Hari ini seperti biasanya, pagi cerah menyambut hangat anak – anak yang pergi ke sekolah. Manusia begitu banyak di jalanan, ada yang sedang berjalan dan ada pula yang mengendarai kendaraanya, begitu pula aku yang mengendarai sedan hitam. Tiba – tiba suara klakson mobil di depanku berbunyi nyaring mengejutkan banyak manusia terutama perempuan yang sedang berjalan sendirian itu
Beberapa hari ini aku selalu melihatnya sendiri dan tidak pernah berbicara dengan siapapun bahkan tidak mau menatapku. Pada saat aku bertemu dengannya, ia bukan orang yang pendiam dan bahkan sedikit cerewet. Sekarang aku selalu melihatnya menyendiri di ruang perpustakaan dengan tingkah melamun atau membaca buku. Sesekali aku menyapanya, tetapi anak itu berusaha menjauh dariku.
Hari ini aku tidak melihat anak itu di perpustakaan, biasanya setelah pelajaran selesai, orang itu memanjakan matanya dengan buku – buku yang tersedia di perpustakaan denganku. Penasaran dengan ketidakhadirannya, aku pun mulai beranjak dari kursi yang tadinya ku tempati. Aku mulai berjalan dari satu rak ke rak buku lainnya, tidak ada satu pun tanda kehadirannya.
Aku pun keluar setelah mengembalikkan buku komik yang hanya bisa kubaca saat di sekolah. Tidak ada yang bisa kulakukan jika berada di rumah, hanya belajar dan belajar dengan giat. Saat – saat di sekolah adalah hal yang bisa aku manfaatkan karena tidak ada pengawasan ketat dari kedua orang tuaku. Salah satu hal yang kulakukan adalah membaca komik yang sama dengan perempuan itu.
Awal pertemuan kami adalah sebuah toko buku kecil dekat dengan sekolah. Biasanya setelah pulang sekolah, aku melihat – lihat buku karena sudah kebiasaan. Melihat buku yang berjejer rapi adalah kesenangan tersendiri bagiku. Saat itu kami bertemu di sebuah rak buku bertuliskan "komik" di depan mata. Aku penasaran dengan komik itu, tetapi tangan perempuan itu terlebih dahulu mengambilnya. Kami langsung memandang satu sama lain sebentar, lalu anak itu meminta maaf dan langsung memberikan komik itu kepadaku. Ia tersenyum karena mengira aku adalah anak yang suka komik sepertinya. Aku tidak pernah mengobrol dengannya, tapi anak itu ramah pada orang baru ditemuinya.
Setelah itu aku mulai membaca komik itu di handphone karena anak itu bilang akan lebih lengkap jika membacanya di aplikasi. Tertarik dengan rekomendasinya aku pun menuruti sarannya agar mengunduh aplikasi itu, dengan begitu aku juga tidak akan ketahuan membaca komik di rumah. Waktu itu aku senang karena aku berhasil melakukan apa yang ingin aku lakukan. Kami menjadi akrab karena kurasa anak itu berbeda dengan teman – teman lainnya yang hanya baik saat di depanku.
Aku pun berjalan menuju kelas, tiba – tiba seseorang menepuk pundakku dengan keras sehingga tanpa sadar aku membalikkan diri ingin menghajar orang itu. Seorang perempuan mengerjapkan matanya berulang kali, aku segera menaruh kembali tanganku ke saku celana dengan hembusan napas kencang. Perempuan itu adalah Clara, anak kepala sekolah yang cuek dan jarang berinteraksi dengan para siswa.
" Ada apa?" Tanyaku singkat.
"Gudang lantai dua."
Aku terdiam menatapnya. " Apa?"
" Tolong selamatkan anak itu."
Setelah sukses membuatku bingung dengan ucapan serta gerak - geriknya, Clara meninggalkan tempat dengan gaya dingin khasnya. Aku melihat sekeliling dengan teliti, karena Clara tidak suka mengobrol denganku apabila bukan urusan pelajaran atau yang berhubungan dengan akademik. Namun, entah kenapa aku tertarik dengan kalimat terakhir yang diucapkannya. Aku diam – diam melangkahkan kaki menuju gudang karena penasaran dengan apa yang terjadi. Bisa saja Clara hanya mengerjaiku, tetapi aku penasaran karena perempuan itu memang tidak terlihat di mana pun.
Terdengar suara tangis pelan saat aku perlahan mendekati gudang. Aku semakin mendekat dengan tempat terdengarnya tangisan itu. Aku bergegas membuka pintu gudang karena mendengar suara tangisan itu semakin keras. Aku mendapati perempuan yang tengah kucari dan melihatnya duduk di sudut ruangan dengan mata sembab dan seragam yang acak – acakan.
Ronald adalah namanya, anak paling nakal yang tidak bisa diatur oleh siapa pun. Ia adalah salah satu anak pengusaha terkaya, dengan status itu sangat mudah baginya memiliki apa pun yang ia inginkan. Ronald langsung menatap ke arah ku dengan mata melotot, diikuti pula oleh anak buahnya yang sedang asik merokok di depan anak itu.
Melihat wajah Ronald, aku hanya memikirkan satu pelajaran yang sangat berguna untuk situasi seperti ini. Melayangkan tubuh Ronald sangatlah mudah karena badannya yang ringan. Ronald meringis kesakitan saat tubuhnya menghantam lantai dengan keras, tetapi ia tidak tinggal diam. Ia menyuruh anak buahnya untuk membantu menghabisiku, pertama kali dalam hidupku, bertengkar secara fisik di luar matras.
Saat aku dengan perempuan itu, entah kenapa aku selalu merasakan hal baru yang tidak bisa aku lakukan. Aku hanya ingin menyelamatkannya, tetapi Ronald membuat semuanya sulit. Anak buahnya sekarang menjadi brutal dan memukul tanpa aturan. Aku dapat menangkis pukulan itu dan membalas mereka dengan pukulanku.
Perempuan itu tiba – tiba berteriak keras dan mendorongku ke depan pintu. Aku kesakitan karena kepala dan punggungku menghantam pintu dengan keras. Sekilas aku melihat anak itu dengan Ronald saling menatap, lalu penglihatanku buram dan seketika jadi hitam. Aku pun kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengetahui kejadian setelahnya.
Aku membuka mata perlahan dan mendapati plafon putih bersih dengan lampu yang terang. Bau obat tercium samar – samar saat aku bernafas, Clara menatapku yang kesakitan. Ia memanggil dokter berkali – kali dengan nada cemas, lalu dokter datang dengan satu perawat yang menemaninya. Ia memeriksa keadaan tubuhku dan memberitahu bahwa aku baik – baik saja.
Setelah dinyatakan baik – baik saja, aku diajak Clara ke atap rumah sakit. Ia kelihatan serius walapun aku tahu dia biasa dengan wajah kakunya. Pertama ia mengatakan orang tuaku akan segera datang setelah menyelesaikan urusan dengan ayahnya di kantor kepolisian.
Clara menarik napas panjang sebelumnya dan mengatakan berita tidak mengenakkan untuk didengar.
Aku bergegas menuju ruang bertulis UGD, berlari kencang meninggalkan Clara yang ingin menghentikan karena khawatir aku kembali pingsan. Dadaku serasa sesak saat mengetahui perempuan itu telah mempertaruhkan hidupnya untukku. Aku menatap ruangan itu dan mencari keberadaan perempuan itu.
Perempuan itu terbaring lemah di atas ranjang, mukanya pucat setelah kehilangan banyak darah karena tertusuk pisau yang dibawa Ronald. Tidak ada yang bisa kulakukan selain duduk di samping ranjang dan berdoa agar ia bangun dan segera sadar. Menatap wajahnya membuatku marah dengan diri sendiri karena tidak mengetahui selama ini ia kesakitan menjadi korban bullying.
Sekarang Ronald harus mendekam di penjara remaja karena Clara mempunyai bukti kuat untuk menjatuhkannya. Clara sendiri sudah muak dengan perilaku seenaknya dari Ronald, sehingga ia ingin menangkap anak itu dengan cara membuatku masuk ke dalam rencananya karena aku adalah anak yang berasal dari keluarga lumayan berpengaruh dan mampu mengalahkan orang tua Ronald.
Aku kembali ke rumah dengan kawalan orang tuaku, mereka memberiku tamparan keras karena berkelahi. Mereka memiliki banyak kata untuk di dengarkan oleh telingaku. Mereka memarahiku karena aku menurunkan harga diri dengan berkelahi dengan Ronald, mereka juga menyebut perempuan itu adalah sebuah pengaruh tidak baik dan melarangku menemui perempuan yang sudah menyelamatkan nyawaku.
Aku merasakan sakit kepala yang teramat sakit, lalu memberontak dengan berteriak lantang kepada ayah dan ibuku yang tidak paham dengan situasiku saat ini. Marah dengan kehidupanku yang tidak bisa melindungi seorang teman dan tidak bisa hidup dengan apa yang aku inginkan. Aku menutup pintu dengan keras, lalu merebahkan diri dan menghembuskan napas berat karena sesak yang tertahan oleh amarah. Lama sekali aku menatap langit – langit karena terus memikirkan apa saja yang sudah kulalui, kemudian mataku terasa berat dan tertidur.
Seperti ada yang melempari pintu balkon dengan sebuah benda keras, sehingga menimbulkan bunyi ketukan. Aku terbangun dan melihat jam di handphone menunjukkan pukul 04:00 dini hari. Orang berjaket hitam dan celana jeans biru terlihat mencari – cari sesuatu sambil membungkukkan badannya menghadap tanah. Orang itu menemukan apa yang dicarinya, menatapku yang menatapnya sedari tadi.
Dengan isyarat tangan melambai tanda menyuruhku untuk turun, aku segera membuka pintu kamar untuk menemuinya. Membawaku ke dekat mobil dan menyuruhku masuk dengan tergesa – gesa. Terkejut karena ada satu orang lagi yang ada di sana, sedang duduk tertidur tapi kubiarkan saja menunggu Clara menjelaskan semuanya.
Selama perjalanan aku hanya diam sementara Clara menjelaskan rencananya. Anak yang tertidur itu adalah Keysha, aku tidak mengenalnya karena wajahnya yang pucat karena masih dalam penanganan medis. Aku sempat marah dengan Clara karena membawanya yang sedang sakit. Namun, Clara menjelaskan bahwa rencana ini adalah keinginan perempuan itu.
Setelah sampai tujuan, aku sebagai laki – laki menggendong Keysha karena tubuhnya yang masih lemah. Clara menjadi penunjuk jalan, beberapa rumput tumbuh memanjang melambai - lambai seperti mengantar kami ke tujuan. Clara menghentikan langkahnya diikuti aku yang juga terpana melihat sinar matahari muncul. Langit yang gelap merubah warnanya menjadi indah setelah cahaya memasuki waktunya.
Sementara Clara asik dengan kameranya, aku dan Keysha menyempatkan diri untuk mengobrol. Kami membicarakan kejadian – kejadian yang dialami di sekolah. Bagaimana ia di bully karena tidak memberikan contekan dan dituduh membocorkan soal ulangan oleh Ronald. Ia mencurahkan semuanya hari itu karena tidak ingin ada kesalahpahaman.
Aku memeluknya hangat agar anak itu mendengar detak jantungku yang sedari tadi berdebar entah mengapa. Aku spontan mencium keningnya dan mengatakan semua yang aku rasakan hari itu. Kami pun tersenyum memandang pemandangan alam yang indah, disambut matahari pagi yang menghangatkan.
Keysha memandangku lemah dan merebahkan diri di pangkuanku. Matanya menutup dan tidak akan pernah terbuka untuk selamanya, aku menahan tangisku agar ia tenang meninggalkan semuanya. Waktu berjalan cepat diiringi dedaunan yang gugur beriringan. Keysha telah berjalan menuju langit dan aku juga sudah merelakan kepergiannya. Aku berjanji pada diri sendiri untuk menjadi orang baik dan selalu tersenyum sepertinya agar dapat bertemu dengannya di lain waktu.
**************************************
Happy reading guys....
Wish u all love and like this story ❤️
Don't forget to vote 😉
Cerita ini murni karangan belaka...
Jika ada kesamaan dalam nama dan kejadian, harap don't judge .....
Luv u readers 🌹🌹