Senja mengajarkan arti perpisahan tentang segala hal yang ada dalam genggaman pasti akan hilang seiring waktu yang berjalan, dan senja jugalah yang mengajarkan arti duka tentang segala badai yang datang mengampiri diri dalam kesedihan pasti akan berganti seperti pelangi yang hadir setelah hujan datang, ingatlah semuanya telah Tuhan gariskan dalam skenario takdirnya.
Seperti sore ini di depan jendela kamar yang sengaja aku buka sedikit, aku melihat ke arah luar tampak rinai hujan datang setelah sebelumnya mentari dengan gagahnya menjadi penguasa sang siang, tercium bau harum petrikor membawa ketenangan untuk hati yang dilanda gundah. Pikiranku melayang jauh bersama kenangan yang terajut indah bersama dia.
Rania Attaliya
Wajah berseri meneduhkan hati
Pengagum hujan dalam teduhnya mata
Menenggelamkan aku dalam sejuta asa
Berharap kita bisa menua bersama
Melewati waktu dengan cinta
Sampai kita menutup mata
“Hahahahahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak sampai perutku merasakan nyeri. Radit Fernando Jerryio seorang yang mengaku anak sastra dengan kelakuan kocaknya membacakan puisi dengan suara lantang di taman yang lumayan ramai.
“Baguskan Ra?” kata Radit dengan percaya dirinya. “Aku tuh terbukti romantis dan perhatian, makannya kamu bisa jatuh cinta sama cowok ganteng ini.“ Radit duduk disebelahku setelah tadi dia berdiri untuk membacakan puisi sehingga banyak orang-orang yang melihat aksi tidak tahu malunya.
“Jangan terlalu percaya diri Dit, aku cari yang lebih tampan darimu dan pastinya lebih kaya bahaya terus nasib kamu gimana?” aku mencondongkan tubuhku ke arahnya, meneliti wajah sawo matang namun tampak tampan dengan lesung pipi disebelah kirinya.
“Kamu ini sudah terjerat oleh ketampananku hingga tidak bisa berpaling.” Radit menatap ke kerumunan anak-anak yang tengah bermain sepak bola. “ Kamu tau Ra? Kita 7 tahun berteman, dan 2 tahun ini kita sudah menjalin hubungan pacaran. Sedikit sekali yang temenan lawan jenis yang tetep bertahan dalam hubungan persahabatan, dan banyak sekali yang berteman lawan jenis yang ujungnya salah satu dari mereka yang ngerasain jatuh cinta sama temennya sendiri. Awalnya aku gak percaya hal itu tapi akhirnya kejadian, kita berakhir dalam status pacaran dan aku udah suka sama kamu semenjak 6 tahun lalu. Rania Attaliya entahlah aku bingung mau bicara seperti apa lagi, yang aku ingin katakan padamu adalah terimakasih telah menerangi gelapnya malam dalam hidupku, dan aku ingin mengucapkan pada dunia bahwa aku bahagia bisa menjadi bagian dari hatimu.” Mata Radit menatap ke arah langit, menyaksikan awan-awan berarak mengikuti arah angin, namun senyum manisnya tak lepas dari bibirnya ketika mengenang perjalanan kita, perlahan tangannya terulur menggenggam tanganku lembut dan aku lihat dia kini menatapku dengan sejuta arti yang tidak bisa aku ungkapkan.
“Kau tahu Dit? Aku tak mudah untuk jatuh hati, tetapi entah kenapa setiap ada dirimu aku merasakan kenyamanan dan terlindungi. Sehingga aku mempercayakan hati ini untuk kau miliki.” Aku membalas senyumannya, lalu dia memelukku erat dibawah langit senja hingga kenangan itulah yang tercipta dan melekat dalam ingatan.
Seminggu setelah hari itu tepatnya jam 8 malam Radit datang melamarku membawa keluarga intinya dan tidak mengabari keluarga diriku bahwa hari itu Radit akan datang melamar. Aku paknik tak terkira, tanpa persiapan jamuan seperti makanan, minuman, dan makanan ringan pun tidak ada, apalagi baju dan persiapan lainnya terkait dengan lamaran.
Radit memintaku secara resmi kepada kedua orangtuaku lalu setelah itu dia memasangkan cincin bermatakan berlian kecil itu di jari manisku, dan selesai itu kami berbicang terkait acara pernikahan yang akan dilaksankan 2 bulan ke depan, acara lamaran yang sangat simple, namun ternyata acara pernikahan akan dilaksanakan dengan mewah dengan 2 tempat acara akad di rumah dan resepsi di gedung bintang 5.
Wajah dengan binar bahagia tampak menghiasi wajah-wajah kedua anggota keluarga, dan tak terasa mereka pamit pulang, namun Radit tetap di rumahku katanya dia ingin berbicara berdua bersamaku. Akhirnya kami duduk di teras rumah berdua ditemani segelas teh manis hangat dan makanan ringan yang untungnya masih tersisa di lemari makanan.
“Maaf.” Kata Radit dengan suara pelan, aku menyerit bingung atas ucapannya yang entah bermaksud apa.
“Maksud kamu apa dit?”
“Entahlah aku hanya ingin berbicara seperti itu padamu tanpa maksud apapun.” Kata Radit sambil menatap langit malam, yah radit sangat suka menatap langit berbanding terbalik dengan diriku yang sangat suka hujan. “Kau tahu Ra, jika nirwana itu ada di bumi aku tahu siapa bidadari yang menjadi penghuninya, bidadari yang mengajarkan aku bahwa dunia ini tidak selalu tentang kesedihan dan luka, masih banyak bahagia yang akan tercipta dan melepaskan diri ini dari duka, dan bidadari itu kamu Rania Attaliya.” Pipiku berubah merah mendengar ucapan radit, dia itu pintar merangkai kata dan membuatku baper dengan ucapan romantisnya.
“Gombal.” Kataku sambil menahan senyum dengan mengulum bibirku.
“Akh kamu ini tidak suka di gombali oleh aku yah.” Radit memencet hidungku sambil tertawa lalu dia berdiri masuk ke dalam rumah dan pamit kepada orangtuaku.
3 minggu setelah itu Radit datang membawa kotak yang katanya hadiah dari dia entah hadiah dalam rangka apa, dan dia pamit dengan senyuman indahnya padaku, aku dan dia saling menggenggam tangan di beranda rumahku dengan binar cinta yang nampak di antara bola mata kami.
“Aku ada urusan bisnis ke Riau 1 minggu, dan pasti aku akan merindukanmu.”
“Hati-hati di jalan, dan jangan lupa oleh-olehnya.”
5 Jam setelah itu aku mendapatkan kabar bahwa pesawat yang Radit tumpangi terjatuh. Aku, keluargaku, dan keluarga Radit langsung ke bandara untuk memastikannya, dan ternyata benar pesawat dengan tujuan Bandung Riau itu terjatuh di area pegunungan yang cukup curam, dan semua penumpang pesawat dikabarkan tidak selamat.
Padahal masih terasa hangat gengaman tangannya saat berpamitan padaku, suara tegasnya masih terasa berdengung ditelingaku, tapi saat ini dia sudah tidak ada di dunia pergi meninggalkankan diriku dan kisah cinta kita, mataku memanas dan aku menangis tak kuasa menahan sesak di dada mendengar kabar tersebut hingga bundaku terus memeluk diriku untuk menenangkanku.
Sore harinya Radit dimakamkan di pemakaman umum dekat dengan rumahnya, gundukan tanah di depan mataku jadi pertanda Radit kini hanya tinggal kenangan, tak dapat aku genggam apalagi memeluk tubuh tingginya. Langit pun mendung seolah langit tahu hatiku bersedih kehilangan sosok kekasih, hingga hujan turun membasahi bumi dipenghujung senja dan Bundaku meneyeretku untuk pulang ke rumah.
Aku tersadar dari lamunanku tentang kenangan indah disaat-saat terakhirku bersamanya, kenangan yang membekas dalam sanubari hingga aku sulit untuk melupakannya. Aku tutup jendela kamarku karena hari sudah beranjak menjelang malam, aku buka kotak pemberian Radit 1 tahun lalu, kotak yang sering aku buka untuk mengobati rinduku pada dirinya, kotak berisikan flashdick yang terdapat vidio dari awal kenal, sahabatan, pacaran, lalu ketika acara lamaran. Kotak itu juga berisi foto kita berdua ketika acara lamaran, dan ada sebuah surat berwarna biru muda.
"Bila aku menutup mata, yang aku ingat adalah dirimu yang selalu menerangi setiap jalan hidupku, membawaku terbang bebas megarungi angkasa luas melihat keindahan dunia bersama dengan dirimu. Kini waktu berjalan sangat cepat, banyak kenangan yang tercipta bersamamu, tertawa bahagia dan menangis bersama mengarungi waktu dengan cinta yang ada. Lalu apakah kau tahu Rania Attaliya? Bahwa kau sungguh melengkapi ketidaksempurnaan diriku, dan aku sungguh mencintaimu. Tapi maaf Ra sungguh aku ingin mengucapkan itu padamu dan aku tidak tahu alasannya apa, maafkan aku Ra aku banyak salah padamu dan tidak bisa membahagiakanmu. Semoga kau senantiasa bahagia, aku mencintaimu."
Ucapan terakhir yang Radit tulis dalam surat itu seolah-olah dia sudah memiliki firasat bahwa dia akan pergi meninggalkan diriku selamanya, dan lagi-lagi aku menangis karena terlalu merindukan dia dalam hidupku, aku menggengam cincin lamaranku bersama Radit dan tangisku semakin kencang, selamat jalan Radit Fernando Jerryio aku mencintaimu.