Aku terbangun kala mendengar suara adzan subuh berkumandang. Lekas aku bangkit dan segera menunaikan panggilan Nya.
Pagi ini ku hirup udara di tanah kelahiran ku. Kampung halaman ku yang sudah 10 tahun ini aku tinggalkan. Meninggalkan ayah dan emak demi mengikuti lelaki yang ku cintai. Ku perhatikan sekeliling rumah ini tidak banyak berubah hanya cat rumahnya saja mulai pudar. Pohon pohon sawit tumbuh disekeliling rumah warga.
Aku adalah perempuan bernama Ranti akhirnya pulang ke kampung ini. Aku adalah anak semata wayang dari ayah dan emak. Kata orang aku cantik tapi manja. Aku tidak pernah diajarkan memasak oleh emak. Aku juga tidak diperbolehkan emak mengerjakan pekerjaan rumah. Tugas ku hanya belajar dan belajar. Kata ayah dan emak aku harus bisa menjadi orang yang berguna. Impian ayah dan emak aku harus jadi dokter.
Tapi impian indah itu sirna di usia muda. 15 tahun silam saat aku berkenalan dengan seorang pemuda. Bang Dodi namanya.
" Hai Ranti baru pulang sekolah ya?" Sapa bang Dodi.
"Iya bang" jawabku singkat.
" Boleh abang antar? Capek loh kalau pulangnya harus jalan." Tawar bang Dodi lagi.
"Boleh lah bang". Entah kenapa aku tak bisa menolak permintaan bang Dodi.
Semakin lama hubungan kami semakin dekat dan akrab. Tentu tanpa sepengetahuan ayah dan emak. Bang Dodi semakin rajin mengantar jemput. Aku merasa terbang di awang awang karena diperhatikan oleh bang Dodi yang tampan.
Pagi ini... Sambil merias diri sebelum berangkat sekolah aku memikirkan alasan apa yang akan ku sampaikan sama emak. Akhir akhir ini aku sudah sering bohong kepada emak. Aku selalu berdalih bahwa setiap hari ada les tambahan sehingga pulang terlambat. Dan emak begitu percaya.mungkin karena aku sudah kelas tiga smp. Padahal setiap siang sampai sore aku pergi jalan jalan sama bang Dodi.
Dan pagi ini kutatap punggung emak. Emak sedang sibuk menyiapkan sarapan ku dan juga bekal nasi untuk ayah. Karena pagi pagi sekali ayah sudah pergi kerja di kebun sawit warga.
"Mak, hari ini Ranti pulang terlambat. Karena ada les tambahan lagi." Ucapku pelan.
Emak menatap ku. Memperhatikanku.
"Ranti belajarlah yang pintar. Buat emak dan ayah bangga kepada mu nak. Kami bekerja dari pagi sampai sore itu untuk mu nak. Cuma kamu harapan kami nak." Ucap emak pelan.
" Iya mak. Ranti pergi dulu ya.." kucium punggung tangan emak.
Kemudian aku berjalan hingga ujung gang.
Kulihat bang Dodi sudah menunggu ku.
"Hai cantik" sapanya.
" Hai juga bang. Uda lama bang?" Tanyaku manja.
"Belum sayang. Lagian menunggu bidadari secantik kamu abang rela sayang." Gombalnya.
Aku tersenyum malu. Kemudian aku lekas membonceng dan motor pun melaju kencang.
Ditengah perjalanan bang Dodi malah membelokkan motornya ke arah yang berlawanan menuju sekolahku.
"Bang kenapa arah kesini? Ini kan bukan arah sekolah." Tanyaku penasaran.
" Hari ini kamu bolos dulu ya.. abang pengen seharian sama kamu."
" Ih abang apaan sih.."
Motor pun melaju kencang hingga kami sampai di sebuah rumah kontrakan.
Bang Dodi turun dari motornya dan menggandeng tangganku. Mengajak aku masuk.
Sampai di dalam kami duduk di sebuah sofa di ruang tengah.
Tiba tiba bang Dodi melingkarkan tangannya di pinggangku. Aku terkejut. Jujur di usia ku yang baru menginjak 15 tahun ini adalah yang pertama untukku.
"Bang" panggilku pelan. Ada rasa malu dan gugup saat menatap bang Dodi
" I love you Ranti. Kamu mau kan jadi pacar Abang?"
"Abang serius? Abang bercanda ya?"
Bang Dodi tidak menjawab justru semakin mendekatkan wajahnya. Aku gadis belia 15 tahun tak mampu menolaknya. Hingga kami melakukan sesuatu yang sangat di larang agama.
Aku menangis sejadi jadinya. Aku takut. Ya aku takut hamil. Sesuatu yang berharga telah hilang dariku
Aku masih menangis tersedu sedu. Rasa penyesalan begitu dalam. Terbayang wajah emak dan ayah yang bercucuran keringat demi mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhanku.
" Bang aku mau pulang sekarang!" Ucapku
" Iya. Abang antar ya.. jangan nangis lagi. Abang janji apa pun yang terjadi sama kamu abang pasti tanggung jawab" ujarnya sambil menggandeng tanganku keluar.
Kami pun segera berboncengan diatas motor bang Dodi.
Sampai di ujung gang kami pun berpisah. Tak lupa ia mencium pipi kanan dan pipi kiri. Katanya itu bukti sayang.
Sampai dirumah ternyata ayah udah pulang. Ayah sedang duduk santai di teras rumah sambil menikmati sepiring goreng pisang dan secangkir kopi hitam.
" Assalamu'alaikum ayah .. tumben uda pulang cepat." Tanyaku.
" Waalaikumsalam nak. Kok lama sekali pulangnya? Bagaimana pelajaranmu hari ini?" Tanya ayah
" Iy..iya yah tugasnya banyak banget jadi pulangnya sore. Ranti masuk dulu ya yah, Ranti mau mandi capek banget hari ini." Aku bergegas masuk kedalam rumah. Aku takut ayah bertanya tanya lagi.
**********
Semakin hari kedekatan ku dengan bang Dodi semakin menjadi. Kami lebih sering berjumpa. Aku pun jadi jarang sampai disekolah. Ternyata betul cinta bisa membuat orang menjadi buta.
Hingga malam ini ayah memanggilku. Wajahnya dingin seperti menahan amarah.
Aku mencoba bersikap biasa. Hingga ayah melemparkan selembar kertas ke wajah ku.
Aku terkejut luar biasa.
" Keterlaluan kamu Ranti. Tega sekali kamu membohongi ayahmu ini Ranti. Anak macam apa kamu Ranti." Ayah menangis terisak isak.tak pernah kulihat serapuh ini ayahku.
Oh tuhan.. apakah ayah sudah tau semua ini. Kuambil kertas putih. Kubaca isinya, ternyata surat panggilan dari bu guru Anisa.
Kulihat ibu..ibu pun sama rapuhnya dengan ayah.ibu hanya menangis namun tak kunjung bicara.
" Pergi kemana kamu selama ini Ranti? Kamu jarang sekolah dan sampai tadi ayah datang ke sekolah memenuhi panggilan Bu Anisa kamu tidak masuk ke sekolah. Padahal setiap pagi kamu pergi keluar dari rumah ini kamu memakai seragam sekolah
Lantas kemana kamu pergi Ranti?? Ayo katakan pada ayah. Apa benar kamu berpacaran dengan si Dodi? Katakan Ranti!" Ayah bangkit dari duduk nya dan hendak memukulku. Namun terhalang oleh emak.
" Ayah jangan pukul Ranti yah.. Ranti anak kita." Bela emak berusaha tegar.
" Kamu tahu mak. Anak kita ini tidak tahu diri. Andai aku tahu besarnya seperti ini sudah dari bayi dia ku kubur hidup hidup." Ujar ayah.
Aku menangis. Ada rasa sakit mendengar ucapan ayah. Ah kenapa mendadak aku merasa mual. Aku pun berlari ke kamar mandi. Menumpahkan isi perut ku. Apa yang terjadi denganku? Apa aku hamil? Ya Tuhan.. ternyata sudah 2 bulan aku tidak datang bulan. Hingga pintu kamar mandi di gedor gedor oleh ayah dan ibu.
Nyaliku menciut. Apa yang harus kulakukan? Dengan takut takut dan gemetar kubuka pintu kamar mandi. Kulihat ayah mengangkat tangan nya dan plaaaakkkkkkk
Ayah memukulku.
" Sudah sejauh apa hubunganmu Ranti? Apa kamu hamil anak Dodi? Oh Tuhan cobaaan apa yang kau timpakan untuk ku Tuhan?" Ayah menangis terduduk di depan pintu kamar mandi.
" Ayah.. maafkan Ranti yah.. maafkan anakmu ini yah..Ranti sangat mencintai bang Dodi yah.." aku menangis sesenggukan.
" Ayah kita kekamar ya..ayah harus istirahat nanti ayah sakit" bujuk emak sambil membantu ayah berjalan.
Aku termenung didalam kamar masih kudengar sedu sedan suara emak dan ayah menangis. Maafkan anakmu ini mak..
**********"
Pagi ini aku tak sanggup bangun. Kepalaku terasa berat dan pusing. Perut ku seperti mual. Aku hanya baring.
Masih kudengar percakapan ayah dan emak pagi ini. Sepertinya ayah sakit dan tak bisa berangkat bekerja. Sementara emak sudah ada janji akan membantu memanen cabe di kebun tetangga.
Aku pura pura tertidur saat pintu kamarku dibuka oleh emak.
" Ranti, emak mau bekerja. Tolong lihat lihat ayahmu. Ayahmu sedang sakit." Ucap emak sambil berlalu.
Aku pun bangun. Tapi aku belum berani keluar. Aku takut sama ayah. Kulihat sinar matahari mulai tinggi.segera aku mandi dan ingin menyiapkan makan siang untuk ayah.
Kulihat pintu kamar ayah tertutup. Kucoba mengetuk dan memanggil namun tak ada sahutan. Mungkin ayah sedang tidur pikirku.
Aku pun masuk kekamarku.
Karena badanku sedang tak enak aku pun tertidur hingga aku terkejut mendengar teriakan emak.
" Ranti tolong Ranti.. ayahmu ranti..tolong..!!" Emakberteriak sambil menangis sekencang kencangnya.
Aku berlari menuju kamar ayah..
Kulihat ayahku.. sudah menggantung dengan seutas tali dileher.