Orang bilang "JODOH" itu sudah di atur oleh Tuhan. Jadi selama apapun hubungan atau perasaan itu bertahan, tak akan mempengaruhi jika orang itu adalah jodohnya atau bukan. Tapi sepertinya hal itu sama sekali tidak berlaku bagi Alvaro. Alvaro bilang jika jodoh itu kita sendiri yang memilih, dan ia pasti memilih gadis primadona yang sangat dicintainya untuk menemani laki laki itu di masa depannya nanti.
Akankah kekuasaan Tuhan akan menjadi keputusan akhir dari jodohnya?
atau malah tekad Alvaro untuk memilih jodoh nya sendiri yang terkabul?
Disinilah semua kejadian itu mulai sedikit mendebarkan untuk keduanya. Mereka merasakan seolah-olah akan terjadi suatu hal buruk dalam hubungan mereka. Namun mereka memilih untuk menghiraukan.
Alvaro Bastian dan Vania Priscilia. Pasangan terfavorit di salah satu universitas besar di Yogyakarta. Keduanya sama sama berasal dari fakulta ekonomi. Terlebih hubungan mereka telah terjalin hampir 4 tahun, sejak mereka SMA kelas XI hingga semester 6 sekarang. Hal itu juga yang sering membuat para jomblo merasa baper menyaksikan keuwwuan mereka. Bagaimana tidak, di mana ada Vania disitu akan ada Varo, dan mereka akan membuat para jomblo terus histeris karena keromantisan mereka.
Namun siapa sangka hubungan mereka yang telah terjalin bertahun tahun itu malah akhirnya akan berakhir karena suatu kesalahan mereka sendiri.
Hari itu Vania sedang mendengarkan musik di taman belakang kampus mereka, tidak ada Varo. Karena laki laki itu sedang berada di kelasnya karena jadwal mereka yang berbeda. Sangking menikmati dunianya, Vania bahkan tak menyadari jika ada seseorang di sampingnya. Mata gadis itu terpejam sembari menyanyikan lirik lagu yang di dengarnya. Laki laki itu menarik salah satu earphone dari telinga Vania dan memasangkan di telinganya.
Vania terkejut, gadis itu langsung menoleh ke samping dan mendapati sosok yang dicintainya.
"Aku pikir siapa" Vania berujar pelan, memandangi sosok kekasihnya yang tengah memejamkan mata.
Varo membuka matanya, tersenyum manis sembari mengangkat tangan Vania untuk memegang dadanya. "Gue bener bener bingung kenapa Jantung ini cuma berdebar kencang saat di deket lo. Tapi gue sadar, lo segalanya bagi gue. Nggak bakal ada yang bisa pisahin kita"
Vania yang semula menatap Varo bingung kini menarik sudut bibirnya lebar, "Lo juga tau kan Var, secinta apa gue sama lo. Gue harap kita bakalan berjodoh dimasa depan---"
"Pasti. Kita pasti berjodoh!" Ujar Varo penuh penekanan. Vania hanya diam, menatap Varo lalu memeluk laki laki itu erat.
Gue juga berharap kita jodoh, tapi kenapa rasanya bakal terjadi sesuatu yang buruk untuk hubungan kita. Gue bener bener ragu.
Varo mengelus kepala Vania, laki laki itu juga merasakan sesuatu yang membuatnya sedikit tak nyaman. Seperti akan terjadi sesuatu.
Mereka berdua memilih mengabaikan, dan mendengar kan lagu sambil berpelukan satu sama lain. Menikmati momen terakhir mereka, tanpa mereka sadari.
Saat tengah asik memejamkan mata sembari berpelukan, sebuah buku tiba tiba jatuh ke kepala Varo. Varo sontak berdiri membuat Vania ikut terkejut. "Kenapa? Tadi aku denger ada sesuatu yang jatuh?" Tanya Vania bingung, gadis itu baru saja memejamkan mata.
Varo menggeleng, mendudukkan kembali tubuhnya lalu tersenyum melihat Vania yang kembali memejamkan mata. Mengelus kepala Vania pelan "Kita pasti berjodoh" Varo mencium kening gadis itu, Vania yang belum sepenuhnya tertidur hanya bisa tersenyum. Varo benar benar selalu bisa membuatnya bahagia dengan detak jantung yang menggila. Varo pun ikut tersenyum. Matanya menoleh kesamping, menatap sebuah novel dengan judul KAMU JODOH KU. Kepalanya lantas menatap keatas, seorang gadis dengan nyaman nya tertidur diatas pohon dengan bersandar ke ranting pohon besar itu.
Varo menatapnya heran, sebelum memilih mengabaikan gadis itu. Vania nya jauh lebih menarik dari apapun.
***
Vira terbangun saat mendengar teriakkan seorang gadis dari bawahnya. Gadis itu membuka mata dan tersenyum polos menatap seseorang yang ada di bawah.
"Turun Vir! Bentar lagi lo masuk kelas" Seru Safa
Vira mengangguk sekilas, dan mulai menurunkan tubuhnya. Namun, karena efeknya yang masih mengantuk gadis itu tidak sengaja terpeleset. Dan--
Vira memejamkan mata takut, kenapa tidak sakit pikirnya. Gadis itu membuka mata pelan, dan lebih terkejut lagi melihat wajah tampan seseorang.
Safa hanya menatap terkejut kedua manusia itu, "Turun woyy! Lo pikir lo bidadari yang jatuh dari langit!" Dengan cepat Vira turun dari gendongan laki itu, Varo.
"Makasih!" Balas Vira cepat dan segera berlari menuju kelasnya.
Safa menatap tidak enak pada Varo. "Sorry, temen gue emang gitu"
Varo hanya mengangguk malas, membuat Safa pun ikut berlari mengejar Vira. Laki laki itu menggelengkan kepalanya dan mengambil kunci mobilnya yang tertinggal. Matanya tak sengaja menangkap sebuah novel yang tadi terjatuh diatas kepalanya. Varo memilih acuh, namun tak berapa lama laki laki itu mengambil novel nya dan memasukkan ke tas. Varo tidak tau jika hal itu akan membuatnya terus semakin dekat dengan Vira.
Vira Zahrani, Gadis polos dengan kepintaran yang tak perlu di ragukan. Ia saja bisa menjadi salah satu mahasiswi di kampus besar ini karena Beasiswa. Ia sama sekali tak memikirkan apapun selain Belajar dan menyelesaikan pendidikannya. Vira tidak terlalu suka berbasa-basi, karena itulah ia sering di cap sebagai gadis yang sombong. Namun Vira tak peduli.
"Gila lo Vir, udah gue bangunin masih aja ninggalin gue!" Ujar Safa kesal, Vira hanya tersenyum polos
"Ya maaf Saf, tadi aku benaran lupa kalo ada kamu"
Safa hanya mencebikkan bibirnya, namun tak berapa lama gadis itu kembali tersenyum lebar. "Gila! Adegan lo jatuh tadi beneran kayak sinetron Vir. Gue aja sampe baper sumpah!" Histeris Safa.
Vira mendengus, "Biasa aja kali!"
"Gimana kalo Varo sama Vania putus ya. Gue yakin setelah kejadian tadi, Varo pasti akan cari lo terus kaliana berdua bakalan pacaran!"
Vira menatap sekitarnya, "Kalo ngomong di saring! Kamu nggak liat semua orang pada liatin kita?"
Safa hanya cengengesan. "Ngapain kamu ikut?" Heran Vira melihat Safa yang ikut mendudukkan tubuhnya.
Safa cengo. "Kelas kamu udah selesai Safa sayang" Greget Vira. Safa hanya terkekeh. "Lupa gue! Lo sih bikin baper anak orang!" Gadis itu langsung bangkit berdiri dan sedikit berlari keluar. Tak lama kepalanya menyembul keluar. "Gue pulang dulu Vir, nanti kalo lo udah sampe rumah kabarin gue!" Teriak gadis itu. Vira hanya mampu menggeleng kan kepalanya.
***
Setelah mengantarkan Vania ke rumahnya, laki laki itu segera kembali ke kampus. Ia masih memiliki kelas. Mata Varo tak sengaja menatap ponsel gadis nya yang tertinggal. Laki laki itu tersenyum sebelum mengambil ponsel itu. Membukanya dan terkejut mendapati sebuah chat yang terlihat sangat romantis. Laki laki itu hanya memejamkan mata menahan amarahnya. Ia akan meminta penjelasan.
Varo masuk ke dalam kelasnya. Matanya mencari sosok laki laki yang telah berchatingan mesra dengan kekasihnya. Ketemu! Mata Varo terus menatap tajam laki laki yang tengah asik membahas sesuatu bersama gadis yang membuatnya sial itu. Dafa dan Vira. Dua orang yang telah mengganggu nya.
Vira yang merasa risih pun menatap sekitarnya. Mata gadis itu seketika bertabrakan dengan mata Varo yang menatap nya kearahnya dengan tajam.
"Ada masalah apa kamu sama dia?" Bisik Vira pada Dafa. Dafa hanya mengernyitkan dahi bingung menatap sosok gadis polos di sampingnya. Vira hanya memberi kode, gadis itu tidak berani membalas tatapan tajam Varo. Seketika Dafa menoleh dan tersenyum sinis.
"Gue nggak ada masalah sama dia. Tuh orang aja yang baperan!" Vira mengangguk singkat. Gadis itu segera berdiri setelah kelasnya selesai. "Yaudah aku pulang dulu, kamu hati hati!" Dafa tersenyum lebar, "Ayo gue anter pulang" Ajak laki laki itu. Vira menggeleng cepat. "Aku bisa pulang sendiri Daf."
Dafa hanya tersenyum kecil, "Yaudah hati hati sana," tangannya mengelus pelan kepala Vira sebelum berjalan meninggalkan gadis itu lebih dahulu. Varo yang sedari tadi memperhatikan mereka, tersenyum sinis. Varo bisa tau jika laki laki yang telah mengganggu kekasihnya itu memiliki rasa pada gadis yang tak sengaja terjatuh di gendongan Varo. Namun, apa motif laki laki itu mendekati gadisnya?
***
"Kenapa lo nggak bilang kalo lo sering chat sama Dafa!" Varo menatap tajam Vania, tatapan itu membuat Vania merasa sesak.
"Lo juga nggak pernah bilang ke gue kalo lo deket sama cewek lain!" Balas Vania tak kalah keras.
Mereka berdua langsung menjadi tontonan sekarang. "Apa yang lo maksud?!" Sahut Varo tak terima
"Lo pikir gue nggak tau kalo lo sekarang lagi deket sama cewek lain!" Bentak Vania, menunjukkan salah satu gambar diponselnya. Seorang laki laki tengah menggendong seorang gadis.
Varo mendengus, tak ingin di fitnah begitu saja. Varo mengeluarkan ponselnya. "Lo pikir gue nggak tau lo sering chatting romantis sama cowok lain!"
"Lo nggak pernah percaya sama gue Var!" Vania menahan tangisnya
"Apa lo pernah percaya sama gue!" Bentak Varo, laki laki itu tak tega melihat gadisnya menangis, namun ia tidak bisa berpikir jernih.
"Lo sama gue nggak cocok Var! Lebih baik kita udahan!" Vania memejamkan mata sembari mengucap kalimat itu.
Ego Varo benar benar terluka, bisa bisanya masalah seperti ini mereka memilih berhenti. Bukankah hubungan mereka bertahun-tahun ini selalu di selesaikan dengan baik setiap ada masalah. Bukankah mereka selalu terbuka untuk setiap hal. Namun karena hal kecil itu, Vania sampai berfikir untuk berhenti.
"Gue nggak nyangka kalo lo milih berhenti, di saat kita udah berjuang sama sama. 5 tahun bukan waktu yang cepet buat laluin semua hal itu Van. Dan lo dengan mudahnya bilang udahan hanya karena hal kecil." Varo menghentikan ucapannya, menatap Vania yang hanya mampu meneteskan air mata.
"Gue beneran cinta sama lo. Karena itu gue hargain keputusan lo. Oke! Kita sekarang nggak ada hubungan apapun." Vania menggeleng pelan sembari terus menangis.
"Gue nggak maksud---"
"Udah cukup Van, Kita emang nggak berjodoh" Laki laki itu membantu Vania berdiri.
"Mungkin lain kali kalo kita sama sama menjalin hubungan baru, jangan pernah nutupin hal sekecil apapun. Soal foto itu, gue cuma nggak sengaja nangkep cewek yang hampir jatuh dari pohon. Nggak ada apapun lagi." Varo memeluk gadis itu sebentar lalu segera pergi.
Hancur. Dunia Varo rasanya benar-benar hancur. Tidak hanya Varo, Vania pun rasanya benar-benar tak bisa berpikir lagi. Perasaan itu sungguh menyesakkan bagi keduanya. Mereka bahkan telah melalui hal yang lebih besar, namun karena hal kecil, keduanya memilih berhenti. Tidak ada yang mampu membuat keputusan sendiri tentang hidupnya. Semuanya telah di atur oleh yang di atas.
***
Kabar putusnya hubungan Varo dan Vania menyebar begitu cepat di kampus, bahkan menjadi berita paling panas di kampus itu. Begitu juga dengan Vira dan Safa yang mendengar nya. Namun ingatkah kalian, jika Vira tak akan memberi atensi lebih terhadap hal yang tidak terlalu penting. Seperti biasa, sambil menunggu kelas selanjutnya di mulai, Vira kembali ke taman belakang untuk memanjat pohon besar tempat ia banyak menghabiskan waktu ketika di kampus.
Namun, keberadaan sosok lain di bangku taman bawah pohon itu membuat Vira terkejut. Bukankah jarang sekali ada orang yang akan ke taman ini. Terdapat seorang laki laki yang tengah merebahkan tubuhnya di bangku taman dengan wajah yang tertutup sebuah novel. Vira mengenali novel itu, lantas tangannya langsung membuka tas dengan cepat. Tidak ada.
Vira berjalan pelan mendekati laki laki itu. Ingin memastikan jika itu adalah novel miliknya. Vira berhenti tepat di samping bangku dan menatap novel itu lekat. Namun tiba-tiba matanya malah menatap wajah orang itu, novelnya telah di tarik ntah kemana.
Vira terdiam, jantungnya berdetak cepat karena jarak sedekat ini dengan sosok laki laki. Mata mereka bertemu, tatapan Varo hanya datar sedang kan Vira benar benar gugup.
"M-maaf," Vira menjauhkan tubuhnya, namun tangan Varo dengan cepat menahan tangan gadis itu. Varo membenarkan posisi tubuhnya menjadi duduk, menatap Vira intens membuat gadis itu semakin gugup.
"Aku cuma mau ngambil novel yang ada di tangan kamu, itu punya aku." Vira terus mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Varo. Namun tenaga laki laki itu sangat kuat. Varo menarik Vira untuk duduk di sebelahnya.
"Gara gara lo gue putus sama Vania!" Ujar Varo tajam.
Vira menatap laki laki itu bingung, "Maksud kamu?"
"Gara gara lo jatuh ke gendongan gue, Vania jadi salah paham. Dan kami berdua putus." Laki laki itu menatap Vira yang jadi merasa bersalah.
Vira menundukkan kepalanya, "Aku bener bener nggak tau kalo kecerobohan ku bisa buat kamu jadi gini. Aku bener bener minta maaf, aku janji bakalan jelasin ke Vania."
Varo menggeleng pelan, "Vania udah tau."
Vira mengangkat kepalanya, "Terus kenapa jadi putus? Kamu bilang Vania udah tau?"
"Nggak usah sok polos lo! Gue tau semua berita ini udah nyebar ke siapapun!" Varo menatap tajam Vira.
"Aku nggak punya waktu buat ngurusin hal nggak penting! Balikin novel ku!" Vira menatap Varo sekilas, lalu tatapannya beralih pada novelnya yang di pegang laki laki itu.
Varo tertawa sinis, "Bukannya ini rencana lo sama pacar lo itukan!"
Vira semakin bingung, "Apa maksud kamu?"
"Lo sama Dafa pasti sepakat buat ngerusak hubungan gue sama Vania kan?!" Tajam Varo
"Nggak usah asal ngomong! Kalo emang aku mau ngelakuin itu, apa tujuan aku!" Vira mulai kesal
"Bisa aja lo suka sama gue, dan pengen jadi pacar gue." Santai laki laki itu, menatap remeh Vira yang semakin kesal.
"Maaf, aku nggak punya banyak waktu buat mikirin hal nggak penting yang kamu omongin barusan. Lagian kalo aku pengen ngerusak hubungan kalian, dari dulu aku pasti lakuin!" Vira menatap tajam Varo yang terdiam.
Mereka berdua hanya bertatapan, sebelum Vira melepaskan kontak mata mereka dan mengambil novel nya dengan cepat. Tanpa menghiraukan Varo, Vira memanjat pohon besar itu dengan lincah. Mendudukkan tubuhnya dengan nyaman dan membaca novel itu.
Tiba tiba saja dering ponsel yang familiar di telinga Vira, membuat gadis itu mencari sumber suara. Ia menatap ke bawah, dimana Varo tengah memegang ponselnya dengan senyum miring.
"Nggak usah di angkat!" Teriak Vira melihat tangan Varo yang akan menjawab panggilan itu.
"Lo telat sih." Jawab Varo tanpa dosa. Vira mendengus. Gadis itu turun lebih hati hati dan segera mendekati Varo. Vira menarik handphone nya dengan cepat.
"Iya Saf aku sekarang ke kelas." Vira segera berjalan cepat menuju kelasnya diikuti Varo yang tengah tersenyum miring. Ntah apa yang akan di lakukan laki laki itu.
Tanpa pernah Vira pikirkan, Varo menggenggam tangan gadis itu. Berjalan santai seolah tak terjadi apapun, Vira hanya mampu menatap kesal laki laki itu sambil terus berusaha melepaskan genggaman Varo.
Tak sengaja mata Varo menatap gadis yang hingga saat ini masih di cintainya, Vania hanya tersenyum kecut melihat Varo yang menggenggam tangan Vira.
"Makasih Van, gue jadi beneran deket sama Vira karena lo." Laki laki itu tersenyum tanpa beban, Vira hanya mampu menundukkan kepalanya. Gadis itu mendengar ucapan yang sekarang di tujukan untuknya. Bagaimana tidak di perbincangkan, tepat dihari yang sama Vania dan Varo putus, Varo juga sekarang tengah menggenggam tangan gadis lain.
"Iya, gue juga seneng bisa lepas dari lo. Semoga bahagia." Balas Vania yang memaksakan senyumnya.
Varo mengangguk mantap. "Pasti. Gue pasti beneran bahagia kali ini." Tatapan laki laki itu beralih pada Vira yang hanya menundukkan kepalanya. "Gue duluan Van,"
Vania mengangguk.
"Nggak usah nundukkin kepala lo! ini bukan salah lo. Tapi ini emang takdir." Vania masih bisa mendengar ucapan Varo yang di tujukan pada Vira itu. Gadis itu segera berlari dengan air mata yang telah jatuh, Varo hanya mampu menatap gadis itu.
***
Dafa menggeram kesal melihat tangan Vira yang di genggam oleh Varo.
"Lo nggak punya otak! Lo bilang cinta sama Vania, tapi baru aja putus, lo udah genggam tangan cewek lain!" Dafa menatap tajam keduanya, mereka bertiga menjadi sorotan di kelas itu.
"Lo pikir gue peduli!" Acuh Varo
"Vir, bukannya lo bilang nggak mau pancaran? Lo bilang cuma mau fokus nyelesain kuliah lo!" Tajam Dafa
Vira mengangkat kepalanya, gadis itu terkejut mendengar bentakan laki laki pertama yang menjadi temannya. "Aku---"
"Apa urusannya sama lo, lagian lo bukan pacarnya kan," Nada mengejek Varo kembali membuat Dafa tersulut.
Tanpa di ketahui mereka, di antara penonton keributan mereka terdapat sosok gadis yang tengah menahan tangisnya lagi. Ntah tangisnya yang sudah keberapa kali untuk hari ini.
Vira benar benar lelah, "Cukup! Kalian berdua kenapa sih, kalo mau ribut jangan di sini. Aku nggak mau ikut campur masalah kalian! Nyelesain masalah itu dengan baik baik! Nggak guna kalo kalian bertengkar!" Vira menatap keduanya datar sebelum meninggalkan kelas yang sebentar lagi akan di mulai itu.
Varo dan Dafa hanya menatap kepergian gadis itu. Kenapa perasaan mereka berdua jadi tidak enak. Lalu mata Varo tak sengaja menatap gadis yang juga ikut berlari setelah kepergian Vira.
Gue tau lo sakit hati, tapi gue juga nggak nyangkal gue masih kecewa sama lo Van. Lo tau seberapa cintanya gue sama lo, tapi cuma karena hal kecil kita jadi putus. Mungkin kita emang nggak jodoh.
"Lo kejer Vania, gue tau lo sering chat sama dia. Mungkin dari kejadian ini kalian bisa lebih deket." Ujar Varo santai. Dafa bingung, apakah harus mengejar Vira atau Vania. Teman atau gadis yang di sukainya. Ntahlah laki laki itu masih bingung dengan perasaannya. Tapi bukankah Varo tau siapa yang di sukai laki laki itu, kenapa Varo malah semakin memperumit semuanya.
"Gue yang bakal ngejer Vira." Varo meninggalkan Dafa yang terdiam, setelah itu Dafa pun ikut berlari dan mengejar Vania.
Varo kembali ke taman belakang, benar sekali. Ia melihat Vira yang menyandarkan tubuhnya ke ranting pohon dengan mata terpejam. Semua ini gila! benar benar gila untuk Vira yang sangat polos. Ntah hal gila apalagi yang akan terjadi.
Varo memanjat pohon itu sama lincahnya dengan Vira. "Semuanya emang nggak bisa di prediksi. Terjadi begitu cepat dan nggak bisa kita pahami."
Suara Varo membuat Vira yang telah mengetahui keberadaan laki laki itu hanya menggumam. Vira juga sama bingungnya dengan Varo. Tidak bisa mencerna semua ini. Bukankah selama ini mereka tidak saling dekat, kenapa mereka berdua malah terjebak di permainan hati ini.
"Masalah kalian berdua apa sih sebenarnya? Kenapa semuanya terjadi secepat ini? Sebelum hari kemarin, semuanya masih normal. Aku, kamu, Dafa sama Vania masih seperti biasa. Kamu sama Vania pacaran, dan aku sama Dafa temenan. Tapi kemarin, Kamu natap tajem Dafa, aku jatuh ke gendongan kamu, dan hingga hari ini. Kamu sama Vania putus karena aku, novel aku ada di kamu? kamu ada masalah sama Dafa? Semua ini kenapa?" Vira membuka matanya, menoleh kesamping melihat Varo yang juga menatapnya. Laki laki itu sedang mencerna semua ucapan Vira yang masuk akal.
"Lo pikir?"
"Aku nggak ngerti, aku cuma pengen fokus belajar di sini. Nggak pengen buat masalah apapun." Vira berujar pelan
"Takdir. Semua ini takdir, secinta apapun gue sama Vania kita emang nggak berjodoh. Dan---" Varo menghentikan ucapannya, menatap wajah polos Vira yang sungguh menggemaskan. Tidak heran jika Dafa menyukai gadis di hadapannya.
"Dan?" sambung Vira
"Lo cinta sama Dafa?" Tanya Varo tiba tiba
Vira menggeleng yakin, "Aku nggak pengen ngerasain cinta, untuk siapapun itu. Biarin semua berjalan apa adanya. Aku yakin Tuhan bakal ngasih yang terbaik buat kita." Gadis itu tersenyum.
Varo hanya menatapnya. "Oh ya gimana kamu bisa dapetin novel aku?"
"Kemarin waktu gue lagi pacaran sama Vania di bangku bawah, novel lo jatuh ke kepala gue terus gue bawa aja." Santai Varo, tersenyum kecut.
Vira menyadari perubahan laki laki itu. "Aku beneran minta maaf, aku janji nggak bakal gangguin siapapun lagi. Kamu, Vania, ataupun Dafa lagi. Aku bakal fokus nyelesain kuliah aku, lagian bentar lagi aku nyusun skripsi." Vira tersenyum lebar. Ntah alasan apa Varo ikut tersenyum, meskipun seperti ada yang sedikit mengganjal di pikirannya.
"Aku doain supaya kamu berjodoh dengan Vania." Saat mengucapkan kalimat itu, ada sesuatu yang berdebar di dada Vira. Namun, untuk mengetahui apa itu, Vira tidak mengerti.
Varo hanya mengangguk, menatap lekat wajah Vira yang kini tersenyum lebar. Tanpa bisa di cegah, Varo memajukan wajahnya dan mencium kening gadis itu. Vira hanya mengerjapkan mata dengan debaran jantungnya yang menggila.
"Makasih buat doa lo, tapi gue nggak terlalu berharap lagi untuk balikan sama Vania. Gue juga mau fokus dengan kuliah gue." Varo berujar mantap, menatap Vira yang semakin kebingungan.
"Kenapa nggak coba berjuang lagi buat hubungan kalian, kalian juga masih sama sama punya perasaan." Sahut Vira polos
"Gue cuma mau kayak lo, biarin semuanya mengalir apa adanya." Varo mengelus kepala Vira pelan.
Tidak mungkin jika sebuah kebetulan terjadi secara berurutan. Varo menyadari sesuatu. Ia dan Vania tidak berjodoh. Bagaimana bisa di saat mereka tengah membahas jodoh, tiba tiba sebuah novel berjudul KAMU JODOH KU terjatuh mengenai kepala Varo. Suatu kebetulan yang aneh bukan.
***
Hari ini Vira melaksanakan wisudanya dengan lancar, gadis itu benar benar merasa senang saat ini. Semua orang terdekatnya ada di acara ini, namun kenapa ia sedikit merasa kehilangan seseorang. Vira menepati ucapannya, gadis itu selalu menghindari Vania, Dafa juga Varo. Vira lebih fokus pada skripsinya hingga ia bisa wisuda sekarang. Bahkan Vira jarang bertemu Safa lagi sejak kejadian itu. Safa juga fokus pada skripsinya hingga mereka bisa wisuda bersama.
Vira bahkan tidak mengetahui sejak hari itu, semuanya berubah. Bukan hanya Vira saja yang lebih fokus, tetapi Varo, Vania dan Dafa juga lebih fokus pada skripsinya. Mereka bisa wisuda bersama sama. Tidak ada yang mengutamakan perasaan lagi, kali ini mereka benar benar serius dengan pendidikan nya. Dan Takdir pun mulai bermain selama itu.
Saat sedang berbincang dengan Safa, mata Vira tak sengaja menatap Dafa, Varo dan Vania yang berbincang serius. Mereka bertiga kelihatan bahagia. Terlihat dari senyum yang mengembang di bibir mereka. Lalu kenapa disini perasaan Vira yang menjadi sesak.
"Lo kenapa sih Vir?" Tanya Safa bingung melihat perubahan wajah Vira.
Vira menggeleng pelan, "Aku nggak papa, cuma seneng aja liat mereka bertiga kembali akrab. Aku yakin kalo Vania dan Varo udah balikan"
"Lo nggak denger kabar kalo mereka---"
"Udah nggak usah di jelasin, aku tau kok." Vira kembali menatap ke tiga orang itu. Matanya tak sengaja bertemu dengan mata Varo yang menatapnya dalam. Jantung Vira kembali berdetak kencang. Kenapa ini?
Lalu gadis itu tersentak saat bundanya memegang bahu gadis itu. "Ayo pulang Vir, bunda mau rayain kelulusan kamu di rumah."
Vira tersenyum simpul, melirik ke Varo sekilas yang masih menatap nya. Vira yang benar-benar malu lantas mengikuti langkah bundanya dengan cepat.
"Vir!" Panggil Dafa, Vania dan Varo serentak, Vira dan bundanya menolehkan kepala. Jantung Vira semakin berdebar kencang saat tiga orang itu mendekati nya. Kaki Vira rasanya benar-benar lemas, kenapa tiba tiba gini.
"Ayo bun pulang aja." Vira benar benar gugup, gadis itu berjalan cepat namun tangan bundanya menahan Vira
"Bunda nggak ngajarin kamu bersikap sombong sayang, samperin dulu temen kamu. Baru masuk ke mobil." Bunda Vira berjalan meninggalkan Vira yang seperti mati kutu. Gadis itu hanya mampu menundukkan kepalanya dengan debaran jantung yang menggila. Bahkan Vira rasanya ingin menghilang dari sini sebelum berbicara dengan tiga orang itu.
Vira memejamkan mata dan mengatur nafasnya, kenapa ia jadi terlihat seperti orang yang akan di eksekusi? Bahkan wajah Vira benar benar pucat. Hal gila apalagi yang akan terjadi sekarang?
Sedangkan tiga orang itu hanya berjalan dengan santainya, bahkan senyum tipis terbit di bibir mereka.
"Selamat Vir lo lulus dengan nilai terbaik." Dafa memeluk Vira yang terdiam. Tanpa di ketahui siapapun, Varo menatap tidak suka ke arah Dafa. Vania melirik ke sampingnya dan tersenyum kecut.
"I-iya" Vira gugup bukan karena di peluk Dafa, tapi tatapan Varo lah yang membuat Vira rasanya ingin menghilang dari sana. Sebenarnya ada apa dengan Varo?
"Santai Vir, nggak usah gugup gitu," Kekeh Dafa
Perasaan ke empat manusia itu masih sama, Vira yang tidak mengerti, Dafa yang bingung, Vania yang terjebak dengan perasaan nya sendiri dan Varo yang mengerti semua perasaan mereka, kecuali perasaan Vira yang tidak bisa di tebak.
"Makasih buat semuanya Vir," Vania mulai berujar, menatap Vira yang menundukkan kepalanya. Rasa bersalah itu kembali muncul.
"M-maaf" Lirih Vira, keduanya berpelukan. "Bukan salah lo, gue tau ini cuma salah paham di antara gue sama Varo. Lagian gue udah punya firasat kalo kita berdua emang nggak berjodoh." Sambung Vania.
Vira menatap Vania, "Kamu yakin?"
Vania mengangguk singkat, "Gue juga pengen ngikutin jejak lo, biarin semuanya mengalir. Di dunia ini nggak bakal ada yang bisa di paksain kalo bukan kehendak yang di atas." Gadis itu tersenyum manis, Vania yakin akan merelakan semuanya. Vira memang benar benar panutan mereka.
Kali ini Varo yang mendekati Vira. Degup jantung Vira semakin menggila, apalagi saat tangan Varo terangkat untuk membersihkan debu di rambut Vira. Semua orang bahkan tidak ada yang melihat, tapi kenapa mata Varo setajam itu.
Vira mencoba bersikap biasa. "Hampir 6 bulan kita nggak ketemu. Lo tau setelah kejadian di atas pohon itu gue bener bener serius belajar. Kita bertiga berubah karena pikiran lo Vir. Makasih, berkat kata kata lo gue bisa belajar untuk nggak terlalu memaksakan kehendak gue." Varo tersenyum lebar, Vira menatap Vania yang ikut tersenyum. Gadis itu membalas senyuman mereka.
"Vira! Novel lo ketinggalan di gue. Tangkep ini!" Teriakkan Safa berhasil membuat keempat nya menoleh.
Novel itu kembali mengenai kepala Varo, kali ini semuanya benar-benar melihat. Lagi, novel yang sama dengan judul KAMU JODOH KU.
Beberapa orang bahkan tertawa kecil, namun bukannya kesal. Varo semakin tersenyum lebar. Laki laki itu mengangkat tinggi novel nya.
"KAMU JODOH KU! Mungkin terdengar tidak masuk akal, tapi inilah kenyataan. Novel ini yang buat gue sama Vira terikat tanpa kita berdua sadari. Banyak hal terjadi karena novel ini. Karena itu di sini gue bakal nyatain semuanya!" Varo menatap sekeliling mereka yang ramai. Bukan hanya para mahasiswa, tapi orang tua dan juga para dosen melihat adegan itu.
"Kebingungan gue selama ini terjawab, gue yakin kalo kejadian yang gue alami itu bukan kebetulan. Tapi itulah takdir, pertemuan dan perpisahan bukanlah hal yang bisa di tebak. Begitu juga dengan hubungan gue sama Vania, meskipun kita udah pacaran hampir 5 tahun, tapi itu nggak menjamin kalo kita berdua jodoh. Buktinya karena hal kecil kita berdua bisa putus tanpa bisa dicegah. Dan di hari yang sama gue kejatuhan novel ini, novel yang jatuh tepat ke kepala gue dari atas pohon. Dan pelakunya adalah cewek di depan gue. Ya Vira, Vira yang buat gue sadar kalo jodoh nggak bisa di paksain. Dia yang buat gue sadar kalo hidup nggak selalu sesuai kehendak kita, dan dia juga yang nyadarin gue kalo gue sama Vania emang nggak jodoh. Makasih Vir, lo buat kita bertiga jadi yakin dengan perasaan masing-masing sekarang." Ucapan panjang dari Varo membuat semuanya terdiam, mereka tidak percaya jika kisah laki laki itu benar benar unik.
Dafa menoleh ke samping nya dimana Vania tengah memejamkan mata dengan air mata yang mengalir. Dafa memeluk gadis itu membuat Vania menatap laki laki itu. Mereka berdua memilih menjauh.
Vira hanya diam, benar benar tidak mengerti dengan yang di ucapkan Varo. Satu hal yang tercerna baik di otaknya, ada apa dengan novel itu?
"Kamu jodoh ku" Vira benar benar baru sadar jika 3 kata itu bisa merubah kehidupan mereka berempat yang terjebak dalam suatu perasaan yang sama, Cinta. Vira bahkan tak sengaja membeli novel itu hingga novel itu menjadi favoritnya dan selalu ia bawa untuk mengisi waktu kosong nya.
***
Beberapa tahun terlewati dengan baik. Kehidupan mereka telah berubah sejak acar wisuda itu.
"Gue bener bener nggak nyangka kalo hidup gue bakalan sedramatis ini. Gue dulu selalu bertekad kuat buat jadiin Vania jodoh gue, tapi apa? gue ternyata putus cuma karena kesalahan kecil kita. Tapi gue nggak nyesel, karena gue tau Tuhan selalu ngasih yang terbaik buat hambanya." Varo tersenyum lebar menatap gadis yang telah berstatus sebagai istri nya itu. Semuanya benar-benar tidak terduga.
"Aku yang lebih nggak percaya lagi, kalo ternyata novel yang nggak sengaja ku beli malah nemuin aku sama kamu." Vira memeluk erat tubuh Varo. Dia benar-benar malu mengucap kan itu.
"Nggak usah malu malu Vir, mulai sekarang gue mau kita selalu terbuka. Jangan pernah hilang komunikasi." Laki laki itu mengecup bibir tipis Vira yang tampak sangat menggoda. Vira semakin malu. Baru saja Bibir Varo akan kembali menikmati candunya, tangisan seorang bayi terdengar. Membuat keduanya segera mendekati tempat tidur bayi itu dan tersenyum lebar.
Kisah tak terduga mereka berakhir bahagia, meskipun sempat terjebak dengan perasaan sementara itu, Varo dan Vania akhirnya terbebas dan bahagia dengan pasangan masing-masing. Varo dan Vira. Vania dan Dafa. 2 kisah pasangan yang sekarang sangat terkenal di kampus besar tempat mereka pernah menjalani pendidikan.
Hingga akhirnya Varo menyadari, jika jodoh itu memang telah di atur oleh Tuhan. Tidak ada yang bisa merubahnya, Tuhan juga selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Ke empat nya sekarang benar benar telah bahagia dengan keluarga kecil masing masing. Semua yang kelihatan tak masuk akal akan menjadi jelas pada akhirnya. Jodoh yang tak di duga pun akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk mereka.
Dengarkan pesan dari mereka
"Jalanilah kehidupan seperti air yang mengalir, tidak perlu terlalu memaksakan diri terhadap sesuatu. Semua akan ada waktunya masing masing." Vira Zahrani
"Kita nggak akan bisa terlalu maksain memiliki sesuatu yang memang bukan buat kita. Semuanya udah di atur oleh yang di atas. Dan apapun akhirnya itulah yang terbaik." Alvaro Bastian
"Kesalahan kecil jangan terlalu di anggap sepele, bisa jadi hal itulah yang akan mendatangkan masalah untuk kita." Vania Priscilia
"Perasaan itu bukan suatu hal yang mudah buat di pahami, karena itu jangan pernah memainkan sebuah perasaan." Dafa Anggara
"Lebih berhati hati dalam bertindak, suatu ketidaksengajaan bisa menjadi masalah besar jika tak segera di selesaikan." Safa Anastasya