Kasamatsu pov
Hei, kenalkan. Namaku Kasamatsu Yukio kapten tim basket Kaijo Senior High, umurku 18 thn.
Aku ingin sedikit cerita tentang seseorang yang kusukai ralat seseorang yang kucintai. Yah dia yang kucintai, namanya Nakamura Rio, Siswi dari Kunugigaoka High, dia memiliki senyuman yang manis rambut pirangnya yang lembut selalu terurai.
Aku selalu melihatnya dari jauh, karena memang kami tak begitu dekat. Hanya sebatas tetangga, itulah hubungan kami. Miris memang.
Dia sangat menyukai novel, ligh novel atau apapun itu.
Setiap hari saat aku pulang dari latihan, aku selalu melihatnya duduk termenung dibawah pohon sambil menatap langit. Hal itu selalu terulang apa lagi ketika langit cerah yang berubah menjadi mendung.
Dia tampak menikmati pemandangan alam tersebut, aku sempat berpikir. Apa menariknya melihat awan yang mendung?
Aku pernah mengajaknya mengobrol, kebetulan saat itu cuacanya mendung aku pun bertanya.
"Kenapa kau suka sekali menatap langit mendung" dia tersenyum satir dan mendadak perasaan ku tidak enak. Kulihat air matanya jatuh, aku sangat menyesali pertannyaanku tadi.
Setelah menghentikan tangisannya, dia menghafap kearah ku kemudian menjawab.
"Karena langit mendung mengingatkanku pada seseorang"
Senyum itu memang manis, tapi aku tahu. Itu hanya topeng.
Hari telah berlalu berganti minggu juga berganti bulan, kami semakin dekat semenjak obrolan kami waktu itu.
Dia selalu tersenyum manis, tapi kali ini bukan topeng melainkan senyum tulus yang selalu kutunggu hanya untuk diriku.
Saat aku jatuh terpuruk ketika aku kalah melawan Seirin, dia hadir dengan senyum manisnya menyemangatiku agar kembali bangkit.
Pernah suatu hari aku mengajaknya jalan-jalan, itu menurutnya tapi bagiku tidak, itu adalah kencan. Apalagi kami hanya berdua.
Tanpa kuduga, aku bertemu dengan teman-teman dari anggota club. Mereka menyoraki kami, aku hanya tersenyum kecil untuk menanggapi mereka. Tapi tidak dengan Rio, tatapan itu begitu kosong. Seperti tak ada kehidupan disana.
Hari itu berlalu dengan cepat, aku pun tak lagi memikirkannya, karena aku sibuk latihan untuk winter cup nanti.
Hubungan kami sedikit merenggang, tapi aku tau. Dia selalu menyempatkan diri untuk melihatku yang tengah latihan meski itu sebentar.
Kasamatsu pov end
*"*"*'
Kunugigaoka High
Hari ini seperti biasa, Rio membolos pelajaran Bahasa Inggris. Padahal pelajaran itu sangat adalah favoritenya.
Rio terkekeh geli ketika membayangkan ekspresi apa yang dipakai Bitch-Sensei ketika mengetahui ia membolos lagi.
Matanya berpendar mengawasi arah sekitar. 'aman' Bisiknya dalam hati.
Kemudian Rio duduk di bawah pohon, tangannya membuka light novel yang sempat dibawanya tadi.
Tanpa sadar air matanya menetes, namun begitu bibirnya melukis sebuah senyum tipis.
Tatapannya beralih memandang langit yang kini mendung.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu, itu hal yang paling tersulit untuk kulakukan"
Tanpa bisa di cegah, isakan nya lolos begitu saja.
"Kenapa hiks... Kenapa kau meninggalkanku... Hiks.. Apa salahku! Kenapa kau mengingkari janjimu!" teriaknya pilu, bahunya bergetar menahan tangisnya yang mungkin sebentar lagi akan pecah.
"Kenapa Kami-sama begitu tak adil terhadapku, kenapa orang yang kucinta harus diambil olehNya, kenapa?!"
Rio memandang butir obat dan langit secara bergantian, ia meminum obatnya beberapa.
Tak berapa lama ia tertidur karena kelelahan menangis.
"Maafkan aku Nakamura"
Rio mencari suara itu, tapi tak ada siapapun disana. Tempat inipun asing baginya, Rio terus berjalan sampai ia menemukan seorang pemuda yang sangat ia kenal.
Rio berlari untuk mendekatinya, namun saat ia ingin memeluk sosok itu. Pemuda itu malah menghindar, tangis pun Rio pecah.
"Kumohon lupakan aku, jangan menyakiti dirimu seperti ini"
Rio menggelengkan kepalanya, ia ingin sekali menjawab.
'Aku tidak mau melupakanmu!' tapi ia tidak bisa.
"Bukalah pintu hatimu untuknya"
Untuknya? Siapa yang dia maksud? Rio mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Jika kau tak bisa membuka pintu hatimu, setidaknya bukalah jendela hatimu"
Rio semakin tidak mengerti, tapi setelah ia mencerna kata demi katanya, Rio baru mengerti. Tapi ia tidak sanggup untuk melakukan hal itu.
"Dunia kita berbeda, kau harus melanjutkan masa depanmu"
'Tidak! Tidak mau!' ia menjerit tapi suaranya tidak keluar.
"Waktuku tak banyak Nakamura, jika kau tak bisa melupakanku kau cukup mengenangku. Kumohon buka hatimu untuk yang lain"
Rio menggeleng frustasi dan menatap nanar sosok Mayuzumi yang semakin transparan.
"Aku selalu mencintaimu, sayonara..." ucapnya sambil tersenyum manis.
Rio tak bisa lagi menopang berat tubuhnya, ia jatuh terduduk di tempat yang hampa. Tak afa kehidupan disana.
"Rio! Bangun Rio! Kumohon!"
Rio tersentak dan mencari suara itu, suara seseorang yang akhir-akhir ini mengisi harinya.
"Kumohon bangunlah! Aku sangat mencintaimu! Kumohon.. "
Langkah Rio terhenti ketika mendengar kalimat tersebut.
"Bangunlah dari mimpi indahmu itu.."
Mimpi? Apa ia sedang bermimpi?
Saat mendongak, ia menemukan pemilik suara tersebut. Yah dialah orangnya, Kasamatsu Yukio.
Kasamatsu mengulurkan tangannya, Rio sempat ragu pada awalnya, tapi ia telah memutuskan. Rio menggapai uluran tangan itu sambil tersenyum manis, kemudian pandangannya pun menggelap.
Normal pov
Kasamatsu tersenyum lega mendapati sang pujaan hati telah sadar dari komanya.
Dengan segera ia memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Rio saat ini.
Tak berapa lama, dokter Takebayashi datang bersama suster Okuda.
Setelah pemeriksaan selesai dokter Takebayashi meminta Kasamatsu untuk datang keruangannya.
Dan disinilah mereka berdua saat ini.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Tanya Kasamatsu khawatir.
"Secara fisik, dia baik-baik saja. Tapi secara psikis dia tidak baik-baik saja" jelas dokter Takebayashi.
Kasamatsu mengernyit tak mengerti, dokter pun paham.
"Tolong bawa dia ke psikolog, kau akan lebih tau. Dia boleh pulang besok, pastikan dia meminum obatnya dengan benar" pesan dokter Takebayashi setelah memberikan resep obat untuk Rio.
"Baiklah terimakasih, kalo begitu saya permisi" pamit Kasamatsu.
"Silahkan" dokter Takebayashi menatap sendu sosok Kasamatsu yang sudah menghilang di balik pintu.
Dilorong rumah sakit Kasamatsu termenung menatap pintu yang ada didepannya. Ia masih sibuk memikirkan apa yang disampaikan oleh dokter Takebayashi tadi.
'Psikolog?' sebenarnya apa yang ia tidak ketahui.
Tersenyum sinis, ia memang tidak mengetahui banyak hal tentang Rio yang dia tahu, Rio menyukai ligh novel dan awan mendung, tapi ia akan berusaha lagi untuk mengenal sosok Nakamura Rio.
Setelah menghela nafasnya beberapa kali, akhirnya Kasamatsu memasuki ruangan tersebut.
Ia melihat Rio tengah menyantap makananya dengan raut bosan, ia terkekeh ringan dan dihadiahi tatapan aneh dari Rio.
"Kalau kau tidak suka makanannya, kau bisa makan ini" ucap Kasamatsu sambil menyodorkan Roti Melon.
Beruntung tadi ia sempat mampir ke Cafetaria setelah menebus obat Rio tadi.
Rio mengambil Roti itu sambil mengguman terimakasih, suara nya lirih dan hampir saja tak terdengar. Kasamatsu hanya tersenyum tipis sambil mengacak surai pirang lembut itu.
Mungkin Rio akan membuka jendela hatinya setelah ini.
Dan Kasamatsu akan menyambut musim semi di musim yang seharusnya dingin.
Seseorang takkan tau bagaimana, dimana, kapan akan mendapatkan cinta nya.
End