ini adalah cerita seorang mahasiswa yang sedang kkn (kuliah kerja nyata) di salah satu Rumah Sakit Swasta kota bandung, di tengah padatnya jadwal peraktik ternyata dia menemukan cinta yang sempurna yaitu seorang dokter muda spesialis jantung, meski awalnya sang dokter membuat ia kesal tetapi cinta bersemi di antara ke dua nya. seperti apa kisahnya? mari ikut tenggelam bersama memasuki lorong waktu dan bersama menikmati kisahnya.......
hallo namaku adilla usia 20 tahun, yang setiap ulah tahun tidak ada yang merayakan atau ngasih kado. aku adalah anak pertama dari hasil pernikahan ke dua orang tuaku, aku mempunyai 1 adik kandung laki-laki, ayahku bekerja sebagai tukang bangunan, dan ibuku sebagai ibu rumah tangga yang setiap hari menyiapkan sarapan, baju untuk ayah bekerja, untuk adiku sekolah, dan membereskan rumah. meski keluarga kami hidup pas-pasan ayahku berhasil menyekolahkanku sampai ke jenjang sekolah tinggi. aku seorang mahasiwi kebidanan tingkat 2 di salah satu sekolah tinggi kesehatan di bandung. terimakasih yang mendalam untuk ayahanda dan ibunda.'
hari ini waktu terasa lebih cepat, baru saja mata ini terpejam alarm sudah sedari tadi berbunyi menandakan aku harus segera bergegas pergi ke RS, sialnya hari ini adalah jadwal dinas malam, itu berarti aku semalaman akan begadang. ahirnya aku bergegas menuju RS, yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan tempat ku tinggal, kulihat sebuah Rumah Sakit besar terpampang jelas di sebrang sana, tempat setiap orang menggantungkan harapan untuk kesehatan nya, tempat orang kehilangan salah satu saudaranya, dan tempat kebahagiaan orang sembuh dari penyakitnya.
ku susuri lorong rumah sakit ini, sebari menunggu pintu lip terbuka kulihat jam di tangan ku sudah menunjukan pukul 14:00 artinya aku harus bergegas tukar shif dengan teman se dinas ku, karena kami di bagi di beberapa rumah sakit jadi setiap jadwal dinas selalu sendiri tidak pernah berdua, ada sisi untungnya yaitu kita bisa bebas praktik tanpa harus berebut. dan terbukalah pintu lift segera ku tekan tombol angka 5 yaitu ruangan dimana aku dinas hari ini, ruangan khusu penyakit dalam. sampailah sudah aku di ruangan ini, terlihat di ujung ruangan sebelah kanan temanku sudah menunggu untuk oper ship, biasanya aku datamg lebih awal tapi kali ini malah telat 15 menit. terpampang wajah cemberut temanku di ujung sana.
"maaf ya din aku terlambat tadi air di kosan tiba-tiba mati makannya lama nunggunya" padahal hanya alibi saja.
"gak papa dil, yu tukeran dulu ke depan"
kita berdua bergegas ke senior dan mengatakan bahwa kita oper shif, ya seperti biasa hal pertama dari dinas yaitu kita di kasih kamar pasien, kali ini aku memegang 6 kamar, yang setiap kamar berisi 4 pasien, artinya aku bertanggung jawab untuk 24 orang. segera ku ambi stetoskop, tensimeter, termometer untuk pengecekan tahap awal dimana tanda-tanda vital dari masing-masing pasien ku catat untuk ku laporkan ke bagian rekam medis. kurang lebih 30 menit semua telah ku tuntaskan tahap awal ini, selain menunggu perintah senior biasanya aku sambil menyiapkan obat yang akan di bagikan pukul 19:00 nanti. tapi kali ini belum ada intruksi jadi ku putuskan untuj mengisi lookbuk saja atau catatan yang harus ku serahkan ke bagian kampus.
"de kamu lagi apa? bisa tolong angkat tlpon de?" ujar seniorku.
memang terdengar suara tlpon disana, ku angkat dengan hati hati.
"ruangan penyakit dalam ada yang bisa saya bantu?"
"saya dari kamar 303 dada saya sakit"
"baik bu"
segera ku laporkan berasal darimana telepon itu dan kita semua bergegas menuju kamar tersebut, iya itu adala kamar ibu nina seorang pasien dengan penyakit jantung, segera ku ambil alat EKG (elektro kardiografi) untuk memeriksa denyut jantungnya, hasil memperlihatkan keadaan yang buruk, terlihat suara ireguler dan di bawah batas normal. rencana selanjutnya adalah membawa pasien ke ruangan jantung, ke dokter spesialis jantung.
hari ini banyak perawat yang sedang rapat di lantai 12, hanya tersisa 10 perawat yang jada di ruangan ini, dan 11 dengaku, ini menandakan tidak akan ada yang bisa meninggalkan ruangan ini begitu saja.
"de tau ruangan jantung kan? di bawah di lantai 3, anterin ibu yang tadi ke ruangan itu yaa, udah saya tlpon dokternya. ade tinggal nganter aja tungguin nanti hasil nya bawa ya? pake kursi roda ya de, infusnya matiin aja"
aku menganggung tanda setuju, tanpa basa basi segera ku ambil kursi roda dan menuju ruangan pasien tersebut.
"ibu sekarang kita ke ruangan sepesialis jantung ya, ibu ikut saya naik kursi roda ini" ujarku
"iya neng hayu"
ku dorong kursi roda ini menuju ruangan bawah, dengan hati-hati meski sesekali aku yang terbawa oleh kursi ini, karena badanku yang kecil, aku harus dengan kuat menahan kursi roda ini agar tidak menubruk sesuatu.
sampailah di ruangan spesialis jantung, tidak di sangka pasien nya mengantri, dan hanya terlihat 1 dokter di dalam sana, sialnya no antrian pasien ku adalah terakhir dan parahnya aku tidak membawa telepon genggam ku dan hanya duduk di samping pasien menunggu giliran.
waktu terasa sangat lambat jika kaitannya dengan menunggu, sampai tibalah waktu pasien ku masuk, tetapi dokternya pergi ke kamar mandi, mungkin saking membeludaknya pasien sehingga untuk sekedar ke kamar mandi saja sangat sulit.
"de saya ke kamar mandi dulu ya"
"iya dok"
tidak lama kemudian dokter sudah kembali, ku lihat postur tubuh yang sempurna dengan baju kameja berwarna hitam di balut jas dokter warna putih, tersemat stetoskop hitam di lehernya, uahhhh pikirku.
"de bisa bantu pegang jeli nya gak?"
"hah? iya dok bisa" tersadarlah lamunanku,mungkin dokter itu sudah melihat wajah mupeng ku tatkala melihatnya tadi. dihhhh.
segala pemeriksaan di lakukan dengan sigaf dan cekatan, hanya membutuhkan waktu 15 menit semua sudah terperiksa.
"udah beres ya de tunggu di luar"
"iya dok terimakasih"
segera ku bawa pasien tadi keluar, dan ku bawa ke ruangan lantai 5, kembali ke ruangan penyakit dalam. ku dorong kursi roda menuju bed no 2 pasien tadi, di bantulah ibu tadi ke tempat tidur serta ku kembalikan kursi roda tadi ke tempatnya. ahh betapa melelahkan dinas ini pikirku. sembari bergegas menuju ruangan khusus mahasiswa. tiba-tiba....
"de! udah di bawa ke ruangan jantung?"
"udah teh"
"hasilnya mana?"
"astagfiruloh lupaaa"
segera ku kerangkan tenaga sisa sisa tadi menuju ruangan bawah, ku ketuk ruangan itu.
"punten dok,mau ngambil hasil pemeriksaan atas nama ny. Nina. "
dokternya malah ketawa "kenapa tadi malah pergi?"
"lupa dok hehe"
"ok duduk aja dulu"
seperti hal nya anjing yang menuruti majikannya aku hanya mengikuti katakatanya, aku duduk di kursi warna hitam di pojok ruangan itu gak lama kemudian dokter itu menyerahkan map warna biru, hasil pemeriksaan pasien tadi.
"ini de?"
"iya dok, terimakasih banyak dok saya permisi"
"bareng aja de saya juga mau ke ruangan atas"
"iya dok mari" ujarku.
ini dokter kok ke atas ya, padahal jelas tertera di ruangan atas dia tidak ada jadwal dinas, ahh mungkin sedang ada keperluan pikirku.
sampailah di ruangan atas, ku serahkan dokumen tadi ke bagian rekam medis. dan baru saja sampai,rasanya nafas ini saja belum benar benar teratur.
"de gantiin infus ruangan 306 yaa"
"iya teh" huaah ingin rasanya ku berkata, nanti dulu kenapa sii? capeeee.
tanpa ku sadarai ternya dokter tadi mengikuti langkahku, ku ganti infus nya dan segera ingin kembali ke ruangan, sudah seperti ada ban mobil yang menempel di kaki ini rasanya pegal sekali. tiba tiba tanganky di tarik.
"de, boleh kenalan gak?
"hah? dokter"
"namanya dilla ya?"
"kok tau"
"itu di name tag" (keliatan kan aku tololnya)
"oh iya dok saya dilla" ku lirik namanya terlihat widian di sana
"sepertinya kamu tau nama saya hahahahha mana WA nya de?"
tiba-tiba terdengar bel *kode blue,kode blue* ku berlari menuju depa tanpa sadar sedang mengobrol, dan meninggalkan seseorang di sana, ternyata salah satu pasien ruangan ini meninggal. huhu :(
terdiam sejenak, kenapa bisa dokter itu meminta no
ahhh palingan ada penting pikirku. mana mungkin dokter mau sama bidan kaya gini, enggak mungkin banget.
hari itu dinas paling melelahkan, untungnya keesokan harinya aku lepas (libur), sampai dinas berikutnya aku dinas pagi, baru saja sampai di ruangan tiba-tiba CIAI memanggil.
"de kamu hari ini gak usah dinas,di tunggu sama dokter widi di ruangannya"
"maaf bu ada apa ya?"
"cobq tanyakan dulu saja pada beliau jika sudah selesai kembali dinas disini ya?"
"baik bu"
sepanjang perjalanan menuju ruandan dokter ity aku tak henti berfikir sembari mengkerutkan kening, ada apa si, aku harus kerja masih banyak target yang belum ku penuhi. ahhh ada-ada saja dokter ini.
tibalah aku di ruangan serba hijah ini, terlihat meja panjang di depan sana dan dokter itu sedang membaca sebuah berkas yang entah apa isi nya aku tidak tau.
"permisi dok, ada yang bisa saya bantu"
"kenapa kemarin kamu lari ninggalin saya"
"maaf dok saya lupa sedang mengobrol dengan dokter"
"lupa?" sambil terkekeh.
"iya dok"
"duduj sekarang kamu di kursi itu, dan serahkan no whatsapp kamu"
"maaf dok saya tidak hapal no saya, dan tidak bawa hp" lagi-lagi aku mencari alasan dengan tanpa sadar aku memegang hp miliku di tangan.
"kamh kalau bohong yang pinter, yang di tangan kamu apa? tempe?"
ku lirik, ternyata aku memegang hp miliku sendiri "oh iya dok" dengan berat hati ku serahkan no itu kepadanya.
"sebagai hukumannya sekarang kamu ke bawah ambil dokumen map warna biru di mobil saya, itu kunci mobilnya"
"baik dok"
hah? apa-apaan si, gak jelas sumpah, emang dia siapa? dokter sehebat apa? maksa-maksa nyuruh pula. ishhhhhh tak hentinya aku mengumpat selama perjalan ini. sesampai di parkiran terlihat mobil berwarna putih, ku buka pintu nya, sembari mata ini berkeliling mencari dokumen yang di maksud, sampai aku menemukannya. ku bawa segera ke atas, entah angin dari mana sehingga membuat semua kertas yang ada di dalam map itu berceceran.
tertulis di salah satu kertas "WILL YOU MERRY ME?"
wah ini dokter mau ngelamar pacarnya kali ya, segera ku bereskan kerta -kertas ini dan menuju ruangan tadi, bisabisa aku di suruh lagi jika terlambat, ku ketuk pintu tadi, tapi dokter yang nyebelin itu tidak ada di sana ahhhhhhh senangnya aku hanya meletakan dokumen itu dan kabur kembali ke ruangan ku.
dinas hari ini selesai, aku mau pulang, sebelum pulang kebiasaanku adalah mencari makan untuk ku bawa pulang ke kosan, anehnya hari ini aku gak lapar, dan hanya membeli batagor saja, ingin rasanga keramasan hari ini, ku letakan tas dan segera mandi, solat dan makan. sampai aku tertidur.
'drttt drrrtttt drrtttt drrrtttt' suara getaran hp membangunkanku, aaarghht siapa ini ganggu aja.
terlihat 10 pesan di sana.
"de ini widi, kami baca gak dokumen saya"
hah? masa dokter itu tau tadi aku baca wuaahhh gawat niii.
"tidak dok" (berbohong adalah jalan ninjaku)
"itu buat kamu de"
hah? massa ngajak nikah?
"buat saya dok?"
"saya sebenarnya sudah lama lihat kamu, meskipun terlalu cepat mau enggak kamu jadi salah satu wanita prioritas saya selain ibu saya"
"hah" jawabku
"iya de"
tanpa ku balas pesan itu, aku hanya kembali tertidur berharap ini mimpi, ternyata bukaaan. keesokan harinya ketika ku buka dalamnya sama seperti di mimpi kemarin. artinya ini nyata.
hari ini dinas terakhir ku, ku buka loker di tempat kerja ku ternyata ada 3 buah coklat, 1 cincin, 1 atm dan 1 paper bag .yang isinya baju dan sepatu beserta secarik kertas "jika kamj menolaku tolong bersedia menjadi pacar bohongannku saja,aku di tuntut menikah kasian ibuku sudah tua, minimal aku punya pacar daripada tidak sama sekali." ^widian^
entah apa yang ku pikirkan malam ini aku memakai baju ini dan bergegas menuju mobil yang sedari tadi menungguku disana. tidak ada percakapan apapun selama di dalam mobil, aku sibuk dengan fikiranku, dan dia serius memperhatikan jalan.
sampai mobil ini berlabuh di sebuah rumah megah berwarna hitam putih dengan aksen berwana mocca, aku turun dengan memasang wajah paling bagus. terlihat di ujung pintu seorang ibu tua dengan kabel yang banyak di dadanya, beserta alat alata medis. ternyata ibunya terkena penyakit jantung yang parah sehingga mungkin itulah yang membuat dia menjadi dokter jantung.
"hallo ibu ini dilla, calon menantu ibu"
"hallo bu saya dilla"
"sini ibu mau meluk, kapan kalian menikah"
"secepatnya bu" jawab widian
malam itu di habiskan dengam mengobrol dan makan malam, sampai tak terasa sudah menunjukam pukul 10 mala. aku harus segera pulang, sepertinya widian mengerti kegelisahanku, dan kita pamitan menuju pulang. sepanjang jalan dia berterimakasih kepadaku, ibunya tidak pernah tersenyum lebar semenjak suaminya pergi menghadap ilahi, hingga beliau terkena serangan jantung. malam ini malam pertama ibunya tersenyum.
"de terimakasih ya udah mau ke rumah"
"sama-sama mas"
"lah kok mas?"
"aku siap jadi istri mas, bantu aku mencintaimu ya"
terlihat haru di matanya sambil tangannya mengelus rambutku
"terimakasih, berbahagialah denganku, sampai setiap pagi yang ku temui kamu, malamku ada kamu, pagiky ada kamu, kita akan berada di satu atap yang sama"
"iya mas" sebari ku sandarkan kepala ini di pundaknya.
itulah kisahku dengannya hingga saat ini kami di karuniai 4 orang anak dengan 2 pasang anak kembar, mertuaku sudah meninggal, di susul suamiku 2 bulan yang lalu juga menyusul ibunya, untung menghidupi ke dua anaku aku bekerja di rs daerah jogja. terimakasih untuk cinta dan sayangmu untuku suamiku.
"semesta adalah skenario terbaik tuhan"