nasehat orang lain, juga tidak mau di anggap salah.
***
Tak terasa satu bulan berlalu, sejak hari itu. Setelah sholat istikharah panjang yang ku lakukan, Ku mantap kan hatiku untuk emilih jalan perpisahan yang sesungguhnya. Agar aku bisa menentukan kehidupan ku kedepan nga bersama anak-anak ku, tanpa harus berharap apapun dari nya. Yang ada dalam fikiran ku saat ini, aku harus mencari pekerjaan, agar aku tidak terus bergantung pada Abang, apalagi uang tabungan ku sakin menipis.
Banyak rencana yang ku fikir kan dalam benaknku saat ini.
Kubuat planing masa depan ku bersama buah hatiku. Tak ku fikir kan lagi aset-aset berharga dan kesuksesan yang sudah ku tinggal di kota tempat ku tingal dahulu.
Saat ini yang ku ingin kan adalah untuk terus mendekat kan diri kepada Allah untuk mendapatkan ketenangan hati dan kebahagiaan haqiqi.
Sambil tetua menyusun rencana - rencana terbaik untuk masa depan kami.
***
Maaf ya teman-teman kalau cerita nya kurangemuas kan. aku baru belajar nulis. kokom koreksi serta masukan nya ya....