Pelangi pelangi
Alangkah indahnya
Pelukismu agung siapa gerangan?
Pelangi pelangi ciptaan tuhan
Sambil memandang gambar pelangi yang dibuat oleh Lisa , Jerry bernyanyi. Ingin rasanya mengulang saat melihat pelangi berdua.
Sesuatu yang sepertinya mustahil sekarang. Lisa mengidap Alzheimer dementia, sebuah penyakit yang menyebabkan hilang ingatan bahkan kematian. Padahal penyakit itu yang mengidap biasanya orang berumur lima puluhan ,tapi kenapa Lisa bisa mengidap? Setiap kali mengingat hal itu Jerry merasa tuhan tidak adil . Ingin sekali ia protes kepadanya.
Pernah terlintas oleh Jerry untuk memaksa ingatan Lisa yang telah hilang itu kembali. Ia ingin sekali saja Lisa mengingat saat bahagia mereka. Tetapi rasanya itu hanya akan menyakiti Lisa saja. Ia tidak ingin egois.
Ia tidak ingin, Lisa sudah cukup tersiksa dengan penyakitnya. Ia tak ingin menambahkan bebannya yang sudah berat. Walaupun ia sendiri harus menanggung segala resikonya.
***
"Cantiknya pelangi yang kamu gambar itu," komentar Jerry saat melihat Lisa sedang menyelesaikan gambarnya dihari itu .
"Cantik mana sama orangnya?"
"Untuk saat ini pelangi yang kamu gambar itu lebih cantik. Sebenarnya pingin bilang kamu cantik tapi takut ada yang nongol terus aku kena gampar."
"Siapa yang bakal gampar?"
"Pacarmu. Siapa lagi? Aku kan masih jomblo."
"Bangga banget jadi jomblo. Lagian aku enggak punya pacar. Jadi santai aja, gak bakal ada yang gampar kamu kalau bilang aku cantik."
"Masa cewek secantik kamu enggak punya pacar?"
"Lah emang cewek cantik harus punya pacar?"
"Enggak juga sih," Jerry nampak mati kutu saat mendengar jawaban Lisa.
"Kalau gambarnya udah selesai boleh ku simpan enggak?"
"....."
"Boleh enggak? Kalau enggak jawab berati boleh."
"Memangnya untuk apa?"
"Pingin aja. Soalnya gambarnya bagus."
"Biasa aja pun ."
"Enggak tahu kenapa aku pingin banget yang ini. Pingin aja buat kenang-kenangan . Lagian kita belum tentu bakal bareng-bareng terus."
"Terserahmu aja. Tapi tungguin ya sampai selesai ."
"Siap bos. Aku pasti bakal menunggu dengan senang hati."
***
"Lisa sepertinya tidak punya harapan untuk sembuh. Percuma untukmu nungguin . Tak ada yang didapat selain rasa sakit," ayahnya Lisa mengatakan itu kepada Jerry disebuah lorong yang letaknya agak jauh dari ruangan dimana Lisa dirawat.
"Bagaimana dengan om? Bukannya merasakan hal yang sama denganku? Aku enggak perduli. Sampai kapanpun aku bakal nungguin dia."
"Itu tugasnya orangtua untuk mendampinginya. Entah bagaimana kedepannya, itu adalah kewajiban," jawab ayahnya.
"Aku pikir itu juga tugasku. Aku akan menanggung seberapa sakitnya. Kalau bisa biar aku yang menggantikannya," jawab Jerry begitu yakin.
"Kamu serius dengan ucapan itu?"
"Ya, aku serius."
***
"Terimakasih ya Lis, aku akan menjaga gambar ini," Jerry mengucap terimakasih kepada Lisa saat menerima selembar kertas bergambar pelangi juga pemandangan air terjun yang sangat indah.
"Kapan ya kita bisa melihat pelangi berdua?" Sambil memandangi gambar itu, tanpa sadar Jerry berkata.
"Berdua?"
"Iya berdua. Apa yang salah?"
"Enggak salah, cuma ya kita belum lama kenal. Kenapa enggak sama pacarmu?"
"Pacarku kan kamu?"
"Ngaku-ngaku. "
"Besok kita sekalian nikah aja. Enggak usah pacaran. "
"Jauh banget ngomongnya, sampai nikah segala. "
"Soalnya dari awal aku pingin serius sama kamu."
***
Jerry melihat Lisa dari balik jendela. Rasanya ia begitu tersiksa dengan penyakitnya. Melihatnya ia ingin marah pada diri sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menahan air matanya yang hampir jatuh.
Kenapa bukan aku aja, tuhan? Kenapa harus dia? Batin Jerry ingin berteriak memohon penyakitnya dipindahkan kepada dirinya .
"Lebih baik cari wanita yang lain saja. Relakan dia, jangan siksa dirimu sendiri," sekarang yang mengatakan hal itu ibunya Lisa . Dia tahu seberapa cintanya, tapi sudah seharusnya dia berpikir lebih realistis.
"Enggak. Aku yakin dia pasti akan sembuh."
"Semuanya mengharapkan keajaiban seperti itu. Tapi lihatlah sekarang, kondisinya makin memburuk. Kemungkinan sembuh hanya....."
"Enggak. Selama dia hidup aku akan terus percaya," Jerry berkata seolah menolak kenyataan.
Ibunya Lisa diam. Dia lebih memilih pergi daripada harus menasihatinya terus. Rasanya juga percuma, dia tetap pada pendiriannya. Kondisi psikologisnya sudah parah.
Selama ada celah, sekecil apapun ia akan terus bertahan. Ia ingin menunjukkan kesetiaannya. Ia ingin bisa menerima kondisi pacarnya apapun yang terjadi .
***
"Yang mau bilang itu seriusan?" Lisa sepertinya masih kepikiran dengan ucapannya Jerry.
"Iya. Soalnya pernikahan kan bukan untuk main-main."
"Iya sih."
"Kau meragukan niatku?"
"Enggak kok. Ngapain juga aku ragu?"
"Baguslah."
"Lis, balapan yuk! Yang kalah harus traktir minum," Jerry berkata sambil kemudian menambah kecepatan laju sepedanya.
"Licik," Lisa mengumpat sambil kemudian berusaha mengimbangi kecepatan sepedanya Jerry. Mau tak mau ia terima ajakan Jerry untuk balap sepeda.
***
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un," kabar duka datang dari rumah sakit . Lisa meninggal , mendengarnya Jerry tanpa berpikir panjang segera bergegas. Ia berusaha tegar walaupun kesedihan menghujam . Walaupun perih, tapi mungkin itu yang terbaik untuknya.
Ia berusaha mengikhlaskan kepergiannya. Bagaimanapun ia harus merelakan. Mungkin lebih baik begitu, daripada hidup harus terus menanggung derita tak berkesudahan.
Kedua orang tua Lisa matanya merah. Seberapapun kuatnya mereka berusaha ikhlas, tetap saja masih ada kesedihan yang mendalam.
"Sekarang kamu benar-benar harus merelakannya. Memang berat, tapi inilah kenyataan," begitu melihat Jerry, ayahnya Lisa segera menghampiri dan langsung berkata begitu.
Yang diajak bicara diam saja. Lidahnya terasa kaku sekali. Tak ada yang diinginkannya lagi selain melihat wajah kekasihnya itu.
"Apa yang terjadi sebelum Lisa meninggal om?" Jerry berusaha untuk membuka mulutnya.
"Dia menangis karena ia benar-benar tidak dapat mengingat apapun lagi. Nampaknya ia berusaha keras sekali untuk mengingat segala hal yang terjadi sebelum ia terkena penyakit itu."
"Om, boleh aku lihat wajahnya Lisa sebentar saja."
"Silahkan. Jenazahnya ada didalam," Ayahnya Lisa mempersilahkan.
Begitu dibolehkan Jerry langsung masuk kedalam ruangan dimana tubuh indah Lisa terbujur kaku dengan wajah yang tertutup kain. Ia berusaha menahan tangis saat melihatnya. Ingin rasanya menyusul, andaikan bisa.
***
"Lis, tau enggak impianku sekarang apa?"
"Enggak ."
"Menghalalkanmu."
"Mau enggak ya? Kayaknya enggak deh. Enggak mau nolak. Padahal kita belum lama kenal ya. Sebenarnya aku enggak pingin cinta-cintaan dulu soalnya dulu aku ditinggalin sama pacarku padahal pacarannya udah lama. "
"Karena itu aku enggak pingin lama-lama. Aku pingin kita sama-sama terus. Aku ingin kita menikah."
"Enggak usah banyak omong. Kalau mau langsung buktikan aja."
"Aku siap Lis. Demi kau aku akan secepatnya menemui orangtuamu."
***
Hari itu juga pemakaman dilaksanakan. Rasanya masih berat untuk melepas, tapi mau dikata apa . Rela tak rela memang sudah seharusnya begitu. Terkadang memang ada hal-hal yang mengharuskan orang untuk mengikhlaskan sesuatu .
Lagipula kasihan juga bila Lisa harus hidup seperti itu terus menerus. Mungkin ini cara terbaik agar Lisa bisa bahagia walaupun di alam yang berbeda dengannya. Segala rencana indah yang pernah dibangun bersama harus runtuh. Pupus sudah harapan untuk bersanding di pelaminan layaknya seorang raja dan ratu. Rumah tangga yang bahagia hanya ada dalam angan-angan semata.
Raut kesedihan masih terpancar dengan jelas dimatanya. Diantara pohon Kamboja yang sedang berbunga, Jerry menahan air matanya tumpah. Ia sebenarnya tak sanggup saat melihat kekasihnya dimasukkan kedalam liang kubur. Untuk terakhir kali, sebelum benar-benar terkubur Jerry mengumandangkan adzan .
Ia berusaha sangat kuat agar ia bisa menyelesaikannya. Batinnya terasa kosong begitu tanah mulai memenuhi liang kubur kekasih yang ia cintai itu .
***
"Aku ingin nikah. Aku sudah punya pasangan yang cocok untuk menikah," dengan mantap Jerry berkata saat makan malam keluarganya dimulai.
"Tapi aku aja belum nikah," kakaknya yang mendengar perkataan yang keluar dari mulut Jerry segera protes.
"Itu sih derita Lo. Jadi orang sih pemilih."
"Nikah itukan cuma sekali seumur hidup. Apa salahnya sih milih? Cewek juga berhak milih."
"Suka kau aja. Yang penting aku mau cepat nikah dengannya!"
"Jangan bertengkar. Memangnya gadis mana yang kau cintai itu Jer?"
"Ada deh. Dia pokoknya orangnya cantik, baik, setia, lemah lembut. Pokoknya sempurna deh."
"Apa kau dah benar-benar yakin?"
"Aku sudah sangat yakin. Lagipula dia minta kepastian, intinya dia tidak ingin pacaran lama . Dia sudah minta aku melamar dia segera."
"Kamu yang menjalani. Terserah kamu aja, cuma ya kalau bisa jangan pernah merasa bosan dengan pasanganmu apapun yang terjadi."
Malam itu, dengan diiringi banyak sekali wejangan orangtuanya menyetujui untuk segera melamar gadis pilihannya. Sebenarnya ia kurang suka diberi wejangan, apalagi sampai lama sekali. Yang penting lampu hijau telah nyala untuk hubungannya yang lebih serius.
Malam itu gerimis berbisik halus saat Jerry mulai terlelap. Dalam mimpi ia melihat dirinya sedang bersanding di pelaminan bersama Lisa yang memakai gaun putih . Sungguh mimpi yang benar-benar indah.
Ia juga bermimpi mengucapkan akad dengan penuh keyakinan. Tanpa ada rasa gentar ia mengucapkan dengan lancar. Orang yang dibuai oleh asmara yang membara memang kadang hampir melayang tanpa sadar.
***
Gerimis turun menyapa saat Jerry melewati sebuah jalan kenangannya bersama Lisa. Hampir seminggu sudah kekasihnya itu pergi , rasanya ada sesuatu yang hilang . Mungkin karena belum terbiasa saja.
Motornya dipacu agak lambat dari biasanya. Bayangan Lisa entah kenapa kian jelas di dalam otaknya. Kadang memang ia menolak kenyataan yang ada. Tapi ia sadar yang pergi tak mungkin kembali lagi .
Ia mengendari motornya ketempat pertama kali ia melakukan kencan dengan Lisa, disebuah air terjun yang yang disana terlihat dengan jelas sebuah pelangi yang indah .
Setelah agak lama akhirnya sampai juga. Suara air terjun yang jatuh terdengar seperti sebuah lagu nostalgia yang indah . Ia ingin sedikit mengenang sekaligus menenangkan diri. Barangkali setelah dari sana ia jadi lebih merelakan kepergiannya Lisa.
Saat Jerry duduk disalah satu bebatuan dimana ia duduk dulu rasanya ada seorang wanita yang bersandar dipundaknya. Rasanya lembut sekali. Entah kenapa, ia merasa Lisa berada bersamanya.
Sumber Datar, 25 September 2020
Last edited 11 Juli 2022