Kubuka pintu lemas lalu kututup lagi dengan malas, kujatuhkan diriku ke atas kasurku yang nyaman, melepas penat yang ada. Bekerja seharian penuh membuat tubuh ini begitu lelah, yah meski kenyataanya aku hanya duduk menatap layar monitor, namun itu cukup untuk membuat kepalaku pusing.
Treeng… Trenkkk
Suara jam dinding dari tengah rumah merambat hingga ke kamar, ketika kulihat jam di hp ini pukul 00.00, sesaat kemudian terdengar ketukan dari balik pintu.
“Sayang, mau aku buatkan susu hangat?” ucap seseorang dari balik pintu.
Sesaat aku tertegun, yah aku ingat suara itu, dia istriku. Aku mencoba untuk tetap diam, aku tau itu hanyalah halusinasi jadi tidak mungkin jika itu istriku. Mungkin ini karena aku pulang tengah malam, biasa aku mengalami ganguan tidur.
Kuputuskan untuk ke dapur dan membuat susu hangat, di sini lebih dingin dari biasanya, mulutku menguap bersama pandangan mata yang memudar. Pandanganku terdunduk ke bawah, kulihat sepotong tangan pucat, reflek kukucek mata dan ternyata itu hanya sepotong kayu, ah sepertinya halusinasiku makin parah.
Kini kurasakan ada yang lewat di belakangku, namun kuhiraukan karena aku yakin itu cuman perasaanku saja, kini aku melangkah menuju pintu, namun aku terhenti ketika logam tajam berpuat melewatiku lalu menancap pada pintu, kulihat asal muasal arah dari pisau ini dan mendapati istriku sedang bergeming di sana.
Kembali kukucek mata ini dan itu ternyata hanyalah sebuah tongkat yang bersandar di tembok, aku menghela nafas dan bersandar pada dinding, kupijat kening perlahan sambil menutup mata, ah sepertinya aku harus segera tidur agar tidak membayangkan hal yang aneh-aneh lagi. Mataku terbuka dan istriku kini tepat sejengkal ditempat aku berdiri
Srek…
Sebuah tebasan pisau berhasil menyat dadaku hingga berdarah, aku melangkah mundur sembari menahan perih, kini sosok pucat di depanku menyeringai, bersamaan dengan kelopak mata yang mengeluarkan darah, dia berjalan perlahan membasahi lantai dengan cairan dari sebelah lengannya yang telah putus
“Kau kenapa tak pergi? Jangan ganggu aku lagi!” teriakku sembari terus melangkah mundur.
Kuambil pisau yang menancap di pintu, lalu kulempar ke arahnya, sebelum benda itu menancap dia sudah terlebih dahulu lenyap tanpa jejak, oke baiklah ini sepertinya bukan halusinasi, ini nyata! Lekas semua pintu keluar kudobrak, aneh semuanya terkunci! Bahkan jendelanyapun bandel tak bisa dibuka. Hawa dingin kembali menyergap bersamaan dengan bulu roma yang bediri tegak.
“Di sana gelap, aku tak dapat bergerak, aku di sana sendirian dan kesepian.”
Suara yang menggetarkan dada itu merambat ke seluruh ruangan, aku tak dapat melihatnya, suara itu terus menggema, hingga bau anyir membuat nafas ini tersengal, kurasakan pinggaku perih yang luar biasa, entah sejak kapan logam tajam ini bersarang di pinggang, aku terbatuk-batuk memuncratkan darah, saat kulepas darah semakin merembes keluar.
“Di sana gelap, aku tak dapat bergerak, aku di sana sendirian dan kesepian.”
Kini suara itu terdengar sangat dekat, dia di belakangku! Refleks aku menjauh hingga rasa sakit ini tak tertahankan.
“salahmu sendiri yang selingkuh di depanku!” bentakku
“kalau begitu ikutlah denganku, kita akan hidup bahagia selamanya hihihi…” balasnya sembari mengeluarkan pisau dari balik pinggangnya, dia tertawa menggema, dengan susah payah aku terus melangkah dengan kaki pincang, dia berjalan mendekat masih memegang erat pisaunya.
Aku memasuki kamar dan mengunci pintunya, aku semakin kesulitan untuk bernafas, dari luar terdengar dia sedang mencoba merusak pintu, awalnya hanya sebatas pisau yang ditusuk namun kelamaan pintu dirusak dengan kapak. Aku tak dapat berbuat banyak, tidak dengan luka ini, dia sepertinya hampir berhasil merusak pintu, kapak itu telah berhasil menembusnya.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba hening. Aku tak lagi mendengar dia mencoba masuk. Aku melihat sekeliling, dengan langkah limbung aku mencoba meraih kotak P3K, belum sempat aku meraihnya, kurasakan kakiku dingin dan seolah dicengkram kuat, aku tak dapat bergerak, tiba-tiba tubuhku terseret ke bawah tempat tidur, tanganku terus menempel di lantai mencoba menarik tubuhku ke arah berlawanan, namun semua sia-sia ketika kuku di jari-jariku patah, aku tak sanggup melawan lagi, lalu semuanya gelap.
Cleb… cleb.. cleb…
Seketika aku terperanjat dari atas tempat tidur, nafasku tak beraturan, jemariku menyentuh kening kebingungan dan mencoba mencerna apa yang terjadi. Aku masih ingat dia, wajahnya, seringainya bahkan rasa sakit yang terasa nyata. Kutatap layar ponsel, di sana aku dapat melihat sesuatu hal yang lebih menakutkan, mungkin aku harus meninggalkan rumah ini dalam beberapa detik lagi.
“Sekarang pukul 23.59”
END_